T rend TIK
1.1. TIK DAN PERTUMBUHAN EKONOM
Saat ini, Indonesia memiliki peran strategis dalam perekonomian dunia. Selaku negara anggota G20, Indonesia mempunyai andil dalam membahas isu penting perekonomian. Selain itu, IMF juga memperkirakan pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi 6 besar negara yang menguasai perekonomian dunia. Namun demikian, Indonesia tetap dituntut untuk mampu dan siap berkompetisi dengan negara lainnya terutama dengan semakin ketatnya persaingan ekonomi dunia. Dalam hal ini, TIK mempunyai peran dalam memperkokoh kekuatan ekonomi, kekuatan intelektual, dan kekuatan sosial.
Pengaruh TIK pada pertumbuhan ekonomi salah satunya dapat dilihat dari kontribusinya pada input faktor produksi seperti investasi dan penyerapan tenaga kerja. Selain itu, TIK juga berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan nilai tambah jasa atau produk yang dihasilkan sektor TIK, serta peningkatan produktivitas dari sektor-sektor yang memanfaatkan atau menggunakan produk dan jasa TIK.
Penelitian mengenai pengaruh TIK terhadap perekonomian di beberapa negara telah banyak dilakukan. Salah satunya adalah studi yang dilakukan World Bank11 terhadap 120 negara, dalam kurun waktu 1980-2006, yang menyimpulkan bahwa kenaikan 10 persen penetrasi broadband dapat meningkatkan PDB per kapita sebesar 1,38 persen di negara berkembang dan 1,21 persen di Negara maju. Selain itu, penelitian dari McKinsey Global Institute12 mengungkapkan bahwa sumbangan internet bagi PDB negara-negara besar mencapai 3,4 persen dan untuk tingkat dunia kontribusi tersebut adalah sekitar 2,9 persen.
Untuk tingkat nasional, kajian mengenai dampak TIK terhadap perekonomian Indonesia masih sangat terbatas. Salah satu studi yang terbaru adalah yang dilakukan oleh Deloitte13 dengan kesimpulan bahwa Internet telah memberikan kontribusi langsung sebesar 1,6 persen bagi PDB Indonesia. Nilai kontribusi Internet ini ternyata melebihi nilai ekspor peralatan elektronik, manufaktur gas alam cair, serta manufaktur kayu dan produk lainnya. Namun demikian, angka kontribusi tersebut masih dibawah negara-negara lain di Asia seperti Hongkong (5,9 persen), India (3,2 persen) dan Cina (2,6 persen).
Selanjutnya, berdasarkan data BPS sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 1.1, meskipun kontribusi sektor pos dan telekomunikasi terhadap PDB berfl uktuasi namun mempunyai kecenderungan yang terus
BAB 1
Trend TIK
11 World Bank, Extending Reach and Increasing Impact. Information & Communications Technology for Development, 2009. 12 Manyika, J. and Roxburgh, C, “The Great Transformer: the impact of the internet on economic growth and prosperity”,
McKinsey Global Institute, 2011.
13 Deloitte, 2011, “Nusantara Terhubung: Peran Internet dalam pembangunan ekonomi Indonesia”, Deloitte Access Economics, Sydney, www.deloitte.com/au/economics.
meningkat dari 2,61 persen (Rp. 103,3 Trilyun) pada tahun 2007 hingga mencapai mencapai 2,86 persen (Rp. 212,2 Trilyun) pada tahun 2011. Secara umum rata-rata kontribusi Pos dan Telekomunikasi dalam rentang 2007 – 2011 adalah sekitar 2,72 persen per tahun.
Sumber : Data BPS (diolah)
Gambar 1.1. PDB Pos dan Telekomunikasi dan Persentase Kontribusinya Bagi PDB Nasional
Selain itu, kontribusi sektor TIK bagi perekonomian Indonesia juga dapat dilihat dari peningkatan besarnya Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang disetorkan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika rata-rata 25 persen pertahun. Gambar 1.2. menunjukkan realisasi penerimaan PNBP tersebut yang walaupun agak berfl uktuasi namun selalu melampaui target yang telah ditetapkan dan mempunyai kecenderungan meningkat.
Sumber : Kementerian Kominfo 2011
Gambar 1.2. Total dan Target PNBP Kementerian Kominfo
Angka dan data tersebut menunjukkan bahwa TIK mempunyai dampak positif yang cukup berarti bagi perekonomian baik dalam tingkat dunia maupun negara. Pada era konvergensi digital, efek positif TIK cenderung semakin kuat. Hal ini tentunya berkaitan dengan pemanfaatan TIK secara luas dalam mendukung dunia usaha, pendidikan, pelayanan pemerintah, dan segala aspek kehidupan masyarakat. Berkenaan dengan potensi kontribusi TIK bagi perekonomian tersebut, maka beberapa negara telah secara khusus menempatkan TIK dalam kebijakan nasionalnya.
Sebagai contoh, pemerintah Australia telah membentuk Department of Broadband, Communications, and the Digital Economy yang bertujuan untuk mempromosikan ekonomi digital melalui pengembangan sektor broadband, penyiaran, dan komunikasi yang kokoh, kompetitif dan berkelanjutan.14 Selain itu, Presiden Amerika Serikat Barrack Obama, setelah menyatakan dukungannnya dalam memanfaatkan infrastruktur broadband sebagai platform pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan15 di tahun 2010, pada bulan Juni 2012 mengeluarkan executive order16untuk mempercepat pembangunan infrastruktur broadband yang melibatkan berbagai instansi terkait.
Sejalan dengan tren pembangunan TIK internasional tersebut, Pemerintah Indonesia juga telah meningkatkan perhatiannya terhadap TIK sebagai pendukung pembangunan ekonomi. Selain telah membentuk Kementerian yang khusus menangani komunikasi dan informatika, di dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang diluncurkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 27 Mei 2011 Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan telematika sebagai salah satu dari delapan program utama17 dan salah satu dari 22 kegiatan ekonomi utama18 sebagaimana terlihat pada Gambar 1.3.
Sumber : MP3EI, 2011
Gambar 1.3. Kegiatan Ekonomi Utama
14 http://www.dbcde.gov.au/about_us/corporate_plan_2011-13.
15 http://www.whitehouse.gov/the-press-offi ce/statement-president-national-broadband-plan.
16 http://www.whitehouse.gov/the-press-offi ce/2012/06/14/executive-order-accelerating-broadband-infrastructure- deployment.
17 Delapan program utama meliputi pertanian, pertambangan, energy, industry, kelautan, pariwisata, dan telematika. 18 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011, ‘Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia’, Jakarta.
Program utama dan kegiatan ekonomi utama tersebut merupakan fokus dan pengembangan strategi kebijakan dalam rangka percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang didasari oleh semangat “Not Business as Usual”. Perumusan strategi kebijakan tersebut juga merupakan salah satu wujud
22
Kegiatan
Ekonomi
Utama
Besi Baja Alutsista Kelapa Sawit Karet Pertanian Pangan Jabodeta- bek Area KSN Selat Sunda Peralatan Transportasi Makanan Minuman Minyak dan Gas Pariwisata Perikanan Bauksit Tembaga Nikel Batubara Kakao Peternakan Perkayuan Telematika Perkapalan Tekstilperan pemerintah dalam memberikan perangkat aturan dan regulasi yang akan memberi insentif kepada dunia usaha dalam membangun kegiatan produksi dan infrastruktur secara paripurna.
Selanjutnya, TIK khususnya infrastruktur broadband juga ditetapkan sebagai salah satu infrastruktur bagi konektivitas nasional sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.4. Terkait dengan hal tersebut telah ditargetkan pembangunan National Broadband Network (NBN) dalam kurun waktu 2010-2015 khususnya untuk jaringan fi xed broadband.
Sumber : MP3EI, 2011
Gambar 1.4. Kerangka Kerja Konektivitas Nasional
Secara singkat dapat dikatakan bahwa TIK di era konvergensi digital akan mempunyai peran signifi kan bagi perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Hal ini mendorong Indonesia untuk membuat perencanaan terpadu dengan beberapa komponen pembentuk konektivitas nasional yang meliputi: (a) Sistem Logistik Nasional (SISLOGNAS); (b) Sistem Transportasi Nasional (SISTRANAS); (c) Pengembangan Wilayah (RPJMN dan RTRWN); (d) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT).