• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

THREATS (T) 1 Harga pakan yang terus

meningkat.

2. Hambatan untuk masuk kedalam industri peternakan ayam kampung cukup kecil.

3. Kemudahan untuk

mendapatkan produk

pengganti.

4. Cuaca yang tidak menentu mempengaruhi tingkat kematian ayam

Strategi ST 1. Berusaha melakukan

inovasi pembuatan pakan yang lebih menghemat biaya namun tetap sesuai dengan kebutuhan protein

ayam kampung.

(S1,S3,T1, T2)

2. Melakukan pengembangan produk dengan menjual ayam kampung bukan dalam kondisi hidup. (S1, S2, S3,T2,T3).

Strategi WT 1. Memperbaiki kualitas SDM

yang ada saat ini dengan menambah informasi dan membina hubungan baik dengan sesama anggota agar tercipta pendistribusian tanggung jawab yang lebih jelas dan terbina hubungan yang penuh dengan unsur kekeluargaan.(W1,W4,T2,T 3,T4)

Penjelasan masing – masing alternative strategi yang dihasilkan dari Matriks SWOT adalah :

a. Strategi SO (strengths – opportunities)

Strategi SO adalah strategi memanfaatkan kekuatan internal untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal. Untuk strategi SO, strategi alternative yang muncul ada dua, yaitu Membuka jasa

layanan “Delivery Order” bagi konsumen dan menjalin kerjasama dengan pemasok DOC untuk keterjaminan kualitas dan kuantitas. Delivery Order yang dimaksudkan disini adalah kelompok mengantarkan langsung ayam yang telah dipesan oleh konsumen. Strategi untuk promosi hal ini bisa dilakukan dengan cara bebas biaya distribusi atau ongkos kirim untuk konsumen jabodetabek dan menambah biaya distribusi untuk konsumen luar jabodetabek sebesar 50 % dari biaya distribusi. Atau pilihan kedua dari alternatif ini untuk mengatasi masalah biaya adalah harga ayam kampung bagi konsumen yang menngunakan jasa layanan antar dikenakan kenaikan harga ayam hingga 300 rupiah per kilogramnya. Strategi selanjutnya adalah menjalin kerjasama dengan pemasok DOC untuk keterjaminan kualitas dan kuantitas. Selama ini, hubungan baik yang dibina oleh kelompok adalah sebatas pembelian DOC terhadap PT Unggul yang terus menerus setiap siklus. Namun, pembelian ini belum menggunakan kontrak kerjasama. Adanya kerjasama yang disarankan ini untuk menjamin jumlah pembelian dan kualitas DOC. Adanya jaminan jumlah dan kualitas dari kontrak ini dapat menguntungkan kelompok karena jika terjadi pelanggaran, maka kelompok dapat complain sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan. Selain itu, kontrak kerjasama ini juga akan menetapkan harga DOC sesuai dengan perjanjian kedua belah pihak.

b. Strategi WO (weaknesses-opportunities)

Strategi WO bertuuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal. Strategi alternative yang dihasilkan dari penggabungan kelemahan dan peluang ini adalah memperluas pemasaran ayam kampung ke pasar baru diluar pasar yang selama ini dijangkau oleh konsumen. Strategi memperluas pemasaran ayam kampung ke pasar baru dilakukan untuk mengatasi kelemahan pencarian pangsa pasar yang pasif dan belum memiliki pelanggan tetap dengan memanfaatkan peluang dari perubahan pola konsumsi masyarakat, citarasa yang lebih unggul, dan karakteristik ayam kampung yang lebih baik. Kelompok dapat memperluas pasar baru dengan mendistribusikan dan menawarkan produknya ke berbagai pasar selain pasar yang selama ini dimasuki oleh kelompok. Artinya, kelompok mencari pasar baru diluar Sukabumi, Tangerang, dan Kebon Jeruk. Hal ini juga bisa dimaksudkan dengan memasok ke pasar – pasar tradisional yang ada di wilayah Bogor untuk menjangkau konsumen yang lebih banyak

c. Strategi ST (strengths-threats)

Strategi ST adalah menggunakan kekuatan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal. Untuk strategi ST ini, alternative strategi yang dapat diterapkan adalah berusaha melakukan inovasi pembuatan pakan yang lebih menghemat biaya namun tetap sesuai dengan kebutuhan protein ayam kampung. Pakan yang digunakan oleh kelompok berasal dari pakan pabrik saja yaitu sinta BR 21E dengan kandungan protein sebesar 21 % sehingga biaya yang dikeluarkan cukup besar. Menurut Nawawi (2003), pakan yang diberikan pada ayam kampung dapat dihemat dengan mencampurkan pakan pabrik dengan bahan–bahan lain yang lebih murah dan mudah diperoleh seperti dedak atau jagung. Pada tahap awal pemeliharaan, pakan yang diberikan bisa menggunakan 60 hingga 70 % pakan pabrik dan sisanya adalah campuran jagung atau dedak karena pada fase awal, ayam memerlukan pakan dengan kandungan protein tinggi. Namun, pada fase selanjutnya, pakan pabrik bisa dicampurkan dengan dedak atau jagung dengan persentase lebih besar sebagai sumber energinya karena pada fase dewasa, ayam kampung tidak lagi memerlukan pakan dengan kandungan protein yang tinggi tetapi lebih memerlukan pakan dengan campuran kandungan protein yang lebih rendah dan sumber energi yang lebih tinggi. Karena jagung atau dedak mudah di dapat, maka jagung atau dedak ini dapat dicampurkan dengan pakan pabrik dengan persentase jagung sebesar 40-45 %. Sementara jika menggunakan dedak, maka persentase dedak yang disarankan adalah sebesar 30-40 %. Penggunaan jagung dan dedak ini dapat menghemat biaya pakan sehingga dapat meningkatkan keuntungan bagi kelompok tani sehati.

Selanjutnya adalah strategi melakukan pengembangan produk dengan menjual ayam kampung bukan dalam kondisi hidup. Dengan memanfaatkan sumber modal yang kuat, teknologi dan motivasi anggota yang baik diharapkan dapat mengurangi dampak ancaman pendatang baru mudahnya memperoleh produk substitusi. Selama ini, ayam kampung yang dijual masih dalam kondisi hidup dan hal ini relative sama dengan pesaingnya. Jika ayam kampung yang dijual dalam sudah dipotong dan bersih dari bulu, maka produk yang dijual Kelompok Tani Sehati telah berbeda dengan peternak lainnya. Jika hal ini dilakukan, walapupun menambah biaya, harga dapat dipatok lebih tinggi untuk dijual kepada pembeli.

d. Strategi WT (weaknesses-threats).

Strategi WT merupakan taktik defensive yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal serta menghadapi ancaman eksternal (David, 2009). Strategi alternative untuk Strategi WT ini adalah Memperbaiki kualitas SDM yang ada saat ini dengan menambah informasi dan membina hubungan baik dengan sesama

anggota agar tercipta pendistribusian tanggung jawab yang lebih jelas dan terbina hubungan yang penuh dengan unsur kekeluargaan. Memperbaiki kualitas SDM ini dapat dengan cara mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan oleh pemerintah atau mengajukan pertanyaan – pertanyaan ke UPT peternakan terkait pemeliharan ayam kampung yang benar. Selain itu, sumber pembelajaran juga bisa melalui buku – buku yang banyak tersedia mengenai pemeliharaan ayam. Adanya berbagai informasi ini dapat disesuaikan dengan keadaan pemeliharaan saat ini sehingga informasi tersebut dapat dikatakan tepat guna. Tidak hanya itu, pencarian informasi juga dapat dilakukan dengan studi banding terhadap kelompok tani atau peternak ayam kampung yang telah sukses. Pencarian informasi ini juga bisa dilakukan untuk mengetahui bagaimana pemasaran yang baik. Hal ini diharpakan memberikan implikasi pada pendistribusian tanggung jawab antar anggota yang lebih jelas. Adanya pendistribusian tanggung jawab ini membuat kerja kelompok lebih terarah dan tidak bergantung pada satu orang. Adanya pembagian tugas ini diharapkan dapat membuat kegiatan manajemen kelompok menjadi lebih baik dan terorganisir dengan baik.

Tahap Keputusan (Decision Stage)

Tahap keputusan merupakan tahap ketiga dalam kerangka perumusan strategi meurut David (2009). Pada tahap ini diputuskan strategi mana yang akan diterapkan atau diimplementasi dari beberapa alternative strategi yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk penentuan strategi yang akan diterapkan oleh kelompok tani sehati akan digunakan matriks QSPM sebagai alat penentuan keputusannya.

Matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix)

Matriks QSPM menggunakan input dari analisis tahap satu dan hasil pencocokan pada tahap dua untuk secara objektif menentukan strategi yang hendak dijalankan diantara alternatif yang telah dirumuskan. Teknik ini secara objektif menentukan strategi mana yang terbaik berdasarkan prioritas.

Berdasarkan hasil analisis matriks QSPM, dapat dilihat bahwa strategi yang terbaik yang harus dilakukan sekarang adalah memperluas pemasaran ayam kampung ke pasar baru diluar pasar yang selama ini dijangkau oleh kelompok. Strategi ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan penjualan serta upaya untuk menghadapi tingkat persaingan yang tinggi, dengan nilai TAS (Total Attractiveness Score) tertinggi sebesar 6.671. Seluruh alternatif strategi tersebut jika diurutkan berdasarkan prioritas adalah dapat diperingkatkan sebagai berikut :

1. Memperluas pemasaran ayam kampung ke pasar baru diluar pasar yang selama ini dijangkau. (W2,W3,O1,O3,O4,) dengan nilai STAS sebesar 6.671.

2. Memperbaiki kualitas SDM yang ada saat ini dengan menambah informasi dan membina hubungan baik dengan sesama anggota agar tercipta pendistribusian tanggung jawab yang lebih jelas dan terbina hubungan yang penuh dengan unsur kekeluargaan (W1,W4,T2,T3,T4) dengan nilai STAS sebesar 6.668.

3. Membuka jasa layanan “Delivery Order” bagi konsumen (S1,S2, S4,O1,O3,O4) dengan nilai STAS sebesar 6.313.

4. Melakukan pengembangan produk dengan menjual ayam kampung bukan dalam kondisi hidup. (S1, S2, S3,T2,T3). dengan nilai STAS sebesar 6.279.

5. Menjalin kerjasama dengan pemasok DOC untuk keterjaminan input untuk kualitas dan kuantitas. (S1,S3,O2) dengan nilai STAS sebesar 6.237.

6. Berusaha melakukan inovasi pembuatan pakan yang lebih menghemat biaya namun tetap sesuai dengan kebutuhan protein ayam kampung. (S1,S3,T1,T2) dengan nilai STAS sebesar 6.102. Nilai STAS yang diperoleh tersebut dapat dinterpretasikan bahwa skor yang lebih tinggi mengindikasikan strategi yang lebih menarik (David, 2009). Alternatif strategi diatas diharapkan dapat membantu kelompok tani sehati untuk meningkatkan penjualan sehingga dapat berimplikasi pada peningkatan keuntungan yang diperoleh. Penerapan strategi yang telah diprioritaskan ini membutuhkan beberapa kondisi, yaitu organisasi atau kegiatan manajemen kelompok tani telah berjalan cukup baik dan beroperasi sesuai dengan tingkatan korporasi. Tanpa pemenuhan kondisi tersebut, saran untuk menerapkan strategi yang telah diprioritaskan tersebut akan menjadi sulit karena harus memenuhi asumsi bahwa Kelompok Tani Sehati bekerja sesuai korporat. Apabila syarat ini terpenuhi, maka Kelompok Tani Sehati dapat menerapkan strategi yang telah diprioritaskan tersebut.

Dokumen terkait