• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tentara Nasional.

Dalam dokumen tan malaka semangat muda (Halaman 77-91)

II. KEADAAN INDONESIA 1 Ekonom

2. Tentara Nasional.

Berapa susahnya mengadakan Organisasi yang tetap pada suatu jajahan seperti Indonesia, sudahlah bisa dibuktikan oleh sejarah pergerakan Indonesia, sendiri dalam kira-kira 17 tahun yang terakhir ini, Organisasi B.O cuma tergantung diawang- awang saja, sama sekali tak mempunyai pengaruh diantara Rakyat. N.I.P dan S.I yang diembus dengan "kebangsaan" dan "Agama" sekarang sudah kosong karena pompa angin tak bisa kerja begitu lama. Organisasi itu mesti berurat pada ekonomi dan Kasta, baru ia bisa tumbuh dengan tetap. Tetapi kita mesti bilang terus terang, bahwa sampai sekarang pada partai kita sendiripun belumlah jelas dan konsekuen, bahwa "Keadaan ekonomi dan Keadaan Kasta di Indonesia" itulah yang menjadi kriteria atau ukuran dalam pertimbangan kita buat mengadakan Organisasi. Di jajahan lain-lain seperti Mesir, India d.s.g dimana ada Nasional Kapital yang kuat dan pergerakan Nasionalisme yang revolusioner, maka dalam golongan Kaum Komunis sendiri adalah timbul pertimbangan, apakah tidak baik, jangan mendirikan Partai Komunis sendiri, melainkan memasuki Partai Nationalis yang revolusioner yang ada, dan dari dalam, sebagai Linksche Vleogcl atau Sayap Kiri, menumpu pergerakan Nasionalisme itu sampai ke Revolusi. Alasan pihak ini, yakni, dimana Buruh diatur oleh Kaum Komunis berpisah dari Kaum Nasionalis, seperti sudah dilakukan di Mesir dan India, disana pergerakan Nasionalis jadi mundur. Jadi kata pihak ini, selama

pergerakan Nasionalisme masih revolusioner, biarlah Buruh Industri, yang menang pada tiap-tiap jajahan jadi pasukan muka pergerakan revolusioner, diatur oleh Kaum Nasionalis, dan kita Komunis cuma menolong saja dari dalam dan menjaga supaya pergerakan jangan jadi lembek. Maksud yang pertama toh, kata pihak ini seterusnya melemparkan "imperialisme."

Disini tak tempatnya buat memeriksa pertimbangan ini lebih jauh. Tetapi kita boleh mengambil pengajaran dari pertimbangan itu, bahwa pada satu jajahan pergerakan nasionalisme itu buat melemparkan imperialisme satu faktor atau hal yang sangat penting, yang tiada boleh kita putuskan dengan dogma atau "kajian hapalan" saja.

Sebaliknya pula kita tidak boleh menunjuk ke bangkai S.I dan N.I.P dan berkata : "Nah, kan perlu lagi dihidupkan bangkai bangkai ini."

N.I.P dan S.I mati karena ada mempunyai sebab yang dalam sekali, ialah karena tak ada Nasional Kapital yang kuat di Indonesia, yang bisa memberi inspirasi atau semangat buat mendirikan Program yang kokoh, Organisasi yang teratur serta Taktik yang tetap, seperti di Mesir dan India. Oleh karena pemimpin-pemimpin B.O, N.I.P, & S.I seperti Dauwes Dekker, Tjipto, Tjokro Aminoto dan Salim terpaut oleh Kasta dan didikan mereka, ia tak pernah sampai ke kasta Kaum Buruh. Mereka tak bisa mengerti, bahwa di Indonesia Kasta inilah yang kuat karena

geconcentreerd (terkonsentrasi) dan dari Kasta inilah bisa datangnya inspirasi dan pimpinan buat merebut kemerdekaan.

Sebaliknya pula kita Komunis tak pula boleh memandang Indonesia sabagai Negeri industri, seperti Jerman atau Inggris, dan memikir bahwa Kebangsaan dan Agama dalam pertarungan kemerdekaan sama sekali tak ada artinya. Dan berhubungan dengan hal ini cukuplah kalau di Indonesia kita adakan Satu Partai Komunis saja.

Sikap inilah kira-kira yang dipeluk oleh pihak yang mau menghapuskan S.R pada Konferensi bulan November 1924 di Yogya. Yang dijadikan alasan, ialah :

"Kaum borjuis kecil di Indonesia selalu kalah, juga dalam perjuangan dengan imperialisme Belanda, yang tergambar pada B.O, N.I.P & S.I. Sebab itu S.R yang juga kumpulan borjuis kecil tak akan bisa menang."

Demikianlah kira-kira isinya Referaat Hoofdbestir. Kalah atau menangnya borjuis kecil di Indonesia buat kita pada masa ini perkara "puur philosophisch" (filosofi murni) artinya perkara timbang menimbang dengan tiada akan mendapat keputusan. Tetapi bukanlah kesimpulan atau putusan kalah menangnya itu sekarang yang terpenting buat kita, melainkan akuan, yang tak dibantah, malah terbawa oleh Referaat tadi sendiri, yakni Kaum borjuis kecil masih selalu berkelahi, jadi masih revolusioner.

Inilah yang terpenting buat kita, dan hal ini memang apriori atau sudah termasuk ke dalam pikiran. Kaum Borjuis Kecil, di mana-mana mau menjadi Borjuis Besar atau Hartawan-Besar. Pada Zaman Bangsawan, Borjuis kecil Indonesia terhambat oleh Raja dan Bangsawan kita, sebab itu ia acap berperang dengan Bangsawan itu. Pada Zaman kita mereka terhambat oleh imperialisme Belanda, sebab itu ia sekarang melawan imperialisme Belanda. Perlawanan ini sudah terbawa oleh alam dan tak akan habis, selama keadaan kasta-kasta masih tetap. Ringkasnya sekarang dalam himpitan imperialisme Belanda, borjuis kecil kita yang kira-kira 70% banyaknya dan tak berapa bedanya tertindas dari Kaum Buruh Industri akan tinggal revolusioner.

Berhubung dengan akuan diatas ini maka persoalan kita seharusnya, sebelum imperialisme Belanda belum kalah, ialah:

Bagaimana kita mesti mengatur P.K.I. yang kuat sebagai Avant-Garde atau Pasukan-Muka dari pergerakan revolusioner Indonesia ?

Bagaimana kita mesti menyusun Kaum Non-Proletar, sebagai Reserve atau Pasukan Pembantu pergerakan revolusioner ?

Bagaimana kita mesti menarik Landstorm atau Laskar dalam waktu tersesak, dari seluruh Rakyat Melarat ?

Bagaimana kita mesti mengadakan perhubungan antara P.K.I dan S. R. sebagai Partai Non-Proletar ?

Inilah persoalan kemerdekaan di Indonesia. Kita mesti mengaku, bahwa Non-Proletar saja tanpa Kaum Buruh susah mengalahkan Belanda. Sebaliknya pula Kaum Buruh tanpa pertolongan 70% Non-Proletar tidak pula mudah akan menang. Sedangkan di Jerman, dimana 75% dari penduduk negeri sama sekali buruh Industri model baru, pada tahun 1923, yakni waktu yang terpenting sekali buat revolusi, kita dengan segala daya upaja mendekati Kaum Borjuis Kecil. Juga di Rusia kemerdekaan kita peroleh dan kita pertahankan dengan Kaum Tani besar kecil yang banyaknya 80% itu, jadi dengan borjuis kecil juga.

Berhubungan dengan 4 persoalan yang diatas, maka kita sangka pertimbangan buat mengadakan Satu Partai, yakni P.K.I saja buat seluruh Indonesia ada salah. Kita pikir di kota besar- besar seperti Betawi, Semarang dan Surabaya pun sekarang mesti dilakukan Partai Kembar, yakni P.K.I dan S.R. Dengan politik Satu Partai, baik di seluruh Indonesia ataupun buat kota-kota besar, kita pikir, pertama kita bisa tinggal kecil (sectarisme) atau kedua besar, seperti perut kemasukan angin.

Kecil, karena sudah kita terangkan, bahwa Indonesia tidak negeri industri betul melainkan landbouw-industri. Sudah pula

(kain, besi, mesin, kapal d.s.g). Penduduknya kota-kota kita, terutama non-proletar, seperti tukang-tukang, dobi, saudagar kecil-kecil seperti penjual cendol, satai d.s.g. atau Buruh Halus, seperti guru-guru, jongos, clerk d.s.g. Yang buruh tulen di kota- kota kita masih sangat sedikit, kalau diperbandingkan dengan jumlah penduduk. Lagi pula mereka bukan buruh industri produktif yakni buruh yang mengadakan hasil (kain, besi, dll), melainkan buruh pengangkut, seperti kereta, kapal dan tram, yang kecakapannya juga kurang dari buruh industri betul. Tiadalah seperti di Berlin, London atau New York, dimana, kalau tutup pabrik pukul satu berbunyi kita melihat sampai 1.000.000 Buruh Pabrik, yang muka, tangan dan pakaiannya berkilat-kilat dengan minyak mesin, berduyun-duyun meninggalkan pabrik. Ini belum ada! Malah belum seperti Bombay, dimana buruh kain saja terkumpul 150.000. Atau di Calcutta yang mempunyai 300.000 buruh model baru, seperti buruh pelikan (tambang), kain, mesin, kereta, kapal dll. Betul ada beratus ribu sudah terkumpul di perusahaan gula, tetapi mereka itu buruh tani. Yang buruh pabriknya baru sedikit, dan sebab disini ada pabrik gula, disana 50 KM lagi berdiri pabrik lagi, jadi sebab sangat terpencar-pencar, maka kita susah pula mengatur mereka.

Ringkasnya betul buruh kita (kereta, kapal, gula, minyak d.s.g.) lebih kuat dari non-proletar, karena mereka menjalankan perusahan negeri, tetapi kita jangan overschatten (overestimate

atau melebih-lebihkan), melebihi perhitungan kekuatan kita. Kalau kita bersandar semata-mata pada buruh tulen dengan mengadakan Satu Partai, serta menghilangkan S. R. maka Partai kita akan sangat kecil.

Kalau ia dijadikan besar, maka terpaksa ia menarik jadi anggotanya saudagar-saudagar cendol, nasi, rujak d. s. g. Inilah namanya verwatering (mengencerkan), lebih santan dari pada air dan seperti SI akan segera jatuh kegemukan saja. Tidak boleh tidak elemen borjuis kecil itu, kalau masuk Partai Komunis, walaupun ia "menghapalkan" program kita, akan membawa semangat dan wataknya borjuis kecil (adat, logika, dan sifatnya). Betul kursus dan didikan bisa membangunkan semangat revolusioner, tetapi sebagai Marxis kita mesti tahu "bahwa keadaan itulah yang menentukan semangat" atau de materieele onderbouw bepaalt den geestelyken bovenbouw. Cuma kaum Utopis dan Dogmatis yang percaya, bahwa dengan "menghapalkan" saja satu ilmu bisa jadi orang bersifat baru. Betul bisa satu atau dua orang yang bukan golongan buruh bisa menjadi Komunis, tetapi sebagai kasta, Kaum borjuis kecil tak bisa dilompatkan menjadi Komunis Revolusioner. Dan sebab di Indonesia borjuis kecil itu memang masih terpaut oleh semangat revolusioner (sebab belum pernah menang) sebab itulah kita gampang menyangka, bahwa sebab dia revolusioner itu ia Komunis. Inilah bahaya yang ada kalanya kelak bisa masuk ke dalam badan PKI sendiri, yang bisa memecahkan diri dari dalam.

Bagaimana, kalau kita dirikan Satu Partai buat seluruh Indonesia dari kaum Buruh, dan non-proletar kita susun dalam Serikat Buruh?

Serikat Buruh saja tak cukup buat mereka, karena mereka borjuis kecil di negeri kita juga mempunyai cita-cita politik. Siapapun di kota-kota atau desa-desa, apapun juga pekerjaannya ia mau merdeka sebagai bangsa. Jadi kita harus mengadakan politik yang sepadan dengan kehendak mereka itu. Koperasi, Serikat Buruh atau Serikat Tani tak mencukupi cita-cita politik, lebih-lebih dari penduduk kota dan setengah kota.

Lagi pula, kalau kita mau mengadakan Serikat Buruh buat borjuis kecil di kota besar-besar seperti Betawi, Semarang, Surabaya d.s.g. di kota-kota klas dua seperti Sumedang, Pekalongan, Palembang, Banjarmasin d.s.g, berapa ribu Serikat Buruh mesti kita bikin, buat mengikat saudagar kecil-kecil, jongos, tukang penatu d.s.g, Ini dalam praktiknya mustahil!

Kita tidak saja di desa-desa dan kota-kota klas dua mesti mengadakan Organisasi politik yang memenuhi cita-cita 70% dari penduduk kita, tetapi juga di kotakota besar seperti Betawi dan Surabaya, dimana borjusi kecilah yang terbanyak dan industri produktif sama sekali belum ada. Baru kalau Partai Komunis bersamping dengan Organisasi, yang memeluk beribu- ribu anggota, yang pada segenap waktu bisa dijalankan bersama- sama, baru kita bisa mengadakan aksi politik umpamanya

demonstrasi yang berarti. Walaupun kita cuma dua atau tiga ribu, tetapi kalau kita dalam Aksi politik sebagai Avant-Garde dikelilingi oleh beribu-ribu Proletar & Non-proletar sebagai reserve, dan disukai oleh seluruh Rakyat yang tertindas sebagai Landstorm, kita bisa menang.

Berhubung dengan pertimbangan kita diatas, maka buat menjawab 4 pertanyaan tadi buat Indonesia Organisasi yang berikutlah yang sepadan dengan keadaan kita

1. Diadakan Partai-Kembar (PKI & S. R.), pada pusat ekonomi, politik dan Pergerakan, seperti di Betawi, Semarang, Surabaya, Bandung, Padang dan Medan, pada pusat ekonomi (industri) seperti Cepu, Kediri, Pelaju, Belitung, Pangkalan Brandan, Sawah-Lunto, Balik Papan d.s.g, pada pusat politik, seperti Palembang, Kota-Raja d.s.g., pada pusat pergerakan, baik kereta atau kapal, seperti lain yang sudah tersebut diatas juga Banjarmasin, Makasar, Cilacap, Cirebon d.s.g. yakni menurut pertimbangan yang lain-lain (seperti di Balik Papan sudah cukup PKI saja).

Anggota PKI terutama mesti dari Buruh industri, seperti dari bengkel, baik kereta ataupun pelabuhan, Buruh Cetak, Pabrik gula, minyaktanah, tambang arang, minyak d.s.g. Golongan inilah yang mesti jadi ruggegraat atau tulang punggungnya P.K.I.

Kursus mesti dikencangkan, tetapi isinya mesti praktis dan berpadan dengan keadaan dan aksi di Indonesia. Program dan Agitasi, dikencangkan betul, ialah yang berhubungan dengan industri dan negeri. (Lihat Program Nasional!).

Kontribusi dipertinggi dan disiplin diperkeras. Dalam semua Aksi seperti Pertemuan, Mogok dan demonstrasi anggota P.K.I mesti dimuka.

2. Diadakan S.R. saja, selainnya dari tempat yang tersebut diatas (1) di seluruh Indonesia, di kota-kota klas dua, seperti Sumedang, Magelang, Paja Kumbuh, Pontianak, di pelabuhan klas dua, di desa-desa dan gunung-gunung sampai masuk ke dalam hutan seperti Puruk Tjau di Borneo. Tak ada tempat yang boleh di lupakan.

Anggota S.R boleh dari sembarang kasta, asal mengakui dasar revolusioner, yakni mau mengusir imperialisme Belanda (jadi berbeda dengan N.I.P, B.O & S.I ). Student, saudagar, tukang, tani dan penjual ini atau itu, beragama Islam, Kong Hu Tju atau Kristen; yang suka sama kebangsaan, agama atau anarkisme, pendeknya semua yang benci kepada Tindasan Imperialisme bolehlah berdiri di bawah bendera S. R.

Kursus haruslah berhubungan betul dengan "keadaan dan cita-cita mereka. Perkara kemerdekaan sebagai Bangsa Nasional yang merdeka, perkara sewa rumah, Pajak, pendidikan dan

perkara yang lain, yang terasa betul oleh penduduk kota tak boleh dilupakan. Dalam kesusahan hari-hari, baikpun dengan pakrol-pakrol si Kecil di kota atau desa yang tak berhak apa-apa itu mesti ditolong oleh S. R.

Kontribusi mesti serendah-rendahnya, karena maksud kita yang terutama, supaya menarik mereka ke bawah pengaruh dan ke dalam aksi kita. Juga disiplin tidak bisa begitu keras, karena hal ini sudah terbawa oleh watak mereka. Jadi maksud kita yang terutama ialah mengumpulkan semua golongan yang tak senang hati di bawah Imperialisme Belanda dan memimpin mereka dalam segala aksi.

3. Dengan Perantaraan P.K.I, kalau krisis ekonomi dan politik datang kita bisa menarik terutama, segala Buruh industri yang ada, baik yang sudah diatur dalam Serikat Buruh ataupun yang belum di atur. Dalam Pemogokan atau demonstrasi PKI. akan memberi pimpinan yang langsung atas semua golongan Kaum Buruh di Indonesia.

Dengan perantaraan S.R, semua penduduk kota, seperti klerk, tukang, penjual ini atau itu, student d.s.g dan semua penduduk desa dan gunung akan menarik dengan Tuntutan yang pantas ke dalam Aksi, seperti Boikot dan demonstrasi buat melawan Krisis ekonomi atau politik dan merebut Kemerdekaan. Jadi P. K. I. & S. R. keduanya mesti menjadi Organ atau Anggota buat seluruh

Teranglah sudah maksud kita bahwa kedudukan P.K.I dan S.R bukan kedudukan Bovenbouw (atas) dan Onderbouw (bawah), yang di kursus atau tak di kursus atau tinggi berendah (memang kita dengan semua Rakyat melarat mau ke zaman persamaan, bukan?), melainkan kedudukan dua kasta tertindas, tetapi berlainan keperluan dan sifatnya, oleh sebab mana mereka harus di atur dalam dua pasukan. Sebab Buruhlah yang terkumpul dan memegang perusahaan negeri yang terutama serta non-proletar terpencar-pencar, maka dari buruhlah bisa datang Aksi yang tetap, Ideal atau cita-cita yang tetap, Program yang tetap dan Senjata yang tetap (Mogok). Berhubung dengan itulah ia di Indonesia bisa memberi Pimpinan yang tetap revolusioner. S.R berdirinya bukanlah karena internasional (memang ini dulu pelawan semangat N.I.P) atau karena tak beragama (memang ini mengandung dan melawan semangat S.I) melainkan karena ia berdiri atas kasta non-proletar yang bersifat revolusioner. Kasta dan semangat revolusioner itulah yang menjadi kriteria atau ukuran di S.R, dengan tiada melanggar Agama atau Kebangsaan, malah mufakat, kalau Agama dan Kebangsaan itu ada memperkuat keyakinan dan semangat Revolusioner.

4. Karena Buruhlah kasta yang terkumpul, dan ialah yang mempunyai senjata yang tertajam, yakni mogok, maka ialah pula yang mesti memberi pimpinan politik buat merebut kemerdekaan Indonesia.

Walaupun Seksi atau Lokal diatur dengan Partai Kembar, tetapi Sentral tentu mesti satu, supaya urusan, agitasi dan aksi bisa satu pula. Supaya semua golongan di Indonesia bisa diperhatikan keperluannya, maka pada Sentral Pimpinan Revolusioner di Betawi, seberapa boleh kelak mesti diadakan wakil dari semua pulau, dan semua kasta yang terutama seperti Buruh, Student, Tani dan Penduduk kota. Buat memperhatikan kepulauan Indonesia yang begitu besar tentulah belum cukup 5 atau 6 orang duduk di Sentral Pimpinan.

Supaya agitasi buat seluruh Indonesia dirasa betul oleh semua golongan haruslah Sentral Pimpinan Revolusioner, membedakan agitasi buat satu negeri dengan yang lain (Jawa dengan Sumatera atau Celebes, Padang dengan Jambi); dan satu golongan dengan golongan lain (Buruh dan Tani atau Student dengan Penduduk kota). Berhubung dengan hal ini pekerjaan di Sentral pimpinan haruslah dibagi-bagi (verdeling en specialiseeren van arbeid) (partisi dan spesialisi kerja).

Supaya pimpinan tinggal revolusioner, jangan seperti S.I atau N.I.P, haruslah baik di Sentral Pimpinan ataupun di Seksi atau Lokal, S.R yang mayoritas atau terbanyak ialah pemimpin Komunis. Dengan jalan begitu, kita menjaga supaya pergerakan Indonesia tinggal proletaris dan tak menjadi oportunistis atau reformistis, yakni lembek seperti S. I. dan N. I. P.

Koperasi, dan mengikat JOI dan Rakyat-Scholen, yang menaruh semangat proletaris dan revolusioner, menunggu datangnya saat, dimana ia dengan Massa-Aksi kelak akan merebut hak ekonomi dan politik.

Oleh karena Massa-Aksi itu cuma bisa dijalankan dengan Massa, yakni beramai-ramai, maka haruslah P.K.I yakni pemuka Kaum Buruh dan S.R yakni pasukan Muka Kaum Non-Proletar menambah anggotanya dengan berlipat ganda. Kalau S.I pada waktu baiknya bisa mengumpulkan sampai 1 atau 2 juta anggota (betul belum seperti anggota sekarang), dan menurut laporan pemerintah sendiri sampai 5 atau 6 juta simpatisan, yakni yang mufakat dengan S.I, maka kalau Taktik, Program dan Agitasi kita benar dalam waktu di muka ini sekurangnya kita mesti dapat laskar buat PKI 10.000 dan buat S.R 500.000. Juga anggota dari Serikat Buruh yang terutama seperti V.S.T.P, S.P.P.L, S.P.L.I dan S.G.B haruslah berlipat ganda banyaknya. Di Jambi, Palembang, Banjarmasin, Aceh d.s.g mesti ada koperasi-koperasi yang kuat. Demikianlah pula JOI harus memperbanyak anggota dan Seksinya. Di Betawi, Semarang dan Surabaya bersamping dengan P.K.I yang bisa mempunyai 1000-2000 anggota S.R bisa mendapat 10-20.000 anggota. Kalau sudah bisa kita mengadakan Tentara Nasional sebesar ini tidak saja Imperialisme Belanda segenap waktu bisa hancur, tetapi juga imperialisme Asing tak akan gampang menentang Tentara yang sebesar itu.

V. REVOLUSI.

Dalam dokumen tan malaka semangat muda (Halaman 77-91)