• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinggi dan diameter tanaman krisan a. Tinggi

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Tinggi dan diameter tanaman krisan a. Tinggi

Daftar perkembangan tinggi tanaman krisan pada tegakan terbuka dan tertutup dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Rekapitulasi nilai rata–rata tinggi tanaman krisan pada tegakan terbuka dan tertutup selama 11 kali pengukuran

Rata–rata tinggi tanaman pada minggu ke- (cm)

Lokasi Tanam

Tegakan Terbuka Tegakan Tertutup Bedeng I Bedeng II Bedeng I Bedeng II 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 5,89 5,18 5,69 5,84 7,47 7,00 7,99 8,31 8,86 8,48 10,69 10,97 12,10 11,66 12,25 13,65 14,73 14,95 14,84 17,95 19,04 19,19 19,41 24,85 23,58 24,57 25,09 31,84 26,50 27,13 29,08 34,19 30,54 29,48 35,32 36,27 32,43 30,33 39,24 37,82 34,77 31,99 43,39 39,37

Pada minggu akhir pengamatan, dapat dilihat bahwa rata–rata tinggi tanaman krisan pada bedeng I dan II dibawah tegakan tertutup masing–masing

setinggi 43,39 cm dan 39,37 cm, sementara pada tegakan terbuka tinggi rata–rata tanaman krisan masing–masing adalah 34,77 cm pada bedeng I dan 31,99 cm pada bedeng II. Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa rata–rata tinggi tanaman krisan pada tegakan tertutup lebih tinggi jika dibandingakan dengan rata–rata tinggi tanaman krisan pada tegakan terbuka. Perbedaan ini diduga disebabkan oleh faktor pencahayaan yang menyebabkan tanaman dibawah naungan (dibawah tegakan), bergerak mendekati arah rangsangan yang berupa cahaya matahari. Gerakan mendekati arah rangsangan tersebut disebut gerak fototropisme (Setiawan 2006). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, nilai parameter tinggi ini berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%.

Hasil analisis sidik ragam pengaruh intensitas cahaya matahari terhadap tinggi tanaman krisan dapat dilihat pada Lampiran 13.

Perbedaan rata–rata tinggi tanaman krisan antara tegakan terbuka dan tegakan tertutup dapat juga dilihat pada Gambar 4.

33.38 41.38 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 tegakan terbuka tegakan tertutup Lokasi penanaman R a ta -r a ta t in g g i ta n a m a n ( cm ))

Gambar 4 Perbedaan rata–rata tinggi tanaman krisan antara tegakan terbuka dan tegakan tertutup pada akhir pengamatan (minggu ke-11).

b. Diameter

Pengukuran diameter dilakukan terhadap tanaman krisan yang hidup dan berbunga, sehingga jumlah total tanaman yang diukur tidak lagi genap 500 tanaman setelah dikurangi jumlah tanaman yang mati, melainkan sebanyak 439 tanaman yang masing–masing jumlahnya 226 tanaman pada tegakan terbuka dan 213 tanaman pada tegakan tertutup.

Tabel 9 Rekapitulasi nilai rata–rata diameter pangkal tangkai tanaman krisan (bunga potong) pada tegakan terbuka dan tertutup

Pada Tabel 9, diketahui bahwa nilai rata–rata diameter pangkal tangkai tanaman krisan pada tegakan terbuka nilainya lebih besar jika dibandingkan dengan diameter pangkal tangkai tanaman krisan pada tegakan tertutup, hal ini diduga berhubungan dengan fase reproduktif tanaman krisan. Pada penjelasan sebelumnya, diketahui bahwa nilai persen berbunga (fase reproduktif) pada tegakan terbuka lebih besar dibandingkan dengan nilai persen berbunga pada tegakan tertutup. Menurut Harjadi (1982), jika tanaman yang fase reproduktifnya dominan atas fase vegetatifnya maka akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Mempunyai pertumbuhan vegetatif yang buruk; kerdil/pendek dan akan

membentuk beberapa buah

2. Batangnya akan berkayu; ruas-ruasnya pendek; dan daun-daunnya agak sempit, sedang dan berkutikula tebal

3. Bunga dan buah akan tampak; dinding-dinding sel akan tebal; jaringan-jaringan pembuluh akan dibentuk secara baik; dan jaringan-jaringan-jaringan-jaringan penyimpanan akan penuh dengan pati.

Mengacu pada ciri yang ke-3, dapat diketahui bahwa berdasarkan pada parameter "diameter", maka pada tegakan terbuka yang fase reproduktifnya lebih tinggi, akan memiliki diameter pangkal tangkai tanaman krisan yang nilainnya lebih besar dibandingkan dengan diameter pangkal tangkai tanaman krisan pada tegakan tertutup, namun besarnya ukuran diameter ini tidak dibarengi dengan pertambahan ukuran tinggi (pendek/kerdil) dan sesuai dengan penjelasan sebelumnya, bahwa pada tegakan terbuka, tinggi tanaman krisan lebih rendah dibandingkan dengan tinggi tanaman krisan pada tegakan tertutup (lihat Gambar 4). Berdasarkan analisis sidik ragam, nilai parameter diameter ini tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%.

No Lokasi Penanaman Rata – rata Diameter Pangkal Tangkai Tanaman Krisan (cm) Pada Tegakan Terbuka Pada Tegakan Tertutup

1 Bedeng I 0,61 0,56

Hasil analisis sidik ragam pengaruh intensitas cahaya matahari terhadap diameter pangkal tangkai tanaman krisan dapat dilihat pada Lampiran 14.

Untuk lebih jelas mengenai perbedaan rata–rata diameter pangkal tangkai tanaman krisan antara tegakan terbuka dan tegakan tertutup, dapat dilihat pada Gambar 5. 0.56 0.59 0.53 0.54 0.55 0.56 0.57 0.58 0.59 0.6 tegakan terbuka tegakan tertutup Lokasi penanaman R a ta -r a ta d ia m et er ( cm )

Gambar 5 Perbedaan rata-rata diameter pangkal tangkai tanaman

krisan antara tegakan terbuka dan tegakan tertutup pada akhir pengamatan (minggu ke-11).

5.3 Mutu dan Kualitas Tanaman Krisan

Berdasarkan standar umum yang sering digunakan dalam menilai kualitas/mutu bunga krisan, maka keseluruhan bunga krisan tergolong dalam kelas II dan III yaitu tinggi tangkai bunga rata-rata kurang dari 70 cm dimana nilainya sebesar 39,18 cm, sementara jika parameter yang diamati berupa diameter pangkal tangkai bunga, maka tanaman krisan termasuk dalam kelas I, yakni diameter rata-rata pangkal tangkai bunga lebih dari 5 mm dengan nilai 5,74 mm. Meskipun nilai diameter pangkal tanaman krisan termasuk dalam golongan I, akan tetapi karena faktor tinggi, tanaman krisan tersebut tetap saja termasuk dalam golongan krisan kelas II dan III. Tanaman krisan yang termasuk dalam golongan kelas II dan III ini biasanya dipasarkan untuk konsumen rumah tangga, florist menengah dan dekorasi massal (Rukmana dan Mulyana 1997). Jika penentuan kualitas berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), maka tanaman krisan tersebut masuk dalam golongan C.

Selain tinggi dan diameter pangkal tangkai bunga krisan, ada kriteria lain yang dijadikan acuan dalam menentukan kualitas tanaman krisan. Kriteria-kriteria tersebut biasanya sangat berhubungan dengan nilai jual di pasaran, diantaranya: penampilan yang baik dan menarik, sehat dan bebas dari serangan hama penyakit.

Selama membudidayakan tanaman krisan, ada beberapa hama penyakit yang menggangu tanaman krisan dan diduga telah menyebabkan menurunnya kualitas tanaman.

Pengganggu yang termasuk hama diantaranya: 1. Thrips (Thrips tabaci dan Frankliniella occidentalis) Gejala serangan yang ditimbulkan diantaranya:

a. Pucuk dan tunas-tunas samping berwarna keperak-perakkan atau kekuning- kuningan, terutama pada permukaan bawah daun.

b. Pada serangan yang berat dapat menimbulkan gejala keriting daun, terpelincir dan berkerut.

Ciri umum yang dapat dilihat dari hama tersebut yaitu: jenis serangga yang panjangnya tidak lebih dari 1 mm, berwarna pucat, kuning sampai kehitam-hitaman.

2. Tungau merah ( Tetranychus sp.)

Gejala serangan yang ditimbulkan diantaranya:

a. Daun yang terserang berwarna kuning kecokelatan, terpelintir (distorsi), menebal, dan berbercak kuning sampai cokelat.

b. Pada serangan berat menyebabkan kematian pucuk tanaman

Ciri umum yang dapat dilihat dari hama tersebut yaitu: serangga dewasa berukuran sangat kecil (+ 0,25 mm), telur berwarna putih dan diletakkan dibawah permukaan daun.

Pengendalian hama–hama tersebut lebih sering dengan cara non kimia yaitu dengan cara memotong dan menyingkirkan bagian daun, pucuk atau bunga yang sudah terserang hama. Pengendalian dengan cara kimia jarang dilakukan, hanya 2 kali selama satu daur hidup tanaman krisan yaitu menggunakan insektisida Decis 2,5 EC.

Pengganggu yang menimbulkan penyakit pada tanaman krisan diantaranya:

1. Cendawan Botrytis Cinerea Pers

Cendawan ini menyebabkan penyakit Kapang Kelabu (grey mold) dengan gejala serangan sebagai berikut:

a.Tajuk dan kuntum bunga bercak-bercak diliputi lapisan kelabu kecokelat- cokelatan, membusuk, dan berlekatan

b. Pada serangan berat menyebabkan busuk bunga 2. Virus Kerdil

Gejala serangan virus kerdil adalah tanaman tumbuhnya kerdil (mengecil), tidak membentuk tunas samping, berbunga lebih awal dari pada tanaman yang sehat (normal), dan warna bunganya menjadi pucat. Penyakit kerdil ditularkan oleh alat-alat pertanian yang tercemar penyakit dan pekerja di kebun (Rukmana dan Mulyana 1997).

Penanganan dan pengendalian penyakit-penyakit tersebut dilakukan secara terpadu dan fokus kepada pengendalian non kimia. Pengendalian yang dilakukan yaitu mencabut tanaman yang terindikasi telah terserang penyakit, pembersihan dan pemeliharaan tanaman dengan menggunakan alat-alat pertanian yang steril serta penyemprotan insektisida untuk mengendalikan vektor virus.

5.4 Biaya Pengelolaan Lahan

Beberapa komponen biaya yang diperlukan selama kegiatan pengelolaan lahan (usaha agroforestri dengan tanaman krisan) yaitu:

1. Biaya peralatan

Peralatan yang dimaksud terdiri dari: Cangkul, Parang, Kored, Gunting, Pisau, Gergaji, Kampak, Tangki air ukuran 100 liter, Selang ukuran 100 meter, Sprayer, Bambu, Tali rafia dan bambu.

2. Biaya pupuk

Pupuk yang dimaksud adalah pupuk kandang, pupuk urea, TSP, KCL, Furadan 3G, Pestisida dan ZPT.

3. Biaya bibit

Bibit yang dimaksud adalah bibit tanaman pokok Gmelina arborea dan bibit tanaman krisan yang dipilih dari varietas Snowcap dan BGA Samantha.

Tabel 10 Jumlah total komponen biaya dalam usaha agroforestri dengan tanaman krisan/tahun dengan luasan lahan 10 m²

Biaya-biaya tersebut merupakan biaya pengelolaan lahan selama delapan tahun (satu daur tanaman pokok gmelina) dan setiap tahunnya terdiri dari tiga kali daur tanam/panen bunga krisan. Satu kali daur tanam/panen bunga krisan, memerlukan waktu sekitar tiga sampai empat bulan. Biaya terbesar terjadi pada tahun pertama karena penyediaan alat-alat pertanian yang dilakukan/dibeli secara bersamaan. Total biaya-biaya tersebut terdiri dari dua jenis biaya pokok, yaitu biaya pokok tetap (fixed costs) dan biaya pokok variabel (variable costs). Rincian mengenai biaya pokok tetap dan biaya pokok variabel dapat dilihat pada Tabel 11 dan Tabel 12.

Tabel 11 Komponen dan besarnya biaya pokok tetap dalam pengelolaan lahan agroforestri dengan tanaman krisan selama 1 tahun (3 periode tanam) untuk lahan seluas 10 m²

No Komponen Biaya Tetap Besarnya biaya yang diperlukan /tahun/20m² (Rp)

1 Cangkul 20.000 2 Parang 15.000 3 Kored 15.000 4 Gunting 3.000 5 Pisau 3.000 6 Gergaji 70.000 7 Kampak 60.000

8 Tangki air (100 liter) 175.000

9 Selang air (100 meter) 150.000

10 Sprayer 25.000

Jumlah 536.000

Komponen biaya pokok tetap yang tertera pada Tabel 11, disediakan atau dibeli dengan jumlah yang sama setiap tahun, yaitu masing-masing satu buah untuk setiap komponen biaya.

Tahun ke - Jumlah biaya yang dikeluarkan (Rp)

1 585.700 2 173.700 3 206.700 4 198.700 5 206.700 6 521.700 7 231.700 8 303.700

Tabel 12 Komponen dan besarnya biaya pokok variabel dalam pengelolaan lahan agroforestri dengan tanaman krisan selama 1 tahun (3 periode tanam) untuk lahan seluas 10 m²

No Komponen Biaya Variabel Besarnya biaya yang diperlukan /tahun/20m² (Rp)

1 Bambu 7.200 2 Tali rafia 12.000 3 Pupuk kandang 6.000 4 Urea 37.350 5 TSP 63.900 6 KCL 13.500 7 Furadan 3G 6.000 8 Pestisida dan ZPT 9.000 9 Bibit Krisan 18.750 10 Bibit Gmelina 6.000 Jumlah 179.700

Komponen biaya variabel yang tertera pada Tabel 12 merupakan komponen biaya yang disediakan/dibeli untuk tiga kali periode tanam, sehingga besarnya biaya yang diperlukan untuk satu kali periode tanam dapat diperoleh dengan membagi masing-masing besarannya/jumlahnya dengan bilangan "3".

5.5 Pendapatan Hasil Panen Pengelolaan Lahan

Pendapatan hasil panen pengelolaan lahan (pola agroforestri) setiap tahun dengan luasan lahan 10 m², dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Besarnya pendapatan hasil panen pengelolaan lahan agroforestri setiap tahun dengan luasan lahan 10 m²

Tahun ke- Besar Pendapatan (Rp)

1 -57.700 2 354.300 3 321.300 4 329.300 5 321.300 6 6.300 7 296.300 8 2.224.300

Pendapatan yang diperoleh pada tahun pertama sampai dengan tahun ke tujuh merupakan pendapatan yang berasal dari hasil panen tanaman/bunga krisan, sementara pada tahun ke delapan, pendapatan bersumber dari hasil panen tanaman krisan ditambah hasil panen tanaman pokok gmelina yang telah masak tebang (akhir daur). Pada dasarnya jumlah hasil panen bunga krisan setiap tahun dengan luasan lahan 10 m² adalah sama yaitu sebesar Rp 528.000, namun perbedaan

pendapatan seperti yang tertera pada Tabel 13 disebabkan oleh biaya pengelolaan lahan. Biaya pengelolaan lahan agroforestri pada tahun pertama jumlahnya paling besar, yaitu sebesar Rp 585.700, hal ini mengakibatkan jumlah pendapatan bersih yang diperoleh pada tahun pertama pun menjadi bernilai "negatif" yaitu sebesar Rp -57.700 (Rp 528.000 – Rp 585.700 ) yang artinya pengelola mengalami kerugian. Pendapatan tiap tahun yang diperoleh, tidak termasuk nilai akhir sisa barang (Net Salvage Value) dan dianggap nol karena tidak diketahui (Brigham F dan Gapenski C 1991).

Tanaman krisan yang dipanen selama tiga kali daur tanam bunga krisan (1 tahun) berjumlah 66 ikat/unit yang berasal dari 660 tangkai bunga. Satu ikat tanaman krisan yang dipasarkan berisi 10 tangkai dan dipasarkan dengan harga Rp 8.000/ikat. Sehingga dari hasil penen tanaman krisan saja diperoleh pendapatan kotor sebesar Rp 528.000 (Rp 8.000 x 66). Pendapatan dari hasil panen tanaman pokok (Gmelina arborea) yaitu sebesar Rp 2.000.000, hasil ini berasal dari empat pohon (@ Rp 500.000) dan dapat diperoleh pada akhir daur tanaman pokok (tahun ke-8).

5.6 Analisis Finansial

Komponen analisis finansial yang dihitung adalah NPV, BCR, IRR dan BEP. Hasil perhitungan dari masing-masing komponen analisis finansial tersebut dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Hasil perhitungan NPV, BCR, IRR dan BEP terhadap lahan agroforestri yang dipadukan dengan tanaman krisan

No Komponen Analisis Finansial Hasil Perhitungan

1 Net Present Value (NPV) Rp 1.886.794

2 Benefit Cost Ratio (BCR) 2,9

3 Internal rate of Return (IRR) 33 %

4 Break Even Point (BEP) 102 unit/ikat

Hasil perhitungan keempat komponen analisis finansial tersebut menunjukkan bahwa dari segi finansial, pengelolaan lahan dengan pola agroforestri yang dipadukan dengan tanaman krisan layak diusahakan, dimana nilai NPV yang diperoleh > 0, nilai BCR > 1 dan nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang sedang berlaku yaitu > 12%. Perhitungan NPV, BCR, IRR dapat dilihat pada Lampiran 15 dan perhitungan BEP dapat dilihat pada Lampiran 16.

Dokumen terkait