Toby Liguira baru saja pulang dari liburannya di Italia. Ia mencari-cari Sbastian kakaknya dan menemukan sesuatu yang gila, seorang gadis kecil di ikat dalam keadaan tanpa busana di atas tempat tidur. Beberpa luka di tubuhnya menghasilkan darah yang menodai seprai putih. Toby juga bisa melihat beberapa buah kamera menyoroti gadis itu dan sebuah monitor komputer yang terhubung ke internet. Komentar-komentar gila bekas semalam masih ada dan Toby terperangah melihatnya.
Biarkan saja kaos kakinya, itu akan membuatnya lebih menggairahkan.
Aku ingin melihat rahimnya. Cabik-cabik bajunya dengan pisau.
Sayat lagi, lebih banyak darah.
Tiba-tiba ponsel Toby berdering, dari Sbastian kakanya. Toby berusaha menenangkan diri dan menjawab telpon itu. Sbastian tidak boleh tau kalau Toby sudah menjelajahi kamarnya yang selama ini terlarang untuk di masuki. Ia merasa beruntung sekaligus sial karena datang beberapa jam lebih awal dari rencana karena harus mengetahui kelakukan kakaknya.
“Hallo?”
“Kau sudah sampai dimana?”
“Aku masih di bandara!” Toby berbohong.
“Baguslah, jangan dulu pulang kerumah karena rumah masih sangat berantakan. Kau main-main saja dulu dan nanti ku jemput di rumah temanmu. Oke!”
“Baiklah!”
Dan Sbastian menutup telponnya.
Toby mengehela nafas dan baru mengetahui kalau kakaknya adalah stakler yang punya penyimpangan seks. Bukan hanya itu, ia
bahkan menjual hobynya untuk mendapatkan uang dari orang yang sama dengannya. Toby berusaha mengambil selimut dari dalam lemari dan menyelimuti gadis itu. Matanya memandangi wajah yang sangat lemah, gadis itu menangis, air mata mengalir dipipinya saat melihat Toby dan saat itu juga Toby tau kalau gadis itu masih dalam keadaan sadar meskipun tubuhnya sama sekali tidak bergerak.
“Kau tidak apa-apa?”
Toby menunggu lama. Gadis itu tidak menjawab ucapannya dan ia segera menduga kalau gadis itu mungkin sudah di cekoki obat. Toby mendekatkan mulutnya ke telinga gadis itu, “Aku akan membawamu pergi dari sini.”
Semuanya berlalu begitu cepat karena toby memang berusaha bergerak secepat yang dirinya bisa. Ia mengemasi semua barang-barang yang mungkin saja milik Haruka dan segera membawa gadis itu kerumah sakit dengan taksi. Toby harus menggu lama sampai dokter menyatakan kalau Haruka siap di temui.
“Obatnya sangat tajam. Penculik yang kau katakan itu sudah sering di cari-cari oleh polisi dan mereka memang sering mengincar anak sekolah, setelah ini ada baiknya kau melaporkannya segera!” Ujar dokter di depan pintu ruang rawat.
“Aku sudah melaporkannya, tapi aku menemukan gadis itu di sebuah rumah kosong.” Jawab Toby, ia berbohong. Walau bagaimanapun Toby tidak mungkin melaporkan kejahatan kakaknya. Biarkah ini semua hanya menjadi rahasianya sendiri. “Bagaimana dengan lukanya?”
“Tidak ada yang serius, beberapa sayatan di bagian perut dan dada. Untungnya tidak dalam. Mudah-mudahan tidak berbekas. Penculik itu sangat kejam, menyayat-nyayat tubuh seorang gadis sedangkan gadis itu dalam keadaan sadar dan bisa merasakan semuanya. Bukan hanya itu, gadis itu juga benar-benar sudah di perkosa berkali-kali. Vaginanya juga luka karena benturan benda
keras, sepertinya penculik itu melakukan hal yang lebih dari yang kita bayangkan. Gadis itu kelihatan sangat Shock, tapi sekarang sudah bisa di temui. Berhati-hatilah!”
Toby hanya bisa mengangguk. Ia lalu membuka pintu perlahan sambil menyilangkan tangannya sebagai antisipasi jika gadis itu melemparkan barang apa saja kearahnya. Ternyata tidak. Gadis itu hanya terbaring lemah dengan infus dan pipa oksigen di lubang hidungnya. Ia memandangi Toby masih dengan linangan air mata. Toby mendekat dan duduk di sebelahnya.
“Kau baik-baik saja?” Tanya toby dengan suara yang sangat pelan.
Gadis itu mengangguk “Siapa namamu?”
“Ha..ruka..” Jawab Haruka parau. “Mau minum?”
Haruka menggeleng. “Terimakasih”
“Hanya minum tidak perlu berterimakasih.” “Terima kasih sudah menolongku!”
Toby memandangnya iba. “Kau pasti sangat ketakutan. Kalau begitu semua hal seperti itu tidak perlu di ingat-ingat lagi. Lupakanlah.”
Haruka mengangguk lalu kembali berbisik. “Aku ingin pulang!”
“Aku tau, tapi sebaiknya kau pulih dulu. Mudah-mudahan besok baikan. Tapi sebaiknya setelah ini kau pergi menjauh dari Manhattan, berubahlah menjadi orang lain dan jangan biarkan penculik itu mengenalimu. Stalkler biasanya setia mengincar satu orang yang di anggapnya..”
“Aku akan ke hokaido dua hari lagi. Ibuku pasti sudah menunggu.” Haruka memotong masih dengan suara lemahnya.
Toby mengangguk. “Kalau begitu beri tau aku nomor telpon rumah atau ponsel ibumu. Aku akan menghubunginya!”
“Tuan, jangan katakan apa-apa pada ibuku tentang masalah ini, katakan saja aku mengalami kecelakaan dan kau membantuku. Aku harap semuanya baik-baik saja karena aku tidak mau membuatnya lebih khawatir.
Toby mengangguk. “Aku akan mengusahakan agar dokter bisa memberimu izin pulang besok. Tadi dia bilang tidak ada luka yang serius, kau hanya shock dan seharusnya kau bisa pulang besok. Sekarang beristirahatlah. Aku akan berjaga di luar pintu ruang rawatmu, jadi tidurlah dengan tenang.”
Tiba-tiba seseorang masuk. Seorang wanita dengan setelan kerjanya menghampiri Toby dan langsung marah-marah. Toby memintanya diam dan menghargai Haruka yang sedang sakit. Meskipun masih kesal wanita itu berusaha menyembunyikan amarahnya dan menoleh kepada Haruka dengan pandangan sedih.
“Kau juga korbannya?” Desisnya. “laporkan dia ke polisi!” “Mana bisa begitu.” Toby memotong.
“Sampai kapan kau akan terus membelanya? Aku sudah mengatakan kepadamu sebelumnya tapi kau tidak percaya. Perlu berapa korban lagi agar kau sadar kalau kakakmu sakit jiwa?”
Toby menggigit bibirnya. Ia memandangi wanita itu dengan perasaan bersalah dan hanya bisa mendengus pelan saat wanita itu mendekati Haruka dan membelai kepalanya.
“Aku Viva Medelsohn. Aku juga korban dari Sbastian!” katanya. “Apapun yang pernah di lakukannya kepadamu juga pernah di lakukannya kepadaku. Tapi aku beruntung karena saat itu aku sangat mencintainya dan semua penderitaanku ku anggap sebagai pengorbanan yang tak terlupakan. Tapi dirimu tentunya tidak begitu.” Viva Medelshon mendesah lalu membuka cangkir plastik berisi kopi panas yang sejak tadi di bawa-bawanya kemana-mana. Ia menjulurkannya kepada Haruka dengan sebuah senyum yang ramah. “Saat aku mendapati diriku dalam keadaan sepertimu, kau tau apa yang terjadi? Toby memberiku kopi dan itu berhasil
menenangkanku. Sekarang Toby memesan ini untuk di berikan kepadamu, Kau mau?”
Haruka memandang Toby dan Viva Medelshon bergantian. Sebuah aroma hangat merebak menyumbat hidungnya memberikan perasaan yang manis dan tenang. Ia memandangi Kopi itu sejenak lalu mengangguk. “Aku mau!”