Perairan karang merupakan suatu ekosistem yang paling subur
dibandingkan dengan perairan lainnya. Peraiaran ini mempunyai produktivitas
sumber hayati sangat beraneka ragam dan hubungan diantaranya sangat erat (LIPI
1998).
Terumbu karang adalah suatu ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun
terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3), khususnya jenis-jenis karang
batu dengan tambahan penting dari alga berkapur dan organisme lain penghasil
kapur (Romimohtarto dan Juwana 2001, diacu dalam Soleh 2004). Terumbu
karang sebagai lingkungan hidup berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat
berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi biota-biota yang hidup di
ekosistem tersebut atau juga dari ekosistem sekitarnya. Terumbu karang juga
mempunyai fungsi alami yaitu sebagai sumberdaya hayati dan keindahan bawah
air (Sukarno et al. 1981, diacu dalam Soleh 2004). Bentuk-bentuk pertumbuhan
karang, menurut Dahl (1981), diacu dalam Soleh (2004) adalah sebagai berikut:
a)
Bentuk bercabang (branching), berbentuk seperti ranting pohon. Karang ini
banyak terdapat di sepanjang tepi terumbu dan bagian atas lereng terutama
yang terlindung atau setengah terbuka.
b)
Bentuk padat (massive), berbentuk seperti bola dengan ukuran bervariasi,
permukaan karang halus dan padat. Karang ini banyak ditemukan di sepanjang
tepi terumbu dan bagian atas lereng terumbu dewasa yang belum terganggu
atau rusak.
c)
Bentuk mengerak (encrusting), karang ini tumbuh menyelimuti dasar terumbu
dengan permukaan kasar, keras, dan berlubang-lubang kecil. Banyak terdapat
pada daerah-daerah yang terbuka atau yang berbatu-batu, terutama sepanjang
lereng terumbu.
d)
Bentuk meja (tabulate), menyerupai meja dengan permukaan yang lebar dan
datar. Karang ini ditopang dengan batang yang terpusat dan bertumpu pada
satu sisi membentuk sudut atau datar.
e)
Bentuk daun (foliose), karang ini tumbuh dalam bentuk lembaran-lembaran
yang menonjol pada dasar terumbu, berukuran kecil, dan membentuk lipatan
atau melingkar. Banyak ditemukan pada daerah lereng terumbu dan daerah-
daerah yang terlindung.
f)
Bentuk jamur (mushroom), berbentuk oval dan nampak seperti jamur,
memiliki banyak tonjolan seperti punggung bukit beralur dari tepi hingga
pusat mulut.
g)
Bentuk submassive, bentuk mengerak atau merayap dengan hampir seluruh
bagian menempel pada substrat.
h)
Bentuk menjari (digitate), karang ini tumbuh dalam bentuk seperti jari yang
menunjuk ke luar.
Suatu jenis karang dari genus yang sama dapat mempunyai bentuk
pertumbuhan (life form) yang berbeda. Adanya perbedaan bentuk pertumbuhan
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kedalaman, arus, dan
topografi dasar perairan.
Ikan karang merupakan organisme yang sering dijumpai di ekosistem
terumbu karang. Keberadaan ikan-ikan tersebut telah menjadikan ekosistem
terumbu karang sebagai ekosistem yang paling banyak dihuni oleh biota air
(Nybakken 1988). Ikan-ikan ini hidup berasosiasi dengan terumbu pada habitat
yang disukainya yaitu daerah yang aman dan banyak tersedia makanan. Ikan-ikan
tersebut menggunakan bentuk-bentuk terumbu karang untuk pertahanan diri dari
predator (Hutomo 1986, diacu dalam Soleh 2004).
Menurut Hutomo (1986) diacu dalam Purwanti (2004), komunitas ikan
karang memiliki interaksi yang luas. Interaksi dapat terbentuk antara ikan karang
dengan spesies yang sama, ikan karang dengan spesies yang berbeda, ikan karang
dengan invertebrata maupun interaksi ikan karang dengan faktor fisik seperti
suhu, cahaya, dan kedalaman. Interaksi fisik yang dilakukan oleh ikan-ikan karang
seperti penyamaran penglihatan, perlindungan dari predator, dan kemampuan
meniru suatu objek tertentu yang melibatkan adaptasi struktur dan tingkah laku.
Menurut Sale (1991) diacu dalam Agdalena (2003), ikan karang memiliki
karakteristik yang dapat dibedakan dengan ikan lain, diantaranya adalah :
1)
Fitur kelompok yang membuat karakteristik ikan karang secara keseluruhan,
yaitu keanekaragaman ikan karang dalam spesies dan morfologinya;
2)
Karakteristik ekologi, yaitu ikan karang biasanya akan menghabiskan seluruh
hidupnya di terumbu karang mulai dari reproduksi, pertumbuhan telur sampai
juvenil, dan terus berkembang hingga dewasa;
3)
Hubungannya dengan habitat;
4)
Pola distribusi;
5)
Karakteristik secara taksonomi; dan
6)
Bentuk struktural.
Ikan karang di ekosistem terumbu karang sebagian besar adalah ikan-ikan
diurnal (aktif pada siang hari). Ikan-ikan tersebut mencari makan dan tinggal di
permukaan karang dan memakan plankton yang lewat di atasnya. Ikan-ikan
diurnal ini meliputi famili Pomacentridae, Chaetodontidae, Achanturidae,
Labridae, Lutjanidae, Balistidae, Serranidae, Cirrhtidae, Tetraodontidae,
Blennidae, dan Gobiidae (Allen dan Steene 1990 diacu dalam Soleh 2004).
Menurut Allen dan Steen (1990) diacu dalam Purwanti (2004), pada
malam hari ikan–ikan diurnal akan masuk dan berlindung di dalam karang.
Keberadaan ikan-ikan diurnal akan digantikan oleh ikan-ikan nokturnal yaitu ikan
yang aktif di malam hari. Pada malam hari ikan-ikan nokturnal akan keluar dan
mencari makan dan pada siang hari masuk kembali ke goa-goa atau celah-celah
karang. Ikan-ikan nokturnal meliputi Holocentridae, Apogonidae, Haemulidae,
Muraenidae, Scorpaenidae, Serranidae, dan Labridae. Selain ikan diurnal dan
nokturnal, ada pula ikan-ikan yang sering melintasi ekosistem terumbu karang
seperti Scombridae, Sphyraenidae (barracuda), Caseonidae (ekor kuning), dan
Allopidae (hiu).
Faktor kedalaman berperan penting dalam penyebaran ikan-ikan karang.
Umumnya ikan-ikan tersebut memiliki kisaran kedalaman yang sempit,
tergantung dari ketersediaan makanan, ombak, dan keberadaan predator. Pada
daerah-daerah yang kaya akan makanan ikan akan cenderung berkelompok. Ikan-
ikan tersebut juga menghindari pecahan ombak dengan menempati daerah yang
lebih dalam. Kebanyakan ikan-ikan yang tergolong herbivora adalah ikan-ikan
diurnal, berwarna cemerlang dengan ukuran bukaan mulut kecil. Beberapa ikan
ini merupakan ikan yang bergerak cepat dan berkelompok (Connaughey dan
Zottoli 1983, diacu dalam Purwanti 2004).
Menurut Lowe dan Connel (1987) diacu dalam Purwanti (2004),
kelompok ikan karang umumnya mempunyai habitat spesifik pada ekosistem
terumbu karang dan kelompok ikan-ikan tersebut jarang keluar dari daerahnya
untuk mencari makanan dan tempat perlindungan. Batas wilayah distribusi ikan
tersebut ditentukan oleh ketersediaan makanan, keberadaan predator, habitat, dan
daerah pemijahan.
Menurut William dan Hatcher (1983) diacu dalam LIPI (1998), ada
sepuluh famili utama ikan karang sebagai penyumbang produksi perikanan, yaitu
Caseodidae, Holocentridae, Serranidae, Lethrinidae, Siganidae, Scaridae,
Priacanthidae, Labridae, Lutjanidae, dan Haemulidae. Dari sepuluh famili
tersebut, Caseodidae (ekor kuning dan pisang-pisang) merupakan kelompok ikan
karang yang dapat dieksploitasi secara besar-besaran karena sebagai pemakan
plankton dan membentuk kelompok yang relatif besar (LIPI 1998).
Menurut LIPI (1998), dalam perkiraan potensi ikan karang di Indonesia
telah disepakati hanya beberapa jenis yang memiliki nilai ekonomis yang cukup
tinggi, diantaranya kerapu (Serranidae), Lencam (Lethrinidae), ekor kuning dan
pisang-pisang (Caseodidae), baronang (Siganidae), kakap merah (Lutjanidae),
kakatua (Scaridae), dan napoleon (Labridae). Sumberdaya ikan karang meliputi
ikan karang dan hias. Hasil tangkapan muroami menurut Subani dan Barus (1989)
adalah ikan-ikan karang seperti ekor kuning (Caesio cunning), penjalu (Caesio
coeralaures), pisang-pisang (Caesio chrysonosus), sunglir (Elagatis
bippinulatus), selar kuning (Caranx leptolepis), dan kuwe macan (Caranx spp).
Dalam dokumen
Efisiensi Teknis Unit Penangkapan Muroami dan Kemungkinan Pengembangannya di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu
(Halaman 33-37)