HASIL DAN PEMBAHASAN
9. Tenaga Kerja Yang Digunakan
Keberadaan tenaga kerja sebagai salah satu faktor internal dalam pengembangan bawang merah sangatlah penting. Tenaga kerja yang memadai dan berkualitas akan membantu menghasilkan bawang merah yang baik. Di Kecamatan Muara tersedia sumber daya manusia namun petani tidak memiliki modal yang cukup untuk membayar tenaga kerja.
Sebagian besar petani bawang merah di Kecamatan Muara menggunakan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) sehingga biaya tenaga kerja minimal. Tetapi jumlah tenaga kerja tersebut belum cukup terutama pada waktu pengolahan lahan dan penanaman. Rata-rata tenaga kerja yang dibutuhkan untuk usahatani bawang merah di Kecamatan Muara adalah sebagai berikut, pada luas lahan 1 rante dibutuhkan 4 orang tenaga kerja untuk tahap kerja pengolalahan lahan, (baik tenaga kerja dalam keluarga maupun tenaga kerja luar keluarga), dengan jumlah jam kerja sebanyak 10 jam/hari, dimana lama penyelesaian pengolahan lahan adalah selama 2 hari. Pada tahap kerja penanaman, dibutuhkan 4 orang tenaga
kerja (baik tenaga kerja dalam keluarga maupun tenaga kerja luar keluarga), dengan jumlah jam kerja sebanyak 10 jam/hari dan waktu penyelesaian penanam adalah selama 2 hari. Pada tahap kerja pemeliharan hanya dibutuhkan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK). Gaji/upah pada 1 orang tenaga kerja luar keluarga (TKLK) dalam tahap kerja pengolahan lahan maupun penanaman adalah sebesar Rp.60.000/hari/10 jam.
Keterampilan dan tehnik budidaya tenaga kerja di Kecamatan Muara tergolong cukup baik yaitu melakukan 60% dari poin penilaian yaitu penanaman menggunakan bibit unggul dengan jarak tanam 20x20 cm pada musim hujan dan 15x15 cm pada musim kemarau, melakukan penyiraman rutin yaitu pagi dan sore, melakukan pemanenan bawang merah apabila 70% daunnya sudah mulai layu, melakukan pengeringan pada bawang merah yang telah dipanen dengan cara digantung tanpa memotong daun bawang merah tersebut.
Setelah faktor-faktor internal selesai diidentifikasi, dapat dilakukan pengelompokan faktor internal menjadi kekuatan dan kelemahan berdasarkan skor masing-masing faktor internal. Apabila faktor internal memiliki skor 1 dan 2 maka faktor tersebut merupakan kelemahan dan jika faktor internal memiliki skor 3 dan 4 maka faktor tersebut merupakan kekuatan.
Besarnya skor suatu faktor menunjukkan kondisi eksisting faktor tersebut dalam pengembangan bawang merah. Sedangkan besarnya bobot suatu faktor menunjukkan nilai penting faktor tersebut dalam pengembangan bawang merah.
Semakin besar bobot faktor tersebut maka semakin penting keberadaan faktor tersebut dalam pengembangan agribisnis bawang merah, dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 12. Matriks IFAS
Faktor Internal Skor Bobot Skoring
Skor x Bobot KEKUATAN
1. Kondisi fisik dan mutu bawang merah
2,53 0,09 0,28
2. Produksi bawang merah 2,23 0,08 0,18
3. Pengalaman petani dalam usahatani bawang merah
3,27 0,12 0,39
4. Luas Lahan 2,10 0,07 0,15
5. Benih yang digunakan dan ketersediaan benih
3,80 0,14 0,53
Total Kekuatan 13,53 0,5 1,53
KELEMAHAN
1. Penguasaan petani terhadap teknik budidaya
2 0,125 0,25
2. Modal petani 2 0,125 0,25
3. Tenaga Kerja yang digunakan 2 0,125 0,25
4. Jumlah penggunaan input 2 0,125 0,25
Total Kelemahan 8 0,5 1
Total (Kekuatan+Kelemahan) 2,53
Total (Kekuatan-Kelemahan) 0,53
Sumber : Lampiran 3 dan 6, 2017
Tabel 11, dapat dilihat bahwa nilai skor faktor kekuatan kondisi fisik dan mutu bawang merah memiliki skor sebesar 2,53 dan nilai bobot sebesar 0,09. Ini menunjukkan bahwa kondisi eksisting mutu bawang merah di Kecamatan Muara cukup baik dan petani menganggap kondisi fisik dan mutu bawang merah sangat penting dalam pengembangan agribisnis bawang merah di Kecamatan Muara.
Faktor internal produksi bawang merah memiliki skor sebesar 2,23 dan bobot sebesar 0,08. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi eksisting produksi bawang merah kurang baik dan petani menganggap produksi bawang merah kurang berdampak pada pengembangan agribisnis bawang merah.
Faktor internal pengalaman petani dalam usahatani bawang merah memiliki skor sebesar 3,27 dan bobot sebesar 0,12. Hal ini menunjukkan bahwa faktor internal pengalaman petani dianggap penting dalam usahatani dan dapat menjadi salah satu faktor untuk pengembangan agribisnis di Kecamatan Muara.
Karena dari pengalaman yang dimiliki petani, petani dapat belajar dan menambah kemampuan dalam usahatani bawang merah.
Luas lahan merupakan faktor internal kekuatan karena memililki skor sebesar 2,10 dan bobot sebesar 0,07. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi eksisting luas lahan kurang baik atau tergolong sempit dan petani menganggap faktor tersebut kurang bepengaruh pada pengembangan agribisnis bawang merah.
Faktor internal kekuatan benih yang digunakan dan ketersediaan benih memiliki skor sebesar 3,80 yang merupakan skor tertinggi dalam faktor internal dan memiliki nilai bobot tertinggi yaitu sebesar 0,14. Hal ini menunjukkan bahwa bibit bawang merah yang digunakan oleh petani sudah baik dan petani menganggap hal tersebut sangat penting.
Faktor internal penguasaan petani terhadap teknik budidaya memiliki sebesar 2,00 dan bobot sebesar 0,125. Artinya adalah penguasaan petani terhadap teknik budidaya kurang baik tetapi petani menganggap penguasaan petani terhadap teknik budidaya sangat berdampak pada pengembangan agribisnis bawang merah.
Modal petani merupakan faktor internal kelemahan karena memiliki skor sebesar 2,00 dan bobot sebesar 0,125. Hal ini menunjukkan bahwa modal petani tidak memenuhi dalam usahatani bawang merah dan petani menganggap faktor tersebut sangat bepengaruh pada pengembangan agribisnis bawang merah.
Faktor internal kelemahan yaitu tenaga kerja yang digunakan memiliki nilai skor sebesar 2,00 dan nilai bobot sebesar 0,125. Hal tersebut menunjukan bahwa kondisi tenaga kerja yang digunakan kurang baik dan disebabkan oleh karena jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan tidak cukup akibat kurangnya biaya untuk mempekerjakan tenaga kerja yang dibutuhkan, akan tetapi keterampilan tenaga kerja tersebut tergolong cukup baik.
Faktor internal jumlah penggunaan input memiliki skor sebesar 2,00 dan jumlah bobot sebesar 0,125. Ini menunjukkan kondisi jumlah penggunaan input cukup baik dan faktor ini dianggap penting bagi petani. Petani mengetahui pentingnya penggunaan input usahatani (bibit, pupuk, pestisida dan alat pertanian) sesuai rekomendasi dosis dan waktu meskipun sebagian petani masih ada yang tidak sesuai rekomendasi dosis dan waktu, hal ini disebabkan oleh keterbatasan modal.
Total skor terbobot kekuatan adalah sebesar 1,53 dimana nilai tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan total skor terbobot faktor kelemahan yaitu sebesar 1. Selisih skor terbobot faktor kekuatan dengan faktor kelemahan yaitu sebesar 0,53. Selisih skor terbobot tersebut merupakan nilai x, yang akan menentukan posisi pengembangan agribisnis bawang merah dalam matriks posisi SWOT.
5.1.2. Faktor Eksternal
Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pengembangan agribisnis bawang merah di Kecamatan Muara yaitu sebagai berikut :
Tabel 13. Faktor-faktor Eksternal Agribisnis Bawang Merah Kecamatan Muara
No. Faktor Eksternal Ukuran Rata-rata Range
1. Permintaan bawang
merah Kg/kapita Terpenuhi Terpenuhi
2. Harga input rata-ratadan
ketersediaan input Rupiah
= Harga
merah di tingkat petani
Rupiah 18.800 18.000-20.000
4. Dukungan
Tinggi Tinggi
5. Dukungan
Pemerintah Keikutsertaan pemerintah dalam
pengembangan agribisnis bawang
merah
Tinggi Tinggi
6. Infrastruktur dan sarana pendukung
Cukup memadai Cukup memadai
7. Dukungan Tenaga Pendamping
Cukup tinggi Cukup tinggi
8. Posisi tawar Sumber : Lampiran 4, 2017