• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

E. Tinjauan Pustaka

2. Tindak Pidana (Strafbaar Feit) menurut KUHP dan Hukum Islam

1) Pengertian Tindak Pidana

Hukum Pidana Belanda memakai istilah Strafbaar Feit, kadang-kadang juga delict yang berasal dari bahasa latin delictum. Hukum Pidana negara-negara Anglo Saxon memakai istilah Offense atau Criminal act untuk maksud yang sama.

Oleh karena Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia bersumber pada WvS Belanda, maka istilah aslinya pun sama yaitu Strafbaar Feit.35

Perkataan "Feit" itu sendiri di dalam bahasa Belanda berarti "sebagian dari suatu kenyataan" atau “een geedelte van de werkwlijkheid”. Sedang "Strafbaar"

berarti "dapat dihukum", hingga secara harfiah perkataan "Strafbaar Feit" dapat diterjemahkan sebagai "sebagian dari suatu kenyataan yang dapat dihukum", yang sudah barang tentu tidak tepat, oleh karena kelak akan kita ketahui bahwa yang dapat dihukum itu sebenarnya adalah manusia sebagai pribadi dan bukan kenyataan, perbuatan atau tindakan.36

Strafbaar Feit yang merupakan istilah asli bahasa Belanda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tersebut mempunyai berbagai arti diantaranya, yaitu: tindak pidana, delik, perbuatan pidana, peristiwa pidana maupun perbuatan yang dapat dipidana.37

Kemudian oleh Pembentuk undang-undang kita menggunakan perkataan strafbaar feit untuk menyebutkan apa yang kemudian kita kenal sebagai “Tindak

35 Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta: Rineka Cipta Cetakan ke III 2008), hal 86

36 P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti 1997), hal 181

37 Roni Wijayanto, Op.Cit, hal. 160

Pidana” di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tanpa memberikan sesuatu penjelasan mengenai apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan perkataan "Strafbaar Feit" tersebut.38 Di dalam prakteknya para ahli memberikan berbagai definisi Strafbaar Feit atau tindak pidana berbeda-beda, sehingga perkataan tindak pidana mempunyai banyak arti.39

Menurut Profesor POMPE, perkataan "Strafbaar Feit" itu secara teoritis dapat dirumuskan sebagai "suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang dengan sengaja ataupun tidak dengan sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku. Dimana penjatuhan hukuman terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum".40

Kemudian apa yang dimaksud dengan tindak pidana, menurut Simons didefinisikan sebagai suatu perbuatan (handeling) yang diancam dengan pidana oleh undang-undang, bertentangan dengan hukum (Onrechtmatig) dilakukan dengan kesalahan (Schuld) oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab.

Rumusan tindak pidana yang diberikan Simons tersebut dipandang oleh Jonker dan Utrecht sebagai rumusan yang lengkap, karena akan meliputi:41

1. Diancam dengan pidana oleh hukum;

2. Bertentangan dengan hukum;

3. Dilakukan oleh seseorang dengan kesalahan (Schuld); dan

4. Seseorang tersebut dipandang bertanggung jawab atas perbuatannya.

38 P.A.F. Lamintang, Loc. Cit.

39 Roni Wijayanto Loc. Cit.

40 P.A.F. Lamintang, Op.Cit, hal. 162

41 Roni Wijayanto, Loc. Cit.

Van Hammel juga sependapat dengan rumusan tindak pidana dari Simons, tetapi ia menambahkan adanya “sifat perbuatan yang mempunyai sifat dapat dihukum". Jadi pengertian tindak pidana menurut van hamel meliputi lima unsur, yakni:42

1. Diancam dengan pidana oleh hukum;

2. Bertentangan oleh hukum;

3. Dilakukan oleh seseorang dengan kesalahan (Schuld);

4. Seseorang tersebut dianggap bertanggung jawab atas perbuatannya;

5. Sifat perbuatan yang mempunyai sifat dapat dihukum;

Sedangkan Vos merupakan salah satu diantara para ahli yang merumuskan tindak pidana secara singkat, yaitu hanya mencakup kelakuan manusia yang oleh peraturan perundang-undangan diberi pidana. Kemudian pengertian tindak pidana yang diberikan Vos tersebut, dikomentari oleh Satochid Kartanegara, ia mengatakan rumusan Vos tersebut sama saja memberikan keterangan “een vierkante tafel is vier kant” (meja segi itu adalah segi empat), karena definisinya tidak menjepit isinya, sedangkan pengertian "orang" dan "kesalahan" juga tidak disinggung, karena apa yang dimaksud Strafbaar Feit, sebagai berikut:43

1. Pelanggaran atau pemerkosaan kepentingan hukum (schanding of kreenking van een rechtsbelang);

2. Sesuatu yang membahayakan kepentingan hukum (het in gevearbrengen van een rechtsbelang);

42 Ibid.

43 Ibid. hal. 161

Kepentingan hukum yang dimaksud Satochid Kartanegara ialah tiap-tiap kepentingan yang harus dijaga agar tidak dilanggar, yang terdiri atas tiga jenis, yaitu:44

1. Kepentingan perseorangan, yang meliputi jiwa (leven), badan (lijk), kehormatan (eer) dan harta benda (vermogen);

2. Kepentingan masyarakat, yang meliputi: kepentingan dan keamanan (rusten orde);

3. Kepentingan negara adalah keamanan negara;

Melihat berbagai pendapat para ahli tersebut di atas mengenai pengertian Strafbaar Feit, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan tindak pidana atau strafbaar Feit yaitu merupakan rumusan yang memuat unsur-unsur tertentu yang menimbulkan dapat dipidananya seseorang atas perbuatannya yang dianggap telah melanggar kepentingan hukum yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan pidana. Unsur-unsur tindak pidana tersebut dapat berupa perbuatan yang sifatnya aktif maupun pasif atau tidak berbuat sebagaimana diharuskan oleh undang-undang, yang dilakukan oleh seseorang dengan kesalahan, dan bertentangan dengan hukum pidana, dan orang tersebut dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.

2) Unsur-unsur Tindak Pidana

Menjadi tuntutan normatif yang harus dipenuhi bila mana seseorang dapat dipersalahkan karena melakukan sesuatu tindak pidana, yaitu perbuatan itu harus dibuktikan mencakup semua unsur Tindak Pidana. Apabila salah satu unsur

44 Ibid.

Tindak Pidana tidak terpenuhi atau tidak dapat dibuktikan, maka konsekuensinya Tindak Pidana yang dituduhkan kepada si pelaku tidak terbukti dan tuntutan dapat batal demi hukum.

Ditinjau dari sifat unsurnya, pada umumnya unsur-unsur Tindak Pidana dapat dibagi menjadi dua macam, yakni: unsur-unsur subjektif dan unsur-unsur objektif.

a. Unsur Subjektif

Menurut Lamintang bahwa yang dimaksud dengan unsur-unsur subjektif itu adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku. Dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Adapun unsur-unsur subjektif menurut Lamintang yakni sebagai berikut:

a. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus dan culpa);

b. Maksud (voornemen) pada suatu percobaan (poging) seperti yang dimaksud di dalam Pasal 53 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum pidana;

c. Macam-macam maksud (oogmerk) seperti yang terdapat misalnya, di dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan lain-lain;

d. Merencanakan terlebih dahulu (voorbedache raad) misalnya seperti yang terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;

e. Perasaan takut (vress) seperti yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;45

45 P.A.F. Lamintang, Op.Cit, hal 194

Sedangkan Menurut Satochid Kartanegara, ia membedakan unsur subjektif hanya menjadi dua macam saja, yakni:

a. Toerekeningswatbaarheit (kemampuan bertanggung jawab);

b. Schuld (Kesalahan);46

Leden Marpaung mengemukakan asas hukum pidana menyatakan bahwa

“tidak ada hukuman kalau tidak ada kesalahan”. Kesalahan yang dimaksud adalah kesalahan yang diakibatkan oleh kesengajaan (iintention/opzet/dolus) dan kealpaan (culpa) ini merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan dari kesengajaan, dimana kealpaan meliputi dua bentuk, yaitu: tidak berhati-hati dan dapat menduga akibat perbuatan tersebut.47

Di dalam doktrin dan ilmu pengetahuan hukum pidana unsur kesengajaan atau opzet tersebut kemudian pada umumnya dibedakan menjadi tiga jenis, yakni:

1. Kesengajaan dengan maksud (opzet als oogmerk);

2. Kesengajaan dengan keinsyafan (Opzet bij zekerheidsbewustzijn);

3. Kesengajaan dengan keinsyafan atau kemungkinan (opzet bij mogelijkheidsbewustzijn);

Maka dapat diambil kesimpulan dari uraian di atas, bahwa unsur-unsur subjektaf meliputi:

1. Kemampuan bertanggung jawab (toerekeningswatbaarheit);

2. Kesalahan (Schuld);

3. Kesengajaan (dolus) yang terdiri dari:

a. Kesengajaan dengan maksud (Opzet als oogmerk);

46 Roni Wijayanto Op.Cit. hal. 166

47 Leden Marpaung, Asas Teori Praktik hukum pidana, (Jakarta: Sinar Grafika 2005), hal.

9

b. Kesengajaan dengan keinsyafan (opzet bij zekerheidsbewustzijn);

c.Kesengajaan dengan keinsyafan atau kemungkinan (opzet bij mogelijkheidsbewustzijn);

d. Kealpaan (culpa) b. Unsur Objektif

Menurut Lamintang bahwa yang dimaksud dengan unsur-unsur objektif itu adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam keadaan-keadaan dimana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan. Kemudian ia membagi menjadi tiga bentuk unsur objektif dari tindak pidana, yakni:

a. Sifat melanggar hukum atau wederrechtelijkheid;

b. Kualitas dari si pelaku, misalnya "keadaan sebagai seorang pegawai negeri"

di dalam kejahatan jabatan menurat Pasal 415 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau “keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu perseroan terbatas di dalam kejahatan menurut Pasal 398 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

c. Kausalitas, yakni hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.48

48 P.A.F. Lamintanng, Loc.cit

Sedangkan Menurut Satochid Kartanegara, ia mengemukakan bahwa unsur objektif merupakan unsur yang dilarang dan diancam pidana oleh undang-undang, yang berupa:

a. Suatu tindakan;

b. Suatu akibat; dan

c. Keadaan (omstandigheid);

Kemudian Leden Marpaung lebih mencakup kepada dua pendapat ahli di atas, ia kemudian membagi unsur objektif menjadi empat bentuk, yakni:

a. Perbuatan manusia, berupa:

1) Act, yakni perbuatan aktif atau perbuatan positif;

2) Omission, yakni perbuatan pasif atau perbuatan negative

b. Akibat (result) perbuatan manusia, yaitu akibat tersebut membahayakan atau merusak, bahkan menghilangkan kepentingan-kepentingan yang dipertahankan oleh hukum, misalnya: nyawa, badan, kemerdekaan, hak milik, kehormatan, dan sebagainya.

c. Keadaan-keadaan (circumstances), yang umumnya berupa:

1) Keadaan-keadaan pada saat perbuatan dilakukan 2) Keadaan-keadaan setelah perbuatan dilakukan.

d. Sifat dapat dihukum dan sifat melawan hukum. Sifat dapat dihukum berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan si pelaku dari hukuman.

Sedangkan sifat melawan hukum adalah apabila perbuatan itu bertentangan dengan hukum, yakni berkenaan dengan larangan atau perintah.49

49 Leden Marpaung, Op. Cit. hal 10

Kemudian mengingat tujuan diadakan hukum pidana adalah untuk melindungi dan menghindari gangguan atau ancaman bahaya terhadap kepentingan hukum, baik kepentingan perseorangan, kepentingan masyarakat dan kepentingan negara. Setiap perbuatan yang memenuhi unsur Tindak Pidana atau delik seperti yang dinyatakan secara tegas dalam peraturan perundang-undangan dapat memberikan gambaran kepentingan hukum apa yang dilanggar. Oleh karena itu, perbuatan-perbuatan yang memenuhi unsur-unsur delik dapat digolongkan menjadi berbagai jenis delik. Dan salah satunya adalah tindak pidana dalam perlu tidaknya aduan dalam penuntutan (Delik Biasa dan Delik Aduan).

1. Delik biasa (gewone delichten) adalah suatu delik yang dapat dituntuk tanpa membutuhkan adanya pengaduan.50

2. Delik aduan (klachtdelict) adalah Tindak Pidana yang penuntutannya hanya dilakukan atas dasar adanya pengaduan dari pihak yang berkepentingan atau terkena. Misalnya penghinaan, perzinahan, pemerasan. Jumlah delik aduan ini tidak banyak terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Siapa yang dianggap berkepentingan, tergantung dari jenis deliknya dan ketentuan yang ada. Untuk perzinahan misalnya, yang berkepentingan adalah suami atau isteri yang bersangkutan. Terdapat dua jenis delik aduan, yaitu delik aduan absolute yang penuntutannya hanya berdasarkan pengaduan dan delik aduan relatif disini karena adanya hubungan istimewa antara pelaku dengan korban, misalnya pencurian dalam keluarga (Pasal 367 ayat (2) dan (3)) Kitab Undang-undang Hukum Pidana).

50 Rony Wijayanto, Op.Cit, hal 173

b. Tindak Pidana dalam Hukum Islam

Suatu perbuatan dinamai jarimah (tindak pidana, peristiwa pidana atau delik) apabila perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian bagi orang lain atau masyarakat baik jasad (anggota badan atau jiwa), harta benda, keamanan, tata aturan masyarakat, nama baik, perasaan ataupun hal-hal lain yang harus dipelihara dan dijunjung tinggi keberadaannya. Jadi, yang menyebabkan suatu perbuatan dianggap sebagai suatu jarimah adalah dampak dari perilaku tersebut yang menyebabkan kerugian kepada pihak lain, baik dalam bentuk material (jasad, nyawa atau harta benda) maupun nonmateri atau gangguan nonfisik, seperti ketenangan, ketentraman, harga diri, adat istiadat dan sebagainya. Penyebab perbuatan yang merugikan tersebut diantaranya adalah tabiat manusia yang cenderung pada sesuatu yang mengutuungkan bagi dirinya walaupun hasil pilihan atau perbuatan tersebut merugikan orang lain. Kenyataan itu memerlukan kehadiran peraturan atau undang-undang. Akan tetapi, kehadiran peraturan tersebut menjadi tak berarti tanpa adanya dukungan yang dapat memaksa seseorang untuk mematuhi peraturan tersebut. Dukungan yang dimaksud adalah penyertaan ancaman hukuman atau sanksi yang menyertai kehadiran peraturan tersebut. Sanksi sangat diperlukan untuk mendukung peraturan yang dikenakan pada perbuatan tindak pidana, dengan harapan yang bersangkutan tidak mengulangi perbuatan tersebut. Disamping itu, agar perbuatan yang sama tidak ditiru orang lain. Dengan demikian, terpeliharalah kepentingan umum.51

51 Rahmat. Hakim, Op.Cit, hal. 17

a. Jarimah dan Uqubah

Fikih jinayah adalah ilmu tentang hukum syara' yang berkaitan dengan masalah perbuatan yang dilarang (jarimah) dan hukumannya (uqubah), yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci. Definisi tersebut merupakan gabungan antara pengertian "fikih" dan "jinayah". Dari pengertian tersebut dapat diketahui objek pembahasan Fikih Jinayah itu secara garis besar ada dua, yaitu jarimah atau tidak pidana dan uqubah atau hukumannya.

Pengertian jarimah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mawardi adalah sebagai berikut:

“Jarimah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara‟

yanng diancam oleh Allah dengan hukuman had atau ta'zir”

Dalam istilah lain jarimah disebut juga dengan jinayah. Menurut Abdul Qadir Audah pengertian jinayah adalah sebagai berikut:

“Jinayah adalah suatu istilah untuk perbuatan yang dilarang oleh syara', baik perbuatan tersebut mengenai jiwa, harta atau lainnya”

Adapun pengertian hukuman sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Qodir Audah adalah “hukuman adalah pembalasan yang ditpkan untuk kemaslahatan masyarakat, karena adanya pelanggaran atas ketentuan-ketentuan syara".52

52 Ahmad Wardi Muslisch, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika 2005), hal ix

b. Unsur-unsur Tindak Pidana Islam (Jarimah)

Unsur-unsur Tindak Pidana Islam secara umum ada tiga, yaitu adanya unsur formal, unsur materil dan unsur moral, adapun yang dimaksud dengan ketiganya yakni sebagai berikut:53

1. Unsur Formal atau Rukun Syar'i

Yang dimaksud dengan unsur formal atau rukun syar'i adalah adanya ketentuan syara‟ atau nash yang menyatakan bahwa perbuatan yang dilakukan merupakan perbuatan yang oleh hukum dinyatakan sebagai sesuatu yang dapat dihukum atau adanya nash (ayat) yang mengancam hukuman terhadap perbuatan yang dimaksud.

3. Unsur Material atau Rukun Maddi

Yang dimaksud dengan unsur material adalah adanya perilaku yang membentuk jarimah, baik berupa perbuatan ataupun tidak berbuat atau adanya perbuatan yang bersifat melawan hukum.

4. Unsur Moril atau Rukun Adaby

Unsur ini juga disebut dengan al-mas „uliyyah al-jinayah atau pertanggung jawaban pidana. Maksudnya adalah pembuat Jarimah (pembuat tindak pidana atau delik) haruslah orang yang dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya. Oleh karena itu pembuat Jarimah haruslah orang yang dapat memahami hukum, mengerti isi beban, dan sanggup menerima beban tersebut. Orang-orang yang diasumsikan memiliki kriteria tersebut adalah orang-orang yang mukallaf sebab hanya merekalah yang terkena khitbah (panggilan) pembebanan (taklif).

53 Rahmat. Hakim, Op.Cit hal 52-53

c. Macam-macam Jarimah

Diantara pembagian jarimah yang paling penting adalah pembagian yang ditinjau dari segi hukumannya. Jarimah ditinjau dari segi hukumannya terbagi kepada tiga bagian, yaitu jarimah hudud, jarimah qishas dan diat, serta jarimah ta‟zir.

1. Jarimah Hudud

Jarimah hudud adalah jarimah yang diancam dengan hukuman had.

Pengertian hukuman had, sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Qadir Audah

"Hukuman had adalah hukuman yang telah ditentukan oleh syara' dan merupakan hak Allah.” Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa ciri khas jarimah hudud adalah sebagai berikut:

a. Hukumannya tertentu dan terbatas, dalam arti bahwa hukuman tersebut telah ditentukan oleh syara' dan tidak ada batas minimal dan maksimal.

b. Hukuman tersebut merupakan hak Allah semata-mata, atau kalau ada hak manusia disamping hak Allah maka hak Allah yang lebih dominan.

Oleh karena hukuman had itu merupakan hak Allah maka hukuman tersebut tidak bisa digugurkan oleh perseorangan (orang yang menjadi korban atau keluarganya) atau oleh masyarakat yang diwakili oleh negara. Jarimah hudud ini ada tujuh macam, yaitu:54

1) Jarimah Zina 2) Jarimah qadzaf

3) Jarimah syurb al-khamar

54 Ahmad wardi Muslisch, Op. Cit. hal x

4) Jarimah pencurian 5) Jarimah hirabah 6) Jarimah riddah, dan

7) Jarimah pemberontakan (Al-Bagyu)

2. Jarimah Qisash dan Diat

Jarimah qisash dan diat adalah jarimah yang diancam dengan hukuman qisash atau diat. Baik qisash maupun diat kedua-duanya adalah hukuman yang sudah ditentukan oleh syara'. Perbedaannnya dengan hukuman had adalah bahwa hukuman had merupakan hak Allah (hak masyarakat), sedangkan qishash dan diat merupakan hak manusia (hak individu). Disamping itu, perbedaan yang lain adalah karena hukuman qishash dan diat merupakan hak manusia maka hukuman tersebut bisa dimaafkan atau digugurkan oleh korban atau keluarganya, sedangkan hukuman had tidak bisa dimaafkan atau digugurkan. Pengertian qishash, sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahrah adalah “persamaan dan keseimbangan antara jarimah dan hukuman.” Jarimah qishash dan diat ini hanya ada dua macam, yaitu pembunuhan dan penganiayaan. Namun apabila diperluas, jumlahnya ada lima macam, yaitu:55

a. Pembunuhan sengaja

b. Pembunuhan menyerupai sengaja c. Pembunuhan karena kesalahan d. Penganiayaan sengaja

e. Penganiayaan tidak sengaja

55 Ibid hal xi

3. Jarimah Ta'zir

Jarimah ta'zir adalah jarimah yang diancaam dengan hukuman ta'zir.

Penngertian ta'zir menurut bahasa adalah ta'dib, artinnya memberi pelajaran.

Ta'zir juga diartikan dengan Ar-Raddu wal Man'u, yang artinya menolak dan mencegah. Sedangkan pengertian ta'zir menurut istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Al-Mawardi "Ta‟zir adalah hukuman pendidikan atas dosa (tindak pidana) yang belum ditentukan hukumannya oleh syara‟.” Dari defenisi tersebut, dapat diketahui bahwa hukuman ta'zir adalah hukuman yang belum ditentukan oleh syara' dan wewenang untuk menetapkannya diserahkan kepada ulil amri. Di samping itu, defenisi tersebut dapat diketahui bahwa ciri khas jarimah ta'zir adalah sebagai berikut:56

a) Hukumannya tidak tertentu dan tidak terbatas, artinya, hukuman tersebut belum ditentukan oleh syara' dan ada batas minimal dan maksimal.

b) Penentuan hukuman tersebut adalah hak penguasa (ulil amri).

3. Sanksi Pidana menurut KUHP dan Hukum Islam

Dokumen terkait