• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINDAK TUTUR PEDAGANG “TINJAUAN PRAGMATIK”

Indrya Mulyaningsih IAIN Syekh Nurjati Cirebon

TINDAK TUTUR PEDAGANG “TINJAUAN PRAGMATIK”

Lili Hasmi

STKIP Ahlussunnah Bukittinggi Abstrak

Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena dengan bahasa masyarakat dapat menyalurkan hasrat, ide dan gagasan secara utuh. Masyarakat pada umumnya mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi, masyarakat itu disebut masyarakat tutur. Tindak tutur berada dalam setiap peristiwa tutur. Salah satu peristiwa tutur yang terjadi antara pedagang dengan calon pembeli dan rekan seprofesinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur yang terjadi dalam peristiwa tutur. Masalah yang diteliti adalah bentuk dan fungsi tindak tutur ilokusi direktif yang terjadi di pasar, antara pedagang dengan calon pembeli serta rekan seprofesinya. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tindak ilokusi direktif yang paling banyak ditemukan dalam percakapan pedagang, adalah memerintah 23 tuturan, yang paling sedikit ditemukan memohon 1 tuturan, menasehati 1 tuturan. Tindak tutur menyarankan ditemukan 6 tuturan, memperbolehkan 6 tuturan, meminta 2 tuturan, melarang 2 tuturan, mengajak 3 tuturan. Fungsi tindak tutur yang paling banyak ditemukan adalah fungsi kompetitif terdapat 26 tuturan,yaitu memerintah 23 tuturan, memohon 1 tuturan, meminta 2 tuturan. Dan yang paling sedikit adalah konfliktif yaitu 2 tuturan, yakni melarang 2 tuturan.

Kata Kunci: pragmatik, tindak tutur, pedagang A. Pendahuluan

Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi kehidupan manusia dalam bermasyarakat karena manuasialah yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan bahasa. Manusia dapat menyalurkan hasrat, ide, gagasannya secara utuh dengan bahasa. Bahasa tersebut tidak lahir dengan sendirinya, tetapi harus diperoleh dan dipelajari terlebih dahulu.

Berdasarkan pengalaman penulis yang sering melakukan transaksi jual-beli dengan pedagang yang ada di Pasar Bawah Bukittinggi, penulis mendengar bahwa sebagian dari mereka sering mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan saat berkomunikasi dengan rekan seprofesi ataupun dengan calon pembeli. Mereka tidak segan-segan untuk bersikap lancang, dari interaksi tersebut terjadilah peristiwa tutur.

Bentuk dan fungsi dari tindak tutur yang dianalisis dalam penelitian ini adalah bentuk dan fungsi tindak tutur direktif yang digunakan oleh pedagang dalam berkomunikasi dengan calon pembeli dan rekannya. Penulis membatasi masalah penelitian ini pada bentuk dan fungsi tindak tutur ilokusi direktif yang digunakan oleh pedagang dengan calon pembeli serta rekannya di Pasar Bawah Bukittinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur direktif yang digunakan pedagang dengan calon pembeli serta rekannya di Pasar Bawah Bukittinggi.

B. Landasan Teori 1. Pragmatik

Menurut George Yule (2006: 5) pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakai bentuk-bentuk itu. Hal ini dilandaskan oleh kesadaran para linguis bahwa untuk mengetahui hakikat bahasa perlu pemahaman terhadap pragmatik. Dalam pragmatik makna diberi defenisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa.

Levinson (dalam Tarigan, 2009: 31) mengemukakan,

Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa, dengan kata lain: telaah

mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat- kalimat dan konteks-konteks secara tepat.

Dari pendapat Levinson di atas jelaslah bahwa telaah mengenai cara melakukan sesuatu dengan memanfaatkan kalimat-kalimat adalah telaah mengenai tindak ujar. Dalam menelaah tindak ujaran ini harus menyadari benar-benar betapa pentingnya konteks ucapan/ ungkapan. Konteks mempengaruhi cara menafsirkan kalimat tersebut.

Tagor Pangaribuan (2008: 68) mengemukakan pragmatik adalah ilmu yang mengkaji hubungan bahasa dengan konteks dan hubungan pemakaian bahasa dengan pemakai atau penuturnya. Dalam tindak operasionalnya, kajian pragmatik itu berupaya menjelaskan bahasa itu melayani penuturnya dalam pemakaian, dan yang dilakukakan penutur dalam tindak tutur itu. Berdasarkan penjelasan di atas, pragmatik merupakan kajian tentang hubungan antara bahasa dengan pemakaiannya yang disesuaikan dengan makna kontekstual. Dalam tata bahasa konteks tuturan itu mencakupi semua aspek fisik atau latar sosial yang relevan dengan tuturan yang diekspresikan. Konteks dan ekspresi penuturlah sebagai suatu faktor pendukung dalam memahami makna tuturan.

Dari beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji penggunaan bahasa untuk berkomunikasi dalam berbagai situasi (konteks).

2. Konteks

Menurut Chaer dan Agustina (2004: 28) “konteks merupakan aspek-aspek linguistik berfungsi sebagai alat komunikasi yang membentuk atau membangun situasi tertentu dalam proses komunikasi”. Konteks adalah semua aspek-aspek yang berhubungan dengan tuturan, berupa kata, kalimat, maupun ucapan dalam proses komunikasi yang membantu menentukan makna tuturan. Berdasarkan makna tuturan inilah dapat diklasifikasikan bentuk dan fungsi tindak tutur tersebut.

Kunjana Rahardi (2005: 51) mengemukakan konteks dapat diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan yang diasumsikan sama-sama dimiliki penutur dan mitra tutur serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas yang dimaksudkan oleh penutur itu di dalam proses bertutur. Konteks dapat mencakup aspek-aspek tuturan yang relevan baik secara fisik maupun non fisik.

Berdasarkan defenisi di atas semakin jelas, betapa pentingnya konteks dalam kajian pragmatik. Konteks dapat dikatakan sebagai situasi lingkungan yang mempengaruhi makna ujaran dalam proses komunikasi. Proses komunikasi itu dipengaruhi oleh partisipan penutur dan lawan tutur untuk berinteraksi. Konteks juga memperlihatkan suatu kesepakatan bersama atas dasar latar belakang pengetahuan untuk memicu penyimak dalam memahami maksud pembicara saat komunikasi berlangsung.

3. Peristiwa Tutur

Peristiwa tutur adalah suatu kegiatan yang melibatkan penutur dan mitra tutur (lawan bicara) dalam berinteraksi dengan satu pokok pikiran dalam waktu, tempat dan situasi yang berbeda. Percakapan adalah salah satu contoh peristiwa tutur. Chaer dan Agustina (2004: 47) menyatakan: Peristiwa tutur (speech situations) adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran yang melibatkan dua pihak, penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat dan situasi tertentu.

George Yule (1996: 99) juga menyatakan: “peristiwa tutur merupakan suatu kegiatan para peserta berintegrasi dengan bahasa dalam cara-cara konvensional untuk mencapai suatu hasil”. Maksudnya peristiwa tuturan yang terjadi sesuai dengan arah tuturan dan reaksinya secara langsung terhadap masyarakat tutur itu.

Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa peristiwa tutur mempunyai maksud untuk memberikan reaksi pendengar dan tuturan lewat partisipasi mitra tutur, mengenai

pokok pembicaraan, waktu, tempat, situasi, latar, budaya yang digunakan dan tujuan tuturan tersebut. Partisipasi mitra tutur dalam menanggapi tuturan amatlah berpengaruh dalam berkomunikasi.

4. Tindak Tutur

Tindak tutur (speech act) merupakan bagian dari peristiwa tutur (speech event). Tindak tutur dan peristiwa tutur merupakan dua gejala yang terdapat pada proses komunikasi. Tindak tutur adalah tindak yang dilakukan dalam menyampaikan atau menyebutkan suatu maksud oleh penuturnya. Pada tindak tutur lebih dilihat makna dan arti dari tindakan dalam tuturannya, sedangkan dalam peristiwa tutur lebih dikaji pada tujuan peristiwanya.

Tindak tutur tidak terlepas dari kalimat yang dipakai oleh penuturnya. Menurut Chaer dan Agustina (2004: 51) membedakan kalimat deklaratif berdasarkan maknanya menjadi kalimat konstantif dan kalimat performatif. Kalimat konstantif adalah kalimat yang berisi pernyataan belaka, sedangkan kalimat perfomatif adalah kalimat yang berisi perlakuan.

Tindak tutur yang dilangsungkan dengan kalimat performatif oleh Chaer dan Agustina (2004: 53) dirumuskan dalam tiga peristiwa tindakan yang berlangsung sekaligus, yakni :

“(1) tindak tutur lokusi (lucutionary act) yaitu tindak yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata”, atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami. (2) tindak tutur ilokusi (ilucutionary act) yaitu tindak tutur yang biasa didefinisikan dengan kalimat yang perfomatif yang eksplisit. Tindak tutur ini biasanya dengan pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan. (3) tindak tutur perlokusi (perlocutiony act) yaitu tindak tutur yang bekenaan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan sikap dan perilaku non linguistik dari orang lain itu”.

Bahwa secara pragmatik ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur yakni : tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (locutionary act), dan tindak perlokusi (perlocutiony act). Makna tindak tutur berkaitan dengan nilai, pemahaman, dan tanggapan yang dibawakan oleh preposisinya. Maksudnya makna tuturan itu tergantung pada yang diperoleh dari peristiwa ujar tersebut.

5. Bentuk Tindak Tutur Ilokusi

Menurut Tarigan (2009: 42) mengklasifikasikan bentuk tindak tutur ilokusi sebagai berikut :

“(1) asertif yaitu melibatkan pembicara pada kebenaran proposisi yang diekspresikannya. (2) direktif yaitu menimbulkan beberapa efek melalui tindakan sang penyimak. (3) komisif yaitu melibatkan pembicara pada berapa tindakan yang akan datang. (4) ekspresif yaitu mengekspresikan sikap psikologis sang pembicara menuju pada suatu pernyataan keadaan yang diperkirakan oleh ilokusi. (5) deklaratif yaitu ilokusi yang performansinya berhasil yang menyebabkan korespondensi yang baik antara isi proposisinya dengan relitas.

Bentuk tindak tutur ilokusi terbagi atas: asertif, direktif, komisif, ekspresif dan deklaratif. Asertif yaitu peristiwa tutur yang melibatkan pembicara pada kebenaran preposisinya. Direktif dimaksudkan untuk menimbulkan beberapa efek tindakan yang dilakukan oleh penutur. Komisif yaitu melibatkan pembicara pada tindakan yang akan datang. Ekspresif yaitu berfungsi untuk mengekspresikan. Sedangkan deklaratif yaitu mengakibatkan adanya kesesuaian antara isi dengan realitas.

6. Fungsi Tindak Tutur Ilokusi

Leech (1996:112) menyatakan fungsi tindak ilokusi dapat diklasifikasikan atas empat jenis yaitu: (1) Kompetitif, yaitu fungsi ilokusi yang bersaing dengan tujuan sosial, (2) menyenangkan yaitu fungsi ilokusi yang sejalan dengan tujuan sosial, (3) bekerja sama yaitu fungsi ilokusi yang biasa-biasa saja terhadap tujuan sosial, (4) bertentangan yaitu fungsi ilokusi yang bertentangan dengan tujuan sosial.

C. Metode Penelitian

Jenis penelitian kualitatif, latar penelitian ini adalah Pasar Bawah Bukittinggi, informan dalam penelitian ini adalah pedagang di Pasar Bawah. Data pada penelitian ini adalah tuturan pedagang ketika berinteraksi dengan calon pembeli serta rekan seprofesinya di pasar. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah metode simak. Teknik Simak Bebas Libat Cakap, teknik rekam, teknik atat. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode padan.

D. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Data penelitian ini terdiri dari 324 tuturan dari 27 orang pedagang. Data yang termasuk tindak tutur direktif 44 tuturan dari 324 tuturan. Pedagang satu diberi kode (Pd1), pedagang dua (Pd2), pedagang tiga (Pd3), pedagang empat (Pd4), pedagang lima (Pd5), pedagang enam (Pd), pedagang tujuh (Pd7), begitu seterusnya sampai pedagang dua puluh tujuh (Pd27).

Berdasarkan analisis data yang dilakukan maka dapat disimpulkan mengenai tindak tutur pedagang di Pasar Bawah Bukittinggi sebagai berikut:

1. Bentuk Tindak Tutur Direktif

Dari hasil penelitian yang dilakukan, terlihat bahwa bentuk tindak tutur direktif yang terdapat pada tindak tutur pedagang dengan calon pembeli serta rekan seprofesinya itu terdiri dari memesan, memerintah, memohon, menyarankan, meminta, menasehati, melarang, memperbolehkan, dan mengajak. Bentuk tindak tutur memesan tidak ada ditemukan, karena tindak tutur ini berfungsi untuk memberi suatu pesan dengan tujuan lawan tuturnya menanggapi tuturan itu. Direktif memerintah 23 tuturan, tindak tutur memerintah ini paling banyak ditemukan, karena pada umumnya pedagang memerintah calon pembeli untuk membeli barang dagangannya. Direktif memohon 1 tuturan, sedikit ditemukan karena jarang calon pembeli yang meminta dengan penuh permohonan. Direktif menyarankan 6 tuturan, karena pedagang menyarankan calon pembeli untuk membeli barang dagangannya. Direktif meminta 2 tuturan, karena ada beberapa pedagang yang meminta sesuatu kepada rekannya. Direktif menasehati 1 tuturan, bentuk menasehati ini jarang ditemukan karena jarang pedagang yang menasehati calon pembelinya. Direktif melarang 2 tuturan, tindak melarang ini merupakan ungkapan memerintah untuk melakukan sesuatu, tidak memperbolehkan sesuatu. Direktif membolehkan 6 tuturan, tindak membolehkan ini merupakan tindakan mengizinkan. Direktif mengajak 3 tuturan, tindak mengajak merupakan membujuk orang agar memenuhi permintaan kita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur direktif yang paling banyak ditemukan adalah direktif memerintah yaitu 23 tuturan.

Contoh: Tindak Tutur Ilokusi Direktif Memerintah Tengok dek Ni bawang nyo rancak e!

Lihatlah Ni, bawangnya bagus!

Contoh: Tindak Tutur Ilokusi Direktif Memohon Diak duo baleh lah yo….

Dek, dua belas ya…..

Contoh: Tindak Tutur Ilokusi Direktif Menyarankan Bungkuih daun se lah dih bulih agak tahan nyo…

Pakai bungkus daun saja ya boleh tempe nya agak tahan… Contoh: Tindak Tutur Ilokusi Direktif Meminta

Agiah pitiah duo ribu Man…… Mintak uang dua ribu Man…..

2. Fungsi Tindak Tutur Direktif

Fungsi tindak tutur direktif yang paling banyak ditemukan adalah fungsi kompetitif yaitu 26 tuturan, yang terdiri dari direktif kompetitif memerintah, memohon, dan meminta. Tindak yang paling sedikit ditemukan adalah bertentangan, ditemukan 3 tuturan yaitu direktif melarang.

Contoh : Fungsi Tindak Tutur Kompetitif Ni, bawoklah bawang ni…

Uni, bawalah bawang ni….

Contoh : Fungsi Tindak Tutur Menyenangkan

Bawoklah ni, marilah ni, cubolah ni kalo ndak picayo…. Bawalah ni, ke sinilah boleh dicoba kalau tidak percaya… E. Simpulan dan Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tindak tutur direktif pedagang di Pasar Bawah Bukittinggi, tindak tutur direktif merupakan tindak tutur yang disampaikan oleh penutur kepada petutur untuk membuat pendengarnya melakukan sesuatu. Bentuk tindak tutur direktif yang digunakan ialah memesan, memerintah, memohon, menyarankan, meminta, menasehati, melarang, memperbolehkan, dan mengajak. Fungsi tindak tutur direktif yaitu kompetitif, menyenangkan, bekerja sama, dan bertentangan.

Berdasarkan simpulan di atas dapat di sarankan: Bagi pendidikan, pemahaman tentang tindak tutur ini masih perlu di tingkatkan khususnya tindak tutur direktif. Bagi pembaca, dapat menjadi contoh tuturan yang baik yang ada di dalam tuturan pedagang, selain itu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah maupun di lingkungan masyarakat. F. Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rhineka Cipta. Chaer, Abdul dan Leoni Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta : Rineka Cipta. Leech, Geoffrey. 1996. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia (UI).

Lubis, A. Hamid Hasan. 2011. Analisis Wacana Pragramatik. Bandung: Angkasa. Mahsun, M.S. 2005. Metedologi Penelitian Bahasa. Jakarta : Raya Grafindo Persada. Margono. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan. Semarang : Rineka Cipta.

Pangaribuan, Tagor. 2008. Paradigma Bahasa. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Rahardi, R. Kunjana. 2005. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Sudaryanto.1996. Metode dan Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: UGM Press. Sugiyono. 2007. Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sumarsono dan Paida Pratama. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Syamsuddin, dan Damaianti, Vismaia S. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Tarigan, Hendri Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung : Angkasa. Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

WAJAH PENDIDIKAN INDONESIA DALAM NOVEL