1.7 Landasan Teoritis
1.7.3 Teori Pertanggungjawaban
Teori pertanggungjawaban yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pertanggungjawaban pemerintah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan. Teori ini merupakan teori yang relevan dan dipergunakan pula dalam penelitian ini. Tujuannya adalah untuk mengetahui pertanggungjawaban bagi KDH dan/atau wakil KDH apabila yang bersangkutan melakukan pelanggaran hukum dalam menyelenggarakan pemerintahannya.
Undang-Undang Pemerintahan Daerah mengatur mengenai pertanggung-jawaban bagi KDH dan/atau wakil KDH apabila yang bersangkutan melakukan pelanggaran hukum. Di Negara Indonesia, KDH dan/atau wakil KDH memiliki
legitimasi kuat karena dipilih secara langsung oleh rakyat. Apabila terjadi pelanggaran hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan, maka harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat selaku pemilihnya. Namun, mengingat Negara Indonesia menganut sistem demokrasi perwakilan, maka pertanggung-jawaban tersebut tidaklah dapat dilakukan secara langsung oleh rakyat, melainkan diwakilkan kepada presiden atau menteri yang memiliki kewenangan untuk itu.
Tanggung jawab hukum (liability) merupakan suatu refleksi tingkah laku manusia. Penampilan tingkah laku manusia terkait dengan kontrol jiwanya, merupakan bagian dari bentuk pertimbangan intelektualnya atau mentalnya.
Bilamana suatu keputusan telah diambil atau ditolak, sudah merupakan bagian dari tanggung jawab dan akibat pilihannya. Tidak ada alasan lain mengapa hal itu dilakukan atau ditinggalkan. Keputusan tersebut dianggap telah dipimpin oleh kesadaran intelektualnya.50
Tanggung jawab dalam arti hukum adalah tanggung jawab yang benar-benar terkait dengan hak dan kewajibannya, bukan dalam arti tanggung jawab yang dikaitkan dengan gejolak jiwa sesaat atau yang tidak disadari akibatnya.
Bertanggungjawab juga memiliki arti berani menanggung segala resiko yang timbul akibat dari pelayanannya itu. Kelalaian dalam melaksanakan profesi menimbulkan dampak yang membahayakan atau mungkin merugikan diri sendiri, orang lain dan berdosa kepada Tuhan.51 Seseorang yang bertanggungjawab secara
50 Masyhur Efendi, 1994, Dimensi / Dinamika Hak Asasi Manusia Dalam Hukum Nasional Dan Internasional, Ghalia Indonesia, Jakarta, h. 121.
51 Abdulkadir Muhamad, 2001, Etika Profesi Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 60.
hukum atas perbuatan tertentu bahwa dia dapat dikenakan suatu sanksi dalam kasus perbuatannya bertentangan atau berlawanan hukum.52
Terdapat 2 istilah yang menunjuk pada pengertian pertanggungjawaban, yaitu liability dan responsibility. Liability merupakan istilah hukum yang luas yang menunjuk hampir semua karakter resiko atau tanggung jawab, yang bergantung atau yang mungkin meliputi semua karakter hak dan kewajiban secara aktual atau potensial seperti kerugian, ancaman, kejahatan, biaya atau kondisi yang menciptakan tugas untuk melaksanakan undang-undang. Sedangkan, Responsibility berarti hal yang dapat dipertanggungjawabkan atas suatu kewajiban, dan termasuk putusan, ketrampilan, kemampuan dan kecakapan meliputi juga kewajiban bertanggung jawab atas undang-undang yang dilaksanakan. Dalam pengertian dan penggunaan praktis, istilah liability menunjuk pada pertanggungjawaban hukum, yaitu tanggung gugat akibat kesalahan yang dilakukan oleh subyek hukum, sedangkan istilah responsibility menunjuk pada pertanggungjawaban politik.53
Kranenburg dan Vegtig dalam bukunya yang berjudul “Inleiding in het Nederlands Administratief Rechtmembahas” menjelaskan mengenai pertanggungjawaban pemerintah yang diistilahkan dengan pertanggungjawaban negara dari segi hukum administratif. Untuk menentukan pertanggungjawaban pemerintah, maka tindakan pemerintah dapat dibedakan menjadi tindakan pemerintah selaku perseorangan dan selaku penguasa.
52 Jimly Asshiddiqie dan Ali Safa’at, 2006, Teori Hans Kelsen tentang Hukum, Konstitusi Press, Jakarta, h. 61.
53 Ridwan H. R., Op.cit, h. 335-337.
Kranenburg menjelaskan, pertanggungjawaban negara dengan menguraikan ostermann-arrest bahwa Pasal 1365 BW berlaku pula bagi semua tindakan negara yang merugikan orang lain. Kranenburg berpendapat dalam hal ini bahwa, apabila negara melakukan tindakan yang melanggar hukum dan menimbulkan kerugian, maka negara wajib memberi ganti rugi. Namun, apabila tindakan pemerintah dalam keadaan luar biasa yang dapat mengurangi hak orang lain sehingga menimbulkan kerugian, belum tentu mengharuskan pemerintah untuk bertanggungjawab membayar kerugian. Harus diperhatikan pula tujuan dari tindakan yang dilakukan pemerintah tersebut.54 Tindakan pemerintah yang sewenang-wenang (detournement de pouvoir) dengan menyalahgunakan kekuasaan dan melangar hak orang lain yang dapat dimitakan pertanggungjawaban.55
Mac Iver juga mengemukakan pandangannya mengenai teori pertanggungjawaban pemerintah dalam suatu negara. Mac Iver mengemukakan bahwa :
“Every modern state,in other words every state in which the will of the people is active, of necessity attaches responsibility to the powers of government”.56 (Terjemahan bebas : Masalah penting berkaitan dengan pertanggungjawaban pemerintah dalam setiap negara adalah mengenai kombinasi terbaik antara pertanggungjawaban dan perwakilan).
Dari segi ketatanegaraan, teori pertanggungjawaban pemerintah dapat diuraikan dengan pandangan yang dikemukakan oleh Herman Finer. Menurut Herman Finer, pertanggungjawaban pemerintah merupakan bentuk dari
54 R. Kranenburg and W. G. Vegting, 1958, Inleiding in het Nederlands Administratief Recht, Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, Yogyakarta, h. 124.
55 Ibid, h. 127-128.
56 R. M. Mac Iver, 1926, The Modern State, Oxford University Press, London, Page 201.
pemerintahan yang demokratis yang dicontohkannya dengan menyebut Inggris, Prancis, dan Jerman Barat sebagai pemerintahan yang demokratis. Sedangkan pemerintahan yang diktator merupakan pemerintahan yang tidak bertanggungjawab (nonresponsibility), seperti pemerintahan Uni Soviet.57
Herman Finer mengklasifikasikan pertanggungjawaban pemerintah menjadi 2 yaitu pertanggungjawaban moral dan pertanggungjawaban politik atau sering pula disebut pertanggungjawaban sensorial. Menurut Herman Finer, pertanggungjawaban moral merupakan bentuk pertanggungjawaban yang berlaku di negara-negara diktator seperti Jerman pada masa Adolf Hitler, Italia pada masa Mussolini, atau Rusia di masa pemerintahan Lenin, Stalin, dan Krushchev, dimana pejabat pemerintahan tidak dapat dijatuhkan, serta memiliki kewenangan tak terbatas. Sedangkan pertanggungjawaban sensorial merupakan pola pertanggungjawaban yang diterapkan di negara-negara demokratis dalam teori dan prakteknya. Dalam pertanggungjawaban sensorial pejabat pemerintahan dapat diberhentikan apabila melakukan pelanggaran hukum terkait kewenangannya dan pemberhentiannya tersebut merupakan bentuk dari pertanggungjawabannya.58
Di Indonesia sendiri pertanggungjawaban pemerintah dalam hukum administratif diwujudkan dengan adanya Peradilan Tata Usaha Negara, dimana masyarakat dapat menggugat pemerintah yang menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara yang menimbulkan kerugian. Dalam konteks tangung jawab pemerintah, secara umum tolok ukur untuk menentukan sifat melawan hukum dari suatu tindakan administrasi negara, paling tidak ditentukan dengan 2 hal, yaitu
57 Herman Finer, 1962, Major Goverment of Modern Europe, Harper & Row Publisher, New York, h. 5.
58 Ibid.
pertama, tindakan administrasi negara tersebut telah dijalankan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kedua, pemerintah telah menerapkan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB) dalam menjalankan kewenangngannya.