TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Pengetahuan
2.8 Test IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)
2.8.1 Pengertian Test IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)
Program penapisan dalam mendeteksi perubahan prakanker di negara berkembang harus dilakukan dengan efektif dengan sumber daya yang terbatas. Program berbasis test pap sulit dilakukan dan dipertahankan di banyak negara berkembang karena melibatkan langkah yang kompleks dan mahal. Test IVA merupakan salah satu metode untuk melakukan test kanker leher rahim yang mempunyai kelebihan yaitu kesederhanaan teknik dan kemampuan memberikan hasil yang segera. Selain murah dan sederhana, test IVA merupakan alternatif yang efisien untuk pengujian sitologi di daerah dengan sumber daya rendah.
Test IVA adalah pemeriksaan leher rahim secara visual menggunakan asam cuka dengan mata telanjang untuk mendeteksi abnormalitas setelah pengolesan asam cuka 3-5% (Depkes, 2010). Test IVA merupakan salah satu cara melakukan test kanker leher rahim yang mempunyai kelebihan yaitu kesederhanaan teknik dan kemampuan memberikan hasil yang segera kepada ibu. Selain itu juga bisa dilakukan oleh hampir semua tenaga kesehatan, yang telah mendapatkan pelatihan (Depkes, 2007). Tujuan test IVA sendiri yaitu untuk melihat adanya sel yang mengalami displasia sebagai satu metode skrining kanker leher rahim, namun test IVA tidak direkomendasikan pada wanita pasca menopause karena daerah zona
41
transisional seringkali terletak di kanalis serviks dan tidak tampak dengan pemeriksaan inspekulo. Test IVA memiliki sensitifitas 80% dan spesifitas 92% dan test IVA juga yang dianjurkan untuk fasilitas dengan sumber daya rendah dibandingkan dengan penapisan lain dengan beberapa alasan; murah, aman, mudah dilakukan, kinerja test sama dengan test lain, dapat dilakukan oleh hampir semua tenaga kesehatan, memberikan hasil yang segera sehingga dapat diambil keputusan segera untuk penatalaksanaannya, peralatan mudah didapat dan tidak bersifat invasif serta efektif mengidentifikasi berbagai lesi prakanker (Depkes, 2007; Rasjdi, 2008; Emilia et al., 2010; Sauvaget et al., 2011).
Sasaran pemeriksaan IVA dianjurkan bagi semua wanita berusia 30 sampai dengan 50 tahun. Dengan memfokuskan pada pelayanan test dan pengobatan untuk wanita usia 30-50 tahun atau yang memiliki faktor risiko akan dapat meningkatkan nilai prediktif positif dari test IVA. Karena angka penyakit lebih tinggi pada kelompok usia tersebut, maka lebih besar kemungkinan untuk mendeteksi lesi prakanker, sehingga meningkatkan efektifitas biaya dari program pengujian dan mengurangi kemungkinan pengobatan yang tidak perlu. Interval pemeriksaan di Indonesia adalah lima tahun sekali, jika hasil pemeriksaan negatif maka dilakukan ulangan lima tahun dan jika hasilnya positif maka dilakukan pemeriksaan ulang 1 tahun kemudian (Depkes, 2007).
Persiapan fasilitas kesehatan dan sumber daya manusia untuk deteksi dini kanker leher rahim dengan metode test IVA yaitu; pada pelayanan primer dan rujukan tahap pertama tenaga kesehatan yang boleh melakukan yaitu perawat, bidan dan dokter umum yang terlatih. Sedangkan pada pelayanan rujukan tahap
kedua (diagnostic dan terapi) tenaga kesehatan yang boleh melakukan pemeriksaan yaitu dokter spesialis obstetri dan ginekologi serta dokter spesialis patologi anatomi. Kompetensi yang harus dimiliki oleh para tenaga kesehatan berbeda pada tiap pelayanan. Untuk fasilitas kesehatan yang bisa memberikan pelayanan test IVA yaitu posyandu, bidan praktek swasta, puskesmas, klinik dokter, dan rumah sakit (pemerintah maupun swasta) (Depkes, 2008).
Sarana dan prasarana IVA diantaranya meja ginekologi dan kursi, sumber cahaya/lampu yang memadai agar cukup menyinari vagina dan leher rahim, speculum/cocor bebek, rak atau nampan tempat alat yang telah didesinfeksi tingkat tinggi sebagai tempat untuk meletakkan alat dan bahan yang akan dipakai, sarana pencegahan infeksi berupa tiga ember plastik berisi larutan klorin, lartan sabun dan air bersih bila tidak tersedia wastafel. Kemudian persiapan bahan untuk pemeriksaan antara lain kapas lidi atau forcep untuk memegang kapas, sarung tangan periksa untuk sekali pakai, spatula kayu yang masih baru, larutas asam asetat 3-5% (cuka putih dapat digunakan), dan larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi alat dan sarung tangan serta formulir catatan untk mencatat temuan (Depkes, 2010).
2.8.2 Teknik dan Interpretasi Pemeriksaan Test IVA
Prinsip metode test IVA adalah melihat perubahan warna menjadi putih (acetowhite) padalesi prakanker jaringan ektoserviks rahim yang diolesi larutan asam asetoasetat (asam cuka). Bila ditemukan lesi makroskopis yang dicurigai kanker, pengolesan asam asetat tidak dilakukan namun segera
43
dirujuk ke sarana yang lebih lengkap. Perempuan yang sudah menopause tidak direkomendasikan menjalani skrining dengan metode test IVA karena zona transisional leher rahim pada kelompok ini biasanya berada pada endoserviks rahim dalam kanalis servikalis sehingga tidak bisa dilihat dengan inspeksi spekulum.
Perempuan yang akan diskrining berada dalam posisi litotomi, kemudian dengan spekulum dan penerangan yang cukup, dilakukan inspeksi terhadap kondisi leher rahimnya. Setiap abnormalitas yang ditemukan dicatat. Kemudian leher rahim dioles dengan larutan asam asetat 3-5% dan didiamkan selama kurang lebih 1-2 menit untuk dilihat hasilnya. Leher rahim yang normal akan tetap berwarna merah muda, sementara hasil positif bila ditemukan area, plak atau ulkus yang berwarna putih.
Lesi prakanker ringan/jinak menunjukkan lesi putih pucat yang bisa berbatasan dengan sambungan skuamokolumnar. Lesi yang lebih parah menunjukkan lesi putih tebal dengan batas yang tegas, dimana salah satu tepinya selalu berbatasan dengan sambungan skuamokolumnar (SSK).
Baku emas untuk penegakan diagnosis lesi prakanker leher rahim adalah biopsi yang dipandu oleh kolposkopi. Apabila hasil skrining positif, perempuan yang diskrining menjalani prosedur selanjutnya yaitu konfirmasi untuk penegakan diagnosis melalui biopsi yang dipandu oleh kolposkopi. Setelah itu baru dilakukan pengobatan lesi prakanker. Ada beberapa cara yang dapat
digunakan yaitu kuretase endoservikal, krioterapi, atau loop electrosurgical excision procedure (LEEP), laser, konisasi, sampai histerektomi simpel.
Ada beberapa kategori yang dapat dipergunakan, salah satu kategori yang dapat dipergunakan adalah:
a. IVA negatif = Leher rahim normal.
b. IVA radang = Leher rahim dengan radang (servisitis), atau kelainan jinak lainnya (polip leher rahim).
c. IVA positif = ditemukan bercak putih (aceto white epithelium). Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan skrining kanker leher rahim dengan metode test IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis leher rahim pra kanker (dispalsia ringan-sedang-berat atau kanker leher rahim in situ).
d. IVA-kanker leher rahim = Pada tahap ini pun, untuk upaya penurunan temuan stadium kanker leher rahim, masih akan bermanfaat bagi penurunan kematian akibat kanker leher rahim bila ditemukan masih padastadium invasif dini (stadium IB-IIA).