• Dengan kebijakan desentralisasi dan otda, tak selayaknya lagi pemda menggantungkan persoalan-persoalan penting daerahnya ke pusat. • Pemda harus mampu mengatasi permasalahannya sendiri, baik
melalui kerjasama antardaerah maupun dengan membentuk hubungan yang bersinergi dengan stakeholders terkait di daerah maupun pusat.
• Kerjasama antardaerah dan antara daerah dengan pusat perlu digalakkan untuk menjembatani permasalahan pembangunan yang masih menimbulkan kesenjangan antar daerah. Melalui cara ini pola relasi pusat dan daerah pun diharapkan makin harmonis.
2
• Ke depan setidaknya ada 7 hal yang perlu diprioritaskan pemda dalam meningkatkan kualitas dan/atau inovasi pelayanan publik:
• Pertama, perlunya inisiatif pemda dan pimpinan OPD serta komunitas-komunitas untuk membuat terobosan positif yang memajukan daerah.
• Kedua, peningkatan kualitas pelayanan birokrasi agar tercipta birokrasi yang profesional, efisien dan efektif. Dalam kaitan ini diperlukan penyusunan kriteria khusus dalam rekrutmen pegawai baru atau pelatihan ulang pegawai lama dengan menerapkan asas meritokrasi berdasarkan kompetensi. Keberhasilan daerah seperti beberapa daerah di Jawa dan di luar Jawa dalam hal public service reform merupakan upaya daerah dalam melakukan rasionalisasi pegawai dan penegakan sistem pelayanan yang ditetapkan.
3
• Ketiga, menyebarluaskan dan mereplikasikan keberhasilan daerah-daerah yang berhasil melakukan inovasi dan terobosan yang bermanfaat ke daerah-daerah lain. • Keempat, apresiasi dan pemberian penghargaan bagi daerah-daerah yang berhasil
menunjukkan inovasi konkrit.
• Kelima, perlunya menjamin kesinambungan inovasi pelayanan publik yang dilakukan daerah dengan melembagakannya di Pemda agar tak berusia seumur jagung.
• Keenam, perlu pembentukan pusat-pusat latihan, studi sampai analisis mengenai inovasi pelayanan publik yang mempertimbangkan local values, local wisdom dan
local genius, baik di tingkat universitas, civil society, maupun rubrik-rubrik khusus
media massa lokal.
• Ketujuh, perlu pula pembuatan sistem data base inovasi pelayanan publik yang mudah diakses, baik dari segi sumber daya manusia, anggaran, maupun jangka waktu pelayanan.
4
• Tantangan daerah saat ini dan ke depan akan semakin kompleks dikaitkan dengan era the new normal pasca Covid-19. Mengapa?
• Kehidupan masyarakat Indonesia sejak Maret yang lalu sampai saat ini mengalami perubahan yang cukup dramatis.
• Pola hidup orang Indonesia berubah: mulai dari sisi menjalani hidup sehat, aktivitas sosial-ekonomi, sosial-budaya, sosial-politik dan hukum.
• Secara umum yang tampak menonjol adalah munculnya kesadaran masyarakat tentang perlunya menjaga kesehatan dengan mencuci tangan sesering mungkin, memakai masker, menggunakan sanitizer, menjaga jarak sehat dan tidak bersalaman serta tak berada di kerumunan orang banyak.
5
• Siswa dan mahasiswa/kampus menjalani sistem belajar mengajar dengan pola distance learning.
• Pegawai diberikan tugas work from home. Rapat-rapat menggunakan virtual meeting. Diskusi, seminar, FGD juga dilakukan secara virtual/webinar.
• Toko-toko besar, sedang, kecil banyak yang tutup. Kuliner demikian juga. Jalanan di Jakarta relatif sepi meskipun biasanya luar biasa macet.
• Tanpa terasa masyarakat Indonesia menjalankan kehidupan dengan pola baru.
6
• New Normal adalah kebijakan membuka kembali aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan sesuai dengan konteks mengatasi pandemi.
• New Normal diberlakukan dengan kesadaran penuh bahwa wabah masih ada di sekitar kita.
• Untuk itu aktivitas ekonomi/publik dibolehkan dengan syarat menggunakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.
• Jika dikaitkan dengan pandemi, normal baru adalah situasi atau keadaaan di mana kita melakukan aktivitas normal sehari-hari tetapi dengan pola perilaku yang mengacu pada tatanan baru yang disebabkan Covid-19.
7
• Kehidupan normal baru menuntut sikap kita yang agile (able to move
quickly and easily) dan adaptif meskipun prakondisi itu belum kita
bangun bersama sebelumnya.
• Proses learning by doing yang kita jalani sejak Maret 2020 membuat kita tertatih-tatih melangkah karena masyarakat yang terfragmentasi dan kekuatan-kekuatan politik yang juga terfragmentasi membuat soliditas dan upaya membangun tatanan baru yang terintegrasi menjadi tak mudah.
• Demikian juga dengan pelayanan publik yang memerlukan adanya pola baru untuk beradaptasi dengan the new normal.
8
• Tatanan hidup baru dengan menerapkan protokol kesehatan bukan berarti kembali hidup dalam keadaan sebelum pandemi terjadi. Kebiasaan-kebiasaan baru sudah tercipta sejak Maret seperti mencuci tangan pakai sabun, mengenakan masker, menjaga jarak fisik termasuk menjaga daya tahan tubuh wajib dilakukan.
• Pemberlakuan PSBB berdampak langsung terhadap masyarakat, tak terkecuali pada sektor pelayanan publik seperti administrasi kependudukan dan pencatatan sipil, pelayanan kesehatan di berbagai tingkatan fasilitas kesehatan, pelayanan keuangan pada sektor jasa perbankan dan lain-lain.
• Tercatat sekitar 70,3% responden masih nyaman untuk mengurus sendiri ketimbang menggunakan mekanisme daring atau memakai jasa perantara (Survei Indeks Persepsi Maladministrasi/Inperma yang dilaksanakan oleh Ombudsman RI pada tahun 2019).
9
• Selain itu, terkait kenyamanan dalam mengakses informasi tentang standar layanan, sebanyak 51,6% responden memilih untuk bertanya langsung kepada petugas.
• Pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah menyebabkan pelayanan publik menjadi terhambat.
• Hal ini karena kecenderungan masyarakat Indonesia untuk mengakses layanan publik secara langsung masih sangat dominan sementara infrastruktur penunjang untuk pelayanan publik yang berbasis online masih belum optimal, baik dari sisi penyelenggara negara maupun sosialisasi pada masyarakat akan akses layanan publik secara online.
10
• Selain itu, kenyamanan dalam mengakses informasi tentang standar layanan menunjukkan bahwa sekitar 51,6% responden memilih untuk bertanya langsung kepada petugas.
• Pembatasan-pembatasan yang dilakukan pemerintah menyebabkan pelayanan publik menjadi terhambat.
• Masalahnya kecenderungan masyarakat Indonesia untuk mengakses layanan publik secara langsung masih sangat dominan sementara infrastruktur penunjang untuk pelayanan publik yang berbasis online masih belum optimal, baik dari sisi penyelenggara negara maupun sosialisasi pada masyarakat akan akses layanan publik secara online.
11
• Kebijakan new normal dengan penerapan protokol kesehatan membuat akses pelayanan publik kepada masyarakat menjadi terbatas.
• Karena itu, perlu memaksimalkan pelayanan publik dengan beralih ke sistem online yang selama ini telah berjalan.
• Upaya peralihan itu perlu dibarengi dengan memberi
edukasi/pemahaman serta sosialisasi secara masif kepada seluruh elemen masyarakat yang akan mengakses layanan publik untuk memanfaatkan sistem online dalam setiap layanan publik yang akan diakses sehingga pelayanan publik di tengah tatanan kehidupan baru "new normal" tidak terganggu dan menjadi lebih efektif dan efisien.***