REVOLUSI BESAR DUNIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP UMAT MANUSIA
II. REVOLUSI BESAR DUNIA 2.1 Revolusi Amerika (1775-1789)
2.2. Revolusi Prancis (1789-1791)
2.2.3. Terbentuknya Republik Perancis dan Dampak Revolusi.
Perancis menjadi republik setelah diadakan pemilu. Konvensi Konstitusi Nasional sebagai pengganti pemerintahan sementara, mengubah Perancis menjadi republik. Pemerintahan baru ini berhasil mengadili dan mengeksekusi Louis XVI dengan cara diguilotin (guillotine). Dibawah pemerintahan republik, Perancis mengirimkan pasukannya ke perbatasan Prusia (Jerman) dan Austria dengan tujuan memperthankan revolusi, membebaskan semua penduduk Eropa dari tirani serta menumbangkan seluruh tahta raja- raja Eropa yang absolut. Dalam perang pada 1793, tentara Prancis, dibawah pimpinan Napoleon Bonaparte, berhasil mengusir Inggeris dari Spanyol. Sementara dalam perang pada 1796, Perancis berhasil mengalahkan Austria, di perbatasan Italia Utara.
Peperangan dan pengiriman pasukan ke luar negeri (1793) menimbulkan kesulitan di dalam negeri. Barang kebutuhan sehari-hari semakin langka dan harga semakin meningkat. Hal ini sangat memberatkan kehidupan buruh di kota dan petani di pedesaan. Rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan revolusi (Konvensi) mengadakan pemberontakan. Di tengah krisis politik itu tampil seorang radikal bernama Maximilien de’ Robespierre yang memimpin revolusi dengan menjalankan pemerintahan terror. Robespierre memimpin komite pemerintahan yang beranggotakan 12 orang. Ia berpendapat bahwa pemerintahan yang keras (dengan teror) diperlukan untuk menyelamatkan Revolusi Prancis. Di bawah pemerintahan terror, setiap orang yang kontra revolusi akan dianggap musuh negara. Akibatnya, dalam waktu satu tahun (Agustus 1793- July 1794) terdapat 2500 orang dieksekusi.
Pemerintahan teror yang banyak memakan korban menimbulkan perlawanan di dalam negeri. Anggota konvensi dari pemerintahan Republik berhasil merebut kekuasaan. Robespierre berhasil ditangkap dan dieksekusi dengan cara diguilotin bersama 20 orang pengikutnya. Pada Oktober 1795, terbentuk pemerintahan baru yang berasal dari golongan borjuis. Pemerintahan baru itu disebut Pemerintahan Direktory.
Pemerintahan Directory dipimpin oleh “warga negara terbaik” berjumlah lima orang yang direkrut. Mereka dipilih oleh parlemen. Pemerintahan baru tidak bersifat demokratis sebab hak pilih suara bagi semua pria dewasa yang ditetapkan tahun 1793 dihapuskan. Hak pilih hanya diberikan kepada pria dewasa yang membayar pajak. Dengan demikian, wanita dan penduduk miskin tidak memiliki hak suara dan tersisih dari pemerintahan baru. Pemerintahan baru banyak melakukan pelanggaran konstitusional. Anggota parlemen terpilih dari golongan royalis dan golongan radikal disingkirkan untuk mempertahankan kekuasaan. Pemerintahan yang tidak efektif ini menyebabkan terancamnya kesatuan nasional yang tengah dilanda revolusi. Akhirnya, rakyat Prancis mempercayakan kepemimpinannya pada seorang tokoh patriotik penyelamat Perancis bernama Napoleon Bonaparte pada 1799, sekaligus mengakhiri Pemerintahan Direktory.
Dalam menjalankan pemerintahannya, Napoleon bersifat diktator. Semua kelompok oposisi disingkirkannya. Kebebasan politik dan kebebasan pers dikekangnya. Sebagai Konsul Pertama (First Consul), dia memperoleh semua kekuasaan politik. Sementara itu, rakyat Perancis yang masih kecewa dengan kekacauan ekonomi dan politik di dalam negeri dibawah pemerintahan Direktory, tetap mencintainya karena pemimpin baru tersebut menawarkan kestabilan politik, efisiensi pemerintahan, serta kemenangan militer atas musuh-musuh Prancis. Malah pada 1804, popularitas Napoleon memuncak. Mayoritas rakyat Perancis melalui referendum menyetujui pengangkatannya sebagai
71 Kaisar Perancis untuk memimpin Imperium Perancis. Dengan demikian, Republic Perancis, yang telah berdiri selama 12 tahun, berubah menjadi sebuah Imperium. Napoleon Bonaparte naik tahta sebagai Kaisar Napoleon 1.
Selama lima belas tahun menjalankan pemerintahan (lima tahun sebagai konsul dan 10 tahun sebagai kaisar), Napoleon mengadakan reformasi sehingga pemerintahan menjadi lebih efisien. Semua hak-hak istimewa yang dulu dimiliki golongan tertentu dihapuskannya. Sistem perpajakan diperbarui sehingga memberikan keadilan kepada semua golongan. Pengangkatan jabatan militer didasarkan atas prestasi di lapangan, bukan didasarkan atas pilihan atasan. Hubungan dengan Paus diperbarui, gereja mendapat perlindungan hukum, serta kebebasan beragama dijamin. Dibidang hukum, Napoleon mengeluarkan Code Napoleon yang didasarkan atas prinsip bahwa semua warga Negara memiliki kedudukan yang sama di muka hukum. Code Napoleon menjadi dasar hukum Perancis sekarang serta digunakan di beberapa Negara di dunia dewasa ini.
Dalam usahanya untuk menyatukan Eropa dibawah pimpinan Perancis, Napoleon mengadakan peperangan dengan Negara-negara lain. Peperangan tersebut dilihat dari sisi Negara-negara Eropa disebut sebagai Perang Koalisi (Coalition Wars) atau Perang gabungan. Adapun dilihat dari sisi Prancis disebut sebagai Perang Napoleon (Napoleonic Wars). Perang ini berlangsung dari 1792 hingga 1815.
Imperium Perancis berakhir pada 1813 setelah pasukan Napoleon mengalami kekalahan dikota Leipzig dari pasukan koalisi Negara Swedia, Inggris, Spanyol, Prusia, dan Austria. Napoleon menyerah, ditangkap dan segera dibuang ke pulau Elba, di pantai Italia pada 1814. Napoleon sempat melarikan diri dan segera memimpin kembali pasukan Perancis melawan tentara koalisi. Setelah berhasil memimpin pasukan Perancis selama 100 hari, akhirnya Napoleon mengalami kekalahan dalam pertempuran di Waterloo pada 1815. Dia dibuang ke pulau terpencil St Helena di Pasifik Selatan sampai meninggalnya pada 1821. Kondisi Eropa setelah perang koalisi ditentukan kembali berdasarkan peta politiknya melalui Kongres Wina di Austria pada 1815. Berdasarkan konferensi tersebut, wilayah Perancis kembali pada kondisi pada 1792 sebelum berkuasanya kaisar Napoleon Bonaparte.
Revolusi Perancis pada 14 Juli 1789 membawa pengaruh yang tidak kecil bagi Perancis sendiri maupun Negara-negara lain, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial. Bagi Perancis, pengaruh revolusi di bidang politik nampak pada aspek berkembangnya paham liberalisme di kalangan rakyat, terbentuknya pemerintahan yang didasarkan oleh nilai-nilai demokratis - walaupun tidak segera setelah Perancis melakukan Revolusi Perancis. Setelah revolusi, negara ini menerapkan monarki konstitusional sebagai pengganti dari monarki absolut. Dalam bidang ekonomi, terjadi penghapusan pajak feudal, pemberian hak milik tanah kepada petani, penghapusan sistem gilda diganti dengan sistem ekonomi bebas, dan hal itu menumbuhkan industrialisasi di Perancis. Sedangkan dalam bidang sosial terjadi penghapusan sistem kelas dalam masyarakat, penghapusan sistem feudal, dan pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia dalam berbagai bidang. Dalam bidang pendidikan, terjadi gerakan pemenuhan hak pendidikan bagi semua golongan.
Bagi negara-negara lain di luar Perancis, terutama negara-negara Eropa pada awal abad ke-19, Revolusi Perancis telah menyadarkan Raja-raja Eropa bahwa kekuasaan absolut tidak disukai oleh rakyat karena bertentangan dengan pemikiran-pemikiran baru tentang pentingnya membangun kesetaraan dalam bidang pemerintahan. Secara pelan- pelan, negara-negara Eropa mulai mengubah monarki absolut menjadi monarki konstiutusional atau sistem kerajaan yang berdasarkan undang-undang yang membatasi kekuasaan rakyat dan memberikan hak bagi rakyat untuk ikut serta mengawasai pemerintahan melalui lembaga legislatif. Bagi masyarakat Eropa, Revolusi Perancis telah menginspirasi untuk melakukan gerakan liberal, sosial, demokrasi dan nasional untuk
72 membentuk pemerintahan yang memperhatikan hak-hak rakyat. Pada awal abad ke-19 hingga akhir abad ke-19 di Eropa terjadi gelombang revolusi untuk membentuk pemerintahan yang didasarkan oleh nilai-nilai yang degagas dalam Revolusi Perancis.
Konsep persamaan hak bagi warga negara yang dicetuskan dalam Revolusi Perancis juga diadopsi oleh tokoh-tokoh Pergerakan nasional di Asia pada awal abad ke-20 yang masih berada di bawah kekuasaan imperialisme Barat. Code Napoleon tidak hanya dipakai di negra-negara Eropa melainkan di berbagai negara yang demokratis hingga sekarang. Di Indonesia, Pergerakan Nasional yang lahir sejak didirikannya Organisasi Boedi Oetomo tanggal 20 Mei 1908 juga menyerukan tentang pentingnya persamaan hak- hak warga pribumi dengan warga dan penguasa Hindia Belanda. Gerakan menuntut persamaan hak dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi, sosial dan lain-lain yang dilakukan oleh golongan terpelajar pada masa Pergerakan Nasional tidak bisa dipepaskan dari pemikiran-pemikiran liberal dan demokratis dari Revolusi Perancis.