• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENILAIAN MASYARAKAT TERHADAP

5.2. Proses Pembentukan Citra

5.2.1. Tingkat Penangkapan Informasi (Exposure) 60

Dalam penelitian ini, tingkat penangkapan informasi dinilai dari sejauh mana sasaran program mengetahui atau menyadari adanya implementasi program PLTMH. Tingkat penangkapan informasi digunakan untuk melihat informasi yang dimiliki responden tentang program PLTMH di Lebak Picung, hingga sejauh mana responden mengetahui tentang PLN dan upaya yang dilakukan PLN.

Sebanyak dua belas responden (23 persen) menyatakan sangat mengetahui program PLTMH yang dilakukan oleh PLN di Lebak Picung, hal ini ditunjukkan dari informasi yang mereka miliki tentang daya yang dihasilkan dari PLTMH Lebak Picung, pentingnya menjaga hutan agar debit air tetap terjaga, kelembagaan untuk mengelola PLTMH, hingga pentingnya menjaga kebersihan sungai. Empat puluh responden lain (77 persen) sekedar mengetahui program PLTMH yang dilakukan PLN di Lebak Picung. Secara garis besar seluruh responden mengetahui program PLTMH yang dilakukan oleh PLN di Lebak Picung khususnya melalui sosialisasi yang dilakukan sebelum program dijalankan.

Terdapat empat responden (8 persen) menyatakan lebih mengenal PLN setelah adanya PLTMH, responden ini menyatakan bahwa sebelumnya tidak tahu tentang PLN, namun setelah adanya PLTMH di Lebak Picung mereka mengetahui bahwa PLN merupakan perusahaan yang berjasa dalam penyediaan listrik. Sebanyak 36 responden (69 persen) menyatakan bahwa sebelumnya telah mengenal PLN namun setelah adanya PLTMH, informasi yang dimiliki tentang PLN semakin banyak. Sedangkan dua belas responden lain (23 persen) menyatakan bahwa PLTMH tidak mengubah pengetahuan yang dimiliki tentang PLN, dimana keduabelas responden ini mengenal PLN tidak melalui adanya PLTMH yang ada di lokasi mereka tinggal.

Sebanyak enam responden (12 persen) menyatakan bahwa PLN secara sangat kontinu menjalankan program PLTMH di Lebak Picung, menurut mereka hal ini dibuktikan dari bentuk nyata yang dilakukan PLN dengan membangun PLTMH, walaupun PLTMH sempat mati beberapa bulan, namun responden berpendapat bahwa hal ini lebih dikarenakan debit air sungai yang rendah. Empat puluh tiga responden (83 persen) menyatakan bahwa PLN terus menerus menjalankan program PLTMH, responden berpendapat bahwa selama PLTMH masih mengalirkan listrik memberikan pasokan listrik maka PLN masih tetap menjalankan program pemberdayaan melalui PLTMH, dan tiga responden lain (5 persen) berpendapat bahwa PLN masih belum terus menerus menjalankan PLTMH karena tidak ada pengontrolan yang dilakukan oleh pihak PLN dan saat membeli alat baru untuk PLTMH, warga harus mencari sendiri ke Bandung, menurut mereka PLTMH yang ada juga sempat mengalami kematian sehingga menunjukkan bahwa PLN belum secara terus menerus menjalankan program PLTMH.

Sebanyak empat responden (8 persen) menyatakan sangat mengetahui bahwa PLTMH merupakan salah satu bentuk komunikasi PLN dengan masyarakat, bahkan menurut responden, PLTMH tidak hanya sekedar sebagai sarana komunikasi yang dilakukan perusahaan, namun juga memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. empat puluh tiga responden (83 persen) hanya sekedar mengetahui bahwa PLTMH sebagai salah satu bentuk komunikasi yang dilakukan PLN dengan masyarakat, sedangkan lima responden (9 persen) menyatakan kurang mengetahui bahwa PLTMH merupakan bentuk komunikasi PLN dengan masyarakat.

Sebanyak delapan responden (15 persen) menyatakan sangat mengetahui program pemberdayaan yang dilakukan oleh PLN melalui PLTMH dari sosialisasi yang dilakukan ke Lebak Picung, sedangkan 44 responden lain (85 persen) lain mengetahui informasi tentang program PLTMH melalui sosialisasi yang dilakukan ke Lebak Picung. Sosialisasi ini dilakukan dengan bantuan mitra yaitu Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Institut Pertanian Bogor. Seluruh responden mengetahui tentang PLTMH dari sosialisasi yang dilakukan kepada sasaran program. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi yang dilakukan dengan sengaja

yaitu melalui sosialisasi mempengaruhi tingkat penangkapan informasi sasaran program.

Tiga belas responden (25 persen) sangat setuju bahwa listrik mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik, melalui kemudahan yang didapatkan dengan adanya alat elektronik, hingga pekerjaan yang bisa dilakukan dengan adanya listrik sehingga bisa menambah penghasilan keluarga, salah satunya yaitu dari home industry pembuatan meubel. Sedangkan 38 responden (73 persen) setuju bahwa listrik mampu menciptakan kehidupan yang lebih baik, dan satu orang responden (2 persen) tidak setuju karena walaupun listrik memberikan dampak yang positif, namun dengan adanya listrik kebutuhan hidup juga ikut meningkat.

Tabel 16. Jumlah dan Presentase Responden Berdasarkan Tingkat Penangkapan Informasi (Exposure).

No. Tingkat Penangkapan Informasi (skor) Jumlah

N Persen

1 Rendah (≤11) 0 0

2 Sedang (12-18) 32 62

3 Tinggi (≥19) 20 38

Jumlah 52 100

Berdasarkan data Tabel 16 diketahui bahwa sebanyak dua puluh responden responden (38 persen) memiliki skor keseluruhan di atas 19 yang berarti mereka memiliki informasi yang tinggi tentang program PLTMH maupun PLN sebagai perusahaan penyelenggara PLTMH. Tiga puluh dua responden (62 persen) memiliki skor 12-18 yang berarti memiliki cukup informasi atau tingkat penangkapan informasi sedang tentang program PLTMH.

“...sebelumnya ya nggak tau kalau ada PLN, baru pas ada PLTMH tahu tentang PLN....” (Sgn, 47 tahun)

Meskipun sebagian responden menilai bahwa PLN belum menjalankan program PLTMH secara terus menerus karena tidak adanya pengontrolan yang dilakukan perusahaan ke Lebak Picung, namun secara keseluruhan responden memiliki informasi yang memadai tentang program PLTMH.

5.2.2. Tingkat Perhatian (Attention)

Tingkat perhatian menilai sejauh mana ketertarikan penerima program untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatan PLTMH, yang dilihat melalui ketertarikan serta apa yang dirasakan oleh responden terhadap program PLTMH dari PLN. Sebanyak empat responden (8 persen) merasa PLN sangat berusaha untuk hidup berdampingan dengan masyarakat yang ditunjukkan dengan adanya PLTMH, 47 responden (90 persen) merasa PLN sudah berusaha untuk hidup berdampingan dengan masyarakat, karena sebelumnya pendistribusian listrik dari PLN belum menjangkau wilayah Lebak Picung. Satu responden (2 persen) lain menyatakan sangat tidak setuju bahwa PLN berusaha untuk hidup berdampingan dengan masyarakat karena menurutnya PLN seolah lepas tangan setelah memberikan PLTMH.

Tingkat perhatian juga diketahui dari keterlibatan dalam kegiatan yang berhubungan dengan PLTMH mulai dari perencanaan hingga pengelolaan. Sebanyak tujuh responden (13 persen) menyetakan mengetahui dengan benar tiap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan PLTMH mulai dari perencanaan hingga pengelolaan, hal ini dikaitkan dengan peran yang dimiliki dalam kelembagaan di masyarakat Lebak Picung. Terdapat enam responden (12 persen) mengikuti dan mengetahui dengan benar kegiatan yang berhubungan dengan PLTMH walaupun tidak memiliki posisi tertentu dalam panitia yang dibentuk dari masyarakat. Empat belas responden (27 persen) menyatakan mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan PLTMH namun tidak mengikuti seluruh kegiatan sehingga perhatian yang dimiliki pun relatif rendah, sedangkan satu orang responden (2 persen) menyatakan tidak mengetahui dengan benar, dan hanya sekedar menerima program saja.

Sebanyak tujuh responden (14 persen) merasa bahwa program PLTMH yang dilakukan PLN sangat mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Lebak Picung, karena sebelum adanya PLTMH hanya ada beberapa rumah saja yang bisa mengakses listrik melalui PLTS ataupun turbin pribadi, dan ketujuh responden ini baru mendapatkan akses listrik setelah ada program PLTMH. Tiga puluh tujuh responden (71 persen) merasa bahwa programPLTMH telah mampu

memnuhi kebutuhan listrik karena memiliki daya yang lebih tinggi dibandingkan pembangkit lain yang ada di Lebak Picung seperti PLTS maupun turbin pribadi, sedangkan delapan responden (15 persen) kurang setuju, karena menurut mereka PLTMH memang mampu memenuhi listrik rumah tangga di Lebak Picung namun tidak pada saat kemarau.

Terdapat dua belas responden (23 persen) merasa bahwa program PLTMH dari PLN sangat memberikan dampak yang positif bagi penerima program, empat puluh responden (77 persen) lain merasa bahwa program PLTMH telah memberikan dampak positif. Secara garis besar seluruh responden merasa bahwa PLTMH telah memberikan dampak yang positif, jadi secara keseluruhan responden menyatakan bahwa PLTMH telah memberikan dampak yang positif bagi mereka.

Tujuh responden (13 persen) yang sangat mengetahui dengan benar tujuan dari program PLTMH karena dilakukan dengan melibatkan warga secara langsung dalam program, 32 responden (62 persen) cukup mengetahui tujuan dari program PLTMH karena keterlibatannya secara langsung dalam program, sedangkan tiga belas responden (25 persen) ternyata kurang mengetahui tentang tujuan program PLTMH dan hanya sekedar merasakan manfaat yang positif bagi mereka.

Tabel 17. Jumlah dan Presentase Responden Berdasarkan Tingkat Perhatian (Attention).

No. Tingkat Perhatian (skor) Jumlah

N Persen

1 Rendah (≤9) 0 0

2 Sedang (10-15) 37 71

3 Tinggi (≥16) 15 29

Total 52 100

Secara keseluruhan tingkat perhatian responden merupakan tahapan lebih lanjut setelah penangkapan informasi dalam proses pembentukan citra. Tingkat perhatian dilihat berdasarkan ketertarikan sasaran program terhadap PLN dan program PLTMH. Ketertarikan ini salah satunya dinilai dari keyakinan terhadap program dan perusahaan. Tingkat perhatian dinilai dari 5 pertanyaan. Terdapat lima belas responden (29 persen) memiliki tingkat perhatian yang tinggi terhadap

program yang dilihat melalui ketertarikan responden terhadap usaha yang dilakukan PLN khususnya melalui program PLTMH di tempat mereka tinggal. Responden merasa bahwa PLN sangat berusaha untuk hidup berdampingan dengan siapapun yang terlihat dari kesungguhan PLN untuk menjangkau mereka walaupun berada di lokasi yang cukup sulit dijangkau, ketertarikan mereka diketahui pula dari pengetahuan yang dimiliki dari tiap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan PLTMH dari mulai perencanaan sampai pengelolaan.

Terdapat 37 responden (71 persen) dengan total skor 12-18 yang berarti memiliki tingkat perhatian sedang. Sebagian besar tingkat perhatian responden yang masuk dalam kategori perhatian sedang ini dipengaruhi oleh ketidakstabilan PLTMH yang masih sering mengalami kematian khususnya saat musim kemarau. Responden juga menyatakan bahwa PLN belum sepenuhnya berusaha hidup berdampingan dengan masyarakat karena tidak pernah mengadakan kunjungan atau pengontrolan ke daerah mereka.

Dokumen terkait