Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara megadiversity yang memiliki keanekaragaman hayati berupa tumbuhan obat yang sangat tinggi. Salah satu lokasi tempat penyebaran jenis-jenis tumbuhan obat tersebut adalah di Kabupaten Tapin.
Kabupaten Tapin termasuk salah satu kabupaten yang terletak di wilayah Kalimantan Selatan, dengan luas wilayah seluas 217.495 ha. Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapin dan Bappeda Kabupaten Tapin Tahun 2003, di Kabupaten Tapin terdapat kawasan hutan seluas 23.061 ha, dengan rincian : hutan negara seluas 10.406 ha dan hutan rakyat seluas 12.655 ha. Disamping itu di Kabupaten Tapin juga terdapat berbagai etnis yang memiliki kekayaan pengetahuan tradisional dalam penggunaan obat yang cukup tinggi. Suku/etnis yang menghuni di wilayah Kabupaten Tapin, antara lain: Banjar, Jawa, Dayak, Madura dan Sunda. Berdasarkan informasi tersebut menunjukkan bahwa di wilayah Kabupaten Tapin kemungkinan besar dapat ditemukan keanekaragaman jenis tumbuhan obat yang tinggi, namun potensi tumbuhan obat di wilayah tersebut sampai saat ini belum d iketahui.
Di sisi lain, luas wilayah hutan di Kabupaten Tapin semakin lama semakin berkurang sebagai akibat adanya konversi hutan menjadi areal penggunaan lain, sehingga produksi hasil hutan berupa kayu menurun dan keanekaragaman jenis tumbuhan obatpun yang terdapat di areal tersebut juga ikut menurun. Pengetahuan tradisional masyarakat dalam pemanfaatan tumbuhan obat di Kabupaten Tapin semakin lama juga semakin menurun sebagai akib at masuknya budaya modern yang mengakibatkan banyak masyarakat yang beralih ke pengobatan moderen. Apabila hal tersebut terus dibiarkan dikhawatirkan akan meningkatkan jumlah pengangguran terutama yang bekerja di bidang industri perkayuan, kelangkaan dan bahkan kepunahan dari jenis -jenis tumbuhan obat, serta punahnya pengetahuan tradisional masyarakat di Kabupaten Tapin dalam pemanfaatan tumbuhan obat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan cara mengembangkan tumbuhan obat berbasis bioregional di Kabupaten Tapin.
Disamping itu, lapangan pekerjaan bagi masyarakat di Kabupaten Tapin masih terbatas dan pendapatan asli daerahnyapun masih tergolong rendah . Sebagai gambaran, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Kabupaten Tapin tahun 2003 sebesar Rp. 344.569.839, PDRB tahun 2003 sebesar Rp. 834.463.016, dan pendapatan regional perkapita sebesar Rp. 5.714.091. Jika hal tersebut dilakukan terus dibiarkan, maka jumlah pengangguran dan jumlah masyarakat yang tergolong miskin akan meningkat. Pengembangan tumbuhan obat di Kabupaten Tapin merupakan salah satu upaya yang dapat diterapkan guna menciptakan lapangan pekerjaan dan mengatasi adanya kemiskinan.
Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin tahun 2004, sepuluh jenis penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat di Kabupaten Tapin dari tahun 2001-2003 adalah penyakit ISPA (18.361 orang), penyakit pada sistem jaringan otot dan lainnya (5.954 orang), darah tinggi (3.943 orang), kulit alergi (3.281 orang), diare (2.497 orang), kulit infeksi (2.223 orang), penyakit lain pada saluran pernafasan bagian bawah (2.094 orang), gangguan gigi (2.094 orang), asma (2.011 orang) dan penyakit lainnya (13.346 orang); dengan jumlah total penderita selama tiga tahun rata-rata sebanyak 55.805 orang. Informasi ini menunjukkan bahwa permintaan tumbuhan obat di Kabupaten Tapin di masa mendatang akan meningkat, sehingga pengembangan tumbuhan obat di lokasi tersebut sangat diperlukan. Hal ini juga didukung oleh adanya jumlah penduduk yang terus meningkat, makin mahalnya harga obat moderen, tersedianya sarana-prasarana kesehatan dan tenaga medis, serta adanya berbagai etnis yang sudah terbiasa memanfaatkan tumbuhan sebagai obat. Selain itu, di Kabupaten Tapin,
Dengan adanya masyarakat di Kabupaten Tapin yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani (60,85%); lahan hutan, perkebunan, dan pertanian yang sangat luas; dan masih luasnya tanah sawah dan tanah kering yang belum diusahakan di wilayah tersebut diharapkan akan lebih mampu mendukung keberhas ilan pengembangan tumbuhan obat berbasis bioregional di Kabupaten Tapin.
Perumusan Masalah
Terancamnya kelestarian tumbuhan obat di Kabupaten Tapin disebabkan karena adanya konversi hutan menjadi areal penggunaan lain, masih sedikitnya
jenis-jenis tumbuhan obat yang dibudidayakan, dan masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya kelestarian tumbuhan obat. Adanya konversi hutan menjadi areal penggunaan lain akan mengakibatkan produksi kayu hutan menurun dan banyak industri perkayuan yang tidak dapat beroperasi. Sebagai akibatnya jumlah pengangguran dan penduduk miskin meningkat.
Disamping itu, terkikisnya pengetahuan tradisional masyarakat di Kabupaten Tapin dalam memanfaatkan tumbuhan sebagai obat disebabkan oleh masuknya budaya modern yang mengakibatkan banyak masyarakat yang beralih ke pengobatan moderen dan masih kurangnya pewarisan pengetahuan tersebut ke generasi selanjutnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara mengembangkan tumbuhan obat berbasis bioregional di Kabupaten Tapin, namun informasi tentang potensi tumbuhan obat di Kabupaten Tapin sampai saat ini belum tersedia.
Di sisi lain, kecenderungan permintaan tumbuhan obat di Kabupaten Tapin akan meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, makin mahalnya harga obat moderen, banyaknya masyarakat yang menderita penyakit, dan adanya kebiasaan berbagai etnis dalam memanfaatkan tumbuhan sebagai obat.
Selain itu, kondisi Kabupaten Tapin di masa yang akan datang luas tanah sawah dan tanah kering yang belum diusahakan harus dimanfaatkan secara optimal; sumberdaya manusia (masyarakat yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani, tenaga medis dan lainnya) harus dilibatkan secara aktif; nilai produktivitas lahan hutan, perkeb unan, dan pertanian yang sangat luas dapat ditingkatkan; serta pemanfaatan sarana-prasarana kesehatan, apotik dan toko obat/jamu harus lebih optimal.
Keberhasilan dalam pengembangan tumbuhan obat berbasis bioregional di setiap kecamatan secara garis besar d ipengaruhi oleh 4 (empat) faktor, yaitu (1) ketersediaan jenis -jenis tumbuhan obat potensial/unggulan yang dapat dikembangkan di setiap kecamatan, (2) kesesuaian kondisi ekologis setiap kecamatan dengan jenis-jenis tumbuhan obat unggulan, (3) dukungan kebijakan dan peraturan perundangan, serta (4) dukungan kelembagaan dan kemitraan .
Ketersediaan informasi tentang jenis -jenis tumbuhan obat yang dapat dikembangkan di setiap kecamatan dapat dilakukan dengan cara mengkaji
keanekaragaman jenis tumbuhan obat, ketersediaan informasi tentang teknik pengembangan tumbuhan obat (budidaya, pasca panen, dan pengolahan), aspek ekonomis (pemasaran simplisia), pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat (etnobotani), dan jenis -jenis penyakit yang banyak diderita oleh mas yarakat. Kesesuaian kondisi ekologis setiap kecamatan dengan jenis -jenis tumbuhan obat yang akan dikembangkan dapat dilakukan dengan cara mengkaji kesesuaian ketinggian tempat setiap kecamatan dengan jenis -jenis tumbuhan obat yang akan dikembangkan. Dukungan kebijakan dan peraturan perundang-undangan dapat dilakukan dengan cara mengkaji terhadap kebijakan dan peraturan perundang- undangan yang sudah ada dan persepsi seluruh instansi-instansi terkait. Dukungan kelembagaan dan kemitraan dapat dilakukan dengan cara mengkaji tugas dan peran masing-masing instansi terkait, serta adanya kemungkinan terbentuknya kemitraan antara petani dengan industri obat tradisional.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan : 1. Potensi tumbuhan obat di Kabupaten Tapin,
2. Kelayakan pengembangan tumbuhan obat berbasis bioregional setiap kecamatan di Kabupaten Tapin.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam pengembangan tumbuhan obat di Kabupaten Tapin, baik pemerintah maupun pihak-pihak terkait lainnya.
Kerangka Pemikiran
Keberhasilan dalam pengembangan tumbuhan obat berbasis bioregional pada setiap kecamatan di Kabupaten Tapin dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu (1) memilih jenis -jenis tumbuhan obat yang potensial, baik secara ekologis, teknis, ekonomis, relevan dengan jenis -jenis penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat, dan sudah biasa digunakan oleh masyarakat setempat; (2) memilih jenis-jenis tumbuhan obat potensial yang sesuai dengan kondisi ekologis masing-
masing kecamatan, (4) adanya dukungan kebijakan dan peraturan perundang- undangan, dan (6) adanya dukungan kelembagaan dan kemitraan.
Untuk melihat sejauh mana cara-cara tersebut di atas dapat mempengaruhi keberhasilan dalam pengembangan tumbuhan obat berbasis bioregional pada setiap kecamatan d i Kabupaten Tapin , maka perlu dilakukan kajian dan analisis terhadap : (1) ketersediaan jenis -jenis tumbuhan obat potensial/unggulan yang dapat dikembangkan di setiap kecamatan, (2) kesesuaian kondisi ekolo gis setiap kecamatan dengan jenis -jenis tumbuhan obat potensial/unggulan , (3) adanya dukungan kebijakan dan peraturan perundangan, serta (4) adanya kelembagaan dan kemitraan .
Secara skematis kerangka pemikiran kajian potensi dan perumusan strategi pengembangan tumbuhan obat berbasis bioregional di Kabupaten Tapin disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian kajian potensi dan perumusan strategi pengembangan tumbuhan obat berbasis bioregional di Kabupaten Tapin
Kajian potensi tumbuhan obat Kajian kondisi wilayah setiap kecamatan
Kajian kelembagaan dan kemitraan PENGEMBANGAN TUMBUHAN OBAT
BERBASIS BIOREGIONAL DI KABUPATEN TAPIN
KONDISI PENGEMBANGAN TUMBUHAN OBAT DI
KABUPATEN T APIN DI MASA DATANG
• Potensi tumbuhan obat di Kabupaten T apin diketahui
• Tumbuhan obat potensial di setiap kecamatan dibudidayakan oleh masyarakat
• Potensi tumbuhan obat digunakan sebagai media pem belajaran di sekolah
• Terjaminnya kelestarian tumbuhan obat
• Terciptanya lapangan kerja baru
• PDRB dan PAD meningkat KONDISI PENGEMBANGAN TUMBUHAN OBAT DI
KABUPATEN TTAPIN SAAT INI
Potensi :
• Luas lahan hutan, perkebunan dan pertanian sangat luas (223.066 ha atau 82,60%)
• Terdapat minimal 5 etnis/suku (Banjar, Jawa, Dayak, Madura dan Sunda)
• Lahan sawah dan lahan kering yang belum diusahakan cukup luas (28,20% dari total wilayah)
• Sebagian besar penduduk bermatapencaharian sebagai petani (60,85%).
• Masyarakat yang menderita penyakit cukup banyak
• Sarana-prasarana kesehatan dan tenaga medis tersedia
Permasalahan :
• Konversi lahan hutan menjadi areal penggunaan lainnya meningkat .
• Produksi kayu hutan menurun
• Pengetahuan tradisional pemanfaatan tumbuhan obat masyarakat terkikis
• Potensi jenis tumbuhan obat belum diketahui
• Pengembangan tumbuhan obat belum dilakukan
•
ANCAMAN
• Kelestarian tumbuhan obat terancam • Pengangguran meningkat • Kemiskinan meningkat Kajian kebijakan dan peraturan perundangan
KELAYAKAN PENGEMBANGAN TUMBUHAN BERBASIS BOREGIONAL DI KABUPATEN TAPIN
• Ketersediaan jenis-jenis tumbuhan obat potensial/unggulan di setiap kecamatan
• Kesesuaian kondisi ekologis setiap kecamatan dengan jenis-jenis tumbuhan obat potensial/unggulan
• Adanya dukungan kebijakan dan peraturan perundangan
• Adanya k elembagaan dan kemitraan
Keanekaragaman Jenis tumbuhan obat Peraturan perundangan Ketinggian tempat Kemitraan Kelembagaan Pemasaran Teknik pengembangan Kebijakan
Jenis-jenis penyakit yang diderita masyarakat Tanah Etnobotani Sosial, ekonomi danbudaya masyarakat
Potensi Tumbuhan Obat
Organisasi kesehatan Persatuan Bangsa-Bangsa telah mengumpulkan daftar kurang lebih 21.000 spesies tumbuhan yang digunakan di seluruh dunia dalam pengobatan. Diperkirakan 2.000-3.000 spesies digunakan untuk pengobatan di Asia Tenggara. Jumlah tumbuhan obat di Indonesia diperkirakan 1.000 spesies (Soepadmo, 1991).
Tumbuhan obat telah digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Pengalaman nenek moyang kita dalam meramu tumbuhan untuk pengobatan tradisional telah diwariskan dari generasi ke generasi. Penggunaan tumbuhan secara tradisional untuk pengobatan di Indonesia kembali ke zaman prasejarah. Seni dan pengetahuan penggunaaan tumbuhan sebagai obat diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Beberapa tumbuhan yang masih digunakan dalam pengobatan tradisional dapat ditemukan pada dinding- dinding candi di Jawa seperti : Borobudur, Prambanan, Penataran, dan Sukuh. Tumbuhan tersebut antara lain: Aegle marmelos (L.) Correa., Antidesma bunius
(L.) Sprengel, Borassus flabellifer L., Calophyllum inophyllum L., Datura metel
L., dan Syzygium cumini (L.) Skeels. (De Padua, Bunyapraphatsara dan Lemmens, 1999).
Indonesia memiliki pula keanekaragaman budaya yang ditunjukkan oleh keanekaragaman suku bangsa yang mendiaminya. Diperkirakan kawasan Indonesia dihuni oleh sekitar 350 suku bangsa asli yang hidup di dalam dan sekitar hutan. Setiap suku bangsa tersebut memiliki sistem pengetahuan yang khas dalam mengelola keanekaragaman hayati dan dan lin gkungan di sekitarnya (Tim Ekspedisi Biota Medika, 1998).
Potensi Pasar Tumbuhan Obat
Tumbuhan obat memiliki nilai ekonomi yang tinggi, namun diperkirakan masih banyak bahan obat-obatan ini dihasilkan dari populasi tumbuhan liar (Lange dan Schippman, 1997). Peluang bisnis tumbuhan yang berkhasiat obat sangat menjanjikan, karena selain digunakan oleh bangsa sendiri, juga diminati
oleh pasar dunia. Hal ini menyebabkan kecenderungan permintaan produk herbal yang berasal dari tumbuhan meningkat dengan cepat (Dwiyanto, 2000)
Di seluruh dunia sejak awal peradaban, manusia memakai tumbuhan sebagai obat. Nenek moyang orang Mesir menggunakan pohon Sycamore, (minyak dari pohon) Cedar dan minyak dari Camomile. Orang Mesopotamia menggunakan minyak castor/minyak jarak, mirh, secar, terpentine, henbane, asafetida, mint, poppy, fig dan mandrake. Tabib Indian telah mengetahui hampir seribu tumbuhan obat termasuk obat penenang Raulwolfia. Cina juga mempunyai tumbuhan obat Chaulmoogra digunakan leprosia jauh sebelum dikenal oleh orang di Eropa. Tumbuhan obat “Ma Huang” (Ephedra vulgaris) mengandung alkaloid ephedrin yang mana banyak berpengaruh terhadap kemajuan pengobatan di Barat terutama bagi penyakit asma dan sejenisnya (Holdsworth, 1977).
Pengembangan Tumbuhan Obat
Menurut Zuhud, Ekarelawan dan Riswan (1994), tumbuhan obat adalah seluruh spesies tumbuhan yang diketahui mempunyai khasiat obat, yang dikelompokkan menjadi: (1) tumbuhan obat tradisional (spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercaya masyarakat mempunyai khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional), (2) tumbuhan obat modern (spesies tumbuhan yang secara ilmiah telah dibuktikan mengandung senyawa/bahan bioaktif dan penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara medis), dan (3) tumbuhan obat potensial (spesies, tumbuhan yang diduga mengandung senyawa/bahan bioaktif yang berkhasiat obat, tetapi belum dibuktikan secara ilmiah atau penggunaannya sebagai bahan obat tradisional sulit ditelusuri).
Definisi tumbuhan obat menurut Deperte men Kesehatan RI sebagaimana yang tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 149/SK/Menkes/IV/1978 adalah sebagai berikut:
a. Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu.
b. Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat (prokursor).
c. Tanaman atau bagian tanaman yang diekstraksi dan ekstrak tanaman tersebut digunakan sebagai obat.
Menurut Siswoyo dan Zuhud (2002), pengelolaan bioregional adalah suatu bentuk pengelolaan ruang (berikut semua isinya) yang lebih integratif. Bioregion merupakan unit perencanaan ruang dalam pengelolaan sumberdaya alam, yang tidak ditentukan oleh batasan politik dan administratif, tetapi dibatasi oleh batasan geografik, komunitas manusia serta sistem ekologi. Dalam suatu cakupan bioregion, terdapat mozaik lahan dengan fungsi konservasi maupun budidaya yang terikat satu sama lain secara ekologis.
Secara ideal pengelolaan bioregional menyandarkan dirinya pada tiga komponen, yaitu :
1. Komponen ekologi terdiri atas kawasan-kawasan ekosistem alam yang saling berhubungan satu sama lain melalui koridor, baik habitat alami maupun semi alami,
2. Komponen ekonomi, yang mendukung usaha pendayagunaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan dalam matriks kawasan budidaya dengan pengembangan budidaya jenis -jenis unggulan setempat,
3. Komponen sosial budaya, yang dapat memfasilitasi partisipasi masyarakat lokal dalam perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya alam serta memberikan peluang bagi pemenuhan kebutuhan sosial budaya secara lintas generasi.
Orang Bukit (Dayak Meratus) adalah salah satu masyarakat bersahaja yang mendiami wilayah bergunung -gunung dan berhutan di sepanjang kawasan Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan (Radam, 2001). Orang Bukit merupakan salah satu Sub-Suku Dayak Ngaju yang berdiam di pedalaman Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bagian selatan. Menurut pembagian CH.F.H. Duman, Sub Dayak Ngaju terbagi lagi atas 53 sub kelompok yang lebih kecil yang biasanya dinamakan suku diantaranya Suku Dayak Bukit (Melalatoa, 1995).
Berdasarkan hasil penelitian Radam (2001), tempat tinggal orang Bukit tersebar di beberapa kabupaten, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar dan Tanah laut.
Menurut Zuhud, Siswoyo, Sandra, dan Adhiyanto (2003), keberhasilan dalam pengembangan agribisnis tumbuhan obat disuatu daerah
Kabupaten/Kotamadya sangat ditentukan oleh adanya dukungan dari berbagai pihak, antara lain: petani dan pengumpul tumbuhan obat, masyarakat pengguna obat-obat tradisional yang akan dikembangkan, pengusaha, dan instansi-instansi pemerintah kabupaten/kotamadya yang terkait dalam pengembangan tumbuhan obat.
Pengetahuan Pengobatan Tradisional
Pada umumnya terdapat banyak pengetahuan dari penduduk lokal yang berkaitan dengan tumbuhan di sekitarnya sebagai obat-obatan. Pengetahuan ini akan dicatat dan contoh-contoh tumbuhannya akan diambil untuk analisis bioaktif kimia (Shea, Martindale, Puradyatmika, dan Mandessy, 1997).
Etnobotani adalah ilmu yang mempelajari hubungan langsung manusia dengan tumbuhan dalam kegiatan pemanfaatan secara tradisional, yang didalamnya terdapat etnofarmakologi yang khusus mempelajari tumbuhan obat (Soekarman dan Riswan, 1992). Menurut Martin (1995), etnobotani diberi batasan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi masyarakat lokal dengan tumbuhan di sekitarnya.
Pada kawasan pedesaaan, dukun menggunakan tanaman obat masih mempunyai peranan yang penting dalam menjaga kesehatan. Tanaman obat tersebut disebut dengan jamu. Jamu adalah campuran dari berbagai herba yang hingga saat ini masih dipergunakan secara umum di Jawa. Ramuannya diseduh dalam air panas. Alternatif lainnya adalah ramuan tersebut dikeringkan dan kemudian dimasak ketika diperlukan. Jamu bias anya disediakan dalam bentuk bubuk yang dapat dibuat melalui proses pemanasan yang tinggi. Pada umumnya jamu mempunyai sejarah penggunaan tradisional dan beberapa diantaranya telah diuji secara empirik dan menunjukkan hasil yang efektif (De Padua, Bunyapraphatsara dan Lemmens, 1999).
Di Indonesia juga terdapat banyak jenis obat tradisional. Keberadaan obat- obatan ini selalu terkait (dengan derajat keterkaitan yang beragam) dengan jenis kelompok etnis yang ada dan proses sejarah yang membentuk negara kepulauan ini. Obat tradisional yang tertua, paling banyak tersebar dan salah satu yang sudah dimengerti dengan baik adalah jamu. Jamu adalah ramuan tradisional yang berasal
dari Jawa dan diperkirakan mulai dikenal pada zaman didirikannya Candi Borobudur sekitar abad 8 dan 9 (Jansen, 1993 dalam PT. Hatfindo, 2002).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Selatan, masyarakat Pegunungan Meratus saat ini masih belum mendapat pelayanan kesehatan secara baik. Apalagi dalam masyarakat Dayak Meratus tidak ada dukun yang khusus melakukan pengobatan. Kondisi ini menyebabkan rata- rata masyarakat laki-laki, perempuan, remaja, maupun anak-anak paham dengan pengobatan tradisional dengan menggunakan bahan langsung dari alam. Selama ini biasanya masyarakat mengambil tumbuhan obat hanya pada saat membutuhkan saja, masyarakat belum melakukan budidaya dengan melakukan penanaman. Hanya jenis -jenis tertentu yang mempunyai fungsi sekunder seagai tumbuhan obat seperti pepaya, langsat, pinang, cabe, laos dan kelapa hijau yang sudah ditanam (Kartikawati, 2004).
Prospek Pengembangan Tumbuhan Obat
Menurut Zuhud, Siswoyo, Himkat, Sandra, Soakmadi, dan Adhiyanto (2004), selama ini pengembangan sumberdaya alam hayati berupa hasil non kayu belum dilakukan sec ara optimal, karena masih bertumpu pada produk primer berupa kayu. Disamping itu pemanfaatan sumberdaya alam hayati berupa hasil non kayu belum mendapat perhatian secara serius, sehingga peranannya belum tampak dalam meningkatkan roda perekonomian daerah maupun nasional. Padahal secara tradisional sudah sejak lama banyak komoditas non kayu yang diperjualbelikan dan menempati posisi penting dalam komoditas ekspor nasional.
Indonesia belum mempunyai data yang akurat mengenai nilai pasar tumbuhan obat Indonesia dan hasil olahannya. Namun kecenderungan terus meningkatnya penggunaan sediaan herbal di dalam negeri, maka dapat diyakini bahwa nilai pasar tumbuhan obat dan hasil olahannya cukup besar. Sekiranya setiap orang Indonesia rata-rata membelanjakan uangnya sebesar Rp. 200.000,- untuk keperluan obat setiap tahun, maka nilai pasar obat di Indonesia per tahun mencapai Rp. 44 triliun. Keyakinan ini ditunjang dengan data industri obat tradisional yang ada di Indonesia dan jangkauan pemasaran hasil produksinya. Pada tahun 2001 tercatat 997 yang terdiri dari 899 Industri Kecil Obat Tradisional
(IKOT) dan 98 Industri Obat Tradisional (IOT), terutama banyak tersebar di Jawa dan sebagian kecil tersebar di berbagai propinsi di luar Jawa (Zuhud et al., 2003).
Didalam mengembangkan budidaya tumbuhan obat dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) pengembangan pada lahan negara dan (2) pengembangan pada lahan milik masyarakat. Pengembangan pada lahan negara adalah pengembangan tumbuhan obat yang dilakukan pada lahan-lahan milik negara, untuk pengembangan budidaya tumbuhan obat pada lahan milik masyarakat dapat dilakukan pada lahan kebun, pekarangan, tegalan, sawah dan lain -lain. Ada 5 (lima) kegiatan utama yang harus dilakukan di dalam usaha pengembangan tumbuhan obat, yaitu (peembentukan kemitraan), (2) bimbingan, pendampingan dan pembinaan kepada masyarakat petani tumbuhan obat, (3) teknik budidaya tumbuhan obat, (4) pemanenan dan penanganan pasca panen tumbuhan obat, dan (5) pemasaran hasil (Direktorat Aneka Usaha Kehutanan dan Fakultas Kehutanan IPB, 2000).
Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tapin, Propinsi Kalimantan Selatan selama selama 6 (enam) bulan, yaitu pada Bulan Juli – Desember 2005. Adapun identifikasi jenis dan spesimen tumbuhan obat dilakukan di Laboratorium Konservasi Tumbuhan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB.
Bahan dan alat
Bahan-bahan yang diperlukan dalam penelitian ini, antara lain : dokumen Kabupaten Tapin dalam Angka 2003 dan dokumen atau laporan hasil survey/penelitian tumbuhan secara umum maupun tumbuhan obat yang telah dilakukan oleh instansi terkait di Kabupaten Tapin; sedangkan alat-alat yang digunakan, antara lain : kamera digital, tally sheet, kuesioner, alat tulis -menulis, serta komputer dan perlengkapannya.
Metode Penelitian Pengumpulan Data
Data Sekunder
Data sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian ini, meliputi : kondisi umum lokasi setiap kecamatan, jenis-jenis tumbuhan obat yang telah ditemukan, jenis-jenis penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat, dan data etnobotani tumbuhan obat yang tersedia di Kabupaten Tapin.
Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi literatur, yaitu mengumpulkan data dan informasi dari berbagai laporan atau dokumen yang terdapat di instansi terkait. Jenis data dan informasi yang dikumpulkan dan metode pengumpulan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 1, sedangkan instansi yang dihubungi guna pengumpulan data sekunder tersaji pada Tabel 2.
Tabel 1 Data sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian kajian potensi dan perumusan strategi pengembangan tumbuhan obat berbasis bioregional