BAB II URAIAN TEORETIS
2.2 Teori Pertukaran (Exchange Theory)
Agama dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antarmanusia, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Agama di samping sebagai sebuah keyakinan (belief), juga merupakan gejala sosial. Artinya, agama yang dianut melahirkan berbagai perilaku sosial, yakni perilaku
yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah kehidupan bersama. Kadang-kadang perilaku tersebut saling memengaruhi satu sama lain. Norma-norma dan nilai-nilai agama diduga sangat berpengaruh terhadap perilaku sosial (Ridwan, 2006:127).
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena sosial keagamaan, seperti perubahan dan perilaku sosial ialah teori pertukaran. Teori ini juga termasuk dalam pembahasan teori komunikasi kelompok.
Aktivitas manusia, seperti perubahan dan perilaku sosial, menurut perspektif teori pertukaran, tiada lain ialah melakukan pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain. Perilaku yang ditunjukkan oleh seorang individu dalam sebuah komunitas akan berlangsung apabila ia merasa adanya penghargaan (reward) dari anggota komunitas. Bila tidak mendapat pernghargaan, interaksi antaranggota komunitas tidak akan berlangsung.
Menurut perspektif pertukaran, manusia selalu melakukan transaksi sosial yang saling menguntungkan, baik keuntungan materi maupun nonmateri. Turner (1978:203) mengemukakan bahwa manusia berusaha memperoleh keuntungan dari transaksi sosial; manusia memperhitungkan untung rugi dalam transaksi sosial; manusia menyadari adanya sejumlah alternatif yang mendorong mereka memperhitungkan untung rugi; manusia bersaing untuk memperoleh keuntungan; pertukaran yang berorientasi keuntungan berlangsung dalam setiap konteks sosial; dan individu mempertukarkan komoditas nonmaterial seperti perasaan dan jasa (Ridwan, 2006:133).
Homans’ (1950, 1956, 1961) ideas of interpersonal rewards and cost are quite similar to Thibaut and Kelley’s. Based upon their interaction group, members exchange affect, rewards, and reinforcements. Abasic operant-oriented hypothesis of Homans’ theory is that the greater the exchange of rewadrs, the greater the repetition of the activity which led to them. In like manner, the greater the costs, the greater the
instability of the relationship and the greater the likehood that interaction will be terminated (Altman, 1973:64).
Teori pertukaran menjelaskan bahwa keberadaan suatu komunitas atau kelompok dalam berhubungan dengan komunitas lain atau hubungan antaranggota dalam suatu komunitas akan berlangsung sampai pada suatu titik di mana satu sama lain merasa puas. Bila anggota komunitas merasa tidak puas satu sama lain, akan terjadi perubahan. Secara teoretis perubahan ini akan berlangsung sampai suatu titik di mana terjadi keseimbangan satu sama lain (equilibrium), sehingga anggota komunitas atau kelompok memiliki kepuasan baru. Hal ini akan berlangsung terus-menerus dalam perkembangan sebuah masyarakat.
Wood (1982) dalam Liliweri (2001:55-57) mengidentifikasikan 12 karakteristik pendekatan pertukaran, yakni sebagai berikut:
1. Prinsp Individual
Komunikasi memasuki tahap individual, pada tahap ini setiap individu mulai memprakarsai hubungan antarpribadi dengan orang lain. Dia selalu mempunyai harapan agar kualitas hubungan antarpribadi semakin meningkat. Apabila kualitas memburuk, hubungan antarpribadi dihentikan, tetapi jika kualitas hubungannya hangat, maka ada kecenderungan untuk mempertahankan hubungan tersebut.
2. Komunikasi Coba-coba
Komunikasi memasuki tahap coba-coba, setiap individu melakukan uji coba terhadap tiap hubungan antarpribadi. Seorang individu akan mencari tahu dengan melakukan uji coba terhadap relasinya, apakah relasi tersebut benar-benar adalah orang yang ingin menjaga hubungan tersebut atau justru hanya hubungan biasa. Apabila individu meragukan informasi itu, dia memutuskan agar hubungan itu dihentikan.
3. Komunikasi Eksplorasi
Komunikator terus melakukan penjajagan dengan informasi yang bersumber dari pihak lain, jenis informasi manakah yang lebih menguntungkan dan yang merugikan. Dia tidak langsung memutuskan hubungan antarpribadi, tetapi meneliti ulang informasi yang disampaikan komunikan.
4. Komunikasi Euphoria
Komunikasi ini dilakukan oleh individu-individu yang telah meleburkan kepentingan yang berbeda dan membentuk satu hubungan baru atas satu dasar atau tujuan yang sama.
5. Komunikasi yang Memperbaiki
Komunikasi berfungsi memperbaiki dan mengevaluasi kembali hubungan antarpribadi, keputusan selalu berbunyi: kita terus berhubungan antarpribadi!
6. Komunikasi Pertalian
Dua pihak menetapkan bersama waktu dan tempat kesinambungan komunikasi. 7. Komunikasi sebagai Pengemudi
Komunikasi memasuki tahap keluwesan kontrol atas kebiasan-kebiasaan hubungan antarpribadi. Daya kontrol itu demikian baik, sehingga menghasilkan kaidah peran bersama.
8. Komunikasi yang Membedakan
Komunikasi memasuki suasana yang orang mulai berusaha menekankan kembali karakteristik individu. Individu mulai menegaskan kembali pola-pola budaya yang berbeda, kemudian memilih meneruskan relasi dengan cara lain.
9. Komunikasi yang Disintegratif
Komunikasi memasuki tahap menemukan perbedaan antarpribadi, sehingga bakal menimbulkan disintegrasi. Komunikasi hanya berlangsung kalau menyangkut tema-tema tertentu, jarak sosial antarpribadi semakin besar.
10. Komunikasi yang Macet
Komunikasi memasuki tahap mencari peluang dengan menciptakan masalah dan waktu atau kesempatan “yang cocok” agar hubungan antarpribadi dihentikan.
11. Pengakhiran Komunikasi
Hubungan antarpribadi memasuki tahap perbandingan tentang perhentian interaksi antarpribadi. Artinya para individu yang sebelumnya terlibat hubungan, masing-masing ingin menghentikan hubungan tersebut.
12. Individualis
Komunikasi memasuki tahap akhir, suasana hubungan antarpribadi tidak pasti, masing-masing pihak menyendiri dan tidak tahu dari mana komunikasi harus dimulai.
Di dalam kelompok Mentoring Agama Islam telah terjadi proses pertukaran yaitu para anggota kelompok mengharapkan imbalan yang mungkin menjadi alasan mereka untuk ikut dalam kelompok tersebut dan salah satunya mungkin mengharapkan penambahan informasi/pengetahuan mengenai ajaran agama Islam. Sehingga mereka dapat lebih memperdalam kegiatan ibadahnya kepada Allah SWT, dengan mengamalkan ilmu yang sudah mereka terima dalam kehidupan nyata.
Sementara imbalan yang diterima oleh pementor, di sini yang bertindak sebagai komunikator, adalah pahala dari Allah SWT, karena mereka telah melakukan tugasnya sebagai umat Islam yaitu berdakwah yang merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi. Karena pada dasarnya manusia dalam melakukan suatu kebaikan tidak dapat lepas dari keinginannya mendapatkan pahala sebagai bekal penambah timbangan kebaikannya di akhirat nanti.
Mereka telah mensukseskan dakwah Islam dengan menyebarkan ilmu agama yang telah diperolehnya kepada orang lain, istilahnya mengamalkan ilmu tersebut. Sedangkan pengeluaran dari pementor dan peserta mentoring, dimungkinkan mereka harus meluangkan waktu mereka di sela-sela aktivitas mereka yang lain, untuk belajar
lebih dalam mengenai agama mereka, yakni Islam. Karena setiap langkah mereka itu bernilai ibadah, selama itu menuju jalan yang diridhai-Nya. Belajar atau menuntut ilmu termasuk kegiatan yang baik, apalagi menuntut ilmu agama.
Imbalan lain yang didapat kemungkinan adalah para peserta mentoring dan pementor dapat tetap menjaga hubungan silaturahim antara sesama muslim atau menjaga ukhuwah islamiyah.