BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Teori Implementasi, Penegakan, dan Efektivitas Hukum
45
45
2. Tanggung jawab Notaris secara pidana terhadap kebenaran materiil dalam akta yang dibuatnya. Mengenai ketentuan pidana tidak diatur di dalam Undang-Undang Jabatan Notaris, namun tanggung jawab Notaris secara pidana dikenakan jika Notaris tersebut melakukan perbuatan pidana yang melanggar hukum.
Batas pertanggung jawaban baik dalam hal jabatan, kewenangan, kesalahan, dan sanksi nya terhadap Notaris, Pejabat Sementara, Notaris Pengganti, dan Notaris Pengganti Khusus dapat diminta sepanjang mereka masih berwenang dalam menjalankan jabatannya sebagai Notaris atau pejabat umum.34
Terhadap protokol notaris, tanggung jawab tetap berada pada notaris pembuat akta dan bukan pada notaris penerima dan penyimpan protokol, kecuali dalam pemberian salinan akta oleh notaris penerima dan penyimpan protokol notaris terdapat perbedaan antara minuta akta dan salinan akta maka hal tersebut menjadi tanggung jawab notaris penerima dan penyimpan protokol.
46
berusaha mencapai perubahan-perubahan besar atau kecil sebagaimana yang telah diputuskan sebelumnya. Implementasi pada hakikatnya juga merupakan upaya pemahaman apa yang seharusnya terjadi setelah program dilaksanakan.35
Implementasi adalah proses pelaksanaan keputusan dasar. Proses tersebut terdiri atas beberapa tahapan, pertama, tahapan pengesahan peraturan perundangan.
Kedua, pelaksanaan keputusan oleh instansi pelaksana. Ketiga, kesediaan kelompok sasaran untuk menjalankan keputusan. Keempat, dampak nyata keputusan baik yang dikehendaki maupun tidak. Kelima, dampak keputusan sebagaimana yang diharapkan instansi pelaksana. Keenam, upaya perbaikan atas kebijakan atau peraturan perundangan.36
Implementasi erat hubungannya dengan penegakan hukum. Menurut Soerjono Soekanto, penegakan hukum adalah kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan dalam kaidah-kaidah mantap dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir. Untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.37
Jimly Asshiddiqie memberi pengertian penegakan hukum adalah sebuh proses yang dilakukannya sebagai upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.38
Setiap aturan yang sudah dibuat baik secara tertulis maupun tidak tertulis pastinya bertujuan agar peraturan tersebut ditegakkan demi terciptanya tujuan hukum.
Penegakan hukum ini tidak mungkin berjalan dengan sendirinya tanpa campur tangan dua unsur utama, yaitu dari segi subjeknya dan dari segi objeknya.
Penegakan hukum dilihat dari segi subjeknya mengandung arti bahwa penegakan hukum dalam ruang lingkup kecil hanya ditinjau dari upaya aparat penegak
35 Deddy Mulyadi, Study Kebijakan Publik dan Pelayanan Publik, Bandung: Alfabeta, 2015, hlm. 12.
36 Ibid.
37 Soerjono Soekanto, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta: UI Pres, 1983, hlm. 35.
38Jimly Asshiddiqie, Penegakan Hukum, diakses dari http://www.jimly.com/makalah/namafile/56/ Penegakan_Hukum.pdf pada tanggal 1 juli 2022, 20.03.
47
47
hukum untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu aturan hukum berjalan sebagaimana seharusnya. Aparat penegak hukum ini dapat menggunakan upaya paksa demi memastikan tegaknya suatu aturan hukum. Apabila dilihat dari ruang lingkup besar, maka proses penegakan hukum itu melibatkan semua subjek hukum dalam setiap hubungan hukum. Mencakup didalamnya siapa saja yang menjalankan aturan normatif, mengerjakan sesuatu maupun tidak mengerjakan sesuatu atas dasar hukum yang berlaku berarti dapat dikatakan ia sedang menegakkan aturan hukum.
Lain halnya dengan penegakan hukum apabila ditinjau dari segi objeknya.
Penegakan hukum ditinjau dari segi objeknya secara lingkup kecil hanya menyangkut penegakan peraturan yang formal dan tertulis saja. Berbeda halnya dengan penegakan hukum dari segi objek secara lingkup luas mencakup didalamnya nilai-nilai keadilan yang terkandung dalam aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Pembahasan mengenai penegakan hukum tidak lepas dari parameter efektivitas hukum. Ketika kita berbicara mengenai efektivitas berarti kita berbicara mengenai sejauh mana aturan hukum itu ditaati atau tidak ditaati. Faktor yang banyak mempengaruhi efektivitas suatu perundang-undangan adalah profesional dan optimal pelaksanaan peran, wewenang dan fungsi dari para penegak hukum, baik di dalam menjalankan tugas yang dibebankan terhadap diri mereka maupun dalam menegakkan perundang-undangan tersebut.39
Teori efektivitas hukum menurut Soerjono Soekanto adalah bahwa efektif atau tidaknya suatu hukum ditentukan oleh 5 (lima) faktor, yaitu:40
1. Faktor hukum itu sendiri (undang-undang).
2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.
3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakkan hukum.
39 Achmad Ali, Menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan Vol.1, Jakarta: Kencana, 2010, hlm. 375.
40 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008, hlm. 8.
48
4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.
5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.
Antara kelima faktor ini saling memengaruhi dan terikat satu sama lain agar terciptanya penegakan hukum sesuai seperti apa yang sudah dicitakan sebelumnya atau berjalan efektif. Meninjau faktor pertama yaitu berdasarkan faktor hukum itu sendiri maksudnya adalah yang menentukan hukum tertulis berjalan baik atau tidak sesuai fungsinya kembali lagi ke aturan hukum itu sendiri. Bukan lagi menjadi rahasia bahwa fakta di lapangan terkait praktik penyelenggaraan hukum seringkali bertentangan dengan konsep keadilan dan kepastian hukum.
Faktor hukum dalam penegakan hukum timbul karena adanya sumber hukum.
Sumber hukum itu dibagi lagi menjadi dua, yaitu sumber hukum materiil dan sumber hukum formil. Sumber hukum materiil penegakan hukum didasarkan perasaan hukum seseorang atau pendapat umum, agama, kebiasaan, dan politik hukum dari pemerintah, sedangkan sumber hukum formil penegakan hukum berkaitan dengan bentuk atau cara yang menyebabkan peraturan hukum itu berlaku, meliputi undang-undang, kebiasaan hukum, keputusan-keputusan hakim(yurisprudensi), kesepakatan (consensus), dan pendapat sarjana hukum.
Faktor yang kedua, efektif atau tidaknya kinerja hukum tertulis dinilai dari aparatur penegak hukumnya mencakup didalamya pihak yang terlibat dalam peroses pembuatan dan penerapan hukumnya. Kunci keberhasilannya ada pada kepribadian seorang penegak hukum (pejabat kepolisian, jaksa, hakim, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Tidak jarang terjadi fenomena bahwa peraturan sudah terbentuk baik akan tetapi kualitas petugas kurang baik sehingga menjadi masalah dalam penegakan hukum. Kualitas yang rendah dari aparat penegak hukum berakibat menimbulkan perspektif masyarakat yang melunturkan wibawa aparat penegak hukum yang berdampak masyarakat cenderung tidak turut serta menegakan peraturan hukum.
Faktor yang ketiga, dalam penegakan hukum sarana dan fasilitas sangat berperan penting. Sebab, aparat penegak hukum tidak akan bekerja secara maksimal
49
49
apabila tidak didukung sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana ini bisa berupa tenaga manusia yang terdidik dan terampil, kendaraan, fasilitas komunikasi, dan keuangan yang memadai.
Faktor yang keempat, walaupun undang-undang sudah disusun sedemikian bagus namun apabila faktor masyarakat tidak mendukung, maka pelaksanaan penegakan hukum tetap akan berjalan tidak efektif. Penegakan hukum dari masyarakat bertujuan agar tercapainya kedamaian yang berpengaruh terhadap kepatuhan hukum masyarakat.
Faktor yang terakhir adalah kebudayaan. Kebudayaan hukum didalamnya mencakup nilai-nilai yang merupakan konsepsi abstrak apa yang dianggap baik dan buruk sehingga masyarakat mengetahui apa yang harus dianut dan apa yang harus dihindari. Penegakan hukum didorong oleh faktor kebudayaan mengatur bagaimana manusia menentukan sikapnya dalam bertindak kepada sesame manusia dalam kehidupan sosial.
Berdasarkan kelima faktor efektivitas penegakan hukum di atas yang saling terkait, yang menjadi titik utamanya adalah faktor aparatur penegak hukum karena hal ini disebabkan oleh baik undang-undangnya disusun oleh penegak hukum, penerapannya pun dilaksanakan oleh penegak hukum, penegakan hukum oleh aparat penegak hukum sendiri juga merupakan panutan oleh masyarakat luas.
50