Pendahuluan
Bab-bab sebelumnya dari buku ini telah membahas beberapa hal yang perlu diperhatikan, direncanakan dan dipikirkan serta dilakukan sebelum mulai menulis tesis dan disertasi. Bab ini akan membahas tentang aspek yang berkaitan dengan tesis atau disertasi serta penulisan tesis dan disertasi. Beberapa aspek itu di antaranya adalah: Definisi tesis atau disertasi, dan hakekat menulis disertasi. Dalam pembahasan akan diperlihatkan bahwa beberapa penulis mengenai penulisan tesis dan disertasi mengatakan bahwa selama ini belum ada definisi yang jelas mengenai tesis atau disertasi. Namun demikian, berdasarkan sistesis teori penulisan tesis dan disertasi, bab ini akan mencoba memberikan satu definisi tesisi dan disertasi yang relevan dengan istilah tesis dan disertasi dalam konteks pendidikan di Indonesia. Bab ini akan diakhiri dengan pembahasan mengenai beberapa hal terkait hakekat penulisan tesis dan disertasi.
Definisi “tesis” dan “disertasi”
Mengenai definisi tesis dan disertasi, selama ini belum ada definisi yang jelas mengenai “apa yang dimaksud dengan tesis atau disertasi” (Anderson & Poole, 2001; Evans & Gruba, 2002:3; Murray, 2002). Namun demikian, berdasarkan sintesis dari beberapa sumber mengenai penulisan tesis dan disertasi, ada beberapa definisi tesis dan disertasi yang mungkin relevan dengan istilah tesis dan disertasi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Definisi itu diberikan oleh Davinson (1977:11). Dengan mengutip definisi disertasi dan tesis dari Randon House of the English language, Davinson mengatakan:
Dissertation is a written essay, treatise or thesis especially one written for the degree of doctor of philosophy, and A Thesis is a dissertation on particular subject in which one has done original research, as one presented for a diploma or degree especially a master‟s degree (1977:11).
Dengan mengutip definisi dari Oxford English Dictionary, Davinson juga mengatakan bahwa secara histories, disertasi berarti “diskusi atau debat” atau “wacana tertulis atau pembahasan mengenai suatu subjek atau masalah yang dibahas dengan panjang lebar” atau “a treatise,
sermen, or the like” (1977:11). Sementara itu, tesis, menurut Davinson, merupakan proposisi
yang dinyatakan, terutama sebagai tema yang akan dibahas atau dibuktikan atau dipertahankan. Di banyak negara seperti Amerika Serikat (Harvard University), Massachusset Institute of Technology, University of Illinois, menurut Davinson, istilah tesis dipakai untuk tingkat magister dan istilah disertasi untuk tingkat doktor. Di Australia, sepengetahuan penulis, istilah tesis bisa dipakai untuk tingkat master maupun doktor.
Namun demikian, menurut Rhedding-Jones (2005:130-131) disertasi bisa juga dipakai untuk teks tertulis yang dihasilkan oleh mahasiswa tingkat magister atau doktor dan dengan disertasi inilah, mahasiswa diberi gelar magister atau doktor oleh universitas. Disertasi, menurut Rhedding- Jones, mengandung tesis, yang merupakan inti dari isi dan pemaparan tekstual dari disertasi dan argumen yang menjadi dasar lulus atau tidaknya mahasiswa calon pemegang gelar master atau doktor. Sementara itu, disertasi, tambah Rhedding-Jones, mengandung kajian dari pustaka akademik, landasan teori untuk penelitian, argument mengenai metodologi tertentu, pilihan dari data penelitian, analisis dan interpretasi kritis atau dekonstruksi dari data penelitian, dan temuan baru atau kesimpulan baru yang seharusnya bersifat teoretis.
Selain itu, menurut Murray (2002:100), tesis berarti “an integrated argument that can stand up
to critique” (2002:100). Setiap tesis membuat proposisi dan setiap proposisi harus membahas berbagai pandangan, termasuk pandangan yang berlawanan. Bentuk tesis mendorong penulis untuk mengantisipasi adanya sanggahan ketika hasil karya mereka keluar untuk ditelaah oleh orang lain. Sebuah tesis merupakan gagasan sentral yang membuat tesis itu sebagai satu keasatuan.
Salah satu kata “warning” atau peringatan tentang tesis adalah bahwa “Tesis merupakan argumen yang secara tradisional harus dibuktikan” (Murray, 2002:100). Namun demikian, menurut Murray (2002), istilah ini, dengan beberapa perkecualian, tidak dipakai dalam tulisan akademik. Penelitian kita, dan dengan demikian tulisan kita, tambah Murray, bersifat kontekstual dan bahkan contingent (2002:100). Dengan kata lain, ketika kita meneliti, kita tidak membuktikan sesuatu sepanjang waktu dan di semua tempat, tetapi memperlihatkan, mengatakan, dan membuat interpretasi yang masuk akal dan dipikirkan dari apa yang kita temukan dalam analisis teks, substansi, orang atau kejadian. Untuk itu, tambah Murray, mungkin akan bermanfaat kalau kita mengingat bahwa dalam menulis tesis atau disertasi, kita memasuki debat dan ada banyak orang yang mungkin tidak setuju dengan tulisan kita, sehingga kita hanya tidak boleh mengabaikan hasil karya orang yang tidak setuju dengan kita, tetapi harus secara eksplisit dan direct membahasnya. Kita, menurut Murray, harus membahas dasar dari ketidaksetujuan itu dalam tulisan kita, dengan memperlihatkan dimana hasil karya kita posisinya. Kata seperti “suggest” merupakan kata dalam debat (Murray, 2002:100-101; lihat juga saran Hamilton (2003:35 tentang apa yang harus ditulis dalam argumen tesis).
Berkaitan dengan argumen yang dibangun dalam tesis atau disertasi, Maner (1996, dikutip dalam Hamilton, 2003:35) mengatakan bahwa argumen penelitian yang efektif tidak bersifat statis, tetapi berkembang atau berevolusi dalam teks. Hamilton menyarankan bahwa teknik mengungkapkan argumen hendaknya diawali dengan mengatakan gagasan penelitian secara garis besar dan relatif belum dikembangkan. Kemudian, penulis secara progresif membuat argumen itu lebih komplesks melalui modifikasi dan pembatasan, dan akhirnya mengungkapkan kembali argumennya dalam kesimpulan dengan bentuk yang “evolved”.
Isu mengenai orijinalitas dalam tesis dan disertasi
Orijinalitas merupakan kriteria utama dan kata kunci dalam hasil karya akademik terutama pada tingkat doktoral (Murray (2002:52-53). Tesis atau disertasi, tambah Murray, harus memperlihatan bahwa hasil karya itu “in some way original”. Sebuah tesis atau disertasi bisa dikatakan orijinal, menurut Philip dan Pugh (1994) dan Murray (2002) bisa dilihat berdasarkan beberapa kriteria seperti terlihat dalam Tabel 5.1 di bawah ini.
Tabel 5.1. Kriteria Orijinalitas Orijinalitas
Kita mengatakan sesuatu yang belum pernah dikatakan oleh orang lain. Kita melakukan karya empiris yang belum dilakukan sebelumnya.
Kita mensintesa hal yang belum pernah disintesa sebelumnya atau “things which have not been
put together before”
Kita membuat interpretasi baru dari gagasan atau hasil karya orang lain. Kita melakukan di negara ini sesuatu yang baru dilakukan di negara lain.
Kita mengambil teknik yang ada untuk mengaplikasikannya dalam bidang atau area yang baru. Kita bekerja dalam berbagai displin ilmu dengan menggunakan berbagai metodologi.
Kita meneliti topik yang belum diteliti oleh orang dalam dalam bidang ilmu kita. Kita menguji pengetahuan yang ada dengan cara original.
Kita menambah pengetahuan dengan cara yang belum dilakukan sebelumnya. Kita menulis informasi baru untuk pertama kali.
Kita memberi eksposisi terhadap gagasan orang lain.
Kita melanjutkan hasil sebuah karya yang original (dikutip dari Murray, 2002:53; lihat juga Phillips dan Pugh, 1994; 61-62).
Semua definisi ini sebaiknya dianggap random, ketimbang sebagai inti atau „core‟ (Murray, 2002:53) karena mungkin ada banyak definisi lagi tentang orijinalitas bagi penulis tesis atau disertasi.
Hakekat menulis tesis dan disertasi
Menulis tesis pada dasarnya diklasifikasikan dalam empat kategori (Maner, 1996, 1988, dikutip oleh Hamilton, 2003:34; Davis & McKay, 1996). Keempat kategori itu adalah:
Narasi: Menceritakan cerita, menghubungkan kejadian dengan urutan waktu, dan mengatakan signifikansinya.
Deskripsi: mengatakan persepsi dan berkaitan dengan menyusun apa yang kita lihat menjadi pola yang berarti dan menyampaikannya dalam kata.
Exposisi: menerangkan dengan perkembangan yang logis bagaimana sesuatu berlangsung atau mengapa sesuatu terjadi. Eksposisi disusun berdasarkan sebab akibat, benar salah, dan dikotomi lain.
Persuasi: berusaha merubah cara berpikir orang berdasarkan argumen, yakni alasan yang didukung dengan bukti.
Menurut Hamilton, sangat mungkin bahwa penulis menggunakan semua jenis tulisan itu dalam satu paper atau tulisannya. Dan elemen dasar dari teks penelitian, tambah Hamilton, adalah bahwa teks penelitian mempunyai tujuan argumentatif yang berkembang dalam teks secara keseluruhan, dan didukung oleh teks naratif, deskriptif dan exposisi. Selain itu, menurut Hamilton, dalam menulis tesis ada kemungkinan kita harus menerangkan tentang apa yang tidak disetujui oleh orang lain (2003:34).)
Menulis tesis, apalagi disertasi, seperti telah disebutkan dalam beberapa bagian sebelumnya dari buku ini, merupakan satu perjalanan yang panjang dan sulit (Swetnam, 2000; Thomas, 2000; Murray, 2002; Johnson, 2003; Roberts, 2003; Paltridge & Stairfield, 2007) atau perjalanan panjang dan berliku (Clarkson, dalam Wellington, dkk, 2005:24). Ilmuwan yang sukses pun, seperti Charles Darwin mengatakan bahwa seorang naturalis akan mempunyai kehidupan yang lebih menyenangkan kalau mereka hanya harus mengobservasi dan tidak harus melaporkan hasil observasinya. Artinya menulis hasil penelitian, seperti tesis dan disertasi merupakan hal yang sulit.
Menulis disertasi khususnya, merupakan perjalanan yang panjang dari sebuah proses pembelajaran dan perkembangan pribadi atau “learning and personal growth” (Roberts, 2004:3). Dalam program doktoral khususnya, ada tiga komponen utama, yakni: Proses belajar yang panjang, penelitian yang orijinal dan penulisan tesis atau disertasi” (Wellington dkk, 2005:14). Hasil dari perjalanan panjang ini, menurut Roberts (2004) dapat membawa kontribusi serta pencapaian yang luar biasa.
Mendapatkan gelar Doktor merupakan “puncak akademia” (Roberts, 2004:3) dan gelar Doktor adalah gelar tertinggi yang dianugerahkan oleh universitas mana pun di dunia ini. Namun demikian, Roberts menambahkan bahwa “This journey to Doctor is difficult with obstacles and demands along the way; however once completed, the pride and excultation are a life-long
affirmation” (Roberts, 2004:3; lihat juga penjelasan yang hampir sama tentang penulisan tesis atau disertasi dalam Johnson, 2003, lihat juga Thomas, 2000; Murray, 2002; Paltridge &
Completing a dissertation represents the pinnacle of academic achievement. It requires high level skills of discernment and critical analysis, proficiency in at least one research method, and the ability to communicate the results of that research in a clear, cohesive manner. No previous writing experiences prepare you for such a challenging and rigorous task. Basically, it‟s a “learn-and grow-as you-go” process ( 2000:16).
Roberts (2004:3) juga menggambarkan proses perjalanan penulisan disertasi sebagai proses yang tidak berbeda dengan pendakian gunung yang sulit. Dengan proses yang panjang, yang menghabiskan waktu satu sampai 2 tahun, bahkan bisa 3 sampai 4 tahun (bagi mereka yang mengambil full research seperti di Australia), Roberts mengatakan:
The journey is arduous and long, usually one to two years from beginning to end, and it is easy to become frustrated, exhausted and discouraged. It is grueling-definitely not for anyone who lacks commitment or peseverance. Those who successfully scale the peak are those willing to put in long hours and hard work
(2004:3). … Climbing a mountain peak is a powerful metaphor; it represents the path to growth and transformation. The obstacles encoutered along the way embody the challenges that help expand your thinking and your boundaries. The risks are substantial, the sacrifices great.However, the view is magnificent from the top and is reserved for those courageous adventures who dare to challenge their own limits. Ultimately, though, it‟s the journey itself that results in “self-validative delight” not just standing at the top. Once you are there, you will not be the same person or ever again look at the world in the same light” (Roberts, 2004:5, lihat juga pernyataan yang hampir sama dari Swetnam 2000 tentang pentingnya komitmen serta kerja keras dan being organized dalam menulis tesis atau disertasi ).
Namun demikian, Roberts menambahkan bahwa menulis disertasi merupakan pengalaman transformatif pribadi dan bisa merupakan satu peak experience yakni “one of those fulfilling moments, moments of highest happiness and fulfilment” (2004:4). Dengan mengutip Abraham Maslow, Roberts mengatakan bahwa “A peak experience is felt as a self-validating, self
justifying moment which carries its own intrinsic value with it … The experience makes the pain
worthwhile”. Selain itu, dengan mengutip Robert Schuller (1980), Roberts mengatakan bahwa peak experience merupakan “experience of success, achievement, and accomplishment which feeds your self-esteem, which then expands your self-confidence … . It‟s an experience that leaves you with an a wareness that you are more than you even thought you were.”
Menurut Maslow, seseorang yang mengalami a peak experience merasakan kebahagiaan yang sangat besar, “not only does the person having peak experience feel better, stronger and more
unified, but the world looks better, more unified and honest” (lihat Goble, 2004:72, dan Wilson,
2004). Menurut Maslow, “A peak experience is “any experience of real perfection, of any
moving toward the perfect justice or toward perfect values tends to produce a peak experience”
(dikutip oleh Goble, 2004:72).
Banyak prestasi dan kegembiraan yang bisa dicapai selama perjalanan penyelesaian disertasi atau tesis, misalnya saat ketika kita mendapatkan topik untuk diteliti, proposal diterima, dan banyak lagi pengalaman intelektual yang menyenangkan selama proses perjalanan penyelesaian tesis atau disertasi.
Menulis tesis atau disertasi juga sama dengan menulis jenis teks yang lain, yakni merupakan proses yang tidak beraturan dan tidak linier (Gibbons, 2002) atau menurut Johnson (2003) “a very messy process”. Semua penulis pada awalnya pasti pernah mengalami kesulitan mencari kata, gagasan, dan organisasi tulisannya. Menurut Johnson (2003), sangat sedikit dari kita yang seperti Mozart, yang dapat menulis langsung sekali jadi. Semua proses menulis bisa dikatakan melalui tahap yang hampir sama, yang bisa digambarkan sebagai berikut:
-Pre-Writing: Tahap ini sama pentingnya dengan tahap menulis. Dalam tahap ini penulis mungkin bisa melakukan brainstorming, membuat semantic web, berbicara tentang gagasan atau ide kepada teman untuk membantu menyusun gagasan dalam kepala kita dan mengetahui
beberapa unsur yang mungkin tertinggal. Tahap ini juga termasuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya yang dapat membantu kita untuk memutuskan apa yang akan kita tulis.
Kebanyakan penulis tesis merasa tidak tahu dan tidak punya gagasan untuk ditulis pada tahap awal proses menulis tesis atau disertasi, dan hal ini bisa berlangsung lama (Murray, 2002:15). Untuk memerangi hal seperti ini, Murray (2002:16) menyarankan bahwa penulis dapat membuat beberapa pertanyaan berikut untuk membantu mereka mulai menulis. Pertanyaan-pertanyaan ini di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Apa yang paling saya minati?
Buku atau makalah/artikel yang suka saya baca selama ini dan saya menikmati membacanya
adalah … .
Gagasan yang ingin saya tulis adalah … .
2. Apa yang ingin saya lakukan dengan apa yang saya minati atau gagasan yang saya miliki … .
Yang ingin saya teliti adalah … .
Inilah gagasan atau pandangan atau perasaan saya tentang topik ini … .
3. Pertanyaan yang ingin saya kaji adalah … .
Yang ingin saya lakukan adalah … . Yang ingin saya katakan adalah … .
Saya ingin mengetahui apakah …(Dikutip dari Murray, 2002:16; lihat juga Paltridge dan Stairfield, 2007
Dengan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, maka kita bisa mulai menilai tentang apa yang kita miliki serta apa yang sebenarnya menjadi minat penelitian kita. Dengan cara seperti ini kita akan bisa memilih serta mulai mengerucutkan masalah yang ingin kita teliti.
-Draftt Pertama: Sloppy Copy
Draft pertama merupakan tahap ketika kita membuat gagasan kita tertulis di kertas. Kalau draft pertama tidak berantakan dan teratur, maka menurut Johnson (2003:7) kita mungkin telah menulis draft pertama dengan salah. Draft pertama bertujuan untuk menggenggam ide atau gagasan kita supaya gagasan itu tidak hilang.
-Revisi: revisi berarti melihat lagi. Dalam merevisi, Johnson (2003:7) menyarankan bahwa kita hendaknya berharap nerevisi minimal empat kali, tetapi biasanya kita bisa merevisi sampai 10 atau 15 kali. Ketika kita merevisi, menurut Johnson, sebaiknya kita tidak memikirkan dulu mekanik, seperti ejaan dan tanda baca, tetapi hendaknya memfokuskan perhatian pada organisasi logis dan melihat apakah kalimat yang ditulis masuk akal.
-Editing: Editing merupakan tahap akhir proses menulis. Dalam mengedit tesis atau disertasi, atau tulisan yang lain, kita sebaiknya berkonsentrasi dengan tata bahasa, tanda baca, penggunaan kata dan kutipan. Selain itu, kita juga bisa meminta orang lain membaca tulisan kita karena kita sering tidak bisa melihat kesalahan yang kita buat karena kita sangat kenal dengan tulisan kita. Dengan demikian, kita akan mendapat banyak manfaat kalau tesis atau disertasi kita dibaca oleh orang lain.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menulis tesis dan disertasi
Dalam proses menulis tesis atau disertasi, seperti dikatakan oleh Murray (2002), Glatthorn & Joyner (2005) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti yang akan dibahas berikut ini.
Tujuan dan Pembaca
Tujuan dan pembaca merupakan kunci dalam setiap tindakan komunikasi (Murray, 2002). Apapun yang dikatakan, dan tidak dikatakan sangat ditentukan oleh pembaca dan tujuan dari komunikasi yang kita lakukan. Tujuan komunikasi dari menulis tesis atau disertasi, seperti dikatakan oleh Glatthorn dan Joyner (2005: 5, lihat juga Paltridge, 2005 untuk pembahasan yang
Dengan fungsi ini, maka sangatlah jelas, bahwa kualitas utama dari tesis adalah kejelasan, bukan kreativitas, walaupun, seperti dikatakan beberapa kali sebelumnya, unsur kreativitas penulis juga berperan dalam membantu menciptakan tulisan yang berterima. Pentingnya memahami tujuan penulisan tesis dan disertasi, juga ditegaskan oleh Cantor (1993: 1) di awal penjelasannya mengenai penulisan teks akademik. Cantor mengukuhkan bahwa “Penulis teks akademik yang berhasil mempunyai tujuan yang jelas untuk pembaca. Mereka tahu mengapa mereka menulis dan penerbitan apa yang bisa dilakukan untuk karir mereka”. Dengan mengutip Hanson (1987), Cantor menambahkan bahwa kejelasan dari tujuan menulis memberi penulis energi, semangat dan ketekunan yang merupakan faktor yang menggiring keberhasilan.
Berkaitan dengan pembaca untuk penulisan tesis atau disertasi, Murray (2002) menyebutkan tiga kelompok pembaca: Pembaca primer, sekunder dan pembaca segera atau pembaca pertama atau
“immediate reader”.
Pembaca primer adalah komunitas ilmiah (schola rly community). Dalam hal ini, Glatthorn dan Joyner (2005: 6) mengatakan bahwa “The dissertation (thesis) is a report or research intended
primarily for scholarly audience”. Pembaca ini menentukan standar dan juga mungkin
menentukan agenda penelitian. Orang yang bekerja di bidang yang kita tulis adalah pembaca yang akan paling tertarik dengan tulisan kita. Tentu mereka juga akan merupakan pembaca yang paling kritis. Secara realistis, bagaimanapun bagusnya tulisan kita, sebaiknya kita berharap untuk mendapatkan kritik yang positif maupun negatif tentang tulisan kita.
Pembaca sekunder adalah penguji eksternal. Menurut Murray (2002), penulis tesis atau disertasi sebaiknya melihat penguji dari luar (khususnya bagi penguji disertasi kalau dalam konteks pendidikan di Indonesia) sebagai wakil dari masyarakat ilmiah dari pada sebagai seseorang dengan standar idiosinkrasi, walaupun hal ini ada unsur benarnya juga. Dengan memposisikan penguji eksternal seperti ini, maka kita akan bisa membuat penguji sebagai target dari tulisan kita. Dalam beberapa hal, menurut Glatthorn dan Joyner (2005) pembaca ini merupakan pembaca paling penting dari tesis atau disertasi yang ditulis. Sementara pembaca lain mungkin hanya membaca sekilas saja tesis kita, pembaca ini akan menguji tesis kita dari halaman ke halaman tesis atau disertasi kita.
Pembaca segera (Immediate Audience) bagi tesis atau disertasi yang dibuat oleh mahasiswa pascasarjana adalah tentu pembimbing. Menurut Murray (2002:70) dalam mengatakan peran pembimbing bagi mahasiswa doktoral khususnya, yang juga relevan untuk mahasiswa magister adalah bahwa, “Supervisors have a responsibility to read your work and give you feedback on it within a reasonable length of time, throughout your doctorate”. Masalah peran pembimbing dan peran feedback masing-masing dapat dilihat kembali di Bab Tiga dan Empat.
Selain dari pembaca di atas mahasiswa disarankan juga untuk mencari pembaca ideal, yakni seorang pembaca yang suportif tapi kritis untuk tesis atau disertasi yang ditulisnya, dan dia juga sekaligus merupakan orang yang akan memberi dukungan dan juga masukan bagi tesis atau disertasi yang dituli.
Untuk menambah kejelasan dari setiap bagian dalam tesis atau disertasi, maka perlu ditekankan strategi three part structure (Thomas, 2000, Christie dalam komunikasi pribadi dengan penulis, dan lihat juga Martin, 1992; Martin & Rose, 2003) dalam menulis setiap bagian tesis atau disertasi. Hal ini meliputi “telling them what you are going to tell them (mengatakan apa yang akan dibahas), telling them (membahasnya) and telling them what you have told them (dan mengatakan kembali apa yang telah dibahas)”. Strategi ini, menurut Thomas bisa dipakai sebagai struktur dalam komunikasi tulisan maupun lisan, seperti kuliah.
Selain dari strategi three part structure di atas, yang berkaitan dengan struktur organisasi tesis atau disertasi, ada juga beberapa hal yang perlu diperhatikan yang berkaitan dengan penulisan kalimat, yakni berkaitan dengan cara penulisan argumen atau pernyataan supaya argumen atau pernyataan yang ditulis dapat diterima. Pentingnya kemampuan menulis argumen telah dikemukakan oleh para pakar berpikir kritis dan teori menulis (lihat Bizzell, 1992; a,b, 2003) yang mengatakan bahwa bagaimanapun bagusnya hasil temuan penelitian, bahkan di bidang sain sekalipun, kalau peneliti tidak dapat menuliskannya dalam argumen yang dapat diterima, maka temuan penelitian itu tidak akan bisa dikenal dan berkembang. Kemampuan menulis argumen,