• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa upaya tindak lanjut yang telah dan akan dilakukan oleh Direktorat Perlindungan Hortikultura untuk perbaikan tersebut, antara lain sebagai berikut:

1. Meningkatkan koordinasi dengan Satker Diperta provinsi supaya realisasi capaian kegiatan perlindungan baik keuangan maupun fisik menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.

2. Pada TA 2015, sebaiknya Satker dinas menunjuk petugas UPTD menjadi verifikator kegiatan masing–masing, supaya proses penyiapan administrasi cepat dan pencairan dana untuk kegiatan dapat dipenuhi dalam jangka waktu 2 – 3 hari.

3. Laporan evaluasi perlindungan yang disampaikan sebaiknya dapat memotret realisasi 5 IKU perlindungan, atau minimal menyajikan secara ringkas dalam bentuk matrik dan permasalahan serta progress penyelesaiannya dijelaskan secara lisan,

sehingga kendala yang timbul di lapangan dapat dicarikan solusi penanganan yang lebih efektif guna meningkatkan capaian kegiatan pada tahun mendatang.

4. Perubahan pola serangan OPT hortikultura dari musiman menjadi merata sepanjang tahun, kiranya menjadi bahan rekapan series data (minimal 5 musim/tahun) di daerah karena dengan mengetahui hubungan unsur iklim dengan perkembangan OPT, menjadi bahan rekomendasi dalam kegiatan DPI.

5. Revitalisasi SLPHT hortikultura mendesak dilakukan dengan melibatkan pakar dan stakeholder, agar pelaksanaannya di lapangan sesuai pedum, sehingga pengendalian OPT ramah lingkungan dan tersedianya mutu produk aman konsumsi makin meningkat dari tahun ke tahun.

6. Untuk mengurangi emisi GRK pada hortikultura, diperlukan demplot–demplot budidaya sesuai GAP yang mampu menurunkan emisi GRK baik pada hortikultura semusim maupun tanaman tahunan.

7. Pengadaan alat dan bahan untuk kegiatan perlindungan dalam rangka kesejahteraan petani, diperlukan perencanaan dan koordinasi yang baik antara satker, ULP dan tim teknis kegiatan, sehingga output yang dihasilkan tersedianya sarana perlindungan sesuai rencana, efektif, efisien, ekonomis dan tertib aturan (3 E + 1 T).

8. Upaya pemecahan masalah dalam kegiatan perlindungan hortikultura tahun 2014 yaitu meningkatkan kegiatan fasilitasi pelaksanaan SLPHT/Penerapan PHT/SLI, Klinik tanaman/PPAH, dan gerakan pengendalian OPT hortikultura ramah lingkungan oleh kelompok tani, sehingga mendorong penumbuhan keyakinan kepada petani terhadap upaya alternatif pengendalian yang berwawasan/ramah lingkungan, yang apabila dilaksanakan dengan baik dan benar mampu menekan serangan OPT dan meningkatkan kwalitas hasil.

9. Melakukan forum koordinasi pada tingkat lapang terhadap pengenalan dan perbanyakan dan pemanfaatan Agens Hayati dan Biopestisida pada petani dan petugas lapang. Memberikan bimbingan dan pembinaan serta peningkatan kemampuan/ketrampilan petani dan petugas dalam upaya pengelolaan OPT berdasarkan sistem PHT, pemberdayaan petani melalui kegiatan SLI dan SLPHT perlu ditingkatkan THL POPT perlu dimaksimalkan dan diusulkan menjadi PNS.

10. Menyusun regulasi tentang pendaftaran, produksi, standar mutu dan peredaran pestisida biologi.

11. Melakukan pencermatan pada Pedoman Teknis dan Petunjuk Pelaksanaan kegiatan agar pelaksanaan kegiatan berjalan dengan benar dan sesuai aturan. Disamping itu pencermatan POK perlu dilakukan agar jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana semula dapat segera dilakukan ralat dan atau revisi POK;

12. Identifikasi CP/CL agar dapat dilakukan di tahun sebelumnya, proses lelang dapat dilakukan di awal tahun, sehingga pelaksanaan kegiatan tanam juga dapat dilakukan pada musim tanam di awal tahun;

13. Berkoordinasi secara intensif antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten dalam rangka mempercepat pelaksanaan kegiatan strategis;

14. Peningkatan kuantitas dan kualitas SDM POPT dan sarana pengamatan OPT dan iklim serta gerakan pengelolaan OPT Hortikultura ramah lingkungan dengan optimalisasi pelaksanaan SLPHT, Klinik PHT, dan pengembangan agens hayati pada masing-masing lokasi kawasan pengembangan hortikultura dan peningkatan kualitas laboratorium pengamatan hama penyakit serta laboratorium pestisida pada wilayah tertentu.

BAB IV. PENUTUP

Perlindungan tanaman sebagai suatu subsistem produksi, diharapkan berperan luas dalam peningkatan produksi dan peningkatan mutu produk yang berdaya saing, dan akses pasar yang lebih baik. Peran tersebut adalah menurunnya luas kerusakan lahan dan kehilangan hasil akibat DPI dan serangan OPT, terwujudnya keberhasilan usahatani melalui upaya pengelolaannya yang efektif dan efisien dengan penerapan teknologi sesuai prinsip PHT, terwujudnya produk hortikultura yang bebas dari cemaran/residu pestisida dan kelestarian lingkungan hidup, serta terpenuhinya persyaratan perdagangan global/SPS–WTO. Harapan tersebut merupakan sasaran pelaksanaan program dan kegiatan perlindungan tanaman, yaitu membangun sistem perlindungan tanaman yang efektif dan efisien serta tertib aturan.

Beberapa langkah yang perlu ditingkatkan untuk mencapai kinerja Direktorat Perlindungan Hortikultura yang baik, efektif dan efisien, antara lain sebagai berikut:

a. Peningkatan kemampuan SDM pelaku perlindungan hortikultura terutama petugas dan petani dalam pengelolaan OPT hortikultura (pengenalan/identifikasi, pengamatan, analisis dan pengambilan keputusan pengendalian). Kegiatan-kegiatan seperti koordinasi, sosialisasi, pemasyarakatan terkait pengamatan, pengendalian, penerapan teknologi ramah lingkungan (agens hayati dan biopestisida), dan penerapan PHT melalui SLPHT, telah menjadi kegiatan penting jajaran UPTD BPTPH, sehingga perlu dijadikan ciri khusus pelaksanaan perlindungan tanaman.

b. Koordinasi apresiasi penerapan teknologi pengendalian OPT dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi perlu ditingkatkan, sehingga hasil-hasil pengembangan teknologi dari institusi perlindungan tanaman, Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP), memperoleh dukungan keilmiahan, sehingga teknologi tersebut mudah diterima, diterapkan dan dimasyarakatkan oleh petani.

c. Penyediaan dana yang memadai, baik yang bersumber dari APBN, APBD I, APBD II, maupun masyarakat petani untuk mendukung kegiatan perlindungan tanaman, terus diupayakan dan didorong ketersediaannya oleh semua pihak.

d. Meningkatkan koordinasi dan komunikasi yang efektif antara satker dan penanggung jawab kegiatan dalam memilih pemenang tender barang supaya kualitas dan waktu

penyaluran alat dan bahan sesuai aturan yang ditetapkan bersama dan memenuhi kaedah SPI.

Semoga laporan LAKIN 2015 ini dapat bermanfaat bagi pengambilan kebijakan di bidang perlindungan untuk masa – masa yang akan datang.

Lampiran 1. IKU DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA 1. Tugas

Melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perlindungan hortikultura.

2. Fungsi

a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang perlindungan tanaman buah, sayuran dan obat, florikultura, pengelolaan dampak iklim dan persyaratan teknis;

b. Pelaksanaan kebijakan di bidang perlindungan tanaman buah, sayuran dan obat, florikultura, pengelolaan dampak iklim dan persyaratan teknis;

c. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang perlindungan tanaman buah, sayuran dan obat, florikultura, pengelolaan dampak iklim dan persyaratan teknis;

d. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perlindungan tanaman buah, sayuran dan obat, florikultura, pengelolaan dampak iklim dan persyaratan teknis; dan

e. Pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat Perlindungan Hortikultura. 3. Sasaran dan Indikator Kinerja Utama

No. Sasaran Indikator Kinerja

Utama Sumber Data

1. Meningkatnya produksi, produktivitas dan mutu produk hortikultura yang aman konsumsi, berdaya saing dan berkelanjutan, dan terkelolanya serangan OPT secara ramah

lingkungan dalam pengamanan produksi

1. Pengelolaan OPT

ramah lingkungan Laporan dari BPTPH dan Dinas Pertanian Propinsi.

2. Dampak Perubahan

Iklim Laporan dari BPTPH dan BMKG 3. Pengembangan

Lembaga Perlindungan Tanaman

Laporan dari Balai Proteksi tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH)

4. Penerapan PHT/SLPHT Laporan dari Balai Proteksi Tanaman Pangan dan

Lampiran 2. RENCANA KINERJA TAHUNAN

UNIT ORGANISASI ESELON II :(a) DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA TAHUN ANGGARAN : (b) 2015

Kegiatan Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target

(1) (2) (3) (4) (5) Peningkatan usaha pengamanan dan system perlindungan hortikultura Meningkatnya produksi, produktivitas dan mutu produk hortikultura yang aman konsumsi, berdaya saing dan berkelanjutan, dan terkelolanya serangan OPT secara ramah lingkungan dalam pengamanan produksi 1 Peningkatan Pengelolaan OPT (kali) 2.183 2 Pengelolaan dampak perubahan iklim (rekomendasi) 75 3 Pengembangan Lembaga Perlindungan Tanaman (unit) 402 4 Penerapan PHT (Klp) 660 5 Pengamanan Produksi dari

Lampiran 4. PENGUKURAN KINERJA TAHUN 2015 DIREKTORAT PERLINDUNGAN HORTIKULTURA

Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi*) %

(1) (2) (3) (4) (5) Meningkatnya produksi, produktivitas dan mutu produk hortikultura yang aman konsumsi, berdaya saing dan berkelanjutan, dan terkelolanya

serangan OPT secara ramah lingkungan dalam pengamanan produksi

1 Peningkatan

Pengelolaan OPT (kali) 2.183 1.958 89,69

2 Pengelolaan dampak perubahan iklim (rekomendasi) 75 71 94,67 3 Pengembangan Lembaga Perlindungan Tanaman (unit) 402 391 97,20 4 Penerapan PHT (Klp) 660 649 98,33

5 Proporsi luas serangan OPT utama hortikultura terhadap total luas panen

- Maksimal luas serangan terhadap luas panen (%)

5,0 1,25 100

Keterangan: * Realisasi indikator sasaran merupakan angka laporan periode II (31 Desember 2015)

Lampiran 5. Perkembangan Luas Serangan OPT Dibandingkan Luas Panen Hortikultura Tahun 2014-2015* No. Uraian Nilai LS/LP *) (+/-), 2015* -2014 2014 2015* 1 2 6 1. Buah-buahan Luas panen, LP (ha) Luas serangan OPT, LS (ha) Porsi LS/LP (%) 100.793,67 3.147,54 3,12 457.308,84 4.315,75 0,94 (2,18) 2. Sayuran

Luas panen, LP (ha) Luas serangan OPT, LS (ha) Porsi LS/LP (%) 519.806,3 20.901,1 4,00 582.735 18.655,7 3,20 (0,8) 3. Florikultura

Luas panen, LP (ha) Luas serangan OPT, LS (ha) Porsi LS/LP (%) 1.110.518 3.918 0,35 3.331,68 183,6 0,45 0,1 4. Tanaman Obat Luas panen, LP (ha) Luas serangan OPT, LS (ha) Porsi LS/LP (%) 26.930 82,4 0,30 18.933,9 35,1 0,40 0,1 Rerata 1,94 1,25 (0,79)

*) Nilai LS / LP, proporsi luas serangan terhadap luas panen *) Data sementara, belum semua data terkumpul

- Capaian Proporsi Luas Serangan OPT Terhadap Luas Panen, sampai dengan bulan Desember 2015, ratarata adalah 1,25 % dengan kisaran antara 0,4% -3,20%. Meliputi OPT buah 0,94%, OPT Sayuran 3,20%, OPT Florikultura 0,45 % dan OPT tanaman obat 0,4 %. Proporsi luas serangan OPT Tahun 2015 turun 0,69% dibandingkan dengan TA 2014 (1,94 %).

Grafik Proporsi Luas Serangan OPT Hortikultura Terhadap Keseluruhan Luas Panen (2014-2015*)

- Pada tahun 2014 - 2015 mulai terjadi penurunan serangan OPT hortikultura yaitu pada tahun 2014 sebesar 1,94% dengan pengamanan produksi sebesar 98,06%; dan 1,25 % pada tahun 2015 atau mampu mengamankan produksi sebesar 98,75%. - Keberhasilan pencapaian pengamanan produksi hortikultura dari serangan OPT yang

cukup baik ini merupakan hasil atas dukungan pemerintah melalui kegiatan penerapan PHT/SLPHT, gerakan pengendalian OPT hortikultura ramah lingkungan, model penerapan adaptasi dan mitigasi iklim, penguatan kelembagaan perlindungan hortikultura (pengembangan LPHP/LAH/Lab. Pestisida, dan pengembangan Klinik PHT), serta kegiatan pendukung lainnya sinergisme sistem perlindungan menghadapi SPS – WTO (Sanitary and Phytosanitary of the World Trade Organization) dan kerjasama ACIAR (Australian Centre for International Agriculture Research) dalam penanganan lalat buah dalam rangka menurunkan luas serangan OPT hortikultura.

2014 2015* Buah-buahan 3.12 0.94 Sayuran 4 3.2 Florikultura 0.35 0.45 Tanaman Obat 0.3 0.4 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 Pr op or si L S/ LP (% )

Grafik Proporsi Luas Serangan (LS) OPT Hortikultura Terhadap Keseluruhan Luas Panen (LP) (2014-2015*)

Lampiran 6. Daftar Laporan OPT dan Bencana Alam Hortikultura Tahun 2015 No Provinsi Bulan % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1. NAD √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 2. Sumut √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 3. Sumbar √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 4. Riau √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 5. Jambi √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 6. Sumsel √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 7. Bengkulu √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 8. Lampung √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 9. DKI Jakarta √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 10. Jabar √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 11. Jateng √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 12. DIY √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 13. Jatim √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 14. Bali √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 15. NTB √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 16. NTT √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 17. Kalbar √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 18. Kalteng √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 19. Kalsel √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 20. Kaltim √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 21. Sulut √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 22. Sulteng √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 23. Sulsel √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 24. Sultra √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 25. Sulbar √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 26. Maluku √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 27. Malut - - - - - - - - - - - - 0 28. Papua √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 29. Papua Barat √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 30. Banten √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 31. Gorontalo √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ √√ 100 32. Babel √√ √√ √√ √√ √√ 41,7 Rata-rata 95,1

Dokumen terkait