BAB IV HASIL PENELITIAN
4.6 Tingkat Kolesterol Darah Total
1 33 2,9 97,1 Jumlah 34 100,0
2. Asam lemak tidak jenuh
- < 7 % 15 44,1
- > 7 % 19 55,9
Jumlah 34 100,0
Berdasarkan tabel 4.4. dapat dilihat asupan asam lemak jenuh (ALJ) lebih banyak pada konsumsi >10% dengan jumlah 33 orang (97,1%) dan asupan asam lemak tidak jenuh (ALTJ) lebih banyak pada konsumsi >7% yaitu sebanyak 19 orang (55,9%)
4.6. Tingkat Kolesterol Darah Total
Dari hasil pemeriksaan kolesterol darah total diperoleh tingkat kolesterol darah total reponden dapat dilihat pada tabel sebagai berikut .
Tabel 4.5. Distribusi Tingkat Kolesterol Darah Total pada PNS di Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011.
No Tingkat Kolesterol Darah Total n %
1. Diinginkan (<200 mg/dl) 7 20,6
2. Diwaspadai (>200-239 mg/dl) 16 47,0
3. Berbahaya (≥240 mg/dl) 11 32,4
Dari tabel 4.5. dapat dilihat bahwa tingkat kolesterol darah total lebih banyak terdapat pada kategori diwaspadai (>200 -239 mg/dl) sebanyak 16 orang (47%) dan paling sedikit dengan kategori diinginkan (<200 mg/dl) sebanyak 7 orang (20,6%).
Dari hasil pemeriksaan kolesterol darah total yang telah dilakukan, didapat kolesterol darah total yang paling minimum sebanyak 159 mg/dl dan paling maksimum 352 mg/dl. Rata-rata tingkat kolesterol darah total responden adalah 230,5 mg/dl.
Tabel 4.6. Distribusi Tingkat Kolesterol Darah Total Berdasarkan Jenis Kelamin Pada PNS Di Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011.
No Tingkat Kolesterol Darah Total
Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan n % n % n % 1. Diinginkan (<200 mg/dl) 2 5,9 5 14,7 7 20,6 2. Diwaspadai (>200-239 mg/dl) 7 20,6 9 26,5 16 47,1 3. Berbahaya (≥240 mg/dl) 7 20,6 4 11,8 11 32,4 Jumlah 16 47,1 18 52,9 34 100
Dari tabel 4.6.dapat dilihat bahwa tingkat kolesterol darah total diinginkan (<200 mg/dl) lebih banyak pada jenis kelamin perempuan sebanyak 5 orang (14,7%), diwaspadai (>200-239 mg/dl) lebih banyak pada jenis kelamin perempuan sebanyak
9 orang (26,5%) dan berbahaya (≥240 mg/dl) lebih banyak pada jenis kelamin
Tabel 4.7. Distribusi Tingkat Kolesterol Darah Total Berdasarkan Tingkat Umur Pada PNS Di Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011.
Dari tabel 4.7.dapat dilihat bahwa tingkat kolesterol darah total diinginkan (<200 mg/dl) lebih banyak pada tingkat umur 30-39 tahun sebanyak 4 orang (11,8%), diwaspadai (>200-239 mg/dl) lebih banyak pada tingkat umur 30-39 tahun
sebanyak 11 orang (32,4%) dan berbahaya (≥240 mg/dl) lebih banyak pada tingkat
umur 40-49 tahun sebanyak 7 orang (20,6%).
4.7. Hubungan Konsumsi Energi Dan Lemak Dengan Tingkat Kolesterol Darah Total Pada PNS Di Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011.
Dari analisa data hubungan konsumsi energi dan lemak yaitu energy total, energi yang bersumber dari lemak total, asupan asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh dengan tingkat kolesterol darah total, ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
No Tingkat Kolesterol Darah Total
Tingkat Umur (Tahun)
Jumlah 30-39 40-49 >50 n % n % n % n % 1. Diinginkan (<200 mg/dl) 4 11,8 3 8,8 0 0,0 7 20,7 2. Diwaspadai (>200-239 mg/dl) 11 32,4 4 11,8 1 2,9 16 47,1 3. Berbahaya (≥240 mg/dl) 4 11,8 7 20,6 0 0,0 11 32,4 Jumlah 19 55,9 14 41,2 1 2,9 34 100,0
Tabel 4.8. Hubungan Konsumsi Energi Dan Lemak Dengan Tingkat Kolesterol Darah Total Pada PNS Di Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011.
No Konsumsi Energi Tingkat Kolesterol Darah Total p Diinginkan Diwaspadai Berbahaya 1. Konsumsi Energi 0,302 - Kurang 1 0 0 - Cukup 3 5 3 - Baik 3 11 8 Jumlah 7 16 11
2. Konsumsi Energi Lemak
0,001
- Kurang 3 1 0
- Cukup 2 0 0
- Baik 2 15 11
Jumlah 7 16 11
3. Asam Lemak Jenuh
0,137
- < 10% 1 0 0
- > 10% 6 16 11
Jumlah 7 16 11
4. Asam Lemak Tidak jenuh
0,003
- < 7% 7 4 4
- > 7% 0 12 7
Jumlah 7 16 11
Berdasarkan tabel 4.8. hasil penelitian hubungan konsumsi energi dengan
tingkat kolesterol darah total, berdasarkan hasil uji exact fisher didapat nilai p=0,302
menunjukkan ho diterima, artinya tidak ada hubungan konsumsi energi dengan
tingkat kolesterol darah total.
Hubungan konsumsi energi lemak dengan tingkat kolesterol darah total hasil uji exact fisher nilai p=0,001 menunjukkan ho ditolak, artinya ada hubungan antara konsumsi energi lemak dengan tingkat kolesterol darah total.
Hubungan asupan ALJ dengan tingkat kolesterol darah total hasil uji exact fisher nilai p=0,137 menunjukkan ho diterima, artinya tidak ada hubungan antara asupan ALJ dengan dengan tingkat kolesterol darah total.
Hubungan asupan ALTJ dengan tingkat kolesterol darah total hasil uji exact
fisher nilai p=0,003 menunjukkan ho ditolak, artinya ada hubungan antara asupan ALTJ dengan dengan tingkat kolesterol darah total.
BAB V PEMBAHASAN
5.1. Karakteristik Responden Pada PNS Di Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011
Berdasarkan hasil penelitian pada PNS dapat dilihat bahwa karakteristik umur bervariasi antara 30 tahun sampai umur 52 tahun. Kelompok umur yang lebih banyak pada umur 30-39 tahun yaitu sebesar 59,9%, sedangkan yang paling sedikit >50 tahun yaitu sebesar 2,9%. Umur merupakan faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan pada PJK, sehingga dianggap perlu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara dini sebelum meninmbulkan gejala atau penyakit seperti PJK. Menurut para ahli kesehatan jantung disarankan untuk umur 30 tahun ke atas untuk melakukan general cek-up, karena dianggap pada usia ini resiko untuk mengalami PJK sudah ada.
Jenis kelamin responden lebih banyak pada jenis kelamin perempuan sebesar 52,9% dan laki-laki sebesar 47,1% ini menunjukan bahwa jenis kelamin perempuan yang mendominasi di Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan. Selain umur, jenis kelamin juga merupakan faktor resiko PJK yang tidak dapat dikendalikan. Kolesterol darah dihasilkan oleh hormon tyroid dan estrogen. Hal ini yang menyebabkan perempuan mengalami perlindungan oleh hormone esteron terhadap risiko penyakit jantung dan kolesterol darah lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.
Sedangkan untuk tingkat pendidikan sebagian besar dengan pendidikan S1 sebanyak 50% dan yang paling sedikit tingkat pendidikan SMA sebanyak 11,8%.
5.2. Jenis dan Frekuensi Makan pada PNS di Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundun Tahun 2011.
Dari hasil penelitian yang dilakukan pada PNS di Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan untuk jenis bahan makanan pokok yang sering dikonsumsi adalah nasi (85%) dengan frekuensi 2-3 kali sehari. Mie dan roti dikonsumsi sebagian sebagai makanan pengganti nasi atau makanan penambah nasi pada waktu tertentu saja. Konsumsi mie dalam bentuk kering dan basah diolah dengan direbus, digoreng atau menggunakan santan. Untuk roti dalam bentuk roti kering (biskuit atau crackers) dan berbagai jenis kue. Untuk konsumsi singkong/ubi sebesar 52,9% tidak pernah mengkonsumsi.
Bahan makanan pokok merupakan sumber utama energi, dianggap yang terpenting dalam susunan hidangan pada masyarakat Indonesia dan biasanya merupakan jumlah terbanyak dalam suatu hidangan. Bahan makanan pokok juga dianggap terpenting, karena bila suatu susunan makanan tidak mengandung bahan makanan pokok, tidak dianggap lengkap, dan sering orang yang mengkonsumsinya mengatakan belum makan, meskipun perutnya telah kenyang (Sediaoetama, 2006).
Lauk pauk lebih banyak memilih ikan basah (41,2%) dengan frekuensi 1 kali per hari dalam bentuk ikan digoreng dan digulai. Dari hasil penelitian diketahui bahwa lauk pauk yang bersumber dari hewani dikonsumsi, telur (73,5%), daging ayam (55,9%) dan daging babi (47,1%) dengan frekuensi 1-3 kali per minggu. Diketahui bahwa konsumsi lemak yang bersumber dari lemak hewani sering sehingga asupan lemak dari makanan ini tinggi. Keadaan ini juga diperberat dengan cara pengolahan bahan makanan dengan menggunakan minyak dan santan, sehingga
kandungan lemak dalam makanan semakin bertambah untuk meningkatkan kolesterol dalam darah. Lemak tras dalam produk minyak sawit seperti minyak goreng, margarin dapat terbentuk pada saat hidrogenasi parsial asam lemak tidak jenuh dalam pengolahan minyak. Pengaruh lemak tras ini juga dapat menyebabkan PJK. Penelitian studi Harvard oleh Lanset (1995) menyatakan bahwa margarine merupakan faktor yang cukup kuat dan dapat meningkatkan PJK sampai 50%.
Dari jenis bahan makanan lauk pauk yang dikonsumsi oleh PNS juga mengandung lemak dan kolesterol yang banyak terdapat pada udang, cumi dan kepiting. Apabila kelebihan lemak dan kolesterol ini dapat menyebabkan peningkatan kolesterol dalam darah. Selain kebiasaan konsumsi pangan dari jenis dan frekuensi yang sering, kondisi kantin dan rumah makan sekitar kantor juga menyediakan jenis lauk pauk yang sama dengan kebiasaan konsumsi PNS. Jika kebiasaan pola konsumsi makanan ini terus terjadi maka, kondisi ini yang menyebabkan peningkatan kolesterol darah total yang akhirnya dapat memperburuk dan menyebabkan PJK
Jenis sayuran yang lebih banyak dikonsumsi adalah sawi (55,9%) dengan frekuensi 1 kali per hari. Sayur daun ubi, bayam, kangkung, sawi, buncis, kacang panjang dan timun sebagian besar mengkonsumsi dengan frekuensi 1-3 kali seminggu. Dalam pengolahan sayur juga menggunakan minyak dan santan sehingga dapat menghasilkan lemak dan kolesterol. Sayur yang dikonsumsi bervariasi, terlihat dari jenis yang dikonsumsi sudah beragam dan berimbang.
Jenis buah yang sering dikonsumsi adalah buah pisang, jeruk dan pepaya dengan frekuensi 1-3 kali seminggu. Konsumsi buah biasanya dikonsumsi langsung atau diolah menjadi jus buah. Banyak bukti yang menyatakan bahwa serat makanan
memegang peranan dalam menurunkan kolesterol dalam darah. Penelitian Story dan Kristchevcky (1976) percobaan pada hewan dan manusia, menjelaskan bahwa beberapa komponen serat makanan menurunkan kadar kolesterol. Penelitian Leveille (1977) yang paling banyak diterima bahwa serat mengikat asam/garam empedu sehingga mencegah penyerapan kolesterol kembali ke usus dan meningkatkan eksresi kolesterol ke feses (Muchtadi, 2000).
5.3. Konsumsi Energi Dan Lemak Dengan Tingkat Kolesterol Dalam Darah pada PNS di Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011
Berdasarkan hasil penelitian didapat tingkat konsumsi energi PNS, lebih banyak pada kategori baik (64,7%) dan kategori kurang sebanyak (2,9%). Untuk konsumsi energi lemak paling banyak pada kategori baik (82,4%) dan kategori kurang sebanyak (11,8%). Diketahui bahwa konsumsi energi dari lemak tinggi. Semua makanan yang dikonsumsi menghasilkan energi, tetapi makanan paling tinggi menghasilkan energi adalah yang bersumber dari lemak. Lemak menghasilkan energi dua kali lebih banyak dibandingkan protein dan karbohidrat, yaitu 9 kkal/gr.
Konsumsi energi yang berlebih tidak hanya energi saja yang menyebabkan PJK, namun harus diperhatikan proporsi energi yang berasal dari lemak dan kolesterol. Konsumsi yang berlebih terutama lemak tinggi akan mengakibatkan peningkatan kolesterol dalam darah. Keadaan ini akan berbanding lurus dengan terjadinya PJK dan oleh sebab itu upaya yang paling efektif untuk mencegah
terjadinya penyakit jantung koroner yaitu melalui pengaturan pola makan/intake
Dari hasil penelitian asupan konsumsi lemak yang terdiri dari asam lemak jenuh (ALJ) dan asam lemak tidak jenuh (ALTJ) pada PNS didapat ALJ lebih banyak pada konsumsi >10% dari total kalori sebanyak 97,1 %. Sedangkan konsumsi lemak ALTJ lebih banyak pada konsumsi >7% dari total kalori sebanyak 55,9%. Tingginya asupan ALJ dan ALTJ pada penelitian ini berkaitan dengan asupan lemak yang tinggi. Ini disebabkan frekuensi dan jumlah asupan lemak melebihi dari jumlah kebutuhan.
Bahan makanan sumber lemak ada 2 jenis, yaitu lemak hewan dan lemak tumbuh-tumbuhan. Lemak yang terdapat di dalam lemak hewan merupakan asam lemak jenuh (ALJ) sedangkan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan terdapat dalam bentuk asam lemak jenuh (ALJ) maupun asam lemak tidak jenuh (ALTJ) tetapi lebih banyak asam lemak tidak jenuh. Dari bahan makanan sumber lemak ini, ALJ sangat berpengaruh terhadap terjadinya kadar kolesterol dalam darah, tetapi tidak mengabaikan ALTJ.
Menurut Beynen dan Katan (1985) dalam buku pangan dan gizi menyatakan bahwa asam lemak tidak jenuh jamak akan menurunkan kadar kolesterol darah total karena hati tidak akan mengkonversikannya menjadi trigliserida tetapi menjadi
senyawa keton (keton bodies). Hati akan mentransportasikan asam lemak tidak jenuh
jamak ke jaringan untuk di oksidasi tanpa meninggalkan remnant lipoprotein dalam bentuk LDL. Oleh karena itu, berdasarkan hasil-hasil penelitian seperti ini, untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah, dianjurkan untuk mengkonsumsi lemak/minyak tidak jenuh jamak yang mengandung asam lemak tidak jenuh jamak,
ALTJ atau PUFA dalam jumlah tinggi, sedangkan konsumsi lemak jenuh dari hewani termasuk minyak kelapa yang harus dikurangi atau dihindarkan.
Seperti yang terdapat pada minyak sawit yang menyebakan perobahan
lemak dari cis menjadi trans. Lemak tras faktor cukup kuat dan dapat meningkatkan
penyakit jantung koroner sampai 50%.
5.4. Tingkat Kolesterol Darah Total PNS di Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2011
Berdasarkan hasil pemeriksaan kolesterol darah total pada PNS terdapat tingkat kolesterol darah total yang paling banyak dengan kategori diwaspadai (>200-239mg/dl) sebanyak 47% dan kategori diinginkan (<200 mg/dl) 20,6%, dengan nilai minimum 159 mg/dl dan nilai maksimum 352 mg/dl. Tingginya kolesterol darah total dapat menyebabkan terjadinya PJK.
Pedoman klinis tingkat kolesterol darah total dihubungkan dengan resiko PJK, sehingga pedoman ini memerlukan pengelolaan penting. Dari berbagai penelitian jangka panjang dikaitkan dengan besarnya resiko kemungkinan untuk terjadinya PJK yang dikenal patokan kadar kolesterol total yaitu, kadar yang diinginkan dan diharapkan masih aman, kadar yang sudah mulai meningkat dan harus sudah diwaspadai untuk mulai dikendalikan dan kadar yang tinggi dan berbahaya.
Pedoman klinis kolesterol darah total kategori diwaspadai dan berbahaya adalah sebagai salah satu patokan terhadap kejadian PJK. Sehingga untuk mengatasi hal ini maka, dianggap perlu untuk melakukan pengaturan konsumsi energi terutama lemak dan melakukan pemeriksaan rutin terhadap kolesterol darah total.
Tingkat kolesterol darah total diinginkan (<200 mg/dl) lebih banyak pada jenis kelamin perempuan sebanyak 5 orang (14,7%), diwaspadai (>200-239 mg/dl) lebih banyak pada jenis kelamin perempuan sebanyak 9 orang (26,5%) dan berbahaya
(≥240 mg/dl) lebih banyak pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 7 orang (20,6%).
Untuk tingkat kolesterol darah total diinginkan (<200 mg/dl) lebih banyak pada tingkat umur 30-39 tahun sebanyak 4 orang (11,8%), diwaspadai (>200-239 mg/dl) lebih banyak pada umur 30-39 tahun sebanyak 11 orang (32,4%) dan
berbahaya (≥240 mg/dl) lebih banyak pada umur 40-49 tahun sebanyak 7 orang
(20,6%).
Faktor risiko pada PJK dapat dibedakan menjadi faktor yang risiko yang dapat dikendalikan seperti kolesterol dalam darah dan tidak dapat dikendalikan yaitu umur dan jenis kelamin. Umur 30 tahun ke atas merupakan risiko terjadinya peningkatan kolesterol dalam darah. Sehingga untuk umur ini perlu dilakukan pemeriksaan kolesterol untuk dapat dikendalikan agar tidak menjadi PJK.
5.5. Hubungan Konsumsi Energi Dan Lemak Dengan Tingkat Kolesterol Darah Total Pada PNS di Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan
Pola konsumsi dalam penelitian ini menggambarkan besarnya asupan energi
dan lemak. Berdasarkan uji exact fisher nilai p=0,005 maka ho ditolak yaitu ada
hubungan antara konsumsi energi dengan tingkat kolesterol dalam darah. Pada hubungan konsumsi energi dengan tingkat kolesterol darah total didapat nilai p=0,302 artinya tidak ada hubungan konsumsi energi dengan tingkat kolesterol darah total. Dari tabel 4.7 diketahui bahwa konsumsi energi baik dengan tingkat kolesterol
darah total diwaspadai/berbahaya sebanyak (70%). Pada penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan, ini disebabkan karena bukan konsumsi energi saja yang menyebabkan peningkatan kolesterol tetapi persentase konsumsi energi yang bersumber dari lemak.
Hal ini juga sesuai dengan penelitian Nasution (2003) yang menjelaskan hubungan konsumsi energi dengan PJK tidak bisa hanya masukan energi saja, namun harus diperhatikan proporsi energi yang berasal dari lemak terutama lemak jenuh serta kaitanya dengan obesitas dan aktivitas fisik.
Untuk hubungan konsumsi energi lemak dengan tingkat kolesterol darah
total dari hasil uji exact fisher nilai p=0,001. Artinya ada hubungan yang bermakna
antara konsumsi energi lemak dengan tingkat kolesteol darah total. Berdasarkan bahan makanan yang mengandung lemak yang dikonsumsi responden seperti telur, daging ayam, daging babi, udang/cumi/kepiting adalah produk yang mengandung lemak tinggi dan berperan dalam meningkatkan kolesterol dalam darah. Pada penelitian ini menunjukkan konsumsi energi lemak yang menyebabkan peningkatan kolesterol darah total .
Hal ini sesuai dengan penelitian Hatma (2001) mendapatkan adanya korelasi positif yang bermakna antara asupan asam lemak dengan kadar kolesterol total pada etnis Minangkabau. Pada penelitian Supari (2001) diet rendah lemak dengan tampa melihat jenis lemaknya dapat menyebabkan penurunan kadar kolesterol darah.
Untuk hubungan asupan lemak ALJ dengan tingkat kolesterol darah total
antara asupan lemak ALJ dengan tingkat kolesteol darah total. Diketahui bahwa asupan lemak ALJ >7% dengan tingkat kolesterol darah total diinginkan/diwaspadai/berbahaya sebanyak 97,1%. Sementara pada asupan lemak ALJ >7% dengan tingkat kolesterol darah total diinginkan/diwaspadai/berbahaya sebanyak 2,9%.
Pengaruh asupan ALJ terhadap kadar kolesterol dalam darah faktor yang kuat untuk meningkatkan, sehingga diharapkan asupan ALJ per hari adalah <10% dari total energi. Tetapi pada penelitian ini hubungan ALJ dengan tingkat kolesterol total darah tidak bermakna, ini disebakan bahwa sebagian besar 97,1% konsumsi ALJ >10%, sehingga pada asupan ALJ <10% tidak dapat diketahui.
Untuk hubungan asupan lemak ALTJ dengan tingkat kolesterol darah total
dari hasil uji exact fisher nilai p=0,003 artinya ada hubungan yang bermakna antara
asupan lemak ALTJ dengan tingkat kolesteol darah total. Diketahui bahwa asupan lemak ALTJ >7% dengan tingkat kolesterol darah total diinginkan/diwaspadai/berbahaya sebanyak 55,9%. Sementara pada asupan lemak ALTJ >7% dengan tingkat kolesterol darah total diinginkan/diwaspadai/berbahaya sebanyak 44,1%.
Asupan ALTJ seperti yang terdapat pada minyak dan santan akan menyumbangkan kolesterol darah total. Sehingga diharapkan asupan ALTJ yang terdapat pada minyak dan santan dikurangi atau dihindarkan.
Menurut Beynen dan Katan (1985) dalam buku pangan dan gizi menyatakan berdasarkan hasil-hasil penelitian seperti ini, untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah, minyak kelapadan santan yang harus dikurangi atau dihindarkan.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada PNS di Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan tahun 2011, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Bahan makanan pokok responden yang paling sering (2-3 kali per hari) adalah
nasi. Lauk pauk (1 kali per hari) adalah ikan basah sedangkan telur, daging ayam, daging kuda dan daging babi dikonsumsi 1-3 kali perminggu. Sayur yang paling sering (1 kali per hari) adalah sawi, konsumsi buah yang paling sering (1 kali per hari) adalah pisang dan makanan yang lain adalah makanan gorengan (1-3 kali per minggu).
2. PNS yang mempunyai konsumsi energi kurang (2,9%), cukup (32,4%) dan baik
(64,7%)
3. PNS yang mempunyai konsumsi energi lemak kurang (11,8%), cukup (5,9%) dan
baik (82,4%).
4. PNS yang mempunyai asupan lemak ALJ <10 % (2,9%), >10% (97,1%) dan
asupan lemak ALTJ <7 % (44,1%), >7% (55,9%).
5. PNS yang mempunyai kolesterol darah total diinginkan (20,6%), diwaspadai
(47%) dan berbahaya (32,4%).
6. Tidak terdapat hubungan nyata antara konsumsi energi dengan tingkat kolesterol
7. Terdapat hubungan nyata antara konsumsi energi lemak dengan tingkat kolesterol darah total (p=0,001)
8. Tidak terdapat hubungan nyata antara asupan ALT tingkat kolesterol darah total
(p=0,137)
9. Terdapat hubungan nyata antara asupan ALTT tingkat kolesterol darah total
(p=0,003)
6.2 Saran
1. Bagi PNS untuk memperhatikan dan mengatur pola konsumsi pangan dari jenis
dan jumlah makanan yang mengandung lemak dan sebaiknya asupan konsumsi lemak dalam satu hari tidak melebihi 10-25% dari kebutuhan energi total
2. Bagi PNS mengatur frekuensi makanan yang mengandung kolesterol menjadi 1-2
kali per bulan dan mengurangi konsumsi lemak yang menghasilkan kolesterol
3. Bagi PNS melakukan pemeriksaan kolesterol darah secara rutin minimal 1 kali
per 6 bulan untuk kategori diwaspadai dan berbahaya sedangkan untuk kategori
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Cetakan IX, Jakarta.
______________, 2005. Penuntun Diet. Gramedia, Jakarta.
Anwar, Bahri T. 2004. Dislipidemia sebagai Faktor Resiko Penyakit Jantung
Koroner. USU, Medan
Arisman, 2010. Gizi Daur Kehidupan. Buku Kedokteran Cetakan XII. ECG, Jakarta
Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip,
2011. Gizi dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta
Depkes, 2003. Survei Kesehatan Nasional 2001: Laporan Studi Mortalitas
2001:Pola Penyakit Penyebab Kematian di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta
Dinas Kesehatan Kabupaten Humbang Hasundutan, 2010. Profil Kesehatan
Kabupaten Humbang Hasundutan
FKUI, 2003. Pengkajian Status Gizi Studi Epidemiologi, Jakarta
Irianto, Kus. 2007. Gizi dan Pola Hidup Sehat. CV Yrama Widya, Bandung
Lubis, Zulhaida. 2009. Hidup Sehat Dengan makanan Kaya Serat. IPB Pres
Manurung, Elvi, 2004. Hubungan Antara Asupan Asam Lemak Tak Jenuh
Tunggal Dengan Kadar Kolesterol HDL Plasma Penderita Penyakit Jantung Koroner. Tesis Mahasiswa Magister Sains Ilmu Gizi Klinik, UI, Jakarta
Michael, Polan, 2010. Memperbaiki Pola Makan Menuju Hidup Sehat Dan
Alami. Qanita, Jakarta.
Nasution, Ernawati, 2003. Pola Konsumsi Pangan Masyarakat Minang Dengan
Total Kolesterol Darah di Kota Medan. USU, Medan
Nurlita, Hera, 2004. Mari Lakukan Pengendalian Penyakit Jantung Dan
Pembuluh Darah Melalui Pola Makan Bergizi Seimbang.www.gizi.net. diakses tanggal 14 April 2011.
Penebar Swadaya, 2010. Pengantar Pangan dan Gizi. Swadaya Cetakan III, Jakarta.
Santoso, 2004. Kesehatan dan Gizi. Rineke Cipta Edisi II, Jakarta
Seto, S. 2003. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta
Siagian, Albiner. 2010. Epidemiologi Gizi. Erlangga, Jakarta
Sirait, M, 2008. Pola Komsumsi Pangan Sumber Vitamin A dan Kontribusi
Sayur serta buah terhadap kecukupan Vitamin A pada Anak Balita. Skripsi Mahasiswa FKM USU, Medan
Singarimbun, dkk, 1995. Metode Penelitian Survai. LP3ES, Jakarta
Soekidjo, 2007. Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta, Jakarta
Soeharto, I 2004. Serangan Jantung dan Stoke Hubungan dengan Lemak dan
Kolesterol. Gramedia Utama Pustaka Edisi ke II, Jakarta
_________, 2004. Penyakit jantung koroner dan serangan jantung, PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta
Suhardjo, dkk, 1992, Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Kanisius, Yogyakarta
Supariasa, dkk, 2001. Penilaian Status Gizi. Buku Kedokteran, ECG, Jakarta
Team Pengajar Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia, 2011. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. PT
Raja Grafindo Persada Cetakan VI, Jakarta
Yatim, I,. 2000. Waspadai Jantung Koroner Stroke Meninggal Mendadak Atasi
dengan Pola hidup sehat, Penerbit Pustaka Populer, Obor, Jakarta .
Yusnidar, 2007. Faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian PJK
pada wanita usia > 45 tahun, Tesis Mahasiswa PPS Magister Epidemiologi UNDIP, Semarang
MASTER DATA
HUBUNGAN POLA KONSUMSI PANGAN DENGAN TINGKAT KOLESTEROL DARAH TOTAL PADA PEGAWAI NEGERI SIPIL
DINAS KESEHATAN KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN TAHUN 2011
NO UMUR JK TP KEB
ENERGI KE TKE KL TKL KDT TTKL ALJ ALTJ
1 52 1 4 2250 2546 3 90 3 218 2 79 11 2 47 1 3 2350 2641 3 127 3 214 2 107 20 3 49 1 4 2350 2350 3 93 3 231 2 63 31 4 49 1 3 2350 2289 2 96 3 256 3 81 15 5 40 2 3 1800 1711 2 37 1 185 1 24 13 6 46 1 3 2350 3248 3 155 3 256 3 114 41 7 43 2 2 1800 2346 3 92 3 256 3 58 35 8 47 1 1 2350 1981 2 90 3 240 3 68 22 9 40 2 2 1800 2171 3 95 3 306 3 67 28 10 46 2 2 1800 1572 2 37 1 183 1 34 3 11 35 1 3 2350 2320 2 93 3 232 2 68 25 12 32 2 3 1800 2175 3 79 3 226 2 61 18 13 39 1 4 2350 2647 3 71 3 253 3 56 15 14 42 2 2 1800 2129 3 85 3 217 2 62 23 15 35 2 3 2350 2239 2 119 3 235 2 75 45 16 37 1 3 2350 1313 1 32 1 180 1 25 8 17 38 1 4 2350 2317 2 102 3 320 3 73 30 18 34 2 3 1800 1918 3 77 3 231 2 44 33 19 43 1 1 2350 1976 2 51 1 211 2 39 12 20 40 2 3 1800 2336 3 114 3 258 3 99 15 21 33 2 3 1800 2234 3 111 3 234 2 75 36 22 39 1 3 2350 2804 3 125 3 352 3 105 20 23 45 2 2 1800 2295 3 96 3 252 3 88 8
24 33 2 3 1800 2304 3 112 3 204 2 93 19 25 31 2 3 1800 2134 3 122 3 201 2 102 20 26 32 1 2 2350 2505 3 97 3 275 3 89 9 27 30 2 2 1800 1923 3 41 2 172 1 38 3 28 31 2 3 1800 1975 3 59 3 159 1 54 5 29 39 1 3 2350 2087 2 79 3 214 2 75 4 30 35 2 2 1800 1812 3 47 2 197 1 42 5 31 31 1 2 2350 2481 3 78 3 230 2 67 11 32 30 2 3 1800 2479 3 165 3 210 2 113 52 33 41 1 1 2350 2241 2 67 3 189 1 57 10 34 30 2 1 1800 1746 2 62 3 234 2 33 29 Keterangan
1. JK = Jenis Kelamin 6. KL= Kecukupan Lemak
1.Laki-laki
2.Perempuan 7. TKL = Tingkat Kecukupan Lemak
1.Kurang
2. TP = Tingkat Pendidikan 2.Cukup
1.SMU 3.Baik 2.D3
3.S1 8. KDT = Kolesterol Darah Total
4.S2
3. KEB ENERGI : Kebutuhan Energi 9. TKDT =Tingkat Kolesterol darah Total