TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka
1. Teori Sinyal (Signalling Theory)
Teori sinyal (signaling theory) merupakan salah satu teori pilar dalam memahami manajemen keuangan. Secara umum, sinyal diartikan sebagai isyarat yang dilakukan oleh perusahaan (manajer) kepada pihak luar (investor). Sinyal tersebut dapat berwujud berbagai bentuk, baik yang secara langsung dapat diamati maupun yang harus dilakukan penelaahan lebih mendalam untuk dapat mengetahuinya. Apapun bentuk atau jenis dari sinyal yang dikeluarkan, semuanya dimaksudkan untuk menyiratkan sesuatu dengan harapan pasar atau pihak eksternal akan melakukan perubahan penilaian atas perusahaan. Artinya, sinyal yang dipilih harus mengandung kekuatan informasi (information content) untuk dapat merubah penilaian pihak eksternal perusahaan.
Menurut Sudana (2015, hlm.173) ‘Perusahaan yang mampu menghasikan laba cenderung untuk meningkatkan jumlah utangnya, karena tambahan pembayaran bunga akan diimbangi dengan laba sebelum pajak.’
Dengan kata lain, investor memandang utang sebagai sinyal dari nilai perusahaan. Sedangkan Menurut Sitanggang (2013, hlm 88) ‘Teori Sinyal adalah investor memiliki informasi yang sama dengan manajemen atas kesempatan investasi pada masa yang akan datang dan keadaan demikian
10
disebut sebagai informasi yang simetris’. Dimana setiap stakeholder memiliki pengetahuan yang sama dan informasi yang sama agar dapat menilai suatu perusahaan pada masa yang akan datang.
Menurut Apriadha Dan Suardhika (2016) ‘Teori sinyal menyatakan cara suatu perusahaan memberi sinyal pada konsumen dalam menganalisa laporan keuangan’.
Menurut Dyah Ayu (2013) ‘Teori sinyal dihasilkan oleh adanya asimetri informasi atau manajer dan pemegang saham tidak memiliki akses informasi perusahaan yang sama’. Yang berarti informasi yang disediakan oleh pihak manajer tidak sesuai dengan banyaknya informasi terdapat perusahaan tersebut.
Menurut Brigham dan Houston (2011, hlm 186) ‘Sinyal (Signal) Suatu tindakan yang diambil oleh manajemen suatu perusahaan memberikan petunjuk kepada investor tentang bagaimana manajemen menilai prospek perusahaan tersebut.’
Dapat di artikan bahwa teori sinyal adalah penyampaian informasi atau sinyal yang relevan yang dilakukan oleh pihak manajer perusahaan dan dapat dimanfaatkan oleh penerima atau investor untuk memperbarui dan menambah informasi dari perusahaan yang di investasikan oleh investor kemudian penerima atau investor akan menyesuaikan perilakunya sesuai dengan pemahamannya terhadap sinyal tersebut untuk mengetahui prospek perusahaan pada masa yang akan datang.
11 2. Nilai Perusahaan
Menurut Fahmi (2017, hlm 70) ‘Rasio nilai pasar yaitu rasio yang menggambarkan kondisi yang terjadi di pasar’. Dengan kata lain nilai pasar adalah kondisi yang terus mengalami perubahan seiring dengan terus berubahnya nilai.
Menurut Sudana (2015, hlm 9) ‘Nilai perusahaan merupakan nilai sekarang dari arus pendapatan atau kas yang di harapaan diterima ada masa yang akan datang.’
Menurut Murhadi (2013, hlm 66) ‘Price book value ratio adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara harga pasar saham dan nilai buku ekuitas sebagaimana yang ada di laporan posisi keuangan.’
Menurut Astriani (2014) Nilai perusahaan adalah ‘nilai tambah bagi pemegang saham yang tercermin pada harga saham yang nantinya menjadi nilai unggul bagi perusahaan dalam mencapai tujuan jangka panjang perusahaan yaitu memaksimalkan nilai pemegang saham.’ Dengan melihat dari nilai perusahannya investor dapat menggambarkan keuntungan pada masa yang akan datang.
Menurut Putra (2016) Nilai perusahaan yang ‘tinggi juga mengindikasikan kemakmuran pemegang saham yang tinggi, karena semakin tinggi nilai perusahaan investor akan mendapat keuntungan tambahan selain dividen yang diberikan oleh pihak perusahaan yaitu berupa capital gain dari saham yang mereka miliki.’
12
Pengukuran nilai perusahaan dilakukan dengan menggunakan rasio penilaian. Menurut Murhadi (2013, hlm 64) bahwa rasio nilai perusahaan yang digunakan adalah.
a. Earnings per share (EPS)
Earnings per share adalah pendapatan per lembar saham yang dapat dilihat di laporar laba rugi. EPS diperoleh dengan cara:
b. Dividend Payout Ratio (DPR)
Dividend payout ratio merupakan rasio yang menggambarkan besarnya proporsi dividen yang dibagikan terhadap pendapatan bersih perusahaan.
DPR diperoleh dengan cara:
c. Price to Earnings Ratio (PER)
Price to earnings ratio menggambarkan perbandingan antara harga pasar dengan pendapatan perlembar saham. PER yang terlalu tinggi, mengindikasikan bahwa harga pasar saham perusahaan tersebut telah mahal. PER diperoleh dengan cara:
13 d. Dividend Yield (DY)
Dividend Yield menunjukkan perbandingan antara dividen yang diterima investor terhadap harga pasar saham saat ini. DY diperoleh dengan cara:
e. Price to book value ratio (P/B or PBV)
Price to book value ratio adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara harga pasar saham dan nilai buku ekuitas sebagaimana yang ada di laporan posisi keuangan PBV diperoleh dengan cara:
f. Price/sales ratio
Price/sales ratio adalah rasio yang membandingkan nilai kapitalisasi pasar perusahaan terhadap penjualan: Rasio ini bertujuan untuk melihat hubungan antara tingkat penjualan dan harga saham perusahaan. PSR diperoleh dengan cara:
14
g. Price Earnings Ratio to Growth (PEG Ratio)
PEG Ratio merupakan rasio harga per pendapatan (PER) dibanding terhadap pertumbuhan perusahaan. PEG Ratio diperoleh dengan cara:
Adapun menurut Sitanggang (2014) bahwa rasio nilai perusahaan digunakan adalah:
a. Tambahan Nilai Ekonomis / Economic Value Added (EVA)
EVA yaitu tambahan ekonomis yang diperoleh perusahaan dari kegiatannya.
Rumus EVA :
b. Tambahan Nilai Pasar / Market Value Addrd (MVA)
MVA yaitu nilaizlebih yang diberikan oleh masyarakat permodal di pasar sahamz(bursa) di atas nilai bukuzyang tercerminzdalam harga pasar (market price) sahamzperusahaan tertentu.
Rumus MVA :
15
c. Rasio Harga Pasar Terhadap Nilai Buku / Market to Book Value (MBV) MBV yaitu rasio yang menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham.
Rumus MBV :
d. Rasio Harga Terhadap Laba / Price Earning Ratio (PER)
PER yaitu seberapa besar pasar mau menghargai setiap laba bersih per lembar saham yang dapat dihitung.
Rumus PER :
Menurut Samsul (2015) terdapat faktor mikroekonomi yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham sesuatu perusahaan berada didalam perusahaan itu sendiri antara lain adalah ‘Laba bersih per saham;
Laba usaha per saham; Nilai buku per saham; Rasio ekuitas terhadap utang;
Rasio laba bersih terhadap ekuitas; Cash flow per saham’.
Dapat diartikan bahwa nilai perusahaan adalah penilaian yang diguakan investor untuk menghitung potensial keuntungan dari suatu perusahaan di masa sekarang dan yang akan datang, dimana investor akan mendapatkan keuntungan berupa dividen dan capital gain dari saham yang mereka miliki.
16
Dan harga saham yang tinggi akan membuat nilai perusahaan tinggi yang menyebabkan pasar percaya pada kinerja perusahaan dan prospeknya di masa yang akan datang.
3. Profitabilitas
Menurut Fahmi (2017) Rasio profitabilitas adalah ‘rasio yang mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dengan penjualan maupun investasi.’ Dengan kata lain suatu keuntungan perusahana yang di lihat dari penjualan perusahaan dan investasi pada perusahaan.
Menurut Kasmir (2013) Rasio profitabilitas merupakan ‘rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan.’ Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan dalam mengukur keefektifan kinerja perusahaan saat mencari keuntungan.
Menurut Dewi (2013) ‘Profitabilitas atau laba merupakan pendapatan dikurangi beban dan kerugian selama periode pelaporan.’
Menurut Rahmawati (2015) profitabilitas adalah ‘kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba melalui sejumlah kebijakan yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan. Setiap perusaah memiliki kebijakan tersendiri dalam mencari labanya’.
Menurut Sitanggang (2014) terdapat beberapa cara untuk mengukur seberapa besar tingkat profitabilitas, yaitu.
17
a. Margin laba kotor atas penjualan (Gross Profit Margin- GPM)
Margin laba kotor atas penjualan yaitu rasio yang mengukur seberapa besar tingkat keuntungan kotor perusahaan dari setiap penjualannya, artinya disini belum memperhitungkan biaya operasi perusahaan. Rumus yang digunakan untuk mengukur margin laba kotor atas penjualan sebagai berikut:
Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai margin yang tinggi dari setiap penjualan setelah memperhitungkan harga pokok penjualan barang.
b. Margin laba operasional (Operating Profit Margin- OPM)
Margin laba operasional/usaha atas Penjualan yaitu rasio yang mengukur seberapa besar tingkat keuntungan operasional/usaha perusahaan dari setiap penjualannya, artinya di sini belum memperhitungkan biaya bunga dan pajak perusahaan. Rumus yang digunakan untuk mengukur margin laba operasional sebagai berikut:
Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai margin yang tinggi dari setiap penjualan setelah memperhitungkan biaya operasi perusahaan.
18
c. Margin laba bersih atas penjualan (Net Profit Margin- NPM)
Margin laba bersih atas penjualan yaitu rasio yang mengukur seberapa besar tingkat keuntungan bersih perusahaan dari setiap penjualannya, artinya disini telah memperhatikan biaya operasi, bunga dan pajak perusahaan. Rumus yang digunakan untuk mengukur margin laba bersih atas penjualan sebagai berikut:
Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai margin yang tinggi dari setiap penjualan terhadap seluruh biaya, bunga dan pajak yang diperhitungkan perusahaan.
d. Tingkat hasil usaha (Basic earning power BEP)
Tingkat hasil usaha yaitu kemampuan perusahaan memperoleh laba usaha dari aktiva yang dimiliki perusahaan. Rumus yang digunakan untuk mengukur tingkat hasil usaha sebagai berikut:
Semakin tinggi rasio ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu memanfaatkan aset yang dimiliki untuk memperoleh laba usaha perusahaan
19
e. Pengembalian Investasi/Aset (Return on InvestmentiAssets - ROI/ROA) Pengembalian Investasi/Aset yaitu rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba bersih dari jumlah dana yang investasikan perusahaan atau total aset perusahaan. Untuk menentukan jumlah dana yang diinvetasikan, dalam beberapa literatur jumlah investasi disamakan dengan total aset, hal ini dapat diterima selama semua asset dioperasionalkan dalam operasi utama perusahaan (core business).
Artinya tidak ada aset yang masih belum dioperasionalkan atau dioperasionalkan tetapi bukan untuk operasional utama perusahaan.
Dalam keadaan seperti itu, maka pengembalian investasi identik dengan pengembalian aset. Rumus yang digunakan untuk mengukur pengembalian investasi/aset sebagai berikut:
Pengukuran rasio tersebut pada rumus di atas sesungguhnya harus dipahami bahwa laba dan investasi yang digunakan adalah laba dan investasi yang benar-benar terjadi dalam perusahaan. Disinilah perlu pemahaman atas investasi itu sendiri. Ada yang mengintrepretasikan bahwa semua aset perusahaan merupakan investasi perusahaarn maka dalam pengertian demikian jelas jumlah investasi adalah jumlah seluruh aset perusahaan. Tetapi tidak salah juga pada pemahaman bahwa belum tentu investasi tersebut telah mendatangkan pendapatan misalnya gedung dalam konstruksi atau mesin dalam penempatan.
20
Dalam pengertian demikian bahwa jumlah dana investasi adalah jumlah dana yang tertanam dalam aset yang benar-benar mendatangkan pendapatan bersih (Net assets in generating current net income).
Semakin tinggi rasio ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu memanfaatkan aset yang dimiliki untuk memperoleh laba bersih perusahaan.
f. Pengembalian atas Modal Sendiri/Ekuitas (Return on Equity – ROE) Pengembalian atas Modal Sendiri/Ekuitas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memberikan imbalan bersih atas setiap rupiah dari modal pemegang saham. Rumus yang digunakan untuk mengukur pengembalian atas modal sendiri/ekuitas sebagai berikut:
Bagi pemegang saham tingkat pengembalian atas modal sendiri ini adalah ukuran yang paling penting, karena rasio ini menunjukkan tingkat hasil yang diperoleh pemegang modal atas modal yang dimiliki dalam perusahaan. Terutama bagi perusahaan yang belum go public, ukuran ini merupakan satu-satunya ukuran untuk mempro y/mengukur tingkat kemakmuran pemegang atas penyertaannya dalam perusahaan. Dari persamaan di atas dapat diuraikan/ditelusuri besarnya tingkat pengembalian atas ekuitas (tingkat hasil untuk pemegang saham- ROE) ditentukan oleh 3 rasio yaitu:
1) Margin laba bersih atas penjualan, 2) Perputaran total aset dan
21
3) Kelipatan modal sendiri terhadap aset.
Semakin tinggi rasio ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu memperoleh margin laba bersih, memanfaatkan aset yang dimiliki dan bauran pembiayaan untuk memberikan tingkat hasil bagi pemegang saham perusahaan.
Dari teori di atas dapat di artikan bahwa profitablitas adalah tingkat keuntunga bersih perusahaan dari hasil operasinya. Adapun rasio yang dimiliki profitabilitas yang berasal dari penjualan dan beban, selain itu profit perusahaan yang terus meningkat akan menunjukan kinerja perusahaan yang semakin membaik sehingga mendapatkan kerpercayaan dan tanggapan yang baik dari investor terhadap perusahaan tersebut, dan semakin besar keuntungan yang dapat diraih perusahaan akan semakin besar dividen yang dibagikan.
4. Likuiditas
Menurut Sitanggang (2014) Rasio likuiditas merupakan ‘ukuran kinerja perusahaan dalam kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan yang segera harus dilunasi yaitu kewajiban keuangan yang jatuh temponya sampai dengan 1 tahun.’
Menurut Agus Harjito dan Martono (2014) Rasio likuiditas adalah
‘rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi atau kewajiban jangka pendek.’
22
Menurut Fahmi (2017) Rasio likuiditas adalah ‘kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu.’
Menurut Murhadi (2013) Rasio likuditas adalah ‘rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan dalam memenuhi liabilitis jangka pendeknya.’
Sementara itu menurut Kasmir (2013) Rasio likuiditas atau sering juga disebut dengan nama rasio modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan, adapun rasio yang digunakan oleh kasmir untuk menghitung likuiditas yaitu.
a. Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio lancar atau (current ratio) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan.
Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo. Rasio lancar dapat pula dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan (margin of safety) suatu perusahaan. Penghitungan rasio lancar dilakukan dengan cara membandingkan antara total aktiva lancar dengan total utang lancar. Rumus untuk mencari rasio lancar (current ratio) yang dapat digunakan sebagai berikut:
23 b. Rasio Cepat (Quick Ratio)
Rasio cepat (quick ratio) atau rasio sangat lancar atau acid test ratio merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai sediaan (inventory). Artinya nilai sediaan kita abaikan, dengan cara dikurangi dari nilai total aktiva lancar. Rumus untuk mencari rasio cepat (quick ratio) yang dapat digunakan sebagai berikut:
Atau
c. Rasio kas (cash ratio)
Rasio kas atau cash ratio merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang.
Ketersediaan uang kas dapat ditunjukkan dari tersedianya dana kas atau yang setara dengan kas seperti rekening giro atau tabungan di bank (yang dapat ditarik setiap saat). Dapat dikatakan rasio ini menunjukkan kemampuan sesungguhnya bagi perusahaan untuk membayar utang-utang jangka pendeknya. Rumus untuk mencari rasio kas (cash ratio) yang dapat digunakan sebagai berikut:
24 Atau
d. Rasio Perputaran Kas
Rasio Perputaran Kas Menurut James, O. Gill, rasio perputaran kas (cash turn over) berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan penjualan. Rumus untuk mencari Rasio Perputaran Kas yang dapat digunakan sebagai berikut:
Dari teori di atas dapat di artikan bahwa likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian utang jangka pendek perusahaan dalam likuiditas adapun rasio yang digunakan adalah aktiva lancar dan utang lancar, selain itu perusahaan yang memiliki likuiditas yang baik maka akan dianggap memiliki kinerja yang baik oleh investor.
Hal ini akan menarik minat investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan.