• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Perdagangan Internasional

2.3.2 Teori Perdagangan Internasional

Aliran merkantilisme lahir di kawasan Eropa Timur dan salah satu tokoh

yang paling berpengaruh adalah Thomas Mun (1571-1641). Aliran merkantilisme

mempunyai pandangan bahwa untuk mencapai kesejahteraan diperoleh melalui

proses akumulasi pengumpulan logam mulia atau emas. Selain itu, aliran

merkantilisme berpendapat bahwa proses keuntungan perdagangan internasional

hanya dapat diperoleh dari surplus neraca perdagangan (ekspor lebih besar dari

impor atau X > M). Hal ini dapat dilakukan dengan memacu kegiatan ekspor

sebagai tujuan utama untuk mencapai kesejahteraan masyarakat (Sumanjaya et al, 2010:12). Merkantilisme memandang bahwa pemerintah harus menggunakan

seluruh kekuatannya untuk mendorong ekspor dan mengurangi atau membatasi

impor.

Namun dalam perkembangannya, pandangan merkantilisme ini membawa

dampak negatif yaitu terjadinya inflasi bagi perkembangan perekonomian

domestik. Hal ini terjadi akibat adanya penumpukan logam mulia (emas) yang

terjadinya inflasi. Teori merkantilisme ini tidak bertahan lama karena pada masa

merkantilisme, masyarakat dalam negeri mengalami tekanan yang ditandai dengan

kenaikan harga barang yang berlangsung secara terus-menerus.

2.3.2.2 Teori Keunggulan Mutlak (Absolute Advantage Theory)

Teori keunggulan mutlak ini dikemukakan oleh Adam Smith. Teori ini

pada prinsipnya merupakan perbaikan dari teori merkantilisme yang menyatakan

bahwa surplus perdagangan internasional sebagai suatu doktrin. Dasar dari

pemikiran teori ini adalah bahwa suatu negara akan memperoleh keuntungan

perdagangan internasional (gains of trade) karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak

(absolute advantage) serta mengimpor barang jika negara tersebut memiliki ketidakunggulan mutlak (absolute disadvantage).

Hady (2001) menyebutkan bahwa ada beberapa asumsi pokok yang

berkaitan tentang teori absolute advantage ini, yaitu sebagai berikut : 1. Faktor produksi yang digunakan hanya tenaga kerja,

2. Kualitas barang yang diproduksi kedua negara sama,

3. Pertukaran dilakukan secara barter atau tanpa uang,

4. Biaya transportasi diabaikan.

Namun sama halnya dengan teori merkantilisme sebelumnya, teori

keunggulan mutlak ini juga mempunyai kelemahan, yaitu teori ini hanya

berpendapat bahwa perdagangan internasional dapat terjadi apabila negara

tersebut memiliki keunggulan mutlak, bila negara tersebut tidak memiliki

2.3.2.3 Teori Keunggulan Komperatif (Comparative Advantage Theory)

Teori keunggulan komperatif ini dikemukakan oleh David Ricardo sebagai

koreksi dari teori keunggulan mutlak yang dikemukakan oleh Adam Smith

sebelumnya. Menurut David Ricardo perdagangan internasional dapat saja terjadi

meskipun negara itu tidak memiliki keunggulan mutlak tetapi keunggulan

komperatif (Sumanjaya et al, 2010:20).

Konsep teori keunggulan komperatif ini dibangun oleh beberapa asumsi

(Sumanjaya et al, 2010:21) sebagai berikut :

1. Dua negara masing-masing memproduksi dua jenis komoditi dengan

hanya menggunakan satu faktor produksi tenaga kerja,

2. Kedua komoditi bersifat identik (homogen),

3. Kedua komoditi dapat dipindahkan antar negara dengan biaya transportasi

nol,

4. Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang bersifat homogen dalam

suatu negara, namun heterogen tidak identik antar negara,

5. Tenaga kerja dapat bergerak antar industri dalam suatu negara namun tidak

antar negara,

6. Pasar barang dan pasar tenaga kerja dalam kondisi persaingan sempurna.

Teori keunggulan komperatif ini juga memiliki kelemahan. Adapun

kelemahan teori ini (Pelly, 2009) adalah :

1. Teori ini menjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat terjadi

karena adanya perbedaan fungsi faktor produksi (tenaga kerja). Perbedaan

efisiensi. Akibatnya terjadi perbedaan harga barang yang sejenis diantara

dua negara,

2. Jika fungsi faktor produksi (tenaga kerja) sama atau produktivitas dan

efisiensi di kedua negara sama maka tentu tidak terjadi perdagangan

internasional karena harga barang yang sejenis akan menjadi sama di

kedua negara tersebut,

3. Pada kenyataannya, walaupun fungsi faktor prodiksi (produktivitas dan

efisiensi) sama diantara kedua negara, ternyata harga barang yang sejenis

dapat berbeda sehingga dapat terjadi perdagangan internasional. Dalam hal

ini teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa terjadi perbedaan harga

untuk barang sejenis walaupun fungsi faktor produksi (produktivitas dan

efisiensi) sama di kedua negara.

2.3.2.4 Teori Heckscher-Ohlin (H-O)

Teori Heckscher-Ohlin (H-O) dikembangkan oleh Eli Heckscher dan

Bertil Ohlin, dimana teori ini merupakan pengembangan dari teori comparative advantage yang dikemukakan oleh David Ricardo. Teori ini menyatakan bahwa perdagangan internasional digerakkan oleh perbedaan karunia sumber daya antar

negara dengan proporsi penggunaan yang berbeda dalam memproduksi barang.

Menurut teori H-O, faktor produksi dominan bertumpu pada penggunaan

input tenaga kerja dan barang-barang modal. Input yang dimaksud sebagai efisiensi produk. Advantage menghasilkan suatu barang sebagai spesialisasi dihadapkan kepada alternatif apakah padat karya (labor intensive) atau padat modal (capital intensive). Apabila suatu negara mengalami keuntungan bila

menghasilkan barang dengan padat karya maka negara tersebut mengekspor

tenaga kerja dan sebaliknya apabila negara tersebut lebih untung dengan alternatif

padat modal maka negara tersebut akan mengekspor barang-barang modal.

Ada beberapa asumsi yang digunakan dalam teori H-O bagi kedua negara

yang melakukan perdagangan internasional (Sumanjaya et al, 2010:35) yaitu : 1. Negara yang melakukan perdagangan internasional mempunyai

karakteristik yang berbeda terhadap tenaga kerja yang berlimpah dan

sebaliknya berlimpah barang-barang modal,

2. Kedua negara mempunyai kesamaan teknologi,

3. Selera adalah identik bagi kedua negara,

4. Kedua komoditas diproduksi berdasarkan constant return to scale, 5. Masing-masing negara melakukan spesialisasi produk,

6. Kompetitif adalah sempurna sehingga barang ditentukan oleh

masing-masing pihak,

7. Tidak terdapat biaya transportasi, tarif, atau bentuk lainnya yang akan

menghambat pola perdagangan internasional,

8. Semua sumber daya dapat diperoleh dengan mudah dan produktif,

9. Perdagangan internasional dilakukan secara seimbang.

2.3.2.5 Teori Leontiev

Teori Leontiev ini diperkenalkan oleh Wessily Leontiev. Teori ini timbul

akibat dari teori H-O yang tidak menyoroti perbedaan labor cost dan capital cost

bagi negara yang berbeda, apalagi diantara negara maju dengan negara yang

betapa luasnya pengertian advantage dalam proses perdagangan internasional (Sumanjaya, 2010:43).

2.3.2.6 Teori Stopler-Samuelson

Teori ini dikemukakan oleh Wolf Gang Stopler dan Paul Samuelson dalam

artikelnya yang berjudul “Proteksi dan Upah Riil” tahun 1941. Teori

Stopler-Samuelson menggunakan instrumen tarif dalam perdagangan internasional

sehingga negara yang bersumber dari tarif digunakan untuk memperluas

kesempatan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja.

2.3.2.7 Teori Rybczynski

Dalam teori Rybczynski hampir sama dengan teori Stopler-Samuelson

sebelumnya, yaitu hanya menyoroti bagaimana upaya yang perlu dilakukan dalam

perdagangan internasional untuk melindungi tenaga kerja sekaligus meningkatkan

kesejahteraan tenaga kerja, hanya saja dalam teori Rybczynski ini instrumen yang

digunakan adalah dengan membatasi input capital (restriksi). Namun dalam perkembangannya instrumen restriksi dan tarif ini mengakibatkan terjadinya

perang sebagai suatu dasar perselisihan. Suatu negara yang menggunakan tarif

dalam upaya perlindungan terhadap tenaga kerja maka hal yang sama akan

dilakukan oleh negara lain sebai tindakan balasan dan demikian pula terhadap

restriksi.

Dokumen terkait