BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KELALAIAN KEPEMILIKAN
A. Tindak Pidana
3. Tindak Pidana Dan Pertanggungjawaban Pidana
Pertanggungjawaban pidana dalam istilah asing disebut dengan teorokenbaardheid atau criminal responsibility yang menjurus kepada pemidanaan pelaku dengan maksud untuk menentukan apakah seorang terdakwa atau tersangka dipertanggungjawabkan atas suatu tindakan pidana yang terjadi atau tidak.34 Menurut Romli Atmasasmita,35 pertanggungjawaban pidana diartikan sebagai suatu kewajiban untuk membayar pembalasan yang akan diterima pelaku dari seseorang yang telah dirugikan.
Pertanggungjawaban pidana tidak bisa dilepaskan dari perbuatan pidana, sebab seseorang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana tanpa terlebih dahulu melakukan perbuatan pidana. Dengan demikian, sangat dirasakan tidak adil jika tiba-tiba seseorang harus bertanggung jawab atas suatu tindakan tanpa melalukan tindakan tersebut.36
Dalam hukum pidana konsep “pertanggungjawaban” itu merupakan konsep sentral yang dikenal dengan ajaran kesalahan. Dalam bahasa latin ajaran kesalahan dikenal dengan mens rea. Doktrin mens rea dilandaskan pada suatu perbuatan tidak mengakibatkan seseorang bersalah kecuali jika pikiran orang itu jahat. Dalam bahasa
34Amir Ilyas, Asas-Asas Hukum Pidana: Memahami Tindak Pidana Dan Pertanggungjawaban Sebagai Syarat Pemidanaan, (Yogyakarta: Rangkang Education Yogyakarta & PuKAP Indonesia, 2012, Cet. Pertama), h.,71.
35 Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana, (Bandung: Mandar Maju, 2000, Cet.
Kedua), h., 65.
36 Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, (Jakarta: Bina Aksara, 1983), h., 25.
35
Inggris doktrin tersebut dirumuskan dengan an act does not make a person guilty, unless the mind legally bla,eworthy. Berdasarkan asas tersebut, ada dua syarat yang harus dipenuhi untuk dapat memidana seseorang, yaitu ada perbuatan lahiriah yang terlarang/perbuatan pidana (actus reus), dan ada sikap batin (mens rea).37
Dalam tindak pidana, pelaku dapat dipidana jika memenuhi unsur-unsur delik yang telah ditentukan dalam Undang-undang. Mahrus Ali mengatakan bahwa dipidananya seseorang tidaklah cukup apabila orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Dengan demikian, meskipun perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik dalam Undang-undang, namun hal tersebut belum bisa memenuhi penjatuhan pidana. Untuk pemidanaan masih perlu adannya syarat untuk penjatuhan pidana, yaitu orang yang melakukan perbuatan itu harus memenuhi unsur kesalahan atau bersalah. Orang tersebut harus mempertanggungjawabkan atas perbuatannya jika dilihat dari sudut perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut.38
Dalam pertanggungjawaban pidana diperlukan syarat bahwa si pelaku mampu bertanggungjawab. Dikatakan mampu bertanggungjawab karena seseorang mampu menilai dengan fikirannya atau perasaannya bahwa perbuatan yang dilakukannya dilarang artinya tidak dikehendaki oleh Undang-undang karena pada dasarnya seorang terdakwa dianggap mampu bertanggungjawab kecuali dinyatakan sebaliknya bahwa seseorang tidak mampu bertanggungjawab.39
Pemahaman kemampuan bertanggung jawab menurut beberapa pandangan adalah sebagai berikut. Menurut Pompe kemampuan bertanggungjawab pidana harus mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:40
37 Hanafi, “Reformasi Sistem Pertanggungjawaban Pidana”, Jurnal Hukum, VI, 11, (Februari 1999), h., 27.
38 Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), h.,155-156.
39Elfa Murdiana, “Pertanggungjawaban Pidana Dalam Perspektif Hukum Islam Dan Relevansinya Terhadap Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia”, AL-MAWARID, XII, 1, (Februari-Augustus 2012), h., 3.
40 Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: PT. Eresko, 1986), h., 55
a. Kemampuan berpikir (psychisch) pembuat (dader) yang memungkinkan menguasai pikirannya, yang memungkinkan ia menentukan perbuatannya.
b. Dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan pendapatnya.
Pengertian perbuatan pidana terbagi atas dua kelompok, yaitu kelompok yang secara tegas memisahkan antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana, dan kelompok yang menyamakan antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana.41
Pendapat yang pertama mengatakan bahwa pada dasarnya perbuatan pidana adalah perbuatan atau serangkaian perbuatan yang padanya dilekatkan sanksi pidana.42 Menurut Roeslan Saleh dalam bukunya Perbuatan Dan Pertanggungjawaban Pidana menjelaskan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum pidana dinyatakan sebagai perbuatan dilarang.43 Dengan demikian, perbuatan pidana hanya menunjuk pada perbuatan, baik secara aktif maupun secara pasif, sedangkan apakah pelaku ketika melakukan perbuatan patut dicela dan memiliki kesalahan bukan merupakan perbuatan pidana, tetapi sudah masuk pada pertanggungjawaban pidana. Dengan kata lain, apakah inkonkreto, yang melakukan perbuatan tadi sungguh-sungguh dijatuhi pidana atau tidak, itu sudah diluar arti perbuatan pidana.44
Pendapat yang kedua mengatakan bahwa perbuatan pidana tidak bisa dipisahkan dengan pertanggungjawaban pidana. Menurut Simons, strafbaarfeit itu adalah kelakuan yang diancam dengan pidana, bersifat melawan hukum dan berhubung dengan kesalahan yang dilakukan oleh orang yang mampu bertanggung jawab, sedangkan Van Hamel bahwa strafbaarfeit adalah kelakuan orang yang
41 Mahrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011, Cet. Kesatu), h., 97.
42Chairul Huda, Dari Tiada Pidana Tanpa kesalahan Menuju Kepada Tiada Pertanggungjawaban Pidana Tanpa Kesalahan, (Jakarta: Kencana, 2006), h., 15.
43 Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana: Dua Pengertian Dalam Hukum Pidana, (Jakarta; Aksara Baru, 1981), h., 99-100.
44 Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, (Jakarta: Bina Aksara, 1983), h., 11.
37
dirumuskan dalam undang-undang, bersifat melawan hukum, patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan.45
Pendapat Simons dan Van Hamel yang mencampuradukkan antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana diikuti oleh beberapa ahli hukum pidana Indonesia. Menurut Komariah Emong Supardjadja dalam bukunya Ajaran Melawan Hukum Dalam Hukum Pidana Indonesia,46perbuatan pidana adalah suatu perbuatan manusia yang memenuhi rumusan delik, melawan hukum dan pembuat bersalah melakukan perbuatan itu. Demikian halnya yang dikemukan oleh Indriarto Seno Adji yang mengatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan pidana adalah perbuatan yang seseorang yang diancam pidana, perbuatannya bersifat melawan hukum, terdapat suatu kesalahan dan bagi pelakunya dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.47 Pengertian perbuatan pidana yang dikemukakan oleh Komariah dan Indrianto Seno Adji tersebut dipengaruhi oleh pendapat Simons dan Van Hamel. Hal itu terlihat dengan dimasukkannya kesalahan sebagai salah satu unsur perbuatan pidana.
Dari kedua pendapat diatas, penulis lebih sepakat dengan pendapat yang pertama, yaitu memisahkan perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana.
Dengan demikian ketika seseorang terbukti melakukan suatu perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana, tetapi tidak secara otomatis orang itu dijatuhi hukum pidana, untuk menjatuhkan pidana kepada orang itu harus mempunyai unsur kesalahan dan telah dibuktikan dalam proses pidana.
B. Kesengajaan Dan Kealpaan