• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tindakan (action)

Dalam dokumen serat cemporet (Halaman 53-58)

BAB II LANDASAN TEORI

4.1 Struktur Naratif Teks Serat Cemporet

4.1.2 Peristiwa (event) dalam Serat Cemporet

4.1.2.1 Tindakan (action)

Peristiwa yang berkaitan dengan masalah tolong-menolong yang terdapat dalam Serat Cemporet, terlihat pada peristiwa burung menco dan banteng ketika menolong Ki Cemporet dan istrinya yang tersesat di hutan. Terdapat dalam pupuh ke IV (kinanthi) bait ke 56-57, sebagai berikut.

Dene sangkaning pakantuk, wewah tembung sawatawis, amung asring dana karya, awrat entheng den lampahi, tedah marga wong kasasar, atutulung suker sakit (pupuh IV, bait 56).

Duk miyarsa Kyai Buyut, anggarjita muwus aris, angger lamun makatena, kaleresan ing samangkin, ulun lawan nyai somah, samya nandhang kawlas asih. (pupuh IV, bait 57)

Terjemahan bebasnya :

Caranya memperoleh dan mendapat tambahan beberapa patah kata, ialah karena seringnya memberikan bantuan. Berat dan ringan kami lakukan atau menunjukan jalan kepada mereka yang tersesat tak tahu jalan serta menolong orang yang mengalami kesulitan atau sakit. (pupuh IV, bait 56)

Mendengar penjelasan itu Kyai Buyut berpikir, lalu ujarnya lembut, “Nak jika demikian sungguh kebetulan. Saya dan istri saya ini sedang tertimpa kesusahan. (pupuh IV, bait 57)

Pada ke dua bait di atas, merupakan deretan peristiwa yang berupa tindakan yang dilakukan oleh burung menco dan banteng ketika menolong Ki Buyut Cemporet dan istrinya ketika tersesat di hutan.

Masalah tolong-menolong juga terdapat pada pupuh V (mijil) bait ke 4-5, sebagai berikut.

Sang andaka lan sang menco paksi, kesah sakarongron, prapteng wana rembug andum gawe, bantheng tetep lumastareng kardi, tetulung kaswasih, atuduh marga yu. (pupuh V, bait 4)

Sang menco nedya anuhoni, met reh karahayon, kang tinuju mring praja Pagelen, sawusira sesewangan kapti, ngambara sang paksi, andaka kalaku. (pupuh V, bait 5)

Terjemahan bebasnya :

Suatu waktu banteng dan burung pergi berdua, masuk ke dalam hutan, kemudian bersepakat membagi tugas. Banteng tetap bertugas seperti biasanya, yakni memberi pertolongan kepada orang-orang yang mengalami kesulitan, terutama kepada orang-orang yang tersesat. (Pupuh V, bait 4)

Sedangkan si burung menco akan menunaikan tugas dengan cara-cara memberikan tuntunan ke arah keselamatan. Yang dituju ialah negeri Pagelen. Sesudah menentukan tujuan masing-masing, si burung terbang melayang, sedangkan banteng tetap berjalan. (pupuh V, bait 5)

Dua bait di atas, menceritakan peristiwa burung menco dan banteng akan tekadnya untuk menolong sesama, dengan membagi tugas. Tindakan tersebut dilakukannya dengan ikhlas untuk berbuat kebaikan. Selain itu, untuk menebus dosa-dosa di masa lalu. Supaya Tuhan mengampuni dan merubah wujudnya seperti semula.

Masalah tolong-menolong terdapat juga pada pupuh V bait 38, sebagai berikut.

Saben wonten janma kawlas asih, mbebekta rekaos, amba ingkang tulung nggawakake, tuwin lelampah bingung ing margi, kula anjalari, asuka pinulung. (pupuh V, bait 38)

Terjemahan bebasnya :

Setiap kali ada orang yang kesusahan, misalnya karena barang yang dibawanya terlalu berat, sayalah yang menolong membawakannya. Demikian pula jika ada orang bingung dalam perjalanan, saya pun memberi pertolongan. (pupuh V, bait 38)

Pada pupuh V bait ke 38 di atas, menggambarkan peristiwa banteng melakukan tindakan menolong sesama yang sedang kesusahan. Banteng menolong dengan membawakan barang-barang yang berat. Di samping itu, memberikan pertolongan kepada orang lain yang tersesat di hutan belantara, dengan cara menunjukan jalan.

Masalah tolong menolong juga diperlihatkan dalam pupuh V, bait ke 47 berukut ini.

Nulya mendhak andaka turnyaris, suwawi sang sinom, anumpaka gigire pun bantheng, sang dyah rara laju anuruti, pan sampun anitih, andaka lumaku. (pupuh V, bait 47)

Terjamahan bebasnya :

Banteng lalu merendahkan tubuhnya seraya berkata lembut, “Silakan Dewi, naiklah kepunggung si banteng ini.” Sang Dewi tanpa ragu-ragu

menurut. Sesudah naik, berjalanlah si banteng. (pupuh V, bait 47) Pada pupuh V bait ke 47 merupakan peristiwa banteng melakukan

tindakan menolong Dewi Suretna yang tersesat di hutan. Dewi suretna adalah putri raja Jepara yang dipaksa menikah oleh ayahnya. Karena tidak mau di paksa menikah, kemudian Dewi Suretna melarikan diri dari kerajaan. Dalam pelariannya, Dewi Suretna tersesat di hutan dan ditolong oleh banteng. Kemudian diajaklah Dewi Suretna ke rumah Ki Buyut Cemporet di desa Cengkarsari.

Tindakan burung menco untuk menghibur orang lain dan memberikan tuntunan tentang kehidupan, berupa petuah dan nasehat. Lihat kutipan pupuhVII bait ke 13 berikut ini.

Wus palastha pangidunging paksi, narpatmaja Dyan Jaka pramana, kapirenan ing pranane, rumaket wuwusipun, lah kukila sira sayekti, pratameng pamicara, wignya nembang kidung, liwat dening pasang yogya, dadi rowang ngimur-imur anrang wingit, mengeti rengating tyas. (pupuh VII bait 13)

Terjemahan bebasnya :

Selesailah sudah si burung berkidung. Raja putra, Raden Jaka Pramana hatinya sangat puas, lalu ujarnya ramah, “Hai burung! Engkau benar-benar mahir berbicara, ahli membawakan kidung. Sungguh hangat kebetulan untuk menjadi teman, penghibur penerang kesedihan dan memberi peringatan pada hati yang retak.” (pupuh VII bait 13)

Kutipan pupuh di atas menggambarkan burung menco melakukan tindakan memberikan teladan yang baik bagi kehidupan. Kepandaian menco untuk menggubah kata-kata indah dan menyanyikan dengan suara merdu, bukan hanya untuk menghibur tetapi juga memberikan nasehat untuk orang lain. Pada kutipan di atas, menco menghibur sekaligus memberikan petuah atau nasehat kepada Raden Pramana untuk tidak bersedih hati.

Tindakan anjing untuk menolong Nawangsih yang sedang kesulitan karena teropongnya jatuh di bawah rumah. Lihat kutipan pupuh XVIII bait ke 9-10 berikut ini.

Gupuh-gupuh, anggondhol taropong wau, lajeng tumaracag, prapteng ranggon mawas liring, sarya ngulungaken taropong kang rentah. (pupuh XVIII bait 9)

Sang dyah sampun, anampeni sarya ngungun, amiduhung dahat, dennya muwus pasanggiri, rumaos yen kasiku dening jawata. (pupuh XVIII bait 10)

Terjemahan bebasnya :

Gopoh-gopoh ia membawa teropong tadi dengan mulutnya, lalu cepat-cepat menaiki tangga. Setibanya di atas ia memperhatikannya sejenak seraya menyerahkan teropong yang jatuh. (pupuh XVIII, bait 9)

Si gadis telah menerima dengan perasaan heran, dan sangat menyesal, mengapa ia telah mengucapkan sayembara. Ia merasa telah mendapat amarah dewata. (pupuh XVIII, bait 10)

Kutipan di atas menggambarkan tindakan anjing menolong Rara Nawangsih mengambilkan teropong miliknya. Kemudian atas janji Rara Nawangsih, siapa yang dapat menolongnya mengambilkan teropong akan diberi hadiah. Bila perempuan akan dijadikan saudara, dan jika laki-laki akan dijadikan suami. Namun yang menolong bukan manusia, tetapi seekor anjing.

Seketika Rara Nawangsih menyesal termakan janji yang pernah diucapkan. Hal tersebut, membuat Rara Nawangsih hendak bunuh diri. Setelah anjing menghiburnya dan menceritakan siapa sebenarnya dia, kemudian Rara Nawangsih menepati janjinya untuk menikah dengan anjing (Raden Jayasandika).

Dalam dokumen serat cemporet (Halaman 53-58)