SEKITAR pukul 01.00 dini hari, ponsel saya berbunyi. Sebuah SMS membuat konsentrasi saya agak terganggu. Padahal, saya lagi serius-seriusnya menikmati film Temptress Moon yang dibintangi
Gong Li dan Leslie Cheung di sebuah kamar hotel berbintang empat di Kawasan Sudirman, Jakarta. Biasa, malam itu saya lagi dapat jatah tidur gratis dari salah satu karib saya, Setiawan, 34 tahun, yang baru dapat promosi jabatan di sebuah perusahaan perminyakan.
Di layar ponsel saya tertulis pesan pendek yang membuat saya terpaksa melupakan sejenak kecantikan Gong Li.
MEET = 1) New Thai Sexy dancers 2 TEASE UR LIBIDO. 2) Thai BODY Massage 2 RELAX. 3) 10 Most Beautiful Thai MODEL 4 Limited time 2 FINISH UR LIBIDO. 4) Info call:
021-6269 XKX .
Ini bukan sembarang SMS dan bukan kali pertama saya menerimanya. Dalam sebulan, saya bisa menerima SMS serupa tiga sampai empat kali. Tiga tawaran menggiurkan yang ditulis tak ubahnya seperti iklan baris itu memang tengah menjadi salah satu menu seks utama di sejumlah
kelab elit di Jakarta saat ini. Jadi tak perlu heran kalau suatu ketika Anda mampir ke karaoke, kelab, sauna, diskotek, atau tempat pijat akan disuguhi puluhan gadis cantik asal Thailand.
"Cewek Thailand-nya asli betulan atau aspal?" Seorang teman, sebut saja Harry, 27 tahun, berseloroh ketika kami berbincang santai di Kawasan Pecenongan, Jakarta Barat, sambil menikmati aneka hidangan sea-food: kerang hijau rebus, kepiting saus tiram, dan gurame bakar sambal kecap. Tentu saja ceweknya asli, bukan aspal apalagi imitasi. Mereka diimpor langsung dari Thailand—negara yang banyak mendapatkan pemasukan devisa dari pariwisata seks yang "dilegalkan".
Nggak percaya? Saya pun melompat dari kasur dan langsung tancap gas menuju Kawasan Gajah Mada, lalu u-turn masuk ke Jalan Hayam Wuruk. Tepat di samping sebuah mal perbelanjaan, saya belok kiri dan berhenti di lobby sebuah hotel. Daripada susah mencari parkir, jalan satu-satunya: valet parking. Di sinilah lokasi kelab berinisial TE.
Harry, lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai
marketing promotion di perusahaan distributor
minuman pengimpor vodka dan wine itu sudah menunggu di depan meja resepsionis.
Begitu masuk, kursi-kursi di kelab TE sudah terisi sehingga banyak juga tamu yang harus berdiri. Sementara itu, di atas panggung terlihat enam orang penari berwajah khas Thailand tengah unjuk kebolehan.
O o o . . . .
Rupanya, seperti inilah sex-entertainmentyang
diberikan oleh gadis-gadis Thai. Tak beda jauh dengan isi SMS di ponsel saya. Pertama, mereka menyuguhkan pelayanan tarian tangju (baca: tanggal baju). Dalam aksinya, mereka tidak sekadar meliuk-liuk di depan tamu tanpa baju dengan goyangan sensual dan erotis, tetapi lebih dari itu. Mereka juga memberikan pertunjukan ekstra yang sejenis dengan Thai Girl Show berskala softcore.
Meskipun sebelumnya saya pernah menonton pertunjukan serupa di Patiaya, tetapi terus terang, saya kaget juga ketika di sebuah ruangan karaoke kelas VIP—yang ini di Jakarta lho, mereka dengan berani mempermainkan rokok, botol bahkan benda-benda tajam di bagian, maaf, alat vitalnya.
269 268
Kedua, mereka memberikan pelayanan seks a la body-massage dan Thai Scrub. Tak beda jauh dengan pelayanan body-massage yang juga biasa ditawarkan sejumlah tempat pijat dengan tenaga lokal yang banyak menjamur di Jakarta, para gadis Thai ini pun tak kalah gesit dan lihai dalam menjamu tamunya di atas ranjang anti-air yang dipenuhi busa. Bahkan, mereka punya menu andalan lain berupa pelayanan Thai Scrub
untuk menambah sensasi berekreasi-seksual: menggunakan spon dan bulu binatang selama proses body-massage berlangsung.
Tempatnya, tenta saja bukan di atas panggung. Kalau pun gadis Thai-nya mau, tamu yang booking, apa berani unjuk "ketelanjangan" di panggung dan dipelototi puluhan pasang mata. Makanya, kelab TE menyediakan fasilitas private room untuk menuntaskan transaksi body-massage
& Thai Scrub.
Yang tak kalah hebatnya adalah menu ketiga: 10 Most Beautiful Thai MODEL 4 limited time 2 FINISH UR LIBIDO. Waduh, kalau baca kalimatnya, kedengarannya kok agak-agak vulgar kali ya. Tapi yang pasti, menu ketiga ini adalah
pelayanan seksual a la full body contact service
(baca: pelayanan seks tuntas, tas, tass....) bersama gadis Thai untuk waktu satu jam. Sebutan model mungkin tidaklah terlalu muluk. Pasalnya, secara fisik, mereka memang memiliki tinggi tubuh di atas 170 cm, berkulit halus, berwajah khas Melayu, dan memiliki ukuran sex-appeal di atas rata-rata.
Barangkali, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, komunitas gadis Thai yang menjadi "penghuni" di sejumlah tempat hiburan malam itu sudah jadi tren tersendiri. Di beberapa tempat hiburan malam, mereka menjadi primadona yang menyebabkan tamu rela masuk daftar waiting list
sebelum mem-booking. Meski keberadaan pekerja seks lokal relatif murah, tetapi gadis-gadis Thai yang notabene mematok harga tinggi itu, nyatanya tetap menjadi incaran para lelaki berduit untuk menuntaskan wisata dan rekreasi seksual-nya.
Lihat saja pada malam Minggu di kelab TE. Para gadis Thai ini ditampilkan sebagai maskot acara. Sepuluh gadis Thai dengan dandanan seksi akan menari sensual di atas bar. Para tamu diberi kebebasan memberi minuman kepada mereka. Tamu tinggal mendekat, menaruh segelas
"shooters" di mulut, lalu para penari Thai itu akan menjemput dengan mulutnya juga. Dalam hitungan detik, mereka akan berjoget a la "kayang" sambil menenggak gelas minuman tanpa sisa. Aksi mereka tak ubahnya seperti pertunjukan penya-nyi dangdut Putri Vinata. Sebuah pemandangan yang, menurut saya, fantastis karena tak jarang aksi "beradu bibir" kerap terjadi.
"Rp 1,5 juta for new Thai sexy dancers and body Massage to tease your libido. Rp 2,5 juta for one most beautiful Thai model for limited time to finish your libido" jelas Harry, tak ubahnya seperti
seorang public relations.
Debus V
KINI, tarian Tangju dan atraksi Debus V dengan menu gadis-gadis asliThai bukan lagi jadi tontonan superspesial di sejumlah tempat hiburan. Artinya, buat orang-orang yang biasa kelayapan malam dan berwisata dari satu kelab ke kelab berikutnya, sudah nggak asing dengan tontotan seperti itu. Baru "dihukumi" superspesial, kalau penarinya asli pribumi.
272
"Yang lokal mana?" tanya saya pada Harry. "Kalau cuma gadis Thai, saya juga tahu," sambung saya.
Usut punya usut, gadis-gadis lokal yang berprofesi sebagai stripper, entah itu yang mangkal di sejumlah tempat hiburan atau freelance, ternyata mulai berani "unjuk gigi" dengan gerakan a la
Debus V, seperti yang dipraktikkan dalam Thai Girl Show di Pattaya.
Sebut saja di karaoke KB di bilangan Sudirman atau karaoke CI di Kawasan Hayam Wuruk. Di tempat tersebut, para stripper lokal-nya sudah berani "bermain-main" dengan rokok, buah-buahan, dan dildo.
Dalam aksinya, para stripper akan meng-gunakan empat hingga delapan batang rokok dalam kondisi menyala. Mereka juga dengan lihai menari-nari di atas meja. Tak cukup hanya rokok, mereka berani mempertontonkan adegan "bermain-main" dengan buah-buahan, seperti terong dan ketimun. That's it? No! Kita juga bakal dibuat melongo melihat kepiawaian mereka beratraksi dengan alat-alat bantu seks, seperti vibrator.
Dibanding Thai Girl Show, atraksi para
stripper lokal itu memang belum ada separuhnya. Tapi setidaknya, mereka tak mau ketinggalan dalam berinovasi. Kalau sebelumnya hanya meng-andalkan goyangan dan liukan sensual yang akhirnya berujung pada traksaksi seks, kini mereka mulai membumbuhinya dengan atraksi vulgar yang menggunakan rokok, buahan-buahan, dan dildo sebagai atribut.
Hebatnya, kalau Thai Girl Show kebanyakan dilakukan di atas panggung, maka para stripper
lokal melakukannya di private room, di atas sebuah meja atau sofa dan kapan pun bisa berinteraksi dengan tamu.
"Berarti bisa gaya bebas dong, Jo?" tanya saya.
"Embeerrr...!" seru Harry. "Jangan sok nanya-nanya deh, kayak elo nggak pernah liat saja," sambung Harry sambil menepuk pundak saya.
Ember...!!! Tampaknya sex-tainment yang disuguhkan sejumlah tempat hiburan malam atau dalam pesta-pesta tertentu, sudah melampui nalar sehat. Tak ada lagi batas-batas kevulgaran maupun
sisi kemanusiaan yang diperhatikan. Semua ber-inovasi dengan bebas atas nama: entertainment. Ya, inilah salah satu potret kevulgaran kota bernama Jakarta.
276