BAB II STUDI PUSTAKA
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.2 Tatalaksana Terapi
2.1.2.2 Terapi Farmakologi
Terapi farmakologi diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jamani. Terapi farmakologi terdiri dari suntikan dan obat oral.
a. Insulin
Insulin merupakan hormon anabolik dan katabolik yang memiliki peran dalam metabolisme protein, karbohidrat, serta lemak. Produksi insulin endogen berasal dari pemecahan peptida proinsulin yang besar di sel beta menjadi bentuk peptida insulin yang aktif dan C-peptida yang digunakan sebagai marker produksi insulin endogen(12). Mekanisme aksi insulin dalam menurunkan kadar glukosa darah dengan memicu pengambilan glukosa perifer dan menghambat produksi glukosa hepatik(18). Insulin yang disekresi terdiri dari insulin basal dan insulin prandial. Defisiensi insulin basal akan menyebabkan hiperglikemia pada kondisi puasa, sedangkan defisiensi insulin prandial akan menyebabkan hiperglikemia setelah makan(2).
Terapi insulin merupakan terapi utama yang harus diberikan kepada penderita DM tipe 1. Pasien DM tipe 1 dengan sel beta langerhans yang rusak, tidak dapat memproduksi insulin sehingga diperlukan pasokan insulin eksogen(14). Berdasarkan lama kerja, insulin dibagi menjadi insulin kerja cepat (rapid acting
insulin), insulin kerja pendek (short acting insulin), insulin kerja menengah (intermediate acting insulin), insulin kerja panjang (long acting insulin), dan insulin campuran tetap (premixed insulin). Pemberian insulin bisa secara tunggal maupun kombinasi disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan respon individu terhadap insulin. Insulin kerja cepat dan insulin kerja pendek digunakan untuk mengoreksi defisiensi insulin prandial, sedangkan insulin kerja menengah dan insulin kerja panjang untuk mengoreksi defisiensi insulin basal(2).
b. Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
Obat Hipoglikemik Oral (OHO) dapat diberikan tunggal maupun kombinasi disesuaikan dengan tingkat keparahan diabetes, penyakit penyerta, dan komplikasi yang ada(17).
Berdasarkan mekanisme kerjanya, OHO dibagi menjadi 5 golongan:
1) Pemicu sekresi insulin (Sulfonilurea, Glinid) A. Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas, dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal atau kurang. Namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan berlebih. Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadan seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea jangka panjang(2).
B. Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea, dengan penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalamin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati. Obat ini dapat mengatasi hiperglikemia post prandial(2).
2) Peningkat Sensitivitas Terhadap Insulin (Tiazolidindion)
Tiazolidindion (pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Reseptor Gamma (PPAR-g), suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak.
Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien gagal jantung kelas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati.
Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala(2).
3) Penghambat Glukoneogenesis (Metformin)
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer.
Terutama dipakai pada penyandang diabetes gemuk. Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin
>1,5 mg/dL) dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebrovaskular, sepsis, gagal jantung). Metformin dapat memberikan efek samping mual. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan(2).
4) Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose)
Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan.
Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. Efek samping yang sering ditemukan adalah kembung dan faltulens(2).
5) DPP IV Inhibitor (Linagliptin, Saxagliptin, Sitagliptin, Vildagliptin)
Glucagon-like peptide-1 (GLP-1) merupakan suatu hormon peptida yang dihasilkan oleh sel mukosa di usus. Peptida yang dihasilkan oleh sel mukosa usus bila ada makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan. GLP-1 merupakan perangsang kuat insulin sekaligus penghambat glukagon. Namun demikian secara cepat GLP-1 diubah oleh enzim dipeptidyl-1 peptidase-4 (DPP-4), menjadi metabolit GLP-1-(9,36)-amide yang tidak aktif . Sekresi GLP-1 menurun pada DM tipe 2, sehingga upaya yang ditujukan untuk meningkatkan GLP-1 bentuk aktif merupakan hal yang rasional bagi pengobatan diabetes tipe 2(2).
c. Terapi Kombinasi
Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah. Bersamaan dengan pengaturan diet dan kegiatan jasmani, bila diperlukan dapat dilakukan pemberian OHO kombinasi (secara terpisah ataupun fixed combination dalam bentuk tablet tunggal), harus dipilih dua macam obat dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda. Bila sasaran kadar glukosa darah belum tercapai, dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO dari kelompok yang berbeda atau kombinasi OHO dengan insulin. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinis dimana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai, terapi dengan kombinasi tiga OHO dapat menjadi pilihan(2).
Untuk kombinasi OHO dan insulin, yang banyak dipergunkan dalah kombinasi OHO dan insulin basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang) yang diberikan pada malam hari menjelang tidur dengan pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan sekitar jam 22.00, kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar glukosa darah puasa keesokan harinya. Bila dengan cara seperti di atas kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak terkendali. Maka, OHO dihentikan dan diberikan terapi kombinasi insulin(2).
2.1.3 Dipeptidyl Peptidase-4 (DPP-4)
Dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4) atau dikenal dengan nama adenosine deaminase complexing protenin 2 atau CD26 pertama kali ditemukan tahun 1966.
Enzim ini merupakan bagian dari grup prolyl oligopeptidase yang secara struktur berhubungan dengan enzim yang mempunyai kecenderungan sifat untuk melepaskan N-dipeptida dari substrat dan diketahui mempunyai peranan dalam proses biologis baik dalam pengaturan protease ataupun binding protein. DPP-4 adalah enzim yang dapat dideteksi pada endothelium dari berbagai macam organ dan terukur sebagai aktivitas sirkulasi enzim pada plasma(19).
Secara in vivo, DPP-4 akan memutus ikatan amida dipeptida yang dilepaskan oleh asam amino. GLP-1 dan GIP adalah substrat DPP-4 yang tervalidasi keberadaannya pada manusia. Kedua substrat ini merupakan bagian dari kelompok hormon metabolisme yang disebut incretin. GIP adalah peptida panjang terdiri dari 42 asam amino yang berasal dari gen proGIP, dan GLP-1 diproduksi dari gen proglukagon yang menghasilkan dua bentuk aktif yaitu perpanjangan glisin GLP-17-37 dan amida GLP-17e36(20).
Incretin berguna untuk merangsang penurunan kadar gula darah dengan cara menaikkan jumlah insulin yang dihasilkan sel beta pankreas setelah mengkonsumsi makanan. Selain itu incretin juga mempunyai peranan penting lain yaitu menghambat pelepasan glukagon dari alpha sel islets of Langerhans. Incretin bertanggungjawab atas 50-70% dari insulin yang dihasilkan oleh tubuh. DPP-4 diketahui mempunyai aktivitas yang berlawanan dengan hormon yang dihasilkan oleh incretin. Setelah GLP-1 dan GIP dihasilkan incretin, secara cepat DPP-4 akan menghidrolisisnya yang mengakibatkan GLP-1 dan GIP tidak aktif(22). Hal ini yang kemudian mendasari penelitian baru tentang pengobatan DM tipe 2. Penelitian menyatakan bahwa penderita diabetes melitus tipe 2 kandungan enzim DPP-4 tinggi bila dibandingkan dengan orang normal. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa keberadaan DPP-4 telah mengurangi jumlah GLP-1 dan GIP yang berperan menghasilkan insulin. DPP-4 dijadikan sebagai enzim target yang kinerjanya dihambat oleh inhibitor yang bertindak sebagai obat.
DPP-4 inhibitor diberikan secara oral. Dapat menaikkan level GLP-1 secara fisiologis 2-3 kali lipat. Mekanisme utama stimulasi reseptor GLP-1 secara berinteraksi dengan reseptor pada saraf aferen (sistem saraf otonom) GIP, Pituitary adenylate cyclase-activating polypeptide (PACAP) dan lainnya. Efek pada pengosongan lambung dan pada apetit tidak berpengaruh. Sedangkan efek pada berat badan yaitu dapat menetralkan berat badan. Reaksi yang merugikan yaitu pada vidagliptin dapat meningkatkan enzim di hepar dan pada sitagliptin dapat menimbulkan reaksi kulit(22).
2.1.3.1 Sitagliptin
Sitagliptin merupakan obat DPP-4 inhibitor yang digunakan sebagai terapi pada pasien DM tipe 2. Dipilih sebagai lini kedua bagi pasien yang tidak berespon terhadap monoterapi seperti Sulfonilurea, metformin, atau TZD, dan sebagai pengobatan lini ketiga ketika terapi kombinasi dengan metformin dan sulfonilurea tidak cukup mengontrol gula darah. Dosis Sitagliptin yang direkomendasikan adalah 100 mg per hari. Pada kondisi insufisiensi renal sedang-berat, dosis menjadi 50 mg per hari bila klirens kreatinin <50 mL/menit, dan 25 mg per hari bila klirens kreatinin <30 mL/menit. Pasien yang mendapatkan terapi sitagliptin harus menjalani pemeriksaan fungsi ginjal terlebih dahulu dan secara periodik selama terapi untuk memastikan dosis yang tepat(23). Sitagliptin memiliki kemampuan serupa dengan glipizid yaitu menurunkan nilai A1C. Fix combination Sitagliptin dengan Metformin (dosis 50mg / 500 mg, 50 mg / 850 mg, 50mg / 1000 mg) diberikan dengan dosis 2 kali sehari dengan makanan. Dosis diturunkan perlahan-lahan, untuk mengurangi efek samping gastro intestinal yang disebabkan dari Metformin(24).
Raz et al (2006) melakukan penelitian 18 minggu pada 521 pasien menggunakan sitagliptin 100 atau 200 mg satu kali per hari sebagai monoterapi dibandingkan dengan plasebo pada pasien dengan kadar A1C awal 8,1%
menunjukkan penurunan A1C 0,60% dan 0,48%. Aschner et. al (2006) melakukan penelitian 24 minggu menggunakan sitagliptin 100 atau 200 mg per hari pada pengidap DM tipe 2 baru dengan rerata A1C awal 0,8% menunjukkan penurunan 0,74% dan 0,94%. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan pengaruh sitagliptin pada DM tipe 2 menunjukkan efisiensi baik untuk meningkatkan kontrol glikemik dengan penurunan A1C 0,8%-1,1% selama periode 12-52 minggu(25).
Sitagliptin telah diujikan sebagai kombinasi dengan metformin pada penelitian 6 bulan yang melibatkan 701 pasien, dimana sitagliptin (100 mg per hari) ditambahkan pada pasien yang telah mendapatkan metformin (>1,5 gram per hari) pada subyek dengan rerata A1C 8,0% berkurang sebesar 0,65% pada kelompok sitagliptin dibandingkan dengan plasebo. Pada penelitian besar lainnya melibatkan 1172 pasien, efek sitagliptin 100 mg per hari yang dikombinasikan dengan
metformin dibandingkan dengan glipizide (sampai 20 mg per hari) sebagai tambahan pada metformin selama periode 52 minggu. Subyek memiliki rerata A1C awal 7,5% dan dilaporkan pada kedua kelompok terjadi penurunan A1C sebesar 0,67%. Penelitian ini melaporkan dua perbedaan penting pada kedua kelompok, yaitu kejadian hipoglikemia lebih tinggi pada kelompok glipizide (32%) dibanding kelompok sitagliptin (4,9%) dan peningkatan berat badan subyek glipizide (1,5 kg) dan penurunan berat bada pada subyek sitagliptin (1,5 kg)(26).
2.1.3.2 Saxagliptin
Saxagliptin disetujui sebagai pengobatan farmakologis awal untuk DM tipe 2 atau sebagai agen lini kedua pada pasien yang tidak berespon pada agen monoterapi, seperti Sulfonilurea, Metformin atau TZD. Dosis Saxagliptin adalah 2,5 atau 5 mg sekali sehari, dengan dosis 2,5 mg untuk pasien dengan gagal ginjal kronis moderat-berat (laju filtrasi glomerulus [GFR] ≤ 50 mL / menit) dan untuk pasien yang menggunakan sitokrom P450 3A4/5 inhibitor kuat (misalnya ketokonazol). Saxagliptin jika digunakan sebagai monoterapi dapat menurunkan A1C. Pada percobaan acak selama 24 minggu, Saxagliptin (2,5, 5, atau 10 mg per hari) dibandingkan plasebo pada 401 pasien dengan DM tipe 2 tanpa terapi dan rata-rata kadar A1C sebesar 7,9%, saxagliptin dapat menurunkan kadar A1C sebesar 0,4%, 0,5%, dan 0,5%, pada setiap dosis dibandingkan dengan peningkatan 0,2%
pada plasebo. Saxagliptin diminum tanpa makanan dan tablet tidak boleh dibelah atau dipotong. Saxagliptin-metformin tersedia dalam tablet kombinasi (5 mg / 500 mg)(24).
2.1.3.3 Vildagliptin
Vildagliptin dosis umumnya 50 mg dua kali sehari jika digunakan bersama dengan metformin atau TZD, dan 50 mg/hari (pagi hari) dengan sulfonilurea. Pada penderita gagal ginjal ringan (Kreatinin ≥ 50 mL / menit) tidak perlu penyesuaian dosis. Sedangkan, pada penderita gagal ginjal sedang atau berat, dosis Vildagliptin 50 mg sekali sehari. Vildagliptin efektif digunakan kombinasi dengan metformin, thiazolidinedione, atau insulin. Pada sebuah studi pasien menggunakan Vildagliptin dapat menurunkan kadar A1C yang mempunyai nilai sama dengan rosiglitazone, namun masih kurang efektif daripada metfomin. Dalam percobaan
non-inferioritas pada 780 pasien selama 52 minggu, Vildagliptin (100 mg/hari) dibandingkan metformin (dititrasi sampai 2000 mg setiap hari), metformin lebih baik (vildagliptin tidak non-inferior) dalam menurunkan nilai A1C (perbedaan antara kelompok adalah 0,4%, CI 95% 0,28-0,65). Sasaran A1C (<7,0%) dicapai oleh 45% dan 35% pasien yang menerima metformin dan vildagliptin. Bila kombinasi dengan metformin,TZD, metformin dan SU, atau insulin (dengan atau tanpa metformin), dosis harian vildagliptin yaitu 100 mg, diberikan dosis 50 mg di pagi hari dan dosis 50 mg dimalam. Bila digunakan kombinasi dengan sulfonilurea, dosis yang vildagliptin yang disarankan adalah 50 mg/hari di pagi hari.
Vildagliptin-metformin tersedia dalam kombinasi tablet (50 mg / 500mg, 50 mg / 850 mg, 50 mg / 1000 mg)(24).
2.1.3.4 Linagliptin
Linagliptin digunakan sebagai terapi tambahan untuk diet dan latihan fisik pada orang dewasa dengan diabetes melitus tipe 2. Dosis linagliptin 5 mg sekali sehari, dengan atau tanpa makanan. Linagliptin dieliminasi melalui sistem enterohepatik. Tidak perlu penyesuaian dosis penderita gagal ginjal atau disfungsi hati. Reagen CYP3A4 atau p-glikoprotein (misalnya rifampisin) dapat menurun efektivitas linagliptin. Oleh karena itu, pasien yang membutuhkan obat ini harus menerima alternatif. Khasiat linagliptin dalam kombinasi dengan metformin, glimepiride, metformin dan kombinasi SU, atau pioglitazone dilakukan dari beberapa percobaan perbandingan kepala ke kepala. Dalam 2 tahun percobaan non-inferioritas pada glimepiride (1-4 mg, dosis rata-rata 3 mg) dibanding linagliptin (5 mg), keduanya diberikan sekali sehari, pada tahun 1551 pasien DM tipe 2 yang tidak cukup terkontrol dengan metformin (A1C 7,7%), perubahan nilai A1C secara signifikan lebih baik yang ditunjukkan dalam glimepiride (0,36% vs -0,16%), meskipun linagliptin secara statistik lebih rendah dari glimepiride. Penurunan nilai A1C untuk kedua obat dalam jangka panjang ini sangat kecil. Hal ini terkait dengan penyesuaian terhadap faktor dasar (nilai A1C, kelompok terapi, dan obat antidiabetes sebelumnya) atau tingkat penurunan yang tinggi (~40%), dan data yang hilang dengan metode terakhir
observasi-carry-forward. Peningkatan dosis dalam glimepiride dikaitkan dengan risiko hipoglikemia yang lebih tinggi (36% vs 7% pasien) dan peningkatan berat badan (+1,3 vs -1,4 kg dengan linagliptin). Tablet Linagliptin bisa dikonsumsi bersama atau tanpa makanan. Linagliptin-metformin ini tersedia dalam kombinasi tablet (2,5 mg / 500mg, 2,5mg/850mg, 2,5 mg/1000 mg) diminum dua kali sehari dengan makanan(24).
Profil farmakokinetik Sitagliptin, Saxagliptin, Vidagliptin, dan Linagliptin dapat dilihat pada tabel 2.5.
Tabel 2.5. Profil Farmakokinetik Sitagliptin, Saxagliptin, Vildagliptin, dan Linagliptin(27,28)
Sitagliptin Saxagliptin Vildagliptin Linagliptin
Nama Dagang Januvia Onglyza Galvus Trajenta
Half-life(jam) 10-12 2,5 1,5-4,5 12
Efek samping Nyeri perut, mual, diare, Interaksi obat Tidak ada Rendah. Pada
pasien dengan dosis 2,5mg yang
menggunakan
25 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Rancangan Penelitian
Penelitian yang dilakukan bersifat non-eksperimental, cross sectional yang dianalisis secara deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medis seluruh pasien DM tipe 2 rawat jalan yang menggunakan obat golongan DPP-4 inhibitor di Rumah Sakit Panti Rapih pada periode Januari 2010-Agustus 2017.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Rekam Medis Rumah Sakit Panti Rapih. Waktu pelaksanaan penelitian adalah September 2017. Data rekam medis yang diambil adalah rekam medis pasien DM tipe 2 yang menggunakan obat golongan DPP-4 inhibitor periode Januari 2010-Agustus 2017.
3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien rawat jalan penderita DM tipe 2 yang menggunakan obat golongan DPP-4 inhibitor di rumah sakit Panti Rapih selama periode Januari 2010-Agustus 2017.
3.3.2. Sampel
Sampel merupakan pasien rawat jalan yang menderita DM tipe 2 yang menggunakan obat golongan DPP-4 inhibitor di rumah sakit Panti Rapih yang memenuhi kriterian inklusi.
3.3.2.1 Kriteria Inklusi
a. Pasien dengan diagnosis utama DM tipe 2 dengan atau tanpa penyakit penyerta.
b. Pasien yang mendapatkan terapi obat golongan DPP-4 inhibitor sebagai monoterapi atau kombinasi.
c. Tersedia data hasil laboratorium rekam medis pasien, meliputi kadar gula darah puasa, kadar gula darah sewaktu, kadar glukosa darah 2 jam post prandial, dan HbA1C.
3.3.2.2 Kriteria Ekslusi
Kriteria eksklusi penelitian ini adalah pasien yang mendapatkan terapi kortikosteroid oral jangka panjang.
3.4 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian agar diperoleh keseragaman persepsi adalah sebagai berikut:
1. Karakteristik pasien adalah gambaran pasien DM tipe 2 yang mendapatkan obat golongan DPP-4 inhibitor meliputi jenis kelamin, usia, jenis DM tipe 2, durasi penyakit, komorbid, dan jenis pengobatan antidiabetik.
2. Jenis kelamin dalam penelitian ini adalah jenis kelamin pasien DM tipe 2 yang mendapatkan terapi obat golongan DPP-4 inhibitor yang dibedakan menjadi laki-laki dan perempuan.
3. Usia dalam penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 yang diukur saat pertama kali didiagnosis menderita DM tipe 2
4. Jenis Diabetes dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu Diabetes Melitus Tipe 2 non Obesity (DM2NO) dan Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Obesity (DM2O).
5. Durasi penyakit adalah lama pasien terdiagnosa DM dari awal menderita DM hingga menggunakan obat golongan DPP-4 inhibitor.
6. Komorbid adalah penyakit yang muncul sebelum atau setelah DM dan berpengaruh pada terapi yang diberikan. Penyakit tersebut dapat berupa penyakit yang menyebabkan munculnya DM dan/atau muncul akibat DM itu sendiri.
7. Jenis pengobatan antidiabetik adalah pengobatan yang terbagi atas monoterapi atau kombinasi antidiabetik sebelum menggunakan obat golongan DPP-4 inhibitor.
8. Dipeptidyl Peptidase-4 (DPP-4) inhibitor adalah obat hipoglikemik oral yang diresepkan kepada pasien diabetes melitus yaitu sitagliptin, saxagliptin, linagliptin, dan vildagliptin.
9. Pola penggunaan obat adalah gambaran penggunaan obat golongan DPP-4 inhibitor yang diresepkan pada pasien DM tipe 2 (tunggal atau kombinasi) serta
durasi pemakaian obat golongan DPP-4 inhibitor adalah lama pasien menggunakan obat golongan DPP-4 inhibitor hingga penggantian terapi atau tidak.
10. Profil ketercapaian adalah gambaran ketercapaian target kadar glukosa darah dihubungkan dengan waktu yang dibutuhkan obat golongan DPP-4 inhibitor untuk mencapai target tersebut.
11. Kadar glukosa darah pasien dinyatakan tercapai jika kadar glukosa darah saat kunjungan terakhir sesuai dengan anjuran PERKENI 2015, dan dinyatakan tidak tercapai jika salah satu atau seluruh kadar glukosa darah pasien tidak sesuai anjuran PERKENI 2015.
12. Kadar glukosa darah adalah kadar glukosa darah pasien DM yang ditentukan dengan pemeriksaan salah satu indikator pada saat pasien kontrol tiap bulannya. Target kadar glukosa darah menurut PERKENI (2015), yaitu : a. Kadar gula darah puasa <126 mg/dL
b. Kadar gula darah sewaktu <200 mg/dL
c. Kadar glukosa darah 2 jam post prandial <200 mg/dL d. HbA1C <6,5%
3.5 Proses Pengumpulan Data
Pengumpulan sumber data untuk melihat gambaran penggunaan obat golongan DPP-4 inhibitor dilakukan secara retrospektif melalui rekam medis pasien dan database penggunaan obat DPP 4 inhibitor di Rumah Sakit Panti Rapih. Data yang dikumpulkan meliputi 3 hal, yaitu data tentang karakteristik subjek penelitian, penyakit, dan terapi.
Data tentang karakteristik subjek penelitian diperoleh dari rekam medik berupa nomor rekam medis, jenis kelamin, tanggal lahir, usia, dan alergi. Data penyakit diperoleh dari rekam medik berupa diagnosa utama, komorbid dan berapa lama menderita penyakit DM dari awal terdiagnosa hingga memakai obat golongan DPP-4 inhibitor . Data tentang terapi diperoleh dari rekam medik berupa terapi (antidiabetik monoterapi atau kombinasi yang digunakan sebelum DPP-4 inhibitor, obat golongan DPP-4 inhibitor, dosis obat, cara pemberian, aturan pakai, durasi
terapi obat golongan DPP-4 inhibitor), pantauan perkembangan kadar glukosa darah (hasil pemeriksaan laboratorium).
3.6 Pengolahan dan Analisis Data 3.6.1 Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis untuk melihat gambaran penggunaan obat golongan DPP-4 inhibitor. Data berupa berupa persentase dikelompokkan dan disajikan dalam bentuk tabel.
3.6.2 Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif untuk mengetahui gambaran penggunaan obat golongan DPP-4 inhibitor pada pasien rawat jalan penderita DM tipe 2 di Rumah Sakit Panti Rapih periode periode Januari 2010-Agustus 2017. Data yang diperoleh diolah untuk mendapatkan gambaran mengenai:
1. Karakteristik Subyek penelitian
Data yang diperoleh diolah untuk mendapatkan gambaran tentang:
persentase jenis kelamin, persentase usia, persentase jenis DM tipe 2, persentase durasi terapi, persentase komorbid, dan persentase jenis antidiabetik yang digunakan sebelum DPP-4 inhibitor. Gambaran karakteristik subyek penelitian disajikan dalam bentuk persentase antara jumlah subyek penelitian pada suatu kelompok terhadap seluruh subyek penelitian. Gambaran pola penggunaan obat antidiabetik sebelum memakai obat golongan DPP-4 inhibitor disajikan dalam bentuk persentase pada tiap golongan obat terhadap pasien yang tercapai atau tidak tercapai kadar glukosa darahnya.
2. Pola penggunaan obat antidiabetik dan DPP 4 inhibitor
Analisis penggunaan obat DPP 4 inhibitor dilakukan dengan melihat obat yang diterima oleh tiap pasien dan dikelompokkan dalam 2 kategori yaitu monoterapi dan terapi kombinasi, serta durasi penggunaan obat golongan DPP 4 inhibitor. Masing-masing dihitung jumlahnya kemudian dihitung persentasenya terhadap jumlah pasien.
3. Profil ketercapaian kadar glukosa darah pasien DM yang menggunakan obat golongan DPP-4 inhibitor
Analisis dilihat dari hasil pemeriksaan salah satu kadar glukosa darah pasien. Hasil pemeriksaan berupa Glukosa Darah Puasa atau Glukosa Darah 2 jam Post Prandial atau HbA1C pada pasien dicocokan dengan target kendali glukosa darah berdasarkan PERKENI 2015 dan dikelompokkan mejadi
“Tercapai” dan “Tidak Tercapai”. Pengukuran indikator glukosa darah dalam waktu kurang dari 3 bulan, antara 3 sampai kurang dari 6 dan 6 bulan pemeriksaan. Pasien dikatakan tercapai jika pada pemeriksaan terakhir indikator glukosa darah sesuai dengan target penurunan glukosa darah menurut PERKENI 2015. Masing-masing kategori tersebut dihitung jumlah dan persentasinya kemudian disajikan dalam bentuk tabel.
3.7 Alur Penelitian
Gambar 3.1. Alur Penelitian Pembuatan Proposal
Pengajuan Ethical Clearance ke FK
Permohonan ijin penelitian ke Rumah Sakit Panti Rapih, serta pihak-pihak terkait lainnya.
Pencatatan nomor rekam medis pasien yang menggunakan obat DPP-4 Inhibitor di Instalasi Farmasi
Pencatatan nomor rekam medis pasien yang menggunakan obat DPP-4 Inhibitor di Instalasi Farmasi