• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

P- Tersedia Tanah

Hasil sidik ragam memperlihatkan bahwa pemberian bahan humat dan pemberian pupuk SP-36 berpengaruh nyata meningkatkan fosfor didalam tanah, dan interaksi bahan humat dan SP-36 berpengaruh tidak nyata dalam meningkatkan P-tersedia ditanah ultisol.

Nilai rataan P-tersedia pada berbagai taraf perlakuan bahan humat dan pupuk SP-36 disajikan pada tabel 5.

Tabel 5. Rataan nilai P-tersedia tanah akibat pemberian bahan humat dan pupuk SP-36 pada akhir masa inkubasi tanah

Pupuk SP-36

Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama pada setiap efek perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata menurutuji DMRT pada taraf 5%.

Pada Tabel 5 pemberian bahan humat dan Pupuk SP-36 dapat meningkatkan P-tersedia tanah ultisol. Pemberian bahan humat yang menunjukan P-tersedia tanah terendah terdapat pada perlakuan 0 ppm bahan humat (H0) dengan nilai P-tersedia sebesar 6,61 ppm dan tertinggi pada perlakuan 800 ppm bahan humat (H2) sebesar 10,07 ppm. Sedangkan untuk pemberian pupuk SP-36, P-tersedia tanah yang terendah pada perlakuan 0 kg P2O5/ha (P0) yaitu sebesar 3.32 ppm dan P-tersedia tanah tertinggi terdapat pada perlakuan 100 kg P2O5/ha (P2) yaitu 11.38 ppm.

Dari uji beda rataan Duncan dapat dilihat bahwa nilai P-tersedia tanah dengan perlakuan bahan humat dengan taraf dosis 400 ppm (H1), 800 (ppm), dan 1200 ppm (H3) berbeda nyata dengan perlakuan 0 ppm (H0) dalam meningkatkan P-tersedia tanah sedangkan untuk nilai P-tersedia tanah antara perlakuan bahan humat pada taraf dosis 400 ppm (H1), 800 ppm (H2), dan 1200 ppm (H3) berbeda tidak nyata dalam meningktkan P-tersedia tanah. Dan nilai P-tersedia tanah dengan perlakuan pupuk SP-36 dengan taraf dosis 50 kg P2O5/ha (P1), 100 kg P2O5/ha (P2) dan 150 kg P2O5/ha (P3) berbeda nyata dengan perlakuan 0 kg P2O5/ha (P0) dalam meningkatkan tersedia tanah sedangkan untuk nilai P-tersedia tanah antara perlakuan pupuk SP-36 pada taraf dosis 50 kg P2O5/ha (P1), 100 kg P2O5/ha (P2) dan 150 kg P2O5

Pupuk SP-36

/ha (P3) berbeda tidak nyata dalam meningktkan P-tersedia tanah.

Berat Kering Akar Tanaman

Hasil sidik ragam memperlihatkan bahwa pemberian pupuk SP-36 berpengaruh nyata terhadap berat kering akar tanaman sedangkan pemberian bahan humat dan interaksi bahan humat dan SP-36 berpengaruh tidak nyata terhadap berat kering akar tanaman.

Hasil rataan pemberian bahan humat dan pupuk SP-36 terhadap berat kering akar tanaman disajikan pada tabel 6.

Tabel 6. Rataan nilai berat kering akar tanaman akibat pemberian bahan humat dan pupuk SP-36 pada akhir masa vegetatif tanaman

Bahan Humat

P3 (150 kg P2O5/ha) 9.05 5.25 9.00 5.40 7.18a

Rataan 5.49 4.93 5.16 5.08

Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama pada setiap efek perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata menurutuji DMRT pada taraf 5%.

Pada Tabel 6 diketahui bahwa pengaruh pemberian pupuk Sp-36 berpengaruh nyata terhadap berat kering akar tanaman. Pemberian pupuk SP-36 menunjukan berat kering akar tanaman terendah pada perlakuan 0 kg P2O5/ha (P0) sebesar 0,98 gram dan tertinggi pada pemberian 150 kg P2O5/ha sebesar 7,18 gram.

Dari hasil uji beda rataan pada tabel 6 diketahui bahwa pemberian pupuk SP-36 dengan taraf dosis 50 kg P2O5/ha (P1), 100 kg P2O5/ha (P2) dan 150 kg P2O5/ha (P3) berbeda nyata dengan perlakuan 0 kg P2O5/ha (P0) terhadap berat kering akar tanaman sedangkan untuk nilai berat kering akar tanaman antara perlakuan pupuk SP-36 pada taraf dosis 50 kg P2O5/ha (P1), 100 kg P2O5/ha (P2) dan 150 kg P2O5

Pupuk SP-36

/ha (P3) berbeda tidak nyata terhadap berat kering akar tanaman.

Berat Kering Tajuk Tanaman

Hasil sidik ragam memperlihatkan bahwa pemberian pupuk SP-36 berpengaruh nyata terhadap berat kering tajuk tanaman sedangkan pemberian bahan humat dan interaksi bahan humat dan SP-36 berpengaruh tidak nyata terhadap berat kering tajuk tanaman.

Hasil rataan pemberian bahan humat dan pupuk SP-36 terhadap berat kering akar tanaman disajikan pada tabel 7.

Tabel 7. Rataan berat kering tajuk tanaman akibat pemberian bahan humat dan pupuk SP-36 pada akhir masa vegetatif tanaman

Bahan Humat

Rataan

H0 H1 H2 H3

P0 (0 kg P2O5/ha) 3.50 4.05 3.10 3.75 3.60b P1 (50 kg P2O5/ha) 33.65 23.55 19.95 26.35 25.88a P2 (100 kg P2O5/ha) 25.40 35.50 26.70 26.15 28.44a P3 (150 kg P2O5/ha) 28.40 27.50 31.55 17.10 26.14a

Rataan 22.74 22.65 20.33 18.34

Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama pada setiap efek perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata menurutuji DMRT pada taraf 5%.

Pada Tabel 7 diketahui bahwa pengaruh pemberian pupuk Sp-36 berpengaruh nyata terhadap berat kering tajuk tanaman. Pemberian pupuk SP-36 menunjukan berat kering tajuk tanaman terendah pada perlakuan 0 kg P2O5/ha (P0) sebesar 3,60 gram dan tertinggi pada pemberian 100 kg P2O5/ha sebesar 28,44 gram.

Dari hasil uji beda rataan pada tabel 6 diketahui bahwa pemberian pupuk SP-36 dengan taraf dosis 50 kg P2O5/ha (P1), 100 kg P2O5/ha (P2) dan 150 kg P2O5/ha (P3) berbeda nyata dengan perlakuan 0 kg P2O5/ha (P0) terhadap berat kering tajuk tanaman sedangkan untuk nilai berat kering tajuk tanaman antara perlakuan pupuk SP-36 pada taraf dosis 50 kg P2O5/ha (P1), 100 kg P2O5/ha (P2) dan 150 kg P2O5/ha (P3) berbeda tidak nyata terhadap berat kering tajuk tanaman.

Serapan P Tanaman

Hasil sidik ragam memperlihatkan bahwa pemberian pupuk SP-36 berpengaruh nyata terhadap seapan P tanaman sedangkan pemberian bahan humat dan interaksi bahan humat dan pupuk SP-36 berpengaruh tidak nyata terhadap serapan P tanaman.

Hasil rataan pemberian bahan humat dan pupuk SP-36 terhadap serapan P berat kering akar tanaman disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan nilai serapan P tanaman akibat pemberian bahan humat dan pupuk

Pupuk SP-36

Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama pada setiap efek perlakuan menunjukkan berbeda tidak nyata menurutuji DMRT pada taraf 5%.

Pada Tabel 8 diketahui bahwa pengaruh pemberian pupuk Sp-36 berpengaruh nyata terhadap serapan P tanaman. Pemberian pupuk SP-36 menunjukan serapan P tanaman terendah pada perlakuan 0 kg P2O5/ha (P0) sebesar 0,15 gram/tanaman dan tertinggi pada pemberian 100 kg P2O5/ha sebesar 2,89 gram/tanaman

Dari hasil uji beda rataan pada Tabel 8 diketahui bahwa pemberian pupuk SP-36 dengan taraf dosis 50 kg P2O5/ha (P1), 100 kg P2O5/ha (P2) dan 150 kg P2O5/ha (P3) berbeda nyata dengan perlakuan 0 kg P2O5/ha (P0) terhadap serapan P tanaman sedangkan untuk nilaiserapan P tanaman antara perlakuan pupuk SP-36 pada taraf dosis 50 kg P2O5/ha (P1), 100 kg P2O5/ha (P2) dan 150 kg P2O5

Pengaruh pemberian bahan humat terhadap pH dan Al-dd tanah ultisol pada akhir masa inkubasi disajikan pada Tabel 1 dan 3. Faktor pemberian bahan humat berbeda nyata terhadap nilai pH dan Al-dd tanah pada taraf perlakuan 800

/ha (P3) berbeda tidak nyata terhadap serapan P tanaman Pembahasan

Dampak pemberian bahan humat dan SP-36 terhadap pH dan Al-dd tanah Ultisol

0,18 me/100g dibandingkan tanpa bahan humat. Pemberian bahan humat mampu meningkatkan pH tanah karena bahan humat yang diberikan ke tanah mempunyai pH yang lebih tinggi yaitu 10 dibandingkan dengan pH tanah awal yaitu 4,96 dan bahan humat merupakan hasil akhir dekomposisi bahan organik, peningkatan pH tanah dan penurun Al-dd tanah akibat pemberian bahan humat disebabkan oleh muatan negatif dan gugus fungsional bahan humat (gugus karboksil (COO) dan fenolat (OH)) membentuk senyawa kompleks atau khelat Al sehingga sebagian Al tidak dapat terhidrolisis. Apabila Al tidak terhidrolisis maka ion hidrogen penyebab kemasaman tanah pun berkurang, akibatnya pH tanah menjadi naik dan Al-dd mengalami penurunan. Tan (2010) menyatakan bahwa Al- yang terjerap oleh kompleks liat dapat terhidrolisis dan mengahasilkan ion hidrogen sehingga konsentrasi ion tersebut meningkat didalam tanah yang menyebabkan pH menjadi masam. Dengan terbentuknya komplek antara Al dan asam-asam organik maka reaksi hidrolisis Al dapat dihalangi. Namun pada pemberian dosis tertinggi 1200 ppm bahan humat (H3) pH mengalami penurunan kembali hal ini disebabkan produksi ion H+ dari bahan humat semakin banyak sehingga menyebabkan pH tanah mengalami penurunan kembali dan membuat semakin tinggi alumunium yang dapat dipertukarkan.

Dari Tabel 2 dapat pula dilihat bahwa pemberian pupuk Sp-36 pada berbagai takaran terlihat adanya pengaruh nyata terhadap pH dan Al-dd tanah ultisol pada akhir masa inkubasi tanah. Pemberian pupuk SP-36 pada taraf perlakuan 100 kg P2O5/ha (P2) meningkatkan pH tanah sebesar 0,70 dan menurunkan Al-dd tanah sebesar 0,99 me/100g dibandingkan tanpa pemberian pupuk SP-36. Hal ini disebabkan kandungan Ca2+pada pupuk SP-36 yang akan

melakukan reaksi pertukaran dengan kation H+dan Al3+

Dari Tabel 5 dapat dilihat, pemberian bahan humat memberikan pengaruh nyata terhadap ketersedian P di tanah Ultisol. Dengan pemberian bahan humat dengan takaran 800 ppm (H2) mampu meningkatkan P-tersedia sebesar 3,46 ppm bila dibandingkan dnegan tanpa pemberian bahan humat (H0). Ketersediaan P tanah meningkat seiring dengan peningkatan pH dan menurunnya Al-dd tanah.

yang teradsorpsi dipermukaan koloid tanah sehingga pH meningkat apabila pH meningkat maka Al didalam tanah juga rendah. Hal ini sesuai dengan Bruckman and Brady (1982) Pengaruh pupuk P terhadap peningkatanpH tanah karena adanya pelepasan sejumlah OHke dalam larutan akibatadsorpsi sebagian anion fosfat (H2PO4) olehoksida-hidrat Al dan Fe sehingga pH tanahmeningkat. Selain itu ion Ca dalam pupuktersebut akan menggantikan ion H+dan Al3+pada kompleks adsorpsi, maka konsentrasiion H+dalam larutan berkurang dankonsentrasi ion OHnaik.

Pada akhir masa vegetatif tanaman pemberian bahan humat dan pupuk SP-36 juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap pH tanah dan menurunkan Al-dd tanah. Dan pH tanah mengalami peningkatan pada semua taraf perlakuan dari pH tanah pada akhir masa inkubasi tanah, begitu pula dengan Al-dd tanah yang mengalami penurunan pada semua taraf perlakuan dari Al-dd tanah pada masa akhir vegetatif tanaman. Hal ini disebabkan pengaruh dekomposisi serasa dari tanaman tersebut yang mengahasilkan asam-asam organik yang mampu mengkhelat Al yang apabila tidak terjadi hidrolisis Al maka ion hidrogen tidak dihasilkan yang mana akan membuat pH tersebut menjadi lebih tinggi dan Al-dd mengalami penurunan

Dampak pemberian bahan humat dan SP-36 terhadap P-tersedia tanah Ultisol

Stevenson (1994) mengemukakan bahwa bahan humat berperan dalam mengatasi pengikatan P yaitu dengan mencegah terjadinya interaksi logam Al dan Fe dengan ion P melalui reaksi kompleks dan khelat. Hervianti et.al (2012) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa bahan humat mempunyai peran dalam pelepasan P yang terjerap dalam tanah serta akan meningkatkan ketersediaan P didalam tanah. Pelepasan P yang terjerap dan berdampak pada meningkatkan ketersediaan P dalam tanah disebabkan oleh adanya peningkatan pH H2O serta terjadi penurunan aktivitas Al dan Fe sebagai unsur logam dalam tanah.

Pengaruh SP-36 dalam ketersediaan P ditanah ultisol menunjukan pengaruh yang nyata. Pada taraf perlakuan 100 kg P2O5

Dari Tabel 6 menunjukan pemberian bahan humat memberikan pengaruh tidak nyata terhadap berat kering akar dan tajuk tanaman. Hal ini disebabkan asam humat menimbulkan reaksi penolakan terhadap tanaman jagung. Tan (2014)

/ha (P2) meningkatkan P-tersedia tanah sebesar 8,06 bila dibandingkan dengan perlakuan kontrol (P0).

Kenaikan P-tersedia tanah disebabkan oleh pengaruh langsung dari pupuk fosfor tersebut dikarenakan pemupukan fosfor meningkatkan kadar P-tersedia dalam tanah atau melalui mekanisme pelepasan fosfor dari kompleks adsorbsi. Hal ini sesuai literatur Ismunadji et.al(1991)peningkatan kandungan P-tersedia tanah jelas disebabkan oleh pengaruh langsung dari pupuk P sebab pemupukan fosfat meningkatkan kadar P-tersedia dalam tanah atau melalui mekanisme pelepasan P dari kompleks adsorpsi. Pemberian pupuk P juga berpengaruh terhadap berkurangnya retensi karena tempat adsorpsi dijenuhi oleh fosfat (Fox dan Searle, 1996), sehingga ketersediaan unsur P meningkat.

Dampak pemberian bahan humat dan SP-36 terhadap Berat Keirng Akar dan Tajuk Tanaman

menyatakan bahwa tanaman sereal seperti jagung bisa memberikan efek yang baik namun juga dapat memberikan efek yang buruk dengan pengaplikasian bahan humat. Dosis yang tidak tepat juga dapat merusak membran sel tanaman tersebut.

Sehingga akar tidak bisa menyerap unsur hara secara maksimal disebabkan pengaruh bahan humat tersebut. Dikarenakan akar tidak berfungsi secara maksimal maka pertumbuhan vegetatif juga terhambat.

Pemberian pupuk SP-36 berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar tanaman. Hal ini disebabkan pupuk SP-36 yang ditambahkan kedalam tanah dapat diambil tanaman karena pengikatan P oleh Al semakin berkurang sejalan dengan berkurangnya kadar Al-dd tanah dan meningkatnya P-tersedia tanah. Disamping itu dengan berkurangnya kadar Al tanah, akan memberikan peluang bagi akar untuk berkembang lebih baik. Hardjowigeno (2003) menyatakan unsur fosfor sangat berguna untuk merangsang pertumbuhan akar, bahan dasar protein, proses fotosintesis, memperkuat batang tanaman serta membantu asimilasi dan respirasi.

Dampak pemberian bahan humat dan SP-36 terhadap Serapan P tanaman Pemberian bahan humat berpengaruh tidak nyata terhadap serapan P dikarenakan pertumbuhan akar dan tajuk yang terganggu sehingga penyerapan P tanaman juga tidak maksimal. Sedangkan pemberian Pupuk SP-36 berpengaruh nyata terhadap serapan P tanaman. Terjadinya peningkatan Serapan-P bila diberi pupuk fosfat disebabkan oleh adanya ketersediaan fosfor tanah yang meningkat akibat pemberian pupuk P. Dengan meningkatnya P-tersedia tanah dan memanjangnya akar maka kontak secara difusi antara pemberian pupuk P. Dengan meningkatnya P-tersedia tanah dan memanjangnya akar maka kontak secara difusi antara akar tanaman dan P yang ada dalam tanah menjadi lebih besar sehingga akar tanaman dan P yang

ada dalam tanah menjadi lebih besar sehingga lebih banyak P yang diambil atau diserap oleh tanaman.

Pengambilan P oleh tanaman jagung dipengaruhi oleh sifat akar dan sifat tanah dalam menyediakan P. Peningkatan bobot, kontak dan sebaran akar tanaman berpengaruh dalam Serapan P pada larutan tanah. Berarti besaran volume akar yang berkontak dengan besaran kepekatan P dalam larutan adalah dua faktor yang sangat menentukan besaran serapan P tanaman. Sebaran akar didalam tanah sangat penting dalam meningkatkan serapan P dan bobot kering tanaman terutama bila kepekatan P rendah dalam media tumbuh(Hakim, dkk, 2008).

KESIMPULAN

1. Pemberian bahan humat nyata meningkatkan pH, P-tersedia, dan menurunkan Al-dd tanah dan tidak nyata meningkatkan berat kering akar, berat kering tajuk dan serapan P.

2. Pemupukan SP-36 berpengaruh nyata meningkatkan ketersediaan pH, P-tersedia, berat kering akar, berat kering tajuk, serapan P dan menurunkan Al-dd tanah

3. Interaksi perlakuan bahan humat dan pupuk SP-36 tidak nyata meningkatkan ketersediaan pH, P-tersedia, berat kering akar, berat kering tajuk, serapan P dan menurunkan Al-dd tanah

Saran

Untuk meningkatkan ketersediaan P tanah dan pertumbuhan tanaman jagung (Zea maysL.) pada tanah Ultisol disarankan untuk menggunakan bahan humat 800 ppm dan pupuk P 75 % rekomendasi.

Dokumen terkait