• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Interaksionisme Simbolik

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORITIK (Halaman 21-27)

B. Landasan Teoritik

1. Teori Interaksionisme Simbolik

Kajian teori yang mendukung terhadap penelitian disertasi ini adalah Teori Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer (1962). Herbert Blumer memperkenalkan konsep teori interaksionisme simbolik ini sekitar tahun 1939. Berdasarkan lingkup ilmu-ilmu sosial, awalnya ide ini diperkenalkan oleh GH Mead, akan tetapi setelah itu dikembangkan dan di desain ulang oleh GH Blumer untuk memenuhi target dan maksud yang spesifik. Teori interaksionisme simbolik ini memiliki konsep dan gagasan yang baik, akan tetapi kurang terlalu mendalam dan khas sebagaimana di terangkan GH Mead.

Teori interaksionisme simbolik berawal dari gagasan-gagasan tentang interaksi masyarakat secara umum dengan individu sebagai subyek. Sehingga essensi interaksionisme simbolik yaitu adanya satu kegiatan sosial yang menampilkan kekhasan

sebagai manusia dan individu untuk suatu tanda bahwa interaksi itu betul betul terjadi, yakni berupa pertukaran simbol dan komunikasi yang kemudian di maknai dengan pemaknaan subyektif. Mengatur pola prilaku manusia sebagai suatu proses untuk membentuk dan mengatur pola prilaku adalah bagian perspektif teori interaksinisme simbolik, yang salah satu fungsinya adalah untuk memberikan pendapat dan masukan tentang keberadaan orang lain untuk menjadi teman dalam berkomunikasi tentunya dalam kehidupan masyarakat secara utuh.

Pemikiran interaksionisme simbolik Blumer lebih pada merupakan sebuah gagasan yang menganggap bahwa individu menggunakan bahasa dan simbol yang signifikan dalam komunikasi dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Yang kemudian perhatian mereka tertuju pada interpretasi subjektif sudut pandang, serta bagaimana cara individu memahami dunia mereka dari sisi keunikan perspektifnya. Namun demikian interaksionisme simbolik kadang kurang peduli dengan struktur obyektif dibandingkan dengan makna subjektif. Sebagaimana dijelaskan diatas, bahwa interaksi yang bermakna di antara individu datang untuk mendefinisikan susunan masyarakat.

Sedikitnya ada empat prinsip dasar dari interaksionisme simbolik menurut Blumer yakni (1) The individuals acts based on the meaning that the object has for him; (2) Interactions occurs in certain social and cultural contexts whwrw physical and social objects (people), as well as situations, must be defined or categorized based on individual meanings; (3) Meaning arises from interactions with other individuals and with society, and (4) Meaning is continuously created and re-created through interpreting the processof interpretation during interactions with others (Blumer, 1969;

Carter, 2015)

Berdasarkan pemikiran ini, dapat dikatakan bahwa prinsip dasar dari interaksionisme simbolik dapat dinyatakan bahwa: Pertama individu bertindak berdasarkan makna benda-benda yang mereka miliki. Ini memiliki arti bahwa tenaga pendidik atau guru selalu bertindak atas dasar makna prilaku peserta didik dalam menerima pembelajaran di sekolah atau madrasah, sehingga makna tindakan itu akan dikomunikasikan dengan wali murid dan pada akhirnya akan melahirkan makna fungsional guru sebagai tenaga pendidik.

Kedua interaksi antar masayarakat akan terjadi dalam sebuah bentuk dan dinamika sosial dan budaya tertentu dimana objek fisik dan sosial (orang), serta situasi, harus didefinisikan atau dikategorikan berdasarkan makna individu. Ini memiliki arti bahwa terjadinya interaksi antara tenaga pendidik yang kemudian disebut guru dengan wali murid didasarkan pada cara pandangnya terhadap obyek guru dari sisi kualitas pembelajaran di sekolah atau madrasah melalui peserta didik, sehingga dengan demikian wali murid akan mendefinisikan fungsi dan makna guru yang sebenarya menurut kategori yang di rasakan oleh wali murid terhadap kualiatas sikap guru dalam menyelesaikan setiap konflik sosial masyarakat.

Ketiga makna itu yang akan muncul ketika ada interaksi dengan individu lain dan masyarakat. Ini memiliki arti bahwa secara substansi interaksi antara guru dan peserta didik yang otomatis akan ada interaksi dengan wali murid, merupakan bentuk mencarian makna original dalam memaknai guru pada pendidikan formal.

Keempat makna akan terus tercipta dan diciptakan kembali melalui proses interpretasi selama interaksi dengan orang lain. Artinya bahwa pemaknaan wali murid terhadap guru pada pendidikan formal akan selalu dinamis jika dilihat dari konsep

fungsi dan makna yang seharusnya diinterpretasikan ke dalam kehidupan yang kemudian menjadi budaya dan peradaban umat manusia.

Pada dasarnya interaksi antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain dalam sebuah komunitas dan kehidupan sosial merupakan bentuk komunikasi dan interaksi manusia sebagai indvidu yang memanfaatkan dan menggunakan simbol-simbol untuk menjadi alat bantu dalam interaksi, cara-cara individu sebagai manusia memanfaatkan dan menggunakan simbol untuk mempresentasikan maksud dan tujuan mereka untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya akan menjadi tertarik karena mereka menggunakan dan memanfaatkan simbol-simbol yang dimiliki oleh manusia sebagai individu yang penuh dengan simbol dan bisa di interpresikan sesuai dengan ekspektasi mereka memaknainya, sehingga akan terlihat dalam interaksi sosial masyarakat secara umum. (Berger, 2004).

Pengunaan dan pemanfaatn simbol-simbol oleh manusia sebagai individu pada sebuah interaksi sosial yakni antara guru dan peserta didik dan bahkan dengan wali murid, merupakan salah satu cara dan proses berfikir subyektif, karena simbol-simbol itu berbentuk bahasa yang setiap saat bisa diterjemahkan dan diinterpretasi menjadi sebuah makna subyektif yang kemudian menjadi budaya dan peradaban manusia. Secara nyata dan dipastikan bahwa simbol-simbol itu tidak dipakai, akan tetapi dipakai menggunakan dan dimanfaatkan melalui percakapan-percakapan manusia sebagai individu dan secara internal. Maka dengan demikian manusia sebagai indvidu akan merasakan dirinya sendiri dimaknai oleh masyarakat sebagai makhluk sosial yang lain atas identitas dirinya, karena melihat reaksi-reaksi yang ditunjukkan masyarakat dalam memaknai prilakunya terhadap dirinya sendiri. (Wirawan, 2014).

Blumer dengan interaksionisme simbolik, tidak selalu menjadikan pola tindakan dan interaksi orang lain hanya semata-mata menjadikan aktor agar bereaksi terhadap prilakunya. Akan tetapi sang aktor akan berupaya untuk mendefinisikan serta menafsirkan dan bahkan menerjemahkan setiap pola serta tidakan orang lain, sehingga menemukan yang sebenarnya dari tindakan itu.

Pola dan tindakan itu bisa terjadi disebabkan manusia sebagai individu memiliki jati diri dimana ia selalu bisa membentuk dengan dirinya sendiri menjadi objek yang tepat. Pola interaksi dan tindakan dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung, tergantung bagaimana proses pemaknaan melalui simbol itu di diskripsikan karena individu dapat dijembatani dengan penggunaan tanda atau simbol pemaknaan, tafsir, yakni ungkapan lisan dalam bentuk bahasa.

Pola tafsir dan interpretasi tanda dan simbol oleh manusia sebagai individu dapat diterjemahkan dan dimaknai akan memberikan arti dan makna yang dapat dipahami oleh orang lain, pemahaman itulah yang kemudian disebut dengan makna, dan inilah sebenarnya menilai hal-hal yang sesuai dengan tindakan dan interaksi, serta mengambil sebuah keputusan dengan berdasarkan penilaian terhadap tindakan itu. Oleh karena itu manusia sebagai individu yang bisa terlibat dalam interaksi ini merupakan manusia sebagai individu yang termasuk sebagai aktor yang tepat dan sadar yang kemudian bisa berekspresi seperti apa yang ingin dan telah dimaknai oleh individu tadi, artinya individu tidak bertindak tanpa akal sehat dan pikiran, atau pertimbangan. Bentuk dan konsep inilah yang kemudian oleh GH Blumer disebut dengan self-indicatian, yakni sebuah proses berlangsungnya interaksi yang sedang berlangsung kemudian dalam proses ini manusia sebagai individu akan mengetahui sesuatu, melihatnya, menilainya,

kemudian memberinya arti dan makna, dan memberikan keputusan untuk melakukan tindakan berdasarkan arti dan makna-makna yang muncul akibat dari interaksi dan tindakan individu.

Setidaknya ada beberapa ide dasar teori interaksionisme simbolik perspektif Blumer yakni:

Pertama, proses terbentuknya struktur sosial masyarakat, berawal dari adanya interaksi antara manusia sebagai individu dalam sebuah masyarakat, karena harus dipahami bahwa masyarakat itu sebenarnya adalah manusia yang berinteraksi. Sehingga setiap kegiatan dan tindakan bersama antar individu dalam masyarakat itulah yang akhirnya akan membentuk struktur sosial masyarakat.

Kedua, harus dipahami bahwa interaksi itu ada dua yakni interaksi simbolis yakni penafsiran dan interpretasi terhadap tindakan-tindakan individu sebagai simbol, sedangkan yang kedua adalah interaksi non simbolis yakni interaksi yang mencakup stimulus dan respon terhadap stimulus itu. Sehingga proses terjadinya komunikasi antar sesama manusia dengan manusia yang lain dalam berbagai kegiatan sosial itulah sebenarnya yang disebut interaksi.

Ketiga, objek-objek itu dapat dikategorikan menjadi tiga sebagai berikut yakni objek fisik, objek sosial, objek abstrak. Objek-objek itu merupakan gejala-gejala sosial yang tidak memiliki arti dan makna secara khusus. Karena makna adalah sebuah produk interaksi simbolis. Sehingga makna akan terungkap dengan sendirinya ketika ada simbol-simbol yang ditampilkan dalam sebuah interaksi antar manusia sebagai individu.

Keempat, manusia sebagai individu tidak hanya mengenal objek secara eksternal, akan tetapi mereka juga mengenal objek secara internal yakni diri mereka sendiri. Objek juga bisa mempengaruhi proses interaksi antar sesama manusia yang kemudian melahirkan makna, namun objek juga bisa menjadikan hubungan antar sesama manusia akan menemukan makna dengan sendirinya tanpa dipengaruhi oleh manusia yang lain sebagai individu.

Kelima, interpretasi atau bisa disebut juga penafsiran adalah sebuah tindakan yang dibuat dan dilakukan oleh manusia sebagai makhluk individu, karena tindakan manusia itu adalah tindakan interpretasi atau menafsirkan pola interaksi antar sesama manusia dalam komunikasi sosial.

Keenam, tindakan yang akan melahirkan peradaban dan kebudayaan adalah tindakan masyarakat secara bersama-sama untuk melakukan aktifitas sosial dan terus menerus bahkan berkesinambungan dan dilakukan secara berulang-ulang serta kondisi sadar dan stabil dalam melakukannya. (Bachtiar, 2006; Ahmadi, 2008)

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORITIK (Halaman 21-27)

Dokumen terkait