• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2 Pengertian kepemimpinan

2.2.1 Teori Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan kegiatan sentral didalam sebuah kelompok (organisasi) dengan seorang pemimpin puncak sebagai figur sentral yang memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam mengefektifkan organisasi untuk mencapai tujuannya. Wewenang dan tanggung jawab itu menunjukan bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dengan organisasi, baik formal maupun informal.

Berikut akan diuraikan beberapa teori mengenai kepemimpinan pada umumnya:

1. Teori perilaku (Behavior Theories)

Teori ini bertolak dari pemikiran bahwa kepemimpinan untuk mengefektifkan organisasi, tergantung pada perilaku atau gaya bersikap dan gaya bertindak seorang pemimpin. Dengan demikian berarti juga teori ini memusatkan perhatian pada fungsi kepemimpinan. Dengan kata lain keberhasilan seorang pemimpin dalam mengefektifkan organisasi sangat tergantung pada perilakunya dalam melaksanakan fungsi kepemimpinan didalam srategi kepemimpinannya.

Perilaku kepemimpinan tampak dari cara melakukan pengambilan keputusan, cara memerintah (memberikan instruksi), cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat bawahan, cara membimbing dan mengarahkan, cara menegakkan disiplin, cara

II.10

mengendalikan dan mengawasi pekerjaan bawahan, cara memimpin rapat, cara menegur dan memberikan sanksi/hukuman.

Dari uraian singkat diatas jelas yang dimaksud perilaku adalah kepemimpinan dalam mengimplementasikan fungsi kepemimpinan, yang menurut teori ini sangat besar pengaruhnya dan bersifat sangat menentukan dalam mengefektifkan organisasi untuk mencapai tujuannya. Pendekatan teori perilaku melalui gaya kepemimpinan dalam relisasi fungsi – fungsi kepemimpinan, merupakan strategi kepemimpinan yang memiliki dua orientasi, yang terdiri dari (1).orientasi pada tugas, dan (2).orientasi pada manusia/bawahan.

Sehubungan dengan itu stoner, Freeman dan Gilbert didalam H. Hadari Nawawi (2003 : 82) yang mengatakan sebagai berikut : ”Bahwa

pemimpin yang memiliki gaya berorientasi pada tugas, mengawasi anggota organisasi/bawahannya secara ketat untuk memastikan tugas – tugas dilaksanakan secara memuaskan. Paksaan tugas lebih diutamakan dari pada pertumbuhan dan kepuasan pribadi anggota organisasi”.

2. Teori kontingensi (Contingency Theories) atau Teori Situasional (Situational Theories)

Respon atau reaksi yang timbul berfokus pada pendapat bahwa dalam menghadapi situasi yang berbeda diperlukan perilaku atau gaya kepemimpianan yang berbeda – beda pula. Pendapat itu disebut

II.11

pendekatan atau teori kontingensi (Contingency Approach). karena perilaku atau gaya kepemimpinan harus sesuai dengan situasi yang dihadapi seorang pemimpin, maka teori ini disebut juga pendekatan atau Teori Situasional (Situational Approach).

Berdasarkan uraian – uraian singkat diatas berarti teori kontingensi atau kepemimipinan situasional merupakan penolakan terhadap teori – teori

kepemimpinan sebelumnya yang memberlakukan azas – azas umum untuk semua situasi. Teori ini berpendapat bahwa tidak ada satu jalan ( kepemimpinan ) terbaik untuk mengeloladan mengurus satu organisasi.

Fiedler didalam kreitner dan knicki ( 1989 : 459 ) mengatakan pula bahwa terdapat tiga dimensi didalam situasi yang dihadapi pemimpin. Yaitu :

a. Hubungan pemimpin – anggota ( the leader-member relationship ) Dimensi ini merupakan variable yang sangat penting/kritis dalam menentukan situasi yang menguntungkan.

b. Derajat dari susunan tugas ( the degree of task structure )

Dimensi ini merupakan variable yang sangat penting/kritis kedua dalam menentukan situasi yang menguntungkan.

c. Posisi kekuasaan pemimpin ( the leader position power )

Dimensi ini yang diperoleh melalui kewenangan formal merupakan variabel yang sangat penting/kritis ketiga dalam menentukan situasi yang menguntungkan.

II.12

Situasi yang menguntungkan dalam menjalankan kepimpinan adalah hubungan baik antara pimpinan dengan anggota organisasi sebagai bawahan dalam arti pemimpin diterima oleh orang – orang yang dipimpinnya atau sebaliknya. Suatu situasi akan dapat menyenangkan pemimpin jika ketiga dimensi diatas mempunyai derajat yang tinggi.

3. Teori Great dan Teori Big Bang

Teori yang usianya sudah cukup tua ini menyatakan kepemimpinan merupakan bakat atau bawaan sejak sesorang lahir dari kedua orang tuanya. Bennis dan Nanus didalam H. Hadari Nawawi ( 2003:74 ) menjelaskan bahwa ” teori Great Man ( Orang Besar ) berasumsi pemimpin dilahirkan bukan diciptakan ”. Teori ini melihat bahwa kekuasaan berada pada sejumlah orang tertentu, yang melalui proses pewarisan memilki kemampuan memimpin atau karena keberuntungan memiliki bakat untuk menempati posisi sebagai pemimpin.

Menurut Bennis dan Nanus didalam H. Hadari Nawawi ( 2003:74 ) mengemukakan teori kepemimpinan sebagai berikut:

Bahwa dalam perkembangan berikutnya, teori kepemimpinan berdasarkan bakat cenderung ditolak dan lahirlah teori Big Bang. Teori kepemimpinan yang baru di menciptakan atau dapat membuat sesorang menjadi pemimpin.

Teori ini mengintegrasikan antara situasi dan pengikut/anggota organisasi sesorang menjadi pemimpin.

II.13

4. Teori Sifat atau Karakteristik Kepribadian (Trait Theories)

Teori ini hampir sama dengan teori Great Man, meskipun berbeda dalam mengartikan bakat yang dimiliki seorang pemimpin. Teori Great Man menekankan bakat dalam arti keturunan, bahwa seseorang menjadi pemimpin karena memiliki kromosom ( pembawa sifat ) dari orang tuanya sebagai pemimpin. Diantaranya terdapat bakat memimpin yang dominan.

Sedang teori sifat atau karakteristik kepribadian berasumsi bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin apabila memiliki sifat – sifat atau karakteristik kepribadian yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin, meskipun orang tuanya khususnya ayah bukan seorang pemimpin. Teori ini bertitik tolak dari pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat/karakteristik kepribadian yang dimiliki, baik secara fisik maupun psikologis. Sifat – sifat itu menurut Cheser didalam Wahjosumidjo ( 1992:46-47 ) adalah sebagai berikut:

(1) Sifat – sifat pribadi yang meliputi : fisik, kecakapan ( skill ), teknologi

( technology ), daya tanggap ( perpection ), pengetahuan ( knowledge), daya ingat ( memory ), imajinasi ( imagination ).

(2) Sifat – sifat pribadi yang merupakan watak yang lebih subyektif, yakni keunggulan seorang pemimpin dalam keyakinan, ketekunan, daya tahan, keberanian dan lain – lain.

II.14

Keith davis merumuskan empat sifat/karakteristik utama yang tampaknya mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi. Keempat karakteristik tersebut adalah:

a. Inteligensi (Kecerdasan )

Hasil penelitian pada umumnya membuktikan bahwa pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin. Namun demikian, yang sangat menarik dari penelitian tersebut adalah pemimpin tidak bisa melampaui terlalu banyak dari kecerdasan pengikutnya.

b. Kedewasaan dan Keleluasaan Hubungan Sosial

Pemimpin cenderung menjadi matang dan mempunyai emosi yang stabil serta mempunyai perhatian yang luas terhadap aktivitas – aktivitas sosial. Dia mempunyai keinginan menghargai dan dihargai.

c. Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi

Para pemimpin secara relatif mempunyai dorongan motivasi yang kuat untuk berprestasi. Mereka bekerja berusaha mendapatkan penghargaan yang intrisik dibanding Ekstrinsik

d. Sikap – sikap Hubungan Kemanusiaan

Pemimpin – pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan pengikutnya dan mau berpihak kepadanya. Dalam istilah penelitian ihio, pemimpin itu mempunyai perhatian dan kalau mengikuti

II.15

penemuan Michigan, pemimpin itu berorientasi pada karyawannya dan bukan berorientasi pada produksi.

Apa yang disebut diatas merupakan salah satu daftar dari sekian daftar sifat – sifat kepemimpinan organisasi yang amat penting. Dalam perkembangannya dewasa ini fokus studi teori sifat lebih banyak diarahkan pada aspek motivasi kepemimpinan dihubungkan dengan kemampuan spesifik seorang pemimpin. Studi tersebut berusaha memahami hubungan antara sifat – sifat yang perlu dimiliki sesuai tipe dan posisi kepemimpinan.

Dokumen terkait