BAB IV : PAPARAN DAN HASIL PENELITIAN
G. Pengecekan Kabsahan Data
5. Temuan penelitian
a. Realitas budaya pondok pesantren Al-is’af Sumenep
1) Rendah hati, yaitu seluruh warga pesantren mulai dari dewan masyaikh, pengurus pesantren, santri, dan asatidz telah memahami dan mengimplementasikan nilai rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.
2) Nilai Amanah, yaitu semua warga pesantren telah menanamkan nilai amanah dalam kehidupan sehari-hari, baik amanah waktu yang diberikan tuhan mereka pergunakan waktu dengan sebaik-baiknya, amanah jabatan bagi para pengurus pesantren mereka menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya dengan sebaik-baiknya, amanah jabatan ustad, mereka mengajarkan santri dengan penuh serius, perhatian dan pengayoman yang maksimal. Demikian juga dengan santri, santri mempunyai amanah untuk mentaati peraturan yang diberikan kiai dan pengurus pesantren dan tidak melakukan larangan yang diberikan pesantren.
3) Kemandirian, semua warga pesantren sudah menjadikan mandiri budaya dalam kehidupan pesantren.
4) Istiqamah (disiplin), semua warga pesantren telah memahami manfaat dari istiqamah dan ,menjalankan budaya istiqamah ini dalam kehidupan sehari-hari.
5) Nilai Unggul, warga pondok pesantren al-Is’af kalabaan sumenep ini telah mengembangkan nilai unggul yaitu unggul dalam bidang tadrisiyah, unggul dalam bidang ubudiyah, dan unggul dalam bidang kebersihan.
6) Kiai sebagai pimpinan pondok pesantren telah membina hubungan baik dengan semua warga pesantren (santri, ustadz, dan pengurus pesantren). melalui ketauladanan, silaturrahmi
7) Kiai sebagai pimpinan pondok pesantren telah memberikan perhatian yang baik dan aktif komunikasi baik dengan santri, asatidz, ataupun pengurus pesantren.
8) Kiai sebagai pimpinan pondok pesantren juga telah memberikan penghargaan kepada santri. Penghargaan yang diberikan kiai kepada santri bukanlah berupa gaji, akan tetapi penghargaan yang diberikan kiai kepada santri yang berprestasi adalah berupa (1) Amanah, adapun amanah yang diberikan kepada santri yaitu diangkat menjadi pengurus pesantren dan diangkat menjadi ustadz, (2) pemberian fasilitas berupa kamar khusus sebagai tempat tinggalnya, makan ditanggung pesantren dan dibebaskan dari biaia listrik dan air.
9) pengasuh, dewan masyaikh, dan asatizd telah memberikan pelayanan yang baik bagi semua santri ataupun wali santri dan siapapun yang datang ke pesantren.
b. Strategi Kiai (Pimpinan Pesantren) dalam Mengembangkan Budaya Pesantren 1) Visi pondok pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep adalah terwujudnya
lembaga pondok pesantren yang mencetak santri bertakwa kepada allah, akhlakul karimah dan memiliki kualitas keilmuan keislaman yang mapan. (pengembangan visi ini adalah pada kualitas keilmua keislaman yang awalnya hanya mampu membaca kitab kuning lalu dikembangkan dengan berkarya menulis kitab).
2) Misi pondok pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep adalah (a) senantisa selalu menumbuhkan ketakwaan kepada allah SWT, (b) semua santri hendaknya meneladani sikap rasul dalam setiap ucapan dan perbuatan (menciptakan santri yang memiliki kualitas keilmuan keislaman yang mapan, (c) meningkatkan hubungan yang baik kepada masyarakat.
3) Kiai sebagai pimpinan pesantren melakukan sosialisasi visi misi kepada seluruh warga pesantren (santri, ustadz, pengurus pesantren), wali santri dan masyarakat.
4) Implementasi visi misi pondok pesantren melalui program pondok pesantren yang dirumuskan oleh pengurus pesantren dan disetujui oleh dewan masyaikh.
5) Kiai sebagai pimpinan pondok pesantren mempunyai nilai-nilai yang diyakini dalam rangka memimpin pesantren. Adapun nilai-nilai tersebut adalah : nilai rendah hati, nilai amanah, nilai kemandirian, serta nilai istiqamah.
6) Kiai sebagai pimpinan pondok pesantren telah berusaha memberikan pemahaman akan nilai-nilai kepemimpinan kiai kepada seluruh warga pesantren mulai dari santri, ustadz, dan pengurus pesantren.
7) Strategi dalam pengembangan budaya pesantren yang dilakukan kiai adalah ada tiga tahap: Pertama, tahap persiapan dalam merumuskan visi-misi dan nilai-nilai kepemimpinan kiai di pondok pesantren (awalnya hanya dilakukan oleh dewan masyaikh namun kemudian diikuti oleh sebagian pengurus pesantren sejak masa kepemimpinan kiai latfan),
Kedua,tahap penerimaan dan komitmen yaitu sosialisasi dan implementasi, Ketiga, tahap evaluasi.
11) Dalam merumuskan visi-misi serta nilai-nilai kepemimpinan, hanya dilakukan dan diikuti oleh dewan mayaikh dan tidak di ikuti oleh pengurus pesantren, namun pada masa kepemimpinan kiai latfan, pengurus pesantren sudah dikutkan walau tidak semuanya.
12) Dalam mensosialisasikan visi misi dan nilai-nilai kepemimpinan kiai, yaitu dengan cara (a) ratap rutin yang dilakukan setiap bulan dan akhir sanah, (b) melalui pengumuman atau pamflet, (c) melalui informasi lisan baik yang dilakukan kiai ataupun pengurus pesantren. sosialisasi juga dilakukan dengan komunikasi formal atau non formal. Kamunikasi formal misal kiai menyampaikan berbarebarengan dengan kiai waktu ngisi pengajian kitab dll, sedangkan komunikasi non formal adalah ketika kiai ngobrol empat mata dengan santri.
13) Pengasuh pondok pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep melakukan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi ini ada dua, (1) setiap bulan, dalam evaluasi tiap bulan ini dilakukan dua tahap,tahap pertama dilakukan oleh pengurus pesantren, dan tahap kedua dilakukan oleh dewan masyaikh. (2) evaluasi yang diikuti oleh semua komponen pesantren yaitu dewan maysaikh, pengurus pesantren, wali santri, santri, dan masyarakat sekitaryang dilakukan setiap akhir sanah.
c. Gaya kepemimpinan kiai dalam mengembangkan budaya pesantren.
Adapun gaya kepemimpinan kiai dalam mengembangkan budaya pesantren adalah sebagaimana berikut:
1) Gaya kepemimpinan intruktif 2) Gaya kepemimpinan partisipatif 3) Gaya kepemimpinan konsultatif
Tabel 4.4 Hasil Temuan Pondok Pesantren Al-Is’af Kalabaan Sumenep Kaitannya Dengan Strategi Kepemimpinan Kiai dalam Mengembangkan Budaya (Nilai-Nilai Dan Tradisi) Pesantren
No Tema PP al-Ia’af Kalabaan
Sumenep Pengembangan 1 Realitas Budaya Pesantren a. Nilai-Nilai kepemimpinan kiai dalam mengembangkan budaya pesantren b. Kepemimpinan kiai dalam membina hubungan Implementasi Nilai-Nilai Kepemimpinan Kiai dalam mengembangkan budaya pesantren Di Pondok Pesantren al-is’af Kalabaan Sumenep: a) Rendah hati b) Amanah c) Kemandirian Istiqamah 1. Ketauladanan 2. silaturrahim 3. perhatrian dan aktif komunikasi
Pertama, Rendah hati.
Diantara wujud dari rendah hati ini adalah santri ketika bertemu kiai hanya sebatas berdiri
ta’dzim, namun budaya ini
dikembangkan lagi yaitu santri yang bertemu kiai tidak hanya berdiri namun mereka memanggil salam dan bersalaman dengan mencium tangan kiai bolak balik.
Kedua, Mandiri. Awalnya
mandiri santri hanya sebatas memasak sendiri, nyuci sendiri. budaya mandiri ini dikembangkan lagi yaitu santri sudah mulai mandiri membiaiai hidupnya sendiri di pesantren tanpa menunggu kiriman dari orang tuanya diantaranya adalah dengan adanya budaya menulis, hasil dari tulisan itu dijual bahkan ada beberapa karangan santri yang diterbitkan dan hasilnya untuk kebutuhan hidupnya bahkan ada yang hasilnya juga dibantukan kepada orang tuanya di rumah.
Ketiga, istiqmah. Awanya
santri istiqamah sholat maktubahberjamaah,namu n nilai istiqamah ini dikembangkan lagi menjadi budaya istiqamah melakukan sholat rawatib, tahajud, dan dhuha.
c. Penghargaan di pondok pesantren
Penghargaan di pondok pesantren ini diberikan kepada santri yang berprestasi. Adapun bentuk pernghargaannya adalah:
a) pemberian amanah menjadi pengurus pesantren atau ustadz b) pemberian fasilitas dari pesantren berupa; Pertama,kamar khusus sebagai tempat tinggalnya. Kedua, makanan ditanggung pesantren. Ketiga, dibebaskan biaya listrik dan air. Adapun ukuran santri yang mendapatkan fasilitas tersebut adalah sebagaimana berikut: (1) santri yang memiliki waktu yang lama di pesantren, (2) tidak pernah melanggar aturan pesantren, (3) mampu menyelesai pendidikan madrasah diniyah mulai dari tingkat
ibtida’i,wustho, dan
ulya, (4) mempunyai
penilaian yang harum di mata dewan masyaikh dan santri secara umum. (5) jarang pulang ke rumahnya kecuali ada kepentingan mendesak, (6) hafal nazdam kitab
jurmiyah dan al-fiyah
ibn malik. (7)
menghasilkan minimal dua karangan berbahasa arab dalam bidang fiqh dan tasawwuf.
2 a. Strategi
Kiai Dalam Mengembangkan Budaya
Pesantren
1. Artikulasi Visi dan Misi pesantren.
2. Langkah kiai dalam Mengartiku-lasikan visi, misi, dan nilai-nilai kepemimpi-nan pesantren Visi: terwujudnya lembaga pondok pesantren yang mencetak santri bertakwa kepada Allah, akhlakul karimah dan memiliki kualitas keilmuan keislaman yang mapan Misi: Pertama, senantiasa selalu menumbuhkan dan mengembangkan ketakwaan kepada Allah SWT. Artinya pondok pesantren ini menanamkan dalam jiwa santri sebuah pemahaman yang mendalam dilandasi dengan keyakinan yang kuat bahwa tujuan hidup itu semata-mata hanyalah untuk beribadah kepada allah, mengabdikan diri kepada Allah dengan total. Oleh karena itu seluruh aktiftitas santri harus dilandasi dengan niat yang kuat untuk beribadah kepada allah SWT.
1. Di pondok pesantren
ini dalam
merumuskan visi misi dan nilai-nilai
Pengembangan visi ini adalah pada kualitas keilmua keislaman, yang awalnya hanya mampu membaca kitab kuning lalu dikembangkan dengan berkarya menulis kitab)
Pada awalnya perumusan visi misi hanya dilakukan oleh dewan masyaikh, tanpa satupun pengurus pesantren yang mengikuti. namun semenjak kepemimpinan kiai latfan, sebagian pengurus pesantren sudah ada yang terlibat.
kepemimpinan dirumuskan oleh dewan mayaikh atau dewan pengasuh. 2. Penjabaran dari
visi-misi yang telah dirumuskan oleh kiai menjadi program-progenram pesantren dan pelaksanaan teknis adalah diserahkan kepada pengurus pesantren. 3. Sosialisasi dan implementasi visi misi, program dan nilai-nilai
kepemimpinan adalah dilakukan dengan: (a) ratap rutin yang dilakukan setiap bulan, dan akhir sanah; (b) melalui pamflet yang di tempel di beberapa tempat strategis di pondok pesantren; (c) melalui informasi lisan pada waktu-waktu tertentu, baik yang dilakukan oleh dewan masyaikh atau pengurus pesantren. kiai juga sering
mensosialisasikan ketikan kiai sedang menyampaikan pengajian kitab setiap hari di pesantren.
Evaluasi dilakukan oleh pondok pesantren al-is’af kalabaan sumenep ini sebagaimana berikut:
pertama, setiap bulan.
Dalam evaluasi bulanan ini ada dua tahap, tahap pertama evaluasi
dilakukan oleh pengurus pondok pesantren. Sedangkan tahap kedua adalah dilakukan oleh dewan masyaikh.
Kedua, adalah evaluasi
yang diikuti oleh dewan masyaikh, pengurus pesantren, dan wali santri serta masyarakat sekitar yang dilakukan pada akhir sanah 3. 1. Gaya kepemimpinan kiai dalam mengembangkan budaya pesantren. 1) Gaya instruktif 2) Partisipatif 3) konsultatif
B. Studi Kasus Individu Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang