• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tiga macam penderitaan dasar

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 94-97)

BAGIAN PERTAMA

KETIDAK-SEMPURNAAN DUNIA SAMSARA

II. PENDERITAAN KHUSUS YANG DIALAMI MAKHLUK DI ENAM ALAM

4. Alam manusia

4.1 Tiga macam penderitaan dasar

Meski kelahiran di tiga alam rendah dengan sendirinya membawa penderitaan, seseorang mungkin mengira bahwa terlahir ketiga alam yang lebih tinggi akan bahagia dan menyenangkan. Namun kenyataannya, bahkan di alam yang lebih tinggi pun tidak ada kebahagiaan.

4. Alam manusia

Manusia menderita tiga macam penderitaan dasar dan delapan rentetan penderitaan besar: lahir, tua, sakit dan mati; rasa takut bertemu dengan musuh yang dibenci; kehilangan orang yang dikasihi; penderitaan tidak memperoleh sesuatu yang diinginkan; dan menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.

4.1 Tiga macam penderitaan dasar

Penderitaan karena perubahan

Penderitaan karena perubahan adalah penderitaan yang kita alami ke-tika keadaan bahagia tiba-tiba berubah menjadi penderitaan. Suatu saat kita merasa baik, puas dan kenyang sesudah selesai makan enak, namun tiba-tiba kita diganggu oleh kekejangan yang disebabkan oleh parasit yang terbawa oleh makanan di perut kita. Suatu saat kita merasa bahagia, namun saat berikutnya musuh kita merampas semua kekayaan dan ternak kita; atau api menghanguskan rumah kita; atau tiba-tiba kita diserang oleh penyakit atau pengaruh makhluk jahat; atau kita difitnah orang – dan serta merta kita tenggelam dalam penderitaan.

Karena, sesungguhnya kesenangan, kebahagiaan dan ketenaran apa pun yang terlihat nyata yang kita dapatkan dalam alam samsara ini, sama sekali tidak memiliki kekekalan atau kemantapan sedikit pun, dan akhirnya mereka tidak dapat melawan rentetan penderitaan. Oleh sebab itu, tumbuhkan rasa kekecewaan terhadap semua itu.

Penderitaan dalam penderitaan

Kita mengalami penderitaan dalam penderitaan ketika sebelum suatu penderitaan berakhir, kita menderita penderitaan lainnya. Kita mendapat penyakit kusta, kemudian timbul bisul lagi. Lalu, selain berbisul, kita

89

terluka. Ayah kita meninggal, lalu ibu kita menyusul tidak lama sesudahnya. Kita dikejar musuh, lagi susah-susahnya, orang yang kita kasihi meninggal; dan seterusnya. Di mana pun kita terlahir dalam alam samsara, semua waktu kita habiskan dalam penderitaan di atas penderitaan lainnya, dengan tiada kebahagiaan sebentar pun.

Penderitaan segala sesuatu yang tergabung

Sekarang, mungkin ada di antara kita yang berpikir segalanya lagi baik-baik saja sementara ini, dan kelihatannya kita tidak banyak menderita. Kenyataannya, kita seluruhnya terbenam dalam sebab penderitaan. Karena makanan yang kita makan dan pakaian yang kita pakai sekarang ini juga, rumah kita, perhiasan dan perayaan yang memberikan kesenangan kepada kita, semuanya dihasilkan oleh perbuatan yang merugikan. Karena setiap perbuatan yang kita lakukan hanyalah rekaan dari perbuatan negatif, hal itu hanya akan membawa kita kepada penderitaan. Ambillah sebagai contoh teh dan tsampa.104

Di tempat teh dibudidaya di Tiongkok, jumlah makhluk kecil yang terbunuh saat teh ditanam, ketika daun teh dipetik dan seterusnya, tak mungkin dapat dihitung jumlahnya. Teh itu kemudian diangkut hingga Dartsedo oleh kuli pikul. Setiap kuli memikul dua belas bungkusan sebesar enam batu bata, dengan menahan beban itu disekeliling dahi yang dibalut dengan pembalut yang membuat kulitnya aus. Kendati tulang tengkoraknya kelihatan dan sudah berwarna putih, ia terus melanjutkan mengangkutnya. Dari Dotok ke tempat selanjutnya, dzo, yak dan bagal mengambil alih. Punggung mereka hampir patah, perut mereka penuh lubang luka,105 bulu mereka rontok dan kulit mereka menjadi lecet.

Mereka sangat menderita hidup sebagai budak. Membarter teh hanya melibatkan serangkaian janji yang tak ditepati, penipuan dan percekcokan.

Sampai akhirnya teh berpindah tangan, biasanya dengan imbalan barang yang dihasilkan binatang, misalnya wol dan kulit anak domba. Wol itu, sebelum dicukur pada musim panas, banyak sekali kutu dan binatang kecil lain merayap didalamnya, sebanyak jumlah helaian bulu domba itu sendiri. Waktu dicukur, kebanyakan serangga itu terpenggal, terpotong jadi dua bagian atau isi perutnya berhamburan. Yang tidak terbunuh tetap tinggal melekat pada bulu domba dan mati lemas. Akan kulit anak domba, ingatlah bahwa domba yang baru lahir memiliki organ indera secara lengkap. Mereka dapat merasakan kesenangan dan kesakitan.

Baru saja mereka menikmati saat-saat awal dalam hidupnya dengan

104 Tsampa, panggangan dari biji gandum yang digiling halus. Teh dan tsampa adalah dua makanan pokok di seluruh Tibet.

105 Punggung hampir patah karena menahan beban berat, perut penuh lubang luka karena gesekan tali yang melilit di perut waktu berjalan.

90

kesehatan yang sempurna, mereka dibunuh. Mungkin saja mereka hanyalah binatang-binatang yang bodoh, namun bagaimanapun juga mereka tidak ingin mati. Mereka mencintai kehidupan dan menderita saat mereka dibunuh. Sedangkan biri-biri betina yang anaknya dibunuh, mereka adalah contoh hidup-hidup dari kesedihan seorang ibu yang kehilangan anak tunggalnya. Oleh sebab itu, jika kita memikirkan produksi dan penjualan produk seperti ini, kita dapat mengerti, dengan barang yang diperjual-belikan seperti ini, bahkan satu sesapan teh saja cukup memberikan kontribusi ke kelahiran ke alam rendah.

Sekarang kita lihat tsampa. Sebelum benih gandum ditaburkan, tanah harus dibajak dulu, yang memaksa semua cacing dan serangga yang hidup di bawah tanah muncul ke permukaan tanah, dan mengubur semua yang hidup di permukaan tanah ke dalam tanah. Ke mana saja kerbau yang menarik bajak itu melangkah, ia selalu diikuti oleh burung gagak dan burung kecil lainnya yang tak henti-hentinya memakan semua makhluk-makhluk kecil tersebut. Ketika lapangan itu diairi, semua binatang yang hidup di air terdampar ke darat, sedangkan semua binatang yang hidup di tanah kering sekarang menjadi tenggelam. Sama halnya pada setiap tahap menanam bibit, pada saat memanen dan mengirik gandum, jumlah binatang yang terbunuh tak terhitung jumlahnya. Jika anda memikirkan hal tersebut, memakan tsampa hampir sama seolah-olah memakan bubuk serangga.

Dengan cara yang sama, mentega, susu dan makanan lainnya, “tiga macam makanan putih” dan “tiga macam makanan manis”106 yang kita anggap murni dan tak ternoda oleh perbuatan yang merugikan, tidaklah sama sekali demikian. Kebanyakan anak yak, anak sapi dan anak domba dibunuh. Yang tidak terbunuh, segera sesudah mereka lahir bahkan sebelum mereka sempat menetek susu ibunya yang manis, sudah dikalungi tali di lehernya dan ditambat di pancangan waktu berhenti sesaat melepaskan lelah di jalan, dan diikat satu sama lainnya dalam perjalanan, sehingga setiap suap susu – yang mana merupakan makanan dan minuman yang menjadi hak mereka – dicuri untuk membuat mentega dan susu. Dengan mengambil sari dari tubuh ibunya, yang mana merupakan barang yang sangat vital bagi anaknya, kita membiarkan mereka di tengah hidup dan mati. Ketika musim semi tiba, ibu-ibu binatang tersebut begitu lemah karena setiap hari susunya yang merupakan sari energinya diperah, sehingga mereka tidak dapat bangkit dari kandangnya. Kebanyakan sapi dan biri-biri mati kelaparan. Yang beruntung masih hidup, berada dalam keadaan lemah, kurus kering bak tangkai sudip, berjalan sempoyongan dan hampir mati.

106 Tiga macam makanan putih: susu, keju dan mentega; tiga macam makanan manis: gula batu, molase dan madu.

91

Semua faktor yang kita lihat yang seolah-olah merupakan kebahagiaan, makanan untuk dimakan, pakaian untuk dipakai, dan apa pun barang yang dapat kita pikirkan, – juga dihasilkan melalui perbuatan negatif semata. Hasil akhir dari barang-barang ini hanyalah siksaan yang tak terhingga di alam rendah. Oleh sebab itu, semua barang yang kelihatannya mewakili kebahagiaan sekarang ini, kenyataannya adalah penderitaan segala sesuatu yang tergabung.

Dalam dokumen Guru Padmasambhava. iii (Halaman 94-97)