• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

U- Test Pulokencana Sukanegara

 Pengalaman berusahatani 33,73 27,27 p=0,114  Luas lahan 31,13 29,87 p=0,730 

Status kepemilikan lahan 35,03 25,97 p=0,022

Aksesibilitas lembaga keuangan 32,92 28,08 p=0,214

Aksesibilitas saprodi 26,00 35,00 p=0,003

Aksesibilitas pasar 28,50 32,50 p=0,040

Nilai mean rank karakteristik usahatani menunjukkan bahwa pengalaman berusahatani, luas lahan, status kepemilikan lahan, dan aksesibilitas lembaga keuangan memiliki hasil uji tidak signifikan secara statistik atau tidak terdapat perbedaan nyata antara Desa Pulokencana dan Desa Sukanegara. Sedangkan dalam hal status kepemilikan lahan, aksesibilitas saprodi, dan aksesibilitas pasar (dengan nilai p<0,05), dapat dikatakan bahwa hasil uji signifikan secara statistik atau disimpulkan terdapat perbedaan nyata antara Desa Pulokencana dan Desa Sukanegara. Status kepemilikan lahan di Desa Pulokencana lebih besar dibandingkan dengan yang di Sukanegara, sebaliknya aksesibilitas saprodi dan aksesibilitas pasar di Desa Sukanegara lebih baik daripada di Desa Pulokencana. Berdasarkan fakta di lapang, ternyata lokasi Desa Sukanegara terletak di dekat jalan utama sehingga memudahkan akses ke pasar, sedangkan lokasi Desa Pulokencana masuk ke dalam jalan setapak yang jaraknya lebih menyulitkan untuk akses ke pasar karena tidak adanya kendaraan umum (angkot) yang masuk ke dalam.

Hasil uji Mann-Whitney U-Test terhadap karakteristik kualitas penyuluhan dapat terlihat pada Tabel 35.

Tabel 35. Hasil uji Mann-Whitney U-Test terhadap kualitas penyuluhan

Variabel Mean Rank Mann-Whitney

U-Test Pulokencana Sukanegara  Intensitas penyuluhan 40,38 20,62 p=0,000  Materi penyuluhan 40,00 21,00 p=0,000  Metode penyuluhan 36,60 24,40 p=0,002

Pada Tabel 35 diperoleh nilai mean rank di Desa Pulokencana lebih besar daripada n (=30), maka dapat disimpulkan bahwa intensitas penyuluhan, materi penyuluhan, dan metode penyuluhan di Desa Pulokencana berbeda secara nyata dibandingkan dengan di Desa Sukanegara, nilai masing-masing adalah p=0,000 dan p=0,002 (p<0,05). Hal ini terjadi karena kegiatan penyuluhan melalui program FEATI lebih intensif di Pulokencana di bandingkan dengan di Sukanegara.

Pada Tabel 36 berikut ini adalah hasil uji Mann-Whitney U-Test terhadap kompetensi PPL.

Tabel 36. Hasil uji Mann-Whitney U-Test terhadap kompetensi PPL

Variabel Mean Rank Mann-Whitney

U-Test Pulokencana Sukanegara  Kompetensi kepribadian PPL 40,65 20,35 p=0,000  Kompetensi andragogik PPL 39,37 21,63 p=0,000  Kompetensi profesional PPL 39,37 21,63 p=0,000  Kompetensi sosial PPL 39,53 21,47 p=0,000

Berdasarkan Tabel 36 diperoleh nilai mean rank di Desa Pulokencana ternyata lebih besar dibandingkan di Desa Sukanegara baik dalam kompetensi kepribadian, andragogik, profesional, maupu n sosial PPL. Adapun jika dilihat dari nilai p=0,000 (p<0,05), maka dapat dikatakan bahwa hasil uji signifikan secara statistik atau disimpulkan bahwa ada perbedaan sangat nyata diantara keempat kompetensi PPL antara Desa Pulokencana dan Desa Sukanegara. Dengan demikian, dengan kehadiran program pemerintah di Desa Pulokencana maka PPL dapat lebih intensif dalam melakukan kegiatan penyuluhan pertanian. Hal ini

dirasakan oleh petani yakni dengan mereka diperhatikan lebih baik oleh PPL dan dipenuhi kebutuhannya, seperti pengembangan ternak lokal. Dengan adanya keterkaitan antara PPL dengan petani maka diharapkan dalam menghadapi masalah-masalah penyuluhan tidak tergantung kepada program dari pemerintah semata-mata tetapi merupakan kemandirian petani itu sendiri.

Hubungan Karakteristik Pribadi Responden dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Hubungan antara karakteristik pribadi responden dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL diduga memiliki kaitan yang erat atau memiliki hubungan yang nyata. Karakteristik pribadi responden yang diamati pada penelitian ini meliputi: (1) umur, (2) tingkat pendidikan formal, dan (3) kesertaan dalam pelatihan usahatani. Persepsi responden terhadap kompetensi PPL yang diteliti adalah persepsi mereka terhadap komptensi: (1) kepribadian PPL, (2) andragogik PPL, (3) profesional PPL, dan (4) sosial PPL. Hasil analisis hubungan karakteristik pribadi responden dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL per desa disajikan dalam Tabel 37.

Tabel 37. Hubungan karakteristik pribadi responden (X1) dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL (Y) per desa

Karakteristik Pribadi Responden

(X1)

Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL (Y)

Y1 Y2 Y3 Y4 DP DS DP DS DP DS DP DS  Umur (X1.1) -0,121 -0,239 -0,113 -0,239 -0,113 -0,202 -0,218 -0,202  Tingkat pendidikan formal ( X1.2) -0,013 0,398* 0,178 0,398* 0,178 0,470** 0,090 0,470**  Kesertaan dalam pelatihan usahatani (X1.3) 0,346 0,588** 0,348 0,588** 0,348 0,659** 0,223 0,659**

Keterangan: Y1:Kepribadian; Y2: Andragogik; Y3: Profesional; Y4: Sosial; DP: Desa Pulokencana;

DS: Desa Sukanegara; * korelasi nyata pada α=0,05;** korelasi nyata pada α=0,01

Hasil analisis hubungan karakteristik pribadi responden dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL dari dua desa disajikan dalam Tabel 38.

Tabel 38. Hubungan karakteristik pribadi responden (X1) dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL (Y) dari dua desa

Karakteristik Pribadi Responden (X1)

Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL (Y)

Y Y1 Y2 Y3 Y4

Umur (X1.1) -0,139 -0,249 -0,246 -0,232 -0,260 * 

Tingkat pendidikan formal (X1.2)

0,073 0,275* 0,346** 0,385** 0,360**

Kesertaan dalam pelatihan usahatani (X1.3)

0,408** 0,574** 0,562** 0,592** 0,562**

Keterangan: Y1:Kepribadian; Y2: Andragogik; Y3: Profesional; Y4: Sosial; DP: Desa Pulokencana;

DS: Desa Sukanegara; * korelasi nyata pada α=0,05;** korelasi nyata pada α=0,01

Hubungan Umur dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Hasil analisis Tabel 37 memperlihatkan tidak adanya hubungan yang nyata antara umur responden baik di Desa Pulokencana maupun Sukanegara, sedangkan jika melihat Tabel 38 maka dapat dilihat hubungan yang negatif yang nyata antara umur responden dengan persepsinya terhadap kompetensi kompetensi sosial PPL. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tua umur petani, maka semakin rendah persepsinya terhadap kompetensi sosial PPL. Petani khususnya di Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang dapat dikatakan relatif lebih muda jika dibandingkan dengan petani di Kabupaten lainnya. Sebagian besar responden yakni 50 persen berada pada rentang umur 35 sampai dengan 47, yakni rentang usia yang cukup baik dalam mengadopsi inovasi. Kompetensi sosial penyuluh sendiri merupakan kemampuan penyuluh berinteraksi/berhubungan sosial dengan sasarannya. Oleh karena itu, penyuluh memang lebih mudah untuk berinteraksi dengan petani yang berusia lebih muda dibandingkan dengan yang lebih tua. Maka hubungan sosial yang terjalin pun akan menjadi lebih baik lagi.

Menurut Iso (Deptan, 2010), salah satu kode etik penyuluh pertanian adalah sasaran penyuluhan tidak hanya terbatas pada petani dewasa; pengalaman menunjukkan bahwa penyuluhan terhadap anak-anak petani merupakan pengkaderan untuk selanjutnya merupakan kader-kader petani maju. Hal inilah yang kurang dikembangkan oleh PPL baik secara umum maupun di Kecamatan Pontang. Dengan demikian, diharapkan keterlibatan keluarga petani dapat dioptimalkan menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Hubungan Tingkat Pendidikan Formal dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Hasil uji statistik Tabel 38 ternyata menunjukkan bahwa sebaran tingkat pendidikan formal responden mayoritas berada pada kategori rendah baik di Desa Pulokencana maupun Desa Sukanegara. Jika dikaitkan dengan hasil analisis Tabel 37 mengenai hubungan antara tingkat pendidikan formal responden di Desa Sukanegara dengan persepsinya terhadap kompetensi andragogik, profesional, dan sosial PPL maka dapat dikatakan terdapat hubungan yang nyata diantara keduanya. Maknanya adalah semakin rendah tingkat pendidikan formal responden di Desa Sukanegara maka semakin rendah pula persepsinya terhadap kompetensi penyuluh pertanian baik dalam kompetensi kepribadian, andragogik, profesional maupun sosial. Dengan rendahnya tingkat pendidikan formal responden maka persepsi mereka terhadap kompetensi PPL menjadi rendah pula. Dengan demikian, hendaknya dalam memberikan penyuluhan, PPL di Kecamatan Pontang lebih memfokuskan pada petani yang sudah memperoleh pendidikan formal yang cukup tinggi. Bukan hanya itu saja, PPL juga diharapkan dapat memberikan kesadaran kepada petani agar mereka dapat memberikan pendidikan yang tinggi untuk keluarganya.

Hubungan Kesertaan dalam Pelatihan Usahatani dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Terdapat hubungan yang nyata antara kesertaan dalam pelatihan usahatani dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL (Tabel 38). Namun ternyata jika melihat hasil Tabel 37, ternyata yang memiliki hubungan yang nyata diantara kedua variabel adalah pada Desa Sukanegara. Kesertaan responden yang mayoritas tidak pernah mengikuti pelatihan usahatani khususnya di Desa Sukanegara ternyata berhubungan nyata dengan persepsi mereka dalam menilai kompetensi penyuluh. Hal ini berarti semakin tinggi kesertaan mereka dalam mengikuti pelatihan maka akan semakin tinggi pula persepsinya terhadap kompetensi kepribadian, andragogik, profesional, dan sosial penyuluh.

Temuan pada Tabel 37 menunjukkan bahwa petani di Desa Sukanegara sangat memerlukan kegiatan pelatihan usahatani. Dengan demikian, perlu ditingkatkan kembali kegiatan pelatihan usahatani di Desa Sukanegara agar petani

lebih mengenal penyuluhnya lebih baik dan merasakan positif kehadiran PPL di tengah-tengah mereka.

Berdasarkan Tabel 38 hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara karakteristik pribadi dengan persepsinya terhadap kompetensi PPL ditolak. Hubungan nyata yang terjadi hanya antara variabel kesertaan responden dalam pelatihan usahatani dengan persepsinya terhadap kompetensi PPL, sedangkan untuk variabel umur dan tingkat pendidikan formal tidak memiliki hubungan yang nyata dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL

Hubungan Karakteristik Usahatani Responden dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Hubungan antara karakteristik usahatani responden dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL diduga memiliki kaitan yang erat atau memiliki hubungan yang nyata. Karakteristik usahatani responden yang diamati meliputi (1) pengalaman berusahatani, (2) luas lahan, (3) status kepemilikan lahan, (4) aksesibilitas lembaga keuangan, (5) aksesibilitas saprodi, dan (6) aksesibilitas pasar. Persepsi responden terhadap kompetensi PPL yang diteliti adalah persepsi mereka terhadap komptensi: (1) kepribadian PPL, (2) andragogik PPL, (3) profesional PPL, dan (4) sosial PPL. Hasil analisis hubungan karakteristik usahatani responden dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL per desa dijelaskan pada Tabel 39.

Tabel 39. Hubungan karakteristik usahatani responden (X2) dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL (Y) per desa

Karakteristik Usahatani Responden (X2)

Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL (Y)

Y1 Y2 Y3 Y4 DP DS DP DS DP DS DP DS  Pengalaman berusahatani (X2.1) -0,047 0,318 -0,148 0,318 -0,148 0,281 -0,252 0,281  Luas lahan (X2.2) -0,102 -0,015 -0,178 -0,015 -0,178 0,078 -0,213 0,078  Status kepemi- likan lahan (X2.3) -0,129 0,165 0,000 0,165 0,000 0,252 0,029 0,252  Aksesibilitas lembaga keuangan (X2.4) 0,015 0,500** 0,174 0,500** 0,174 0,448* 0,229 0,448*  Aksesibilitas saprodi (X2.5) -0,089 0,489** 0,000 0,489** 0,000 0,417* -0,017 0,417*

Keterangan: Y1:Kepribadian; Y2: Andragogik; Y3: Profesional; Y4: Sosial; DP: Desa Pulokencana;

Hasil analisis hubungan karakteristik usahatani responden dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL dari dua desa disajikan dalam Tabel 40. Tabel 40. Hubungan karakteristik usahatani responden (X2) dengan persepsi

responden terhadap kompetensi PPL (Y) dari dua desa Karakteristik

Usahatani Responden (X2)

Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL (Y)

Y Y1 Y2 Y3 Y4  Pengalaman berusahatani (X2.1) 0,065 0,227 0,234 0,221 0,189  Luas lahan (X2.2) 0,121 -0,041 -0,052 0,014 0,001  Status kepemilikan lahan (X2.3) 0,086 0,210 0,250 0,301* 0,311*  Aksesibilitas lembaga keuangan (X2.4) 0,097 0,321* 0,391* 0,383* 0,396*  Aksesibilitas saprodi (X2.5) -0,096 -0,029 0,051 0,027 0,017

Keterangan: Y1:Kepribadian; Y2: Andragogik; Y3: Profesional; Y4: Sosial; DP: Desa Pulokencana;

DS: Desa Sukanegara; * korelasi nyata pada α=0,05; ** korelasi nyata pada α=0,01

Hubungan Pengalaman Berusahatani dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Berdasarkan hasil analisis korelasi Rank Spearman pada Tabel 39 dan Tabel 40 diketahui tidak terdapat hubungan yang nyata antara pengalaman berusahatani dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL. Jika melihat kembali Tabel 20 yang menunjukkan bahwa pengalaman berusahatani di Desa Pulokencana mayoritas pada kategori sedang, di Desa Sukanegara pada kategori rendah, dan penggabungan dua desa berada pada kategori sedang, maka dalam menentukan program penyuluhan sebaiknya disusun berdasarkan kebutuhan petani bukan hanya karena keberadaan program pemerintah. Petani di Desa Sukanegara sebaiknya difasilitasi juga seperti di Desa Pulokencana. Dengan demikian, kegiatan penyuluhan dapat menjangkau wilayah yang lebih luas lagi tidak hanya desa percontohan seperti Desa Pulokencana.

Hubungan Luas Lahan dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Hasil analisis Tabel 39 dan Tabel 40 menunjukkan bahwa variabel luas lahan ternyata tidak memiliki hubungan yang nyata dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL. Dalam kegiatan penyuluhan, karakteristik petani berdasarkan luas lahan ini merupakan salah satu unsur yang tetap perlu diperhatikan. Luasnya wilayah kerja penyuluhan pertanian dan banyaknya individu atau kelompok petani yang harus dilayani juga membutuhkan rasio petani dan PPL yang ideal serta dapat terpenuhinya sarana tranportasi, komunikasi, alat peraga dan biaya operasional pembinaan yang memadai. Tingkat penguasaan teknologi petani yang relatif terbatas di tengah persaingan pasar yang semakin ketat membutuhkan pendampingan pembinaan teknis dan manajemen secara intensif dan berkesinambungan. Hal ini menuntut adanya kapasitas aparat pembina teknis yang mampu melayani bimbingan teknologi secara spesifik (komoditas) sesuai dengan kebutuhan petani serta mampu berperan sebagai mediator terhadap sumber pembiayaan dan pasar. Dengan demikian, kehadiran BPP sebagai institusi penyuluh di tingkat terbawah juga perlu mendapatkan perhatian serius baik dari pemerintah daerah maupun pusat, sehingga kegaiatan penyuluhan juga dapat terselenggara lebih baik lagi.

Hubungan Status Kepemilikan Lahan dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Pada Tabel 39 diketahui tidak terdapat hubungan yang nyata hanya antara status kepemilikan dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL baik di Desa Pulokencana maupun di Desa Sukanegara. Jika melihat data Tabel 40, dapat diketahui bahwa status kepemilikan lahan responden memiliki hubungan yang nyata dengan persepsinya terhadap kompetensi profesional dan sosial PPL. Hal ini disebabkan karena PPL lebih banyak berhubungan dengan ketua/pengurus kelompok yang kebetulan lahan garapannya relatif lebih luas dari anggota kelompok. Namun, jika melihat hubungan antara status kepemilikan dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL di dua desa maka tidak terdapat hubungan yang nyata diantara keduanya.

Status kepemilikan lahan responden di Desa Sukanegara yang mayoritas menggunakan sistem bagi hasil ternyata turut mempengaruhi persepsi mereka terhadap kompetensi profesional dan sosial PPL. Temuan pada Tabel 22 menunjukkan bahwa dengan tidak memiliki lahan sendiri (bagi hasil) maka penerapan petani terhadap inovasi tidak dapat berjalan dengan baik. Temuan lainnya pada Tabel 31 dan Tabel 32 menunjukkan mayoritas petani di Desa Sukanegara mempersepsikan kompetensi profesional dan sosial PPL masih rendah. Jika melihat kembali Tabel 39, maka PPL sebaiknya melakukan diversifikasi usahatani lebih intensif lagi yakni salah satunya dengan lebih dominan memanfaatkan bidang peternakan khususnya itik yang kedepannya diharapkan menjadi produk peternakan unggulan di Kabupaten Serang.

Hubungan Aksesibilitas Lembaga Keuangan dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Pada Tabel 40 dapat tergambarkan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara aksesibilitas lembaga keuangan dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL di Desa Sukanegara. Jika melihat kembali pada Tabel 23 yakni mengenai sebaran responden berdasarkan aksesibilitas lembaga keuangan dapat diketahui baik di Desa Pulokencana maupun di Desa Sukanegara termasuk ke dalam kategori rendah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa semakin rendah aksesibilitas lembaga keuangan di desa Sukanegara maka akan semakin rendah persepsinya terhadap kompetensi PPL. Akan tetapi, jika melihat data penggabungan dari dua desa tersebut maka tidak terdapat hubungan yang nyata antara aksesibilitas lembaga keuangan dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL. Dalam penelitian ini, aksesibiltas lembaga keuangan petani termasuk dalam kategori rendah sehingga perlu peningkatan akses ini agar persepsi petani terhadap kompetensi PPL menjadi lebih baik.

Sumber permodalan yang digunakan di Desa Pulokencana mayoritas menggunakan kombinasi yakni dari bermodal sendiri dan memperoleh pinjaman/bantuan baik dari kelompok maupun pihak lainnya, sedangkan di Desa Sukanegara mayoritas menggunakan modal sendiri. Akses modal yang sulit khususnya di Desa Sukanegara sangat dirasakan oleh petani. Pinjaman berbentuk uang, pupuk ataupun ternak ke kelompok tani tidak seperti di Desa Pulokencana.

Hal ini tentu saja menjadi salah satu kendala bagi petani di Desa Sukanegara dalam melangsungkan kegiatan usahataninya.

Berdasarkan fakta di lapangan, BPP sebagai basis kegiatan penyuluhan di tingkat kecamatan ternyata lebih merupakan perpanjangan tangan BPKP. BPP tidak diberi dana otonom untuk penyelenggaraan kegiatan penyuluhan di wilayah kerjanya. Dengan demikian, BPP kesulitan untuk mengembangkan kegiatan penyuluhan di wilayahnya khususnya dalam hal pengembangan akses lembaga keuangan ini. Hal ini merupakan tantangan bagi kegiatan penyuluhan di Kabupaten Serang untuk masa mendatang. Diperlukan adanya upaya yang lebih serius lagi agar kegiatan penyuluhan dapat berjalan secara maksimal. Begitu pula dengan PPL di Kecamatan Pontang, tantangan yang perlu dikembangkan adalah menjembatani kesenjangan manajemen antara lembaga perbankan formal yang kebanyakan berada di daerah perkotaan dengan masyarakat petani yang tersebar di perdesaan. Pemberdayaan kelembagaan usaha kelompok untuk menjadi cikal bakal lembaga keuangan mikro di pedesaan perlu dilakukan melalui kegiatan penyuluhan. Pada akhirnya lembaga ini diharapkan dapat berkembang menjadi lembaga mandiri milik masyarakat petani perdesaan. Walaupun saat ini keberadaan bantuan pemerintah pusat yang diberikan kepada Gapoktan yakni PUAP bertujuan membantu keuangan petani, namun perlu bimbingan dan pengawasan yang lebih intensif lagi. Sebab, penerima dana PUAP adalah para petani yang tidak terbiasa mendapat bantuan modal dengan jumlah besar

Hubungan Aksesibilitas Saprodi dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Berdasarkan data Tabel 39 dapat terlihat bahwa variabel aksesibilitas saprodi responden tidak berhubungan nyata dengan persepsinya terhadap kompetensi PPL. Jika melihat hubungan di dalam dua desa, ternyata aksesibilitas saprodi responden di Desa Sukanegara memiliki hubungan nyata dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL. Dapat disimpulkan bahwa semakin rendah aksesibilitas di Desa Sukanegara maka akan semakin rendah persepsinya terhadap kompetensi PPL. Bantuan saprodi seperti bibit/benih, pupuk, obat (pestisida/ fungisida/herbisida) ke kelompok tani tidak dapat menjangkau semua anggota kelompok tani. Petani merasa kesulitan mencari saprodi di kelompok tani

sehingga mereka lebih mudah mencarinya di toko/kios. Adapun persepsi petani di Desa Sukanegara terhadap kompetensi PPL termasuk ke dalam kategori rendah. Dengan demikian, jika PPL lebih berperan dalam meningkatkan aksesibilitas saprodi petani di Desa Sukanegara maka pandangan petani terhadap kompetensi PPL akan menjadi lebih baik lagi.

Dengan demikian berdasarkan uji statistik pada Tabel 40 dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua yang menyatakan terdapat hubungan yang nyata antara karakteristik usahatani dengan persepsi petani terhadap kompetensi PPL ditolak.

Hubungan Kualitas Penyuluhan dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Hubungan antara kualitas penyuluhan dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL diduga memiliki kaitan yang erat atau memiliki hubungan yang nyata. Kualitas penyuluhan yang diamati adalah (1) intensitas penyuluhan, (2) materi penyuluhan, dan (3) metode penyuluhan. Hasil analisis hubungan antara kualitas penyuluhan dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL per desa disajikan dalam Tabel 41.

Tabel 41. Hubungan kualitas penyuluhan (X3) dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL (Y) per desa

Kualitas Penyuluhan

(X3)

Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL (Y)

Y1.1 Y1.2 Y1.3 Y1.4

DP DS DP DS DP DS DP DS  Intensitas penyuluhan (X3.1) 0,476** 0,585** 0,431* 0,585** 0,431* 0,650** 0,444* 0,650**  Materi Penyuluhan (X3.2) 0,692** 0,991** 0,459* 0,991** 0,459* 0,935** 0,534** 0,935**  Metode Penyuluhan (X3.3) 0,533** 0,657** 0,352 0,657** 0,352 0,725** 0,374* 0,725**

Keterangan: Y1:Kepribadian; Y2: Andragogik; Y3: Profesional; Y4: Sosial; DP: Desa Pulokencana;

DS: Desa Sukanegara; * korelasi nyata pada α=0,05; ** korelasi nyata pada α=0,01

Hasil analisis hubungan kualitas penyuluhan dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL dari dua desa disajikan dalam Tabel 42.

Tabel 42. Hubungan kualitas penyuluhan (X3) dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL (Y) dari dua desa

Kualitas Penyuluhan (X3)

Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL (Y)

Y Y1 Y2 Y3 Y4  Intensitas penyuluhan (X3.1) 0,462** 0,733** 0,695** 0,704** 0,711**  Materi Penyuluhan (X3.2) 0,557** 0,924** 0,897** 0,885** 0,896**  Metode Penyuluhan (X3.3) 0,530** 0,678** 0,612** 0,640** 0,648**

Keterangan: Y1:Kepribadian; Y2: Andragogik; Y3: Profesional; Y4: Sosial; DP: Desa Pulokencana;

DS: Desa Sukanegara; * korelasi nyata pada α=0,05;** korelasi nyata pada α=0,01

Hubungan Intensitas Penyuluhan dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Temuan penelitian menunjukkan bahwa semua karakteristik kualitas penyuluhan baik intensitas, materi, maupun metode penyuluhan di Desa Pulokencana, Desa Sukanegara, ataupun gabungan keduanya berhubungan nyata dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL. Intensitas penyuluhan pertanian (pada Tabel 26) yang terjadi pada kedua desa adalah relatif rendah, sedangkan jika melihat data per desa di Desa Pulokencana relatif tinggi dan di Desa Sukanegara relatif rendah. Persepsi responden terhadap kompetensi PPL secara umum termasuk ke dalam kategori sedang. Hal ini membuktikan bahwa semakin intensif pertemuan antara petani dan penyuluh akan menimbulkan persepsi yang positif petani kepada penyuluhnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Rogers (1995) yang berpendapat bahwa keberhasilan seorang penyuluh ditentukan oleh kemauan dan kemampuan penyuluh untuk menjalin hubungan secara langsung maupun tak langsung dengan masyarakat sasarannya. Intensitas penyuluhan di Kecamatan Pontang secara umum memang masih kurang optimal. Hasil korelasi tersebut menunjukkan bahwa jika intensitas penyuluhan ini ditingkatkan maka akan sangat membantu petani dalam mengenal penyuluh baik dari sisi kepribadiannya, andragogiknya, keprofesionalannya, dan dari sisi sosialnya.

Intensitas penyuluhan pertanian di Desa Pulokencana maupun Desa Sukanegara setidaknya dapat dilakukan sebulan satu sampai dua kali. Perencanaan

pertemuan yang telah disusun oleh PPL dan tercantum di dalam programa penyuluhan pertanian ternyata selama ini belum dapat diterapkan secara optimal. Penyebabnya diantaranya adalah kurangnya komitmen PPL sendiri dalam melaksanakan tugasnya. Kebutuhan petani seharusnya dirumuskan lebih baik lagi khususnya di Desa Sukanegara, sehingga petani turut merasakan fungsi keberadaan tenaga penyuluh di tengah-tengah mereka dan memiliki partisipasi yang tinggi dalam setiap kegiatan penyuluhan. Oleh karena itu, komunikasi yang berkelanjutan antara petani sebagai pelaku utama pertanian dan PPL yang bermitra dengan penyuluh swadaya perlu dijalin lebih optimal. Jika hal ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka persepsi petani terhadap kompetensi PPL akan lebih meningkat dan berdampak positif terhadap keberlangsungan penyelenggaran penyuluhan pertanian di Kecamatan Pontang.

Hubungan Materi Penyuluhan dengan Persepsi Responden terhadap Kompetensi PPL

Berdasarkan Tabel 41 dan Tabel 42 dapat diketahui bahwa materi penyuluhan di Desa Pulokencana, Desa Sukanegara, ataupun gabungan keduanya berhubungan nyata dengan persepsi responden terhadap kompetensi PPL. Materi penyuluhan dibuat berdasarkan kebutuhan dan kepentingan pelaku utama dan pelaku usaha dengan memperhatikan kemanfaatan dan kelestarian sumber daya pertanian, perikanan, dan kehutanan. Materi penyuluhan berisi unsur pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan modal sosial serta unsur ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, ekonomi, manajemen, hukum, dan pelestarian lingkungan (UUSP3K).

Kebutuhan materi penyuluhan di Desa Pulokencana dan Desa Sukanegara sangat perlu ditingkatkan dan dikembangkan. Dengan demikian, pendapat Tjitropranoto (2003) mengenai cakupan materi penyuluhan yang perlu diperluas, tidak lagi terbatas pada teknologi produksi namun juga memperhatikan teknologi panen, pengolahan, pengemasan, transportasi, informasi harga dan informasi pasar sangat penting untuk diaplikasikan oleh PPL di lapangan sehingga usahatani yang dikelola petani dapat menguntungkan dan berkelanjutan.

Dokumen terkait