BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Teori Penerimaan Khalayak
positif secara khusus terhadap sudut pandang tertentu (Burton, 2012, p.199-200). Burton (2012, p.211) menambahkan, audien membaca teks-teks dengan berbagai cara, sebagian dari cara tersebut cocok dengan maksud-maksud yang diduga dimiliki oleh media. Tampaknya bahwa khalayak dapat berinteraksi dengan media untuk memuaskan pelbagai kebutuhan dan mendapatkan kesenangan, tetapi selalu dengan cara-cara yang diperumit dengan faktor-faktor seperti konteks dan gender.
Menurut Devereux (2003, p.138) studi penerimaan media menekankan kepada studi mengenai khalayak sebagai bagian dari interpretive communities dalam penelitian kualitatif paradigma yang digunakan yang digunakan oleh
audience adalah paradigma interpretivist. McQuail mengatakan bahwa, khalayak
dilihat sebagai bagian dari interpretative communities yang selalu aktif mempersepsi pesan dan memproduksi makna tidak hanya menjadi individu pasif yang hanya menerima saja makna yang diproduksi oleh media massa. Khalayak aktif adalah partisipan aktif dalam membangun dan menginterpretasikan makna atas apa yang mereka baca, dengar dan lihat sesuai dengan konteks budaya (Devereux, 2003, p.143). Khalayak dalam penelitian ini dinilai sebagai penonton aktif yang memproduksi makna pesan dari media massanya, yaitu penonton program traveling Para Petualang Cantik di Trans7.
2.6 Teori Penerimaan Khalayak
Salah satu kunci dalam penelitian khalayak adalah menyangkut hubungan antara produsen, teks, dan penonton. Analisis resepsi merupakan bagian khusus
dari studi khalayak yang mencoba mengkaji secara mendalam proses aktual dimana wacana media disesuaikan melalui praktek wacana dan budaya khalayak (Adi, 2012, p.26). Menurut Hadi (2007, p.16) khalayak dilihat sebagai bagian dari
interpretive communities yang selalu aktif dalam mepersepsi pesan dan
memproduksi makna, tidak hanya menjadi individu yang pasif yang menerima pesan media begitu saja.
Bagian penting dari reception dalam penelitian khalayak dapat disimpulkan seperti berikut, yang pertama teks media dibaca melalui persepsi khalayaknya yang membentuk pemaknaan atas teks media. Kedua, proses penggunaan media adalah inti objek tujuannya. Ketiga, penggunaan media melibatkan partisipan dalam komunitas intepretatif, yaitu yang aktif memproduksi makna. Keempat, khalayak untuk media genre tertentu terdiri dari komunitas intepretatif yang terpisah kemudian membagi bentuk yang sama dari sebuah percakapan dan kerangka pemikiran untuk membuat arti dari media. Kelima, khalayak tidak pernah pasif karena terkadang yang satu bisa lebih berpengalaman dari yang lain. Keenam, metode yang digunakan harus kualitatif dan mendalam melihat isi resepsi dan konteks secara bersamaan. Kekuatan teori resepsi adalah memfokuskan perhatian pada individual dalam proses komunikasi massa. Menghargai kemampuan dari pengkonsumsi media dan menyadari makna dari teks media yang berbeda-beda (Arsyad, 2008, p.15-16).
Lebih jauh lagi Fiske (1987) mengatakan bahwa khalayak sebagai agen kultural (cultural agent) yang memiliki kuasa tersendiri dalam hal menghasilkan makna dari berbagai wacana yang ditawarkan media. Makna yang diusung media
29
lalu bersifat terbuka atau polysemic dan bahkan bisa ditanggapi secara oposisif oleh khalayak (Adi, 2012, p.26-27). Peran aktif penonton dalam memaknai teks dapat dilihat dalam model encoding-decoding Stuart Hall. Dengan premis model ini bahwa pesan yang sama dapat diterima dengan berbagai cara. Model ini berpusat pada gagasan bahwa penonton bervariasi dalam memaknai pesan-pesan media. Morley (1992) menuturkan beberapa premis dari model encoding-
decoding Stuart Hall yang merupakan dasar dari analisis resepsi, yaitu pertama
peristiwa yang sama dapat dikirimkan atau diterjemahkan lebih dari satu cara. Kedua, pesan selalu mengandung lebih dari satu potensi pembacaan. Tujuan pesan dan arahan pembacaan memang ada, tetapi itu tidak akan bisa menutup hanya menjadi satu pembacaan saja, mereka masih polisemi (secara prinsip masih memungkinkan munculnya variasi interpretasi). Ketiga, memahami pesan juga merupakan praktik yang problematik, sebagaimana itu tampak transparan dan alami. Pengiriman pesan secara satu arah akan selalu diterima atau dipahami dengan cara yang berbeda (Aryani, 2014, p.5).
Akan ada tiga bentuk pembacaan, pertama dominant-hegemonit position, yaitu dalam analisis penerimaan produsen menginginkan pesan yang disampaikan diasumsikan untuk memperkuat status quo (kadang-kadang disebut dengan bacaan yang dominan). Ketika penonton mengambil bentuk makna konotasi dan menerjemahkan pesan sampai dengan apa yang telah dikodekan (encoding) maka audien menerima atau sepakat dengan media yang dikonsumsi. Kedua negotiated
position, dalam analisis peneriman ketika anggota audiens menciptakan
audiens berada dalam posisi negotiated. Artinya, audiens dapat menerima atau tidak menerima terhadap makna dalam pesan dengan alasan tertentu. Ketiga
oppositional position, kategori ini terjadi ketika seorang anggota audiens
mengembangkan interpretasi terhadap makna teks media yang bertentangan secara langsung dengan kategori dominan. Dalam hal ini makna yang disampaikan oleh media ditolak (tidak diterima) oleh penonton (Durham dan Keller, 2002, p.174-175).
Beberapa penelitian terdahulu mengenai audience reception telah banyak dilakukan, salah satunya penelitian Aryani (2014) tentang peneriman khalayak terhadap acara mewujudkan mimpi Indonesia di RCTI. Dalam penelitian ini Aryani (2014) menggunakan pendekatan analisis resepsi, ia ingin mengetahui pemaknaan khalayak tentang acara Mewujudkan Mimpi. Dimana acara yang tayang di RCTI ini hadir disaat pemilihan presiden 2014 lalu. Penelitian ini melihat bagaimana penerimaan masyarakat atau khalayak media sebagai pembuat makna melihat fenomena propaganda politik dalam acara Mewujudkan Mimpi di RCTI ini. Adapun ditemukan kesimpulan tiga tipe pemaknaan khalayak terhadap acara Mewujudkan Mimpi Indonesia seperti yang diungkapkan oleh premis teori
encoding decoding Stuart Hall. Disini ditemukan bahwa satu pesan teks media
massa yang sama akan di maknai berbeda-beda oleh indivu.
Selain itu, Prahara (2016) meneliti bagaimana interpretasi penonton mengenai konglomerasi media dalam film Dokumenter Di Balik Frekuensi. Dalam hal ini pesan media yang ingin dibahas mengenai konglomerasi media, dimana dari berbagai media di Indonesia yang ada, rata-rata pemiliknya terdiri
31
kaum elite yang jumlahnya tidak banyak dan mempengaruhi idealisme medianya. Prahara (2016) ingin melihat bagaimana interpretasi penonton atau pemaknaan dengan metode analisis resepsi.
Selanjutnya mengenai penelitian “Penerimaan Khalayak Tentang Bias Gender Perempuan Ber-Traveling Pada Tayangan Para Petualang Cantik di Trans7” ini, peneliti kali ini ingin melihat bagaimana penonton Para Petualang Cantik memaknai bagaimana perempuan yang melakukan kegiatan traveling. Seperti yang sudah dibahas subbab sebelumnya, bahwa kegiatan traveling selalu diidentikan dengan laki-laki, karena merupakan kegiatan yang memerlukan keberanian lebih, fisik yang kuat, memiliki resiko yang berbahaya dan sebagainya. Selain itu sebagain besar masyarakat di Indonesia masih menganut budaya Patriarki yang menganggap bahwa wanita hanya sebatas pekerjaan domestik saja. Selain itu dalam media massa selalu dijadikan objektivitas gender atau labeling yang merugikan peran wanita. Padahal, menurut kaum feminis perempuan mampu setara dengan laki-laki dan pandangan-pandangan patriarkis sangat merugikan bagi perempuan yang ingin berkarya di sektor publik.