• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: TEMUAN DAN ANALISIS

A. TEMUAN

1. Bentuk Program Dakwah SMK Assa’adatul Abadiyah

Berdasarkan temuan penulis di lapangan, sekolah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah selain memberikan pengajaran keagamaannya yang rutin masuk dalam kurikulum, seperti pendidikan agama Islam, penulis juga menemukan bahwa sekolah itu membuat sejumlah program dakwah yang tidak terintegrasi dengan kurikulum artinya pengajaran itu lebih bersifat ekstra kulikuler.

Dalam konteks ini sekolah sekolah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah memberikan porsi yang lebih besar dibanding pengajaran pendidikan umum, seperit bahasa Indonesia, dan materi pelajaran lainnya. Pengajaran dan materi keagamaan mendapat porsi yang lebih besar. Langkah ini tentu saja merupakan upaya untuk membentuk kepribadian siswa yang berakhlakul karimah.

Program dakwah yang diberikan selain melalui pengajaran pendidikan agama Islam melalui jam belajar rutin, sekolah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah

ini juga menyelenggarakan program dakwah di luar itu. Di antara program itu adalah sebagai berikut: 50

1. Menggelar setiap kegiatan memperingati peringatan hari-hari besar Islam (PHBI), seperti mauled Nabi, isra’ mi’raj, dan hari besar islam lainnya.

2. Menyelenggarakan kegiatan pesantren kilat setiap bulan Ramadhan secara regular.

3. Melakukan mentoring dalam bentuk penerapan program dakwah sistem langsung (DSL) yang berlaku di sekolah-sekolah di Jakarta.

4. Selain dari sisi kognitif keagamaan siswa dipenuhi, ternyata dari sisi minat dan bakat siswa pun pada sekolah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah difasilitasi. Kegiatan dakwah melalui seni diperkenalkan melakukan kegiatan seni marawis.

2. Pengembangan Program Dakwah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah Dari berbagai program yang telah dirumuskan oleh pihak sekolah kemudian berusaha untuk dikembangkan. Hal ini agar manfaat dan keguanaan program tersebut dirasakan oleh para siswa secara lebih luas.

Program-program itu dikembangkan melalui baik yang dilakukan melalui pengajaran di ruang kelas maupun di luar kelas. Untuk program dakwah mentoring melalui dakwah sistem langsung (DSL) ini dikembangkan melalui pembinaan keagamaan siswa yang terintegrasi antara proses belajar mengajar di masjid, mushalla, dan kegiatan siswa di luar jam tatap muka di kelas.

50

" & "0 + - ?

Secara ideal, setiap kelompok dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 5-10 orang. Setiap kelompok dipandu oleh seorang mentor atau tutor dari kader pengurus rohani Islam atau Rohis. Pertemuan dilakukan sepekan sekali yang diadakan di masjid/mushalla dapat bekerja sama dengan pengurus masjid.

Pertemuan yang diadakan di masjid/mushalla dapat dimulai dengan tadarus al-Quran (bagi kelompok mahir) atau iqra’ (bagi yang belum lancar membaca) diteruskan dengan materi yang sesuai dengan silabus (kurikulum dakwah sistem langsung) yang tersedia dengan pemberian materi kejuruan (program normative, adaftif, dan produktif).

3. Tahapan Pengembangan Program Dakwah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah

Dalam pengembangan program dakwah sekolah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah menerapkan sejumlah tahapan yang telah berlaku dan diketahui bersama oleh disiplin ilmu manajemen, yaitu yang tidak terlepas dari perencanaan dan aksi serta kontrol dan pengawasan.

Pada tahapan persiapan pihak sekolah bersama guru BP, dan bidang Rohani Islam (Rohis) melakukan pemetaan terhadap berbagai persoalan yang terjadi dan dihadapi oleh para siswa.51 Dari hasil itu diidentifikasi bahwa para siswa umumnya menghadapi persoalan tentang belum menguasainya pengajaran dan pendidikan agama Islam, seperti materi ibadah, belum mengetahui bagaimana caranya berakhlak yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

51

" & "0 + - ?

Di samping itu juga diketahui materi kekurangtahuan siswa tentang belajar ibadah yang baik dan tepat mendapati perhatian di antara berbagai permasalahan yang dihadapi para siswa.

Selain itu, para siswa juga menghadapi sejumlah persoalan di masyarakat seperti kenakalan remaja, kurang mengetahui tentang bagaimana pacaran dalam Islam, dan berbagai isu dan masalah lainnya yang terjadi di masyarakat yang ingin diketahui oleh para siswa, seperti tentang banyaknya kelompok Islam yang mengaku nabi.

Dari langkah itulah kemudian pihak sekolah membuat perencanaan kegiatan program dakwah yang sesuai dengan target penyelesaian persoalan dan tujuan yang hendak dicapai. Kegiatan seperti penerapan mentoring bagi para siswa oleh guru agama dan oleh rohis serta pembentukan kelompok pengajian dan belajar di luar sekolah menjadi bagian dari program yang dibuat untuk menjawab berbagai persoalan yang telah diidentifikasi sebelumnya.

Bukan hanya itu, pengembangan program dakwah pun dilakukan melalui kegiatan membangun solidaritas bersama di antara para murid dan masyarakat. Menggelar kegiatan peringatan PHBI bersama serta mengadakan kegiatan bakti sosial dan santunan menjadi kegiatan yang dilaksanakan di sekolah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah.

Pengembangan dakwah melalui penggiatan bimbingan dan pelatihan program bakat dan seni melalui seni marawis menjadi bagian dari kegiatan di sekolah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah. Selain siswa diperkenalkan kepada seni-seni yang memiliki sejarah dengan Islam, juga para siswa dituntut terampil

memainkan alat-alat musik tersebut. Syiar dakwah ini bagus melalui lagu dan musik.

Proses evaluasi dan monitoring terhadap berbagai program dakwah yang dilakukan menjadi bagian dari kegiatan pengembangan dakwah. Bagaimanapun pihak sekolah menyadari bahwa materi dan cara pendekatan harus terus diperbaharui dan disempurnakan. Hal ini selain agar bisa sesuai dengan konteks zaman, juga mampu menjawab berbagai persoalan siswa dan masyarakat.

Evaluasi program pengembangan dakwah dilakukan setiap enam bulan sekali, bersamaan dengan penyelenggaraan evaluasi per semester. Dalam tahap ini diketahui berbagai kekurangan dan kelebihan yang telah dilakukan selama program dakwah itu dikembangkan. Langkah ini dilakukan penting agar dapat memperbaiki program untuk bulan-bulan berikutnya.

4. Strategi Pengembangan Program Dakwah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah

Program dakwah yang telah dibuat oleh pihak sekolah dikembangkan melalu strategi pengajaran di ruang kelas dan di luar kelas melalui pembuatan kelompok belajar.

Pertama, Pengembangan program dakwah melalui pengajaran di sekolah dilakukan melalui pengajaran mata pelajaran tertentu seperti mata pelajaran keagamaan atau pendidikan agama Islam. Proses belajar mengajar dilakukan dengan metode yang menyenangkan (enjoyable learning).

Dalam proses pengajarannya di kelas dibuka secara interaktif di antara siswa dan guru. Mendiskusikan sesuatu persoalan keagamaan bersama dengan murid. Dikusi keagamaan itu dilakukan dengan cara setiap tema tertentu, guru mengelompokkan para murid ke dalam kelompok-kelompok kecil yang jumlahnya antara 5 sampai dengan 7 orang untuk mendikusikan, mencari masalah sehari-hari yang ditemukan terkait dengan masalah keagamaan kemudian didiskusikan di depan kelas.

Dalam konteks ini, guru bertugas sebagai pembimbing dan Pembina jalannya diskusi keagamaan tersebut. Guru membiarkan sehingga menengahi berbagai persoalan yang tidak terselesaikan dengan baik.

Program dakwah yang seperti ini mengenalkan kepada siswa tentang berbagai persoalan keagamaan yang terjadi belakangan ini di masyarakat. Para murid diminta menilai dan memberikan pandangan berdasarkan pengalaman, pengetahuan dan tingkat penguasaan mereka terhadap ilmu agama.

Selain penguasaan materi yang menjadi penilaian guru, dalam hal ini guru pun menilai sikap dan tingkah polah siswa di dalam kelas. Pengajaran akidah akhlak yang diajarkan di sekolah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah ini untuk melihat sejauhmana kemampuan siswa merealisasikan pengetahuan dari hasil pengajarannya saat proses belajar mengajar.

Kedua, strategi pengembangan program dakwah yang dilakukan pihak sekolah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah adalah melalui pembentukan kelompok-kelompok pengajian dan pembelajaran di luar sekolah. Program itu membentuk kelompok belajar antara 5-10 orang siswa yang dikoordinir oleh

seorang mentor dari pengurus kerohanian Islam, atau tokoh masyarakat yang paham mengenai agama.

Kegiatan kelompok-kelompok ini merupakan kegiatan di luar sekolah atau yang disebut dengan kegiatan ekstrakulikuler, di luar kegiatan seperti pramuka dan olahraga. Kelompok-kelompok belajar dan dakwah Islam ini di sekolah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah ditangani oleh guru BP, dan OSIS. Bidang kerohanian memiliki porsi yang sangat penting dalam setiap kegiatan ini.

Strategi yang dilakukan diluar belajar rutin. Biasanya guru bidang kerohanian menugaskan untuk mendiskusikan berbagai isu yang berkembang terkait dengan masalah agama. Yang didiskusikan meliputi materi akidah, materi akhlak, materi ibadah, materi muamalah, dan materi tambahan lainnya.

Hanya saja, untuk kegiatan pengajaran di luar kelas dilakukan lebih bersifat fun fresh, dan masih tetap fokus. Selain itu, kegiatannya tidak terikat oleh waktu, tergantung sesuai kesepakatan di antara murid dan pembimbing.

Bila tiba pada peringatan hari-hari besar keagamaan, kegiatan menyanbut PHBI itu pun dilakukan termasuk dalam strategi pengembangan dakwah yang bersifat di luar kelas. Dalam kegiatannya biasanya OSIS dengan koordinasi guru pembimbing bidang pendidikan Islam dan bidang rohani membuat kepanitiaan. Melalui ini di antara mereka cukup terbangun ukhuwah dan solidaritas yang cukup bagus sehingga memungkinkan terjalin hubungan yang baik.

Di luar itu, biasanya kegiatan dakwah di luar kelas, lebih intensif lagi bila setiap datang bulan Ramadhan. Di luar kegiatan rutin membaca al-Quran dan

tadarus bersama, serta kegiatan ibadah lainnya tidak pernah terlewatkan dalam pelaksanaan program dakwah di sekolah SMK Islam Assa’adatul Abadiyah.

Di samping itu, tidak terlepas kegiatan wisata rohani bagi para siswa ke sejumlah tempat, seperti pondok Pesatren Darut tauhid, dan Pesantren Aj-Jaitun. Strategi pengajaran keagamaan ini mendapat sambutan cukup baik, menurut kepala sekolah, dari para siswa, guru, dan orang tua murid.52 Langkah ini ditempuh sekolah agar pengajaran keagamaan dan penyebaran dakwah itu lebih bersifat variatif dan mampu menarik para orang tua untuk ikut bersama dalam kegiatan tersebut.

Dokumen terkait