• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kesimpulan

4. Tindak lanjut pendampingan korban perdagangan orang

11

D. Manfaat Penelitian

Dari hasil identifikasi peneliti memiliki manfaat yaitu:

1. Sebagai bahan pertimbangan para praktisi pendidikan terutama Subdirektorat pendidikan perempuan Direktorat pendidikan masyarakat untuk meningkatkan fasilitas, agar terwujudnya masyarakat yang berkualitas melalui pendekatan penelitian.

2. Sebagai bahan informasi yang membutuhkan literatur tentang pemberdayaan korban perdagangan orang (Human Trafficking) melalui keterampilan di Lembaga Swadaya Masyarakat Qouma Kabupaten Bandung.

3. Bagi peneliti diharapkan menambahkan wawasan dari pengetahuan baik secara teoritis maupun praktis tentang pemberdayaan korban perdagangan orang (Human Trafficking) melalui keterampilan di Lembaga Swadaya Masyarakat Qouma Kabupaten Bandung.

E. Struktur Organisasi Skripsi

Dalam rangka melanjutkan penelitiannya, maka peneliti memberikan gambaran umum tentang isi dan materi yang akan dibahas sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Merupakan uraian tentang latar belakang masalah, identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan struktur organisasi skripsi.

13

Menguraikan tentang teori-teori dan konsep tentang pemberdayaan masyarakat, perdagangan orang (human trafficking), pendampingan dan pemberdayaan sebagai startegi pendekatan/strategi dalam PLS.

BAB III METODE PENELITIAN

Berisi tentang uraian lokasi dan subjek penelitian, metode penelitian, definisi operasional, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data dan analisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Membahas mengenai deskripsi umum lokasi penelitian, hasil penelitian dan pembahasan penelitian.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Berisi penafsiran dan pemaknaan terhadap hasil analisis temuan penelitian berupa kesimpulan dan saran.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Peneliti melakukan penelitian yang berlokasi di LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Qouma Kabupaten Bandung. Qouma adalah sebuah wadah berhimpunnya para kalangan aktivis dan profesional muda serta didukung oleh para konsultan senior dari berbagai kompetensi yang berada di Kabupaten Bandung.

2. Subjek Penelitian

Menurut Arikunto (2006:145) menjelaskan bahwa:

Subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Jika kita berbicara tentang subjek penelitian, sebetulnya kita berbicara tentang unit analisis, yaitu subjek yang menjadi pusat perhatianatau sasaran peneliti. Dalam penelitian ini, informan adalah orang yang dimintai memberikan keterangan suatu fakta atau pendapat.

Informan penelitian adalah orang yang dapat merespon, memberikan informasi tentang data penelitian. Sedangkan sumber data adalah benda, hal atau orang dan tempat dimana peneliti mengamati, membaca, atau bertanya tentang data. Subjek penelitian diambil dengan maksud dan tujuan untuk dapat meneliti lebih jauh sehingga peneliti dapat memperoleh informasi mengenai pemberdayaan korban perdagangan orang melalui proses pendampingan di LSM Qouma Kabupaten Bandung.

44

berkaitan dengan proses pendampingan di LSM Qouma Kabupaten Bandung, yang meliputi perencanaan, proses, evaluasi hingga hasil dari proses pendampingan dalam pemberdayaan korban perdagangan orang di LSM Qouma Kabupaten Bandung. Maka menjadi subjek penelitiannya dua orang pengelola LSM Qouma dan satu orang pendamping.

B. Metode Penelitian

Sebagaimana yang dikemukakan Sugiyono (2012:3) bahwa, “Metode

penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan

dan kegunaan tertentu”. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif, sebagaimana menurut Zuriah (2005:47) bahwa penelitian deskriptif adalah:

Penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, menegenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Dalam penelitian deskriptif cenderung tidak

perlu mencari atau menerangkan saling hubungan dan menguji hipotesis”.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif seperti

menurut Bogdan dan Taylor (Moleong, 2010:4) mendefinisikan, “Metode

kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.”

Hal ini peneliti ingin memperoleh gambaran secara mendalam tentang proses pendampingan yang berada di LSM Qouma Kabupaten Bandung dalam memberdayakan para korban perdagangan orang. Sebagaimana salah satu alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah pengalaman para peneliti dimana metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi sehingga sulit untuk dipahami secara memuaskan.

Maka seperti yang dikemukakan diatas metode deskriptif layak digunakan dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti, karena penelitian di tujukan terhadap masalah yang sedang terjadi pada masyarakat yang sedang berlangsung serta proses pendampingan dalam memberdayakan korban perdagangan orang di LSM Qouma Kabupaten Bandung.

C. Definisi Operasional

Dalam pemahaman yang tepat maka penelitian diperlukan definisi operasional yang berisi mengenai judul serta fokus dari penelitian yang dilaksanakan.

1. Pemberdayaan Masayarakat

Upaya pemberdayaan yang dimaksud berupa kegiatan yang ditujukan memperkuat potensi dan daya yang dimiliki oleh pekerja, misalnya peningkatan pendidikan dan pelatihan. Langkah-langkah yang ditujukan pada pemberian akses dan fasilitas agar pekerja memeproleh kehidupannya lebih baik. Maka dengan demikian upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan pendapatan dan juga merefleksiskan pemberian perlindungan dan keberpihakan yang lemah.

2. Pendampingan

Pendampingan bahwa yang didampingi adalah satu pihak yang memiliki kelemahan atau kekurangan sehingga perlu didampingi. Hal ini dapat dikatakan seperti menyertai dan menemani secara dekat, bersahabat dan bersaudara serta hidup bersama dalam suka dan duka, bahu membahu dalam

46

3. Perdagangan Orang (Human Trafficking)

Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan sesorang, dengan ancaman, atau penggunaan kekrasan, atau bentuk-bentuk pemaksaan lain, atau memberi atau menerima bayaran atau manfaat untuk memeperoleh ijin dari orang yang memepunyai wewenang atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi. Hal ini dapat diupayakan untuk pencegahan dan penghapusan praktek perdagangan orang (human trafficking).

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, artinya peneliti sebagai alat untuk merekam informasi selama berlangsungnya penelitian. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sugiyono (2008:102) menyebutkan bahwa

“Alat ukur dalam penelitian dinamakan instrument penelitian. Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun

social yang diamati”. Penelitian kualitatif menurut Sugiyono(2008:222), bahwa

“Yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri, oleh karena itu peneliti sebagai instrumen harus juga di validasi seberapa jauh peneliti siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan”.

Demikian dalam melakukan pengamatan peneliti mempunyai tahapan-tahapan untuk diteliti yaitu melalui pedoman observasi, pedoman wawancara dan catatan lapangan untuk memperdalam dan memperluas dengan tema serta kondisi yang ada.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang dapat membantu untuk memperoleh data dalam penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan melalui:

1. Observasi

Menurut Margono (Zuriah 2005:172) menyatakan bahwa “Observasi

dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap

gejala yang tampak pada objek penelitian”. Pengamatan dan pencatatan ini dilakukan terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa. Metode observasi sebagai alat pengumpulan data, dapat dikatakan berfungsi ganda, sederhana, dan dapat dilakukan tanpa menghabiskan banyak biaya. Namun demikian, dalam melakukan observasi penelitian dituntut memiliki keahlian dan penguasaan kompetensi tertentu. Disini peneliti mencoba meneliti serta mengamati mengenai proses pendampingan dalam pemberdayaan korban perdagangan orang di LSM Qouma Kabupaten Bandung.

2. Wawancara

Menurut Sudjana, (2004: 297) bahwa “Wawancara adalah proses pengumpulan data atau informasi melalui tatap muka antara pihak penanya (interviewer) dengan pihak yang ditanya atau penjawab (interviwe)”. Dengan wawancara, peneliti akan lebih mudah mendapatkan data yang diharapkan dengan memahami jawaban pertanyaan yang diajukan kepada informan, yaitu

48

data yang berkenaan dengan nara sumber apabila informan tidak memahami item soal dalam angket.

Selama penelitian, peneliti melakukan teknik wawancara dengan pihak LSM Qouma yang menjadi narasumber yang dapat dipercaya serta dipertanggungjawabkan. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data mengenai program yang dilaksanakan dalam hal pendampingan, proses, serta hasil dari pendampingan didalam memberdayakan korban perdagangan orang setelah mengikuti program yang ada.

3. Studi Kepustakaan

Menurut Subana (2005:77) studi kepustakaan merupakan salah satu kegiatan penelitian yang mencakup “Memilih teori, mengidentifikasi literatur atau kepustakaan dan menganalisis dokumen, serta menerapkan hasil analisis sebagai landasan teori bagi penyelesaian maslah dalam penelitian yang

dilakukan”.

Hal ini penulis menggunakan studi kepustakaan untuk memperoleh konsep dan teori-teori sebagai dasar pemikiran dan bahan acuan bagi penulis melalui buku-buku, artikel, internet, serta tulisan-tulisan yang ada hubungannya dengan penelitian. Peneliti memperoleh berupa teori-teori seperti: mengenai Konsep Pemberdayaan, Konsep Masyarakat, Konsep Pemberdayaan Masayarakat, Konsep Perdagangan Orang (Human Trafficking), dan Konsep Pendampingan.

4. Studi Dokumentasi

Menurut Sukmadinata (2006:221) mengemukakan bahwa “Studi dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik”.

Maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode studi dokumentasi untuk memperoleh data secara tertulis yang diperlukan untuk data penelitian yaitu dengan membaca, menelaah, dan mengkaji dokumen-dokumen yang berhubungan dengan permasalahan yang sedang diteliti. Yang menjadi sumber pengumpulan data yaitu berupa foto, petunjuk pelaksanaan, pengelolaan, dan pelaporan program pemberdayaan korban perdagangan orang, data korban perdagangan orang yang didampingi oleh pendamping di LSM Qouma hingga perkembangan korban perdagangan orang.

5. Triangulasi

Menurut Sugiyono (2008:241) bahwa “Triangulasi diartikan sebagai

teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data yang telah ada”. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kreadibilitas data, yaitu mengecek kreadibilitas data dengan berbagai teknik penumpulan data dan berbagai sumber data.

Teknik dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dengan beberapa subjek penelitian. Data yang diperoleh dari pihak subjek penelitian

50

studi dokumentasi serta dari hasil penyelenggaraan program dengan kelompok sasaran program.

F. Analisis Data

Analisis data kualitatif sebagaimana dikutip Bogdan (Sugiyono, 2008:244) menyatakan bahwa “Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat di informasikan kepada orang lain”. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Selanjutnya menurut Sugiyono (2008:245) bahwa “Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan, dan selesai dilapangan”.

Menurut Sugiyono (2008:245) bahwa “Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan, dan selesai dilapangan”. Maka mencakup pada tahapan-tahapan yang meliputi:

1. Analisis Tahap Persiapan

Tahap persiapan penelitian melakukan penelitian yang merupakan tahap awal. Yang didalamnya peneliti mengadakan survey awal ke lapangan untuk mengidentifikasi hingga penentuan masalah-masalh yang terjadi dilapangan. Selajutnya peneliti melakukan penyusunan rancangan penelitian yaitu berupa proposal penelitian hingga melakukan bimbingan kepada dosen pembimbing.

Kegiatan selanjutnya peneliti melakukan pengurusan perizinan kepada pihak yang berwenang untuk memberikan izin dalam penelitian yaitu kepada pemerintah Kabupaten Bandung.

2. Analisis Tahap Pelaksanaan

Tahapan ini penelitian mulai menggali informasi data dengan melakukan wawancara secara mendalam hingga memperoleh informasi serta data yang diperlukan. Dalam tahapan ini peneliti melakukan wawancara kepada beberapa pendampingan LSM Qouma selaku petugas yang bertanggung jawab dalam program pemberdayaan korban perdagangan orang yang berkaitan dengan potensi-potensi yang dimiliki oleh para korban perdagangan orang serta strategi dalam proses pemberdayaannya. Selanjutnya peneliti melakukan observasi ke lokasi atau tempat kegiatan bersama para pendamping LSM Qouma. Peneliti pun mencoba mewawancarai kepada informan dengan pendamping dan pengelola LSM Qouma secara mendalam mengenai kegiatan-kegiatan dan peran dari pendampingan yang sering dilakukan didalm proses pemberdayaan korban perdagangan orang LSM Qouma.

3. Tahap Pelaporan

Peneliti melakukan penyusunan laporan dari hasil pengumpulan data. Yang selanjutnya mengadakan laporan yang telah disusun.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan deskripsi, pembahasan dan temuan penelitian yang telah diuraikan dimuka tentang pendampingan korban perdagangan orang, pada bab ini penulis mengambil beberapa kesimpulan dan memberikan saran sebagai berikut:

1. Perencanaan pendampingan di LSM Qouma Kabupaten Bandung

LSM Qouma Kabupaten Bandung dalam mendampingi korban perdagangan orang memberikan penanganan (a) pelayanan konseling, (b) pelayanan kesehatan, (c) pelayanan keterampilan, (d) pelayanan sosial dan (d) pendidikan alternatif. LSM Qouma mendampingi korban perdagangan orang yang tidak terangkul oleh pemerintah sehingga dapat diberdayakan melalui pengembangan dan pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh para korban menjadi lebih mandiri guna menghasilkan pendapatan sehingga kembali ke

kehidupan “normal”. Dengan adanya langkah perencanaan ini proses

pelaksanaan pendampingan dapat terlaksana sehingga menghasilkan sasaran menjadi terarah, terpantau hingga berdaya dan mandiri.

2. Pelaksanaan pendampingan di LSM Qouma Kabupaten Bandung

Pelaksanaan pendampingan korban perdagangan orang di LSM Qouma dilakukan dengan melalui pendidikan orang dewasa yang merupakan salah satu sistem yang lebih tepat bagi sasaran, sehingga dapat dipahami oleh sasaran pendampingan dengan menyampaikan materi yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, penyediaan sarana sosial, perbaikan pendapatan

keluarga hingga materi untuk pelaksanaan pengembangan potensi/pemberdayaan diri menjadi mandiri. Oleh karena itu pendamping melaksanakan tugasnya sesuai dengan rangkaian kegiatan yang disusun dan ditetapkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Qouma Kabupaten Bandung Kabupaten Bandung, meliputi: (a) melaksanakan program kerja bidang human

trafficking, (b) mencari isu yang berkembang, (c) tahapan assessment /

pemerintah, (d) forum group discution,(e) memberikan pelatihan kepada korban perdagangan orang sesuai dengan potensinya masing-masing, (f) penetapan penyaluran tenaga kerja, dan (g) melaksanakan monev.

3. Evaluasi pendampingan di LSM Qouma Kabupaten Bandung

Evaluasi yang dilakukan oleh perndamping untuk menentukan apakah tujuan akhir program tercapai atau tidak dan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Karenanya, dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi program yang telah ditentukan.

4. Tindak lanjut pendampingan korban perdagangan orang di Lembaga Swadaya Masyarakat Qouma Kabupaten Bandung

Tindak lanjut program pemberdayaan korban perdagangan orang melalui pendampingan di LSM Qouma Kabupaten Bandung yang dilihat dari perolehan kinerja korban perdagangan orang selama mengikuti pelaksanaan

94

program pemberdayaan korban perdagangan orang di LSM Qouma Kabupaten Bandung untuk dijadikan sebagai sumber kebutuhan hidupnya.

Untuk itu dilakukanlah monitoring dan evaluasi pada kegiatan tindak lanjut ini sama seperti perencanaan, monitoring-evaluasi adalah bagian dari pengelolaan (manajemen) program. Sehingga pada langkah akhir di LSM Qouma Kabupaten Bandung pendamping untuk mengetahui apakah program itu mencapai sasaran yang diharapkan atau tidak, evaluasi lebih menekankan pada aspek hasil yang dicapai (output) korban perdagangan orang. Yang baru bisa dilakukan jika program itu telah berjalan dalam suatu periode, sesuai dengan tahapan rancangan dan jenis program yang dibuat dan dilaksanakan satu bulan dalam satu pelaksanaan monev.

Dokumen terkait