D. Konstruktivisme Piaget
1. Teori perubahan konsep
lebih dicirikan oleh paradigma para ilmuwan. Paradigma adalah suatu skema konseptual yang dengannya seorang ilmuwan memandang persoalan-persoalan dalam suatu disiplin tertentu. Persoalan yang diteliti dan metode yang digunakan untuk memecahkan persoalan itu terutama ditentukan oleh paradigma mereka yang relevan. Menurut Kuhn, secara historis paradigma-paradigma itu selalu berubah dan perubahannya kadang sangat tiba-tiba dan mencolok. Kuhn menguraikan dua kegiatan ilmiah: puzzle solving dan penemuan paradigma baru. Dalam puzzle solving, para ilmuwan membuat percobaan dan mengadakan observasi. Bila paradigmanya tidak dapat digunakan untuk memecahkan persoalan penting atau malah mengakibatkan konflik, suatu paradigma baru harus diciptakan. Paradigma baru inilah yang mencetuskan perubahan besar dalam ilmu pengetahuan.
Toulmin menguraikan bahwa bagian terpenting dari pemahaman manusia adalah perkembangan konsep secara evolutif. Dalam perkembangan konsep itu seseorang mengubah ide-idenya. Menurutnya, seseorang itu mengungkapkan rasionalitasnya, tidak melalui komitmennya terhadap suatu ide yang sudah mantap, prosedur yang stereotip, atau konsep yang sudah tidak terubahkan, melainkan melalui suatu cara dan kesempatan di mana ia mengubah gagasan, prosedur, dan konsepnya.
Gertzog menjelaskan adanya dua langkah yang tidak dapat dipisahkan dari filsafat sains, yaitu: a) central commitments dan b) perubahan central commitments. Dalam central commitments, para ilmuwan menelaah dan mendefmisikan persoalan, strategi untuk memecahkan persoalan itu, dan kriteria pemecahannya. Dalam langkah kedua, mereka perlu mengubah central commitment bila mereka berhadapan dengan tantangan baru yang berlawanan dengan asumsi dasar mereka.
Menurut Posner dkk, dalam proses belajar ada proses perubahan konsep yang mirip dengan yang ada dalam filsafat sains tersebut. Tahap pertama perubahan konsep itu disebut asimilasi dan tahap kedua disebut akomodasi. Dengan asimilasi siswa menggunakan konsep-konsep yang telah mereka punyai untuk berhadapan dengan fenomena yang baru. Dengan akomodasi siswa mengubah konsepnya yang tidak cocok lagi dengan fenomena baru yang mereka hadapi. Akomodasi disebut juga perubahan konsep secara radikal.
Agar terjadi akomodasi, dibutuhkan beberapa keadaan dan syarat seperti berikut: a. Harus ada ketidakpuasan terhadap konsep yang telah ada. Siswa mengubah konsepnya jika mereka yakin bahwa konsep mereka yang lama tidak dapat digunakan lagi untuk menelaah situasi, pengalaman, dan gejala yang baru.
b. Konsep yang baru harus dapat dimengerti, rasional, dan dapat memecahkan persoalan atau fenomena yang baru
c. Konsep yang baru harus masuk akal, dapat memecahkan dan menjawab persoalan yang terdahulu, dan juga konsisten dengan teori-teori atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.
yang baru.
Menurut Posner dkk, salah satu penyebab terbesar ketidakpuasan terhadap konsep lama adalah adanya peristiwa anomali. Suatu peristiwa yang bertentangan dengan yang dipikirkan siswa. Suatu peristiwa di mana siswa tidak dapat mengasimilasikan pengetahuannya untuk memahami fenomena yang baru. Misalnya, bagi siswa yang berpikir bahwa percepatan benda jatuh bebas tergantung pada masa benda itu, akan menjadi bingung bila mereka mengamati bahwa benda yang jatuh bebas punya percepatan yang sama. Bagi siswa yang berpikiran bahwa reaksi kimia yang mereka buat pasti akan menghasilkan warna merah dan bersuhu tinggi, mengamati bahwa ternyata warna reaksi tersebut hijau dan bersuhu tetap akan menjadi peristiwa anomali. Peristiwa seperti itu akan menantang siswa untuk lebih berpikir dan mempersoalkan mengapa pemikiran awal mereka tidak benar.
Banyak pendidik sains menggunakan data anomali untuk memacu perubahan konsep pada anak. Mereka menyediakan data-data dan percobaan-percobaan yang memberikan data berbeda dengan keyakinan anak atau prediksi anak. Misalnya, bagi anak-anak yang yakin bahwa massa jenis benda padat selalu lebih besar daripada massa jenis air, seorang pendidik dapat memberikan beberapa benda padat yang massa jenisnya lebih kecil daripada air. Data anomali juga ternyata berperan besar dalam perubahan konsep dalam sejarah sains. Namun, data anomali kadang juga gagal mendorong perubahan konsep karena para ilmuwan dan siswa kadang menemukan cara untuk mengabaikan data-data yang berlawanan tersebut. Menurut Chinn, ada beberapa cara orang bereaksi terhadap data anomali: a) mengabaikan dan menolaknya; b) mengecualikan data itu dari teori yang telah ada; c) mengartikan kembali data itu; d) mengartikan kembali data itu dengan sedikit perubahan; dan e) menerima data itu dan mengubah teori atau konsep sebelumnya.
Carey menguraikan adanya dua perubahan konsep, yaitu: restruktunsasi kuat dan restrukturisasi lemah. Dalam restrukturisasi kuat seseorang mengubah konsep lama yang telah mereka punyai, sedangkan dalam proses restrukturisasi lemah seseorang tidak mengubah konsep lama mereka, melainkan hanya memperluasnya. Restrukturisasi kuat mirip dengan proses akomodasi sedangkan restrukturisasi lemah mirip dengan asimilasi. Banyak peneliti menerapkan strategi mengajar yang mempercepat perubahan konsep. Mereka menekankan agar siswa dibiasakan mempertanyakan keyakinan dan konsepnya. Mereka membuat strategi yang menimbulkan ketidakseimbangan dalam pikiran siswa, yang menimbulkan konflik dalam pikiran siswa, sehingga ia tertantang untuk mengubah konsep yang telah dipunyai.
Dalam penelitiannya, Vygotsky membedakan dua macam konsep, yaitu: konsep spontan dan konsep ilmiah. Konsep spontan diperoleh siswa dari kehidupan sehari-hari dan konsep ilmiah diperoleh dari pelajaran di sekolah. Kedua konsep itu saling berhubungan terus-menerus. Apa yang dipelajari siswa dalam sekolah mempengaruhi perkembangan konsep yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan sebaliknya.
Perbedaan yang mencolok dari kedua konsep itu adalah ada atau tidak adanya sistem. Konsep spontan didasarkan pada kejadian khusus dan tidak merupakan bagian yang bertalian secara logis dari suatu sistem pemikiran, sedangkan konsep ilmiah disajikan sebagai suatu bagian dari suatu sistem. Dengan menggunakan teori Vygotsky, Howe menyarankan agar guru atau pendidik tidak mengatakan bahwa suatu konsep spontan siswa itu “salah”. Pendidik sebaiknya tidak menolak konsep spontan siswa, melainkan membantunya agar konsep itu diintegrasikan dengan konsep yang ilmiah. Menurut Howe, konsep spontan itu meski tidak cocok sebagai penjelasan atas persoalan yang lebih luas, kerap kali cocok untuk penalaran siswa dalam persoalan yang lebih sempit. Misalnya, seorang anak beranggapan bahwa matahari itu mengitari bumi. Konsep ini diperoleh dari pengamatan sehari-hari bahwa mataharilah yang seakan berjalan mengitari bumi, sedangkan bumi diam. Konsep ini meski tidak sesuai dengan konsep ilmiah tata angkasa, menjelaskan dan juga memecahkan beberapa persoalan sehari-hari yang dihadapi siswa. Misalnya, ia dapat berkomunikasi dengan tetangga yang mengatakan matahari terbit di timur dan terbenam di barat, ia dapat juga menjelaskan bagaimana membuat jam matahari.
Kalau kita yakin bahwa konsep dan pengetahuan seseorang itu terus berkembang mulai dari kanak-kanak sampai dewasa dan setiap saat seseorang itu mempunyai pemahaman tertentu akan sesuatu hal, maka tidak dapat dikatakan bahwa pemahaman seorang anak salah, melainkan bahwa pemahaman mereka itu terbatas. Tugas seorang pendidik dalam hal ini adalah membantu agar pemahaman mereka berkembang semakin mendekati pemahaman para ilmuwan.
Teori perubahan konsep cukup banyak senada dengan teori konstruktivis dalam arti bahwa dalam proses pengetahuan seseorang mengalami perubahan konsep. Pengetahuan seseorang itu tidak sekali jadi, melainkan merupakan proses perkembangan yang terus-menerus. Dalam perkembangan itu ada yang mengalami perubahan besar dengan mengubah konsep lama melalui akomodasi, ada pula yang hanya mengembangkan dan memperluas konsep yang sudah ada melalui asimilasi. Proses perubahan terjadi bila si siswa aktif berinteraksi dengan lingkungannya.
Dalam banyak penelitian diungkapkan bahwa teori perubahan konsep dipengaruhi atau didasari oleh filsafat konstruktivisme. Konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh siswa yang sedang belajar. Teori perubahan konsep menjelaskan bahwa siswa mengalami perubahan konsep terus-menerus yang sangat berperanan dalam menjelaskan mengapa seorang siswa bisa salah mengerti dalam menangkap suatu konsep yang ia pelajari. Konstruktivisme membantu untuk mengerti bagaimana siswa membentuk pengetahuan yang tidak tepat. Dengan demikian, seorang pendidik dibantu untuk mengarahkan siswa dalam pembentukan pengetahuan yang lebih tepat. Teori perubahan konsep sangat membantu karena mendorong pendidik agar menciptakan suasana dan keadaan yang memungkinkan perubahan konsep yang kuat pada siswa sehingga pemahaman mereka lebih sesuai dengan pemahaman ilmuwan.
Konstruktivisme dan teori perubahan konsep memberikan pengertian bahwa setiap orang dapat membentuk pengertian yang berbeda dengan pengertian ilmuwan. Namun pengertian yang berbeda tersebut bukanlah akhir perkembangan karena setiap kali mereka masih dapat mengubah pengertiannya sehingga lebih sesuai dengan pengertian ilmuwan. Menurut teori konstruktivisme dan teori perubahan konsep, “Salah pengertian” bukanlah akhir dari segala-galanya, melainkan justru menjadi awal untuk perkembangan yang lebih baik.