• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Manfaat Penelitian

1. Teori Identitas Sosial

Teori identitas sosial dipelopori oleh Henri Tajfel pada tahun 1957 dalam upaya menjelaskan prasangka, diskriminasi, perubahan sosial, dan konflik antar kelompok.

Menurut Tajfel, identitas sosial seseorang turut membentuk konsep diri dan memunginkan individu menempatkan diri pada posisi tertentu dalam jaringan hubungan-hubungan sosial yang rumit. Konsep diri seseorang berasal dari pengetahuan mereka tentang keanggotaan dalam suatu kelompok sosial bersamaan dengan signifikansi nilai dan emosional dari keanggotaan tersebut. Kelompok-kelompok ini antara lain keluarga dan kerabat seperti kelompok pekerjaan, kelompok agama, kelompok politik, kelompok etnis komunitas, dan kelompok lainnya yang memperkuat aspek pada diri seseorang (Deaux, 1995: 245). Identitas sosial berkaitan dengan keterlibatan, rasa peduli, dan rasa bangga dari keanggotaan dalam kelompok tertentu.

Menurut Hogg (dalam Jhalugilang, 2012: 24) menjelaskan bahwa teori identitas sosial merupakan sebuah teori psikologi sosial hubungan antara kelompok, proses kelompok, dan diri sosial. Asumsi dari teori ini adalah bahwa identitas dibentuk berdasarkan keanggotaan kelompok, individu dimotivasi untuk berperilaku dalam mempertahankan dan mendorong harga dirinya. Lebih lanjut Hogg dan Abram (1990:

16) menjelaskan bahwa identitas sosial sebagai rasa keterkaitan, peduli, bangga dapat berasal dari pengetahuan seseorang dalam berbagai kategori keanggotaan sosial dengan anggota yang lain, bahkan tanpa perlu memiliki hubungan personal yang dekat, mengetahui atau memiliki berbagai minat.

32 Menurut Brewer dan Brown (dalam Kadek, 2013: 245), mengatakan bahwa identitas sosial yaitu orang-orang yang pada umumnya mengevaluasi anggota in-group secara lebih positif, memberi atribut yang lebih positif atas perilaku mereka, menghargai mereka, memperlakukan mereka secara lebih baik, dan menganggap mereka lebih menarik ketimbang anggota out-group. Karena pada umumnya individu-individu membagi dunia sosial ke dalam dua kategori yang berbeda yakni kita dan mereka, kita adalah in-group dan mereka adalah out-group. Sedangkan menurut James (dalam Walgito, 2002: 16), identitas sosial lebih diartikan sebagai diri pribadi dalam interaksi sosial, dimana diri adalah segala sesuatu yang dapat dikatakan orang tentang dirinya sendiri, bukan hanya tentang tubuh dan keadaan fisiknya sendiri saja, melainkan juga tentang anak-istrinya, rumahnya, pekerjaannya, nenek moyangnya, teman-temannya, uangnya, dan lain-lain. Lebih lanjut menurut Baron dan Byrne (dalam Kadek, 2013: 245) memberi definisi atas identitas sosial sebagai seseorang tentang di dalamnya atribut pribadi dan atribut yang dibaginya bersama dengan orang lain, seperti misalnya gender, ras, dan ideologi.

Dari beberapa definisi mengenai identitas sosial diatas, dapat disimpulkan bahwa identitas sosial adalah bagian dari konsep diri seseorang yang berasal dari pengetahuan atas keanggotannya yang memiliki rasa keterlibatan, rasa peduli, dan rasa bangga terhadap kelompoknya tanpa perlu memiliki hubungan personal yang dekat antar anggota dalam suatu kelompok sosial tertentu. Biasanya individu-individu tersebut mengevaluasi dan memberi nilai yang lebih positif kepada kelompoknya atau in-group ketimbang kelompok lain atau out-group.

33 Teori identitas sosial memiliki 3 (tiga) komponen utama, yakni kategorisasi diri (self categorigazation), perbandingan sosial (social comparison), dan diskriminasi antar kelompok (intergroup discrimination), Tajfel (dalam Maryam, 2010: 16-18):

1. Kategorisasi diri (Self categorigazation)

Kategorisasi diri terjadi ketika seorang individu menempatkan dirinya sebagai obyek yang bisa dikategorisasikan, diklasifikasikan dan diberi nama dengan cara tertentu dalam hubungannya dengan kategori-kategori yang lain yang ada dalam lingkungan sosialnya. Kategori tersebut berupa kelompok sosial yang berbeda, sedangkan pengklasifikasian seorang individu ke dalam kelompok tertentu tentunya didasarkan atas persamaan individu tersebut dengan anggota yang lain dalam suatu kelompok. Kategorisasi diri dapat dilihat dalam perspektif esensialis dan non-esensialis. Perspektif esensialis merupakan suatu pespektif identitas yang bersifat tetap, otentik dan tidak pernah berubah, misalnya ciri fisik dari suatu individu. Sedangkan, perspektif non-esensialis merupakan suatu perspektif identitas yang tidak permanen dan masih dapat dirubah, misalnya status kewarganegaraan, status keanggotaan, agama, dan ideologi. Dalam kategorisasi diri ada kalanya ketika seorang individu berinteraksi dengan individu lainnya ia dapat bersikap sebagai dirinya sendiri (tidak terikat pada suatu kelompok) dan bersikap sebagai anggota dari kelompok tertentu. Dengan kata lain, kategorisasi diri terjadi ketika seorang individu mengklasifikasikan dan membedakan kelompok yang ia miliki (in-group) dengan kelompok lainnya (out-group). Pada tahap kategorisasi ini, individu cenderung melihat

34 persamaan antara dirinya dengan anggota lain dalam kelompok yang sama (in-group) dan melihat perbedaan antara dirinya dengan anggota dari kelompok yang lain (out-group).

2. Perbandingan sosial (Social comparison)

Perbandingan sosial merupakan suatu proses membandingkan kelebihan seorang individu dengan individu lainnya atau sebuah kelompok dengan kelompok lainnya. Ketika seorang individu tersebut ingin menentukan nilai dirinya dalam lingkungan sosialnya, maka ia cenderung akan membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain. Kelompok sosial dalam suatu kehidupan masyarakat hanya bisa ada ketika perbandingan dengan kelompok yang lain dilakukan dan pasti ada kelompok yang lebih diunggulkan dari yang lain. Misalnya saja perbandingan antara orang kulit putih dengan kulit hitam, orang kulit putih tidak akan mengelompokan diri mereka ke dalam kelompok orang kulit putih jika perbandingan dengan kelompok orang kulit hitam tidak ada. Perbandingan itu sendiri pada akhirnya akan memperlihatkan kelebihan dan kelemahan masing-masing kelompok sehingga kelompok yang mempunyai kelebihan dibanding kelompok lain akan diunggulkan. Menjadi bagian dari sebuah kelompok yang lebih diunggulkan akan meningkatkan harga diri (self-esteem) seorang individu. Harga diri mereka adalah untuk mempertahankan kelompoknya lebih baik dari kelompok lain, pasalnya masing-masing kelompok akan mengidentifikasi kelompok lain sebagai suatu saingan. Seorang individu telah memperoleh nilai positif dalam statusnya sebagai anggota kelompok

35 jika ia merasa harga dirinya meningkat ketika menjadi anggota dari kelompok tertentu yang lebih unggul dari kelompok lain, hal ini disebut sebagai positif distinctiveness. Sebaliknya, jika seorang individu merasa tidak memperoleh nilai positif atas keanggotannya dari sebuah kelompok tertentu, maka hal ini disebut sebagai negatif distinctiveness.

3. Diskriminasi antar kelompok (Intergroup discrimination)

Diskriminasi mengarah pada sebuah tindakan, dimana tindakan diskriminasi biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki prasangka kuat akibat tekanan tertentu, misalnya tekanan budaya, adat istiadat, kebiasaan, atau hukum.

Selama ada prasangka disitu ada diskriminasi, karena antara keduanya memiliki hubungan yang saling terkait. Jika prasangka dipandang sebagai keyakinan atau ideologi, maka diskriminasi adalah terapan dari keyakinan atau ideologi. Jadi diskriminasi merupakan tindakan yang membeda-bedakan, kurang bersahabat dan cenderung kurang adil karena lebih mendahulukan kepentingan kelompoknya ketimbang kelompok yang lain.

Kecenderungan individu melakukan tindakan yang lebih mendahulukan kepentingan kelompoknya dibanding kelompok lain disebut favoritisme dalam kelompok (in-group favoritism).

Dalam proses pembentukan identitas sosial terdapat suatu motivasi-motivasi yang menyebabkan individu dalam suatu kelompok berusaha untuk lebih baik dibandingkan dengan kelompok lain. Berikut adalah motivasi-motivasi dalam proses pembentukan identitas sosial, Burke dan Hogg (dalam Kirana, 2010: 31-32):

36 1. Positif distinctiveness dan Self enhancement (Peningkatan diri)

Positif distinctiveness meliputi keyakinan bahwa kelompok kita (in-group) lebih baik dari kelompok mereka (out-group). Setiap anggota atau kelompok akan berusaha mempertahankan nilai dari Positif distinctiveness tersebut, karena hal tersebut menyangkut dengan martabat, status, dan kelekatan tersendiri terhadap kelompoknya. Dengan bertahannya nilai dari Positif distinctiveness, hal ini menggambarkan suatu usaha peningkatan harga diri dari setiap anggota kelompok. Begitu juga dengan Self enhancement yang dimanfaatkan oleh individu untuk menjaga dan memajukan status kelompoknya terhadap kelompok lain yang berada diluar dirinya. Self enhancement juga difungsikan dalam proses pembentukan identitas sosial dan pengevaluasi identitas kolektif dari setiap individu dalam kelompok, dimana motivasi tersebut dapat berupa aspek positif dalam diri individu sehingga membuat harga dirinya meningkat.

2. Uncertainty reduction (Reduksi ketidakpastian)

Motivasi Uncertainty reduction dilakukan untuk mengetahui posisi kondisi sosial dimana tiap individu berada dan mengurangi ketidakpastian subyektif mengenai dunia sosialnya. Motivasi ini mendorong setiap individu untuk mengetahui siapa sebenarnya mereka, siapa orang lain, bagaimana mereka berperilaku dan bagaimana seharusnya orang lain berperilaku. Motivasi Uncertainty reduction erat kaitannya dengan kategorisasi sosial, karena kategorisasi sosial juga memberikan nilai group prototype yang menggambarkan bagaimana tiap-tiap individu seharusnya berperilaku dan

37 berinteraksi dengan orang lain. Dalam suatu kelompok biasanya anggota cenderung untuk menyetujui status keanggotaannya tanpa berani menentang atau mempertanyakan status dari kelompok mereka, hal ini karena akan berakibat pada meningkatnya ketidakpastian konsep diri (Self conceptual) dari anggota tersebut. Anggota yang telah memiliki kepastian konsep diri (Self conceptual) akan termotivasi oleh sikap Self enhancement (Peningkatan diri) untuk mengidentifikasi dirinya lebih baik terhadap kelompoknya.

Identitas sosial memiliki implikasi negatif terhadap individu dalam statusnya sebagai anggota kelompok, beberapa implikasi negatif tersebut antara lain:

1. Prasangka (Prejudice)

Prasangka atau Prejudice adalah penilaian terhadap suatu kelompok atau seorang individu yang didasarkan atas status keanggotannya didalam kelompok tertentu, dimana prasangka tersebut dapat bersifat positif maupun negatif. Namun dalam kaitannya dengan prasangka, biasanya sifat yang lebih di tonjolkan adalah sifat yang negatif. Dengan kata lain prasangka lebih menilai sesuatu yang negatif terhadap orang lain ataupun kelompok lain yang berbeda dengan dirinya dan kelompoknya sendiri, tanpa adanya alasan yang objektif dan tidak mendasar terhadap orang dan kelompok yang diprasangkai tersebut. Penilaian yang cenderung subjektif dan dangkal terhadap orang dan kelompok lain tersebut akan memunculkan sikap ketidaksukaan yang akan terjadi secara terus-menerus sehingga dapat merendahkan harga diri (Self-esteem) seseorang atau suatu kelompok (Widyarini, 2002: 11-12).

38 2. Stereotip (Stereotype)

Kata stereotype berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua suku kata, yakni stereos dan typos. Stereos bermakna solid sedangkan typos bermakna tipe atau model (Schneider, 2004: 8). Stereotip adalah sikap menggeneralisasi kepada suatu kelompok tertentu, memberikan label karakteristik tertentu kepada seluruh anggota kelompok tersebut, tanpa mempertimbangkan adanya variasi dari anggota-anggotanya. Orang dalam statusnya sebagai bagian dari kelompok tertentu akan menunjukan identitasnya dan identitas kelompoknya ketika berhadapan dengan kelompok lain yang memiliki identitas yang berbeda. Perbedaan tersebut kerap menjadi hambatan dalam menjalin komunikasi dan interaksi antar kelompok, karena setiap kelompok cenderung memiliki preferensi dan pemahaman yang dibentuk melalui stereotip yang mengarah pada prasangka.

3. Diskriminasi (Discrimination)

Diskriminasi adalah tindakan-tindakan yang membeda-bedakan dan cenderung kurang adil dari satu kelompok kepada kelompok lain yang berbeda atau dari kelompok dominan kepada kelompok yang lemah.

Diskriminasi juga dianggap sebagai perilaku negatif atau membahayakan dari suatu anggota kelompok kepada anggota kelompok tertentu. Tindakan-tindakan diskriminasi biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki prasangka kuat akibat tekanan tertentu, misalnya tekanan budaya, adat istiadat, kebiasaan, atau hukum.

39 4. Rasisme (Racism)

Kata ras berasal dari bahasa Perancis yakni “razza”, dimana istilah ras ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang antropolog Perancis yang bernama Franqois Bernier, ia mengemukakan gagasan tentang pembedaan manusia berdasarkan kategori-kategori dan karakteristik warna kulit dan bentuk wajah (Sutarno, 2007: 23). Setelah itu orang-orang kemudian menetapkan suatu hierarki manusia berdasarkan karakteristik fisik, misalnya pandangan bahwa orang eropa kulit putih adalah masyarakat kelas satu yang modern, dan menganggap orang kulit hitam Afrika sebagai masyarakat kelas dua yang terbelakang. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap stratifikasi dalam berbagai bidang seperti misalnya pada bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, dan bidang-bidang lain.

Implikasi negatif dari suatu identitas sosial tidak muncul secara tiba-tiba, tindakan prasangka, stereotip, diskriminasi, dan rasisme tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor pembentuknya. Faktor-faktor pembentuk tersebut diantaranya;

pengaruh kepribadian, pengaruh kelompok, pengaruh tingkat dan status pendidikan, pengaruh didikan orang tua, pengaruh komunikasi/media, pengaruh politik dan ekonomi, dan pengaruh hubungan sosial, Mar’at (dalam Irmawati, 2008: 7-8).

Dokumen terkait