• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Ekonomi Islam 1.Ekonomi Islam

5. Teori Kurs a. Devinisi Kurs a.Devinisi Kurs

Menurut adiningsih, dkk (1998 : 155), kurs (nilai tukar) adalah harga rupiah terhadap mata uang negara lain. Jadi nilai tukar rupiah merupakan nilai dari satu mata rupiah yang ditranslasikan ke dalam mata uang negara lain. Misalnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, rupiah terhadap Yen dll.

Menurut lipsey et.al (1997), “ nilai tukar (kurs) adalah harga suatu

mata uang dalam satuan mata uang asing, ini adalah jumlah mata uang suatu negara asing yang harus dibayarkan untuk mendapatkan satu unit

mata uang domestic”.

Menurut Paul R Krugman dan Maurice (1994: 34) kurs adalah harga sebuah mata uang dari suatu negara yang diukur dan dinyatakan dalam mata uang.

42 Menurut Nopirin (1996:163) kurs adalah pertukaran dua mata uang yang berbeda, maka akan mendapatkan perbandingan yang berbeda antara kedua mata uang tersebut.

b. Sistem Kurs

Secara garis besar ada dua sistem kurs, yaitu kurs mengambang (floating exchange rate system) dan sistem kus tetap (fixed exchange rate system) (Imamudin yuliadi, 2008: 60)

Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus mengemukakan bahwa sistem kurs ada 3 (tiga Macam):

1) cara kerja setandar emas

Adalah suatu sitem kurs dengan menggunakan standar emas. Sistem ini memberikan kurs valuta asing yang tetap untuk setiap negara dan relatif mudah dipahami.

2) Kurs valuta asing yang mengambang “penuh”

Adalah kurs yang sepenuhnys ditentukan oleh kekuatan pasar (penawaran dan permintaan)

3) Sistem kurs valuta asing yang mengambang (terkendali)

Dalam sistem ini terdapat beberapa mata uang yang mengambang bebas bersama-sama mata uang yang dikaitkan dengan dollar (mengambang bersama-sama dengan dollar). Mata uang suatu negara

43 dibiarkan mengambang bersama dollar secara bebas di pasaran. Tetapi pemerintah suatu negara akan melakukan intervensi jika pasar dalam keadaan kacau atau kurs dianggap terlalu jauh dari yang diperkirakan sebagai kurs yang tepat.

c. faktor yang mempengaruhi pergerakan Kurs (Madura,1993), yaitu.

1) Faktor Fundamental

Faktor fundamental berkaitan dengan indicator-indikator ekonomi seperti inflasi, suku bunga, perbedaan relative pendapatan antar negara, ekspektasi pasar dan intervensi Bank sentral.

2) Faktor Tekhnis

Faktor tekhnis berkaitan dengan penawaran dan permintaan devisa pada saat-saat tertentu. Apabila ada kelebihan permintaan sementara penawaran tetap, maka harga valas akan naik dan sebaliknya.

3) Sentimen Pasar

Sentiment pasar lebih banyak disebabkan oleh rumor atau berita-berita politik yang bersifat insidentil, yang dapat mendorong harga valas naik atau turun secara tajam dalam jangka pendek. Apabila berita-berita atau rumor berlalu, maka nilai tukar akan kembali normal.

44 d. Hubungan Kurs Dengan Tabungan

Secara teoritis dampak perubahan tingkat / nilai tukar dengan investasi bersifat uncertainty (tidak pasti). Shikawa (1994), mengatakan pengaruh tingkat kurs yang berubah pada investasi dapat langsung lewat beberapa saluran, perubahan kurs tersebut akan berpengaruh pada dua saluran, sisi permintaan dan sisi penawaran domestik. Dalam jangka pendek, penurunan tingkat nilai tukar akan mengurangi investasi melalui pengaruh negatifnya pada absorbs domestik atau yang dikenal dengan expenditure reducing effect. Karena penurunan tingkat kurs ini akan menyebabkan nilai riil asset masyarakat yang disebabkan kenaikan tingkat harga-harga secara umum dan selanjutnya akan menurunkan permintaan domestic masyarakat. Gejala diatas pada tingkat perusahaan akan direspon dengan penurunan pada pengeluaran / alokasi modal pada investasi.

Pada sisi penawaran, pengaruh aspek pengalihan pengeluaran (expenditure switching) akan perubahan tingkat kurs pada investasi relatif tidak menentu. Penurunan nilai tukar mata uang domestik akan menaikkan produk-produk impor yang diukur dengan mata uang domestik dan dengan demikian akan meningkatkan harga barang-barang yang diperdagangkan. Sehingga dengan begitu masyarakat akan lebih tertarik menyimpan uangnya di bank daripada membelanjakannya. Hal ini dikarenakan harga barang mengalami peningkatan terutama barang-barang yang impor seperti alat elektronik, kendaraan bermotor dll.

45 e. Sistem Nilai Tukar dalam Islam

Sebagai lembaga keuangan yang memfasilitasi perdagangan Internasional, Perbankan Syariah tidak dapat menghindarkan diri dari keterlibatannya pada pasar valuta asing.

Dari ketiga sistem nilai tukar mata uang yang ada dalam ekonomi konvensional, manakah yang sesuai dengan konsep ekonomi Islam? Beberapa argumen muncul, yaitu :

1) Pendapat pertama yang tepat, namun sering dianggap radikal bahkan oleh pengusung ekonomi Islam sendiri adalah kembali menggunakan mata uang fisik dinar dan dirham (full bodied money). Dimana mata uang dunia saat ini kembali kepada standar emas dan perak, hal ini pun telah mulai dirintis di Indonesia, namun perkembangannya masih belum mencapai taraf sebagai nilai tukar dalam transaksi tetapi masih sebagai sarana investasi. Alternatif yang pertama, saat ini akan (masih) sulit diwujudkan. Kesulitan ini terutama karena dinar dan dirham – meski sebenarnya merupakan mata uang dari luar Islam yaitu Romawi dan Persia – telah dicitrakan sebagai mata uang Islam. Menurut penulis, seandainya negara-negara Islam mengusulkan kepada dunia untuk menggunakan dinar dirham, akan banyak penolakan terutama Barat yang phobia terhadap Islam.

46 2) Pendapat kedua yang moderat mengusulkan supaya mata uang sekarang agar di-backup dengan emas sebagaimana bretton woods system. Sehingga setiap pencetakan uang harus didasarkan kepada cadangan emas tertentu yang telah disepakati bersama, agar tidak terjadi pencetakan uang berlebihan seperti saat ini.Dengan begitu, peluang terbesar ada pada usulan moderat, yaitu agar mata uang-mata uang sekarang kembali di-backup dengan emas-tentu dengan beberapa penyempurnaan dari sistem sebelumnya (Bretton Woods). Sistem inilah yang oleh kalangan barat ingin kembali digulirkan yang dikenal dengan istilah Bretton woods II. Usulan ini bahkan didukung oleh nama-nama besar seperti Joseph E. Stiglitz ( Ekonom peraih nobel dari Amerika), Gordon Brown (mantan PM Inggris) hingga Nicholas Sarkozy (Presiden Perancis).

Sedangkan yang paling lunak adalah sebagaimana seperti adanya sekarang, hanya bagaimana pemerintah mengatur supaya tidak ada lagi unsur maghrib ( maysir ‘spekulasi’, gharar „penipuan’

dan riba ) dalam sistem ekonomi moneter yang berlaku. Dari ketiga usulan itu, penulis dengan tegas menolak yang disebutkan terakhir berdasarkan kenyataan bahwa sistem moneter yang ada sekarang memungkinkan pihak yang mengejar keuntungan pribadi melakukan aksi maghrib tersebut. Terbukti, betapapun pemerintah

47 menghimabau para spekulan, aksi spekulasi di bursa valas masih tetap gencar.

6. Teori Nisbah Bagi Hasil ( NBH )

Dokumen terkait