• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

TINGKAT PENCEM AR AIR SUNGAI

0 50 100 150 200 250 300 350

HULU TENGAH HILIR

LO KA S I

TSS

KEKERUHAN BOD

COD

Gambar 36 Konsentrasi Pencemar Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Kualitas Air Sungai Cilemah. Hasil Analisis, 2007

TINGKAT PENCEMARAN AIR SUNGAI

0 50 100 150 200 250 300 350 400

HULU TENGAH HILIR

LOKASI K A D A R P E N C E M A R TSS KEKERUHAN BOD COD

Gambar 37 Konsentrasi Pencemar Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Kualitas Air Sungai Citatum. Hasil Analisis, 2007

Dari Gambar 34 sampai Gambar 37 diatas di daerah daratan dapat terlihat bahwa analisis yang memberikan prioritas peningkatan kegiatan di daratan wilayah pesisir memberikan dampak yang besar pada kualitas air laut dan air sungai. Dampak yang terbesar terhadap kualitas air laut dan sungai adalah penggunaan lahan Industri, permukiman, pertanian, pelabuhan dan pariwisata. Seperti hasil yang diperoleh pada

analisis 1 yaitu kesesuaian dan daya dukung lahan untuk penggunaan lahan industri, permukiman, pertanian, pelabuhan dan pariwisata berada pada posisi lahan yang ”sesuai” ( dimana faktor pembatas masih menentukan dalam pemanfaatannya). Hasil analisis 1 juga menunjukkan bahwa lahan di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi ”sangat sesuai” untuk usaha budidaya tambak, pelabuhan perikanan dan usaha perikanan jaring apung.

Hasil pemodelan interaksi menunjukkan bahwa konsentrasi parameter lingkungan yang diamati secara umum juga mengalami peningkatan. Peningkatan paramater-paramater yang berkaitan langsung dengan kondisi wilayah pesisir terlihat jelas pada paramater peraiaran/laut dan sungai. Sebagaimana pada analisis 2 telah dijelaskan bahwa paramater-paramater dari kondisi perairan selalu cendrung meningkat seiring dengan perubahan penggunaan lahan dan pertumbuhan penduduk diatasnya. Peningkatan konsentrasi ini menunjukkan bahwa luas lahan untuk aktivitas seperti yang dijelaskan diatas menunjukkan bahwa peningkatan kadar BOD,COD dan TSS dan Kekeruhan, ini juga dibarengi oleh berkurangnya luas lahan konservasi dan mengrove. Hasil model interkasi menunjukkan bahwa, keberadaan lahan mangrove dan konservasi memberikan sumbangan yang paling kecil pada parameter pencemaran air laut dan air sungai ( TSS, Kekeruhan, BOD dan COD) yang sifatnya relatif sama. Mangrove dapat berfungsi sebagai lokasi alamiah untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam perairan agar mempermudah terjadinya proses-proses degredasi alamiah limbah yang ada. Disamping itu mangrove juga diharapkan dapat menahan penambahan kandungan TSS ke dalam perairan. Berkurangnya lahan mengrovesebagai lahan konservasi mempengaruhi pula terjadinya peningkatan kadar TSS di wilayah pesisir.

Namun bila dilihat dari kesesuaian dan daya dukung lahan pada analisis 1 kesesuaian lahan untuk pariwisata dan konservasi meliki lahan dengan ”kesesuaian

bersyarat”, artinya bisa dikembangkan untuk pemanfaatan lahan itu jika ada syarat- syarat yang harus dipenuhi yaitu dikembangkan sesuai dengan kriteria pengembangan lahan untuk pariwisata dan konservasi. Dalam Perencanaan Tata Ruang Kawasan Khusus Pantai Utara Kabupaten Bekasi (RTR) Tahun 2003-2012 seperti pada penejelasan bahwa kawasan Pantai Bahagia dan Pantai Bhakti dan Pantai lainnya yang ada, khususnya di Kecamatan Babelan dan Kecamatan Muaragembong akan dikembangkan untuk kawasan pariwisata. Bila dilihat dari konsep perencanaan tata ruang ini menunjukkan bahwa konsep perencanaan penataan ruang tidak sesuai dengan kesesuaian lahan yang ada di kawasan tersebut.

Konsentrasi Pencemar Perubahan Penggunaan lahan dengan Perubahan Kualitas Air Laut berdasarkan Zona Jarak dari Garis Pantai Pantura Kabupaten

Bekasi

Penggunaan lahan wilayah pantura Kabupaten Bekasi tahun 2004 adalah 25.028 ha (19,65%) yang terdiri dari di Kecamatan Babelan 6.360 ha (4,99%), Kecamatan Muarogembong 14.009 ha (11,00%) dan Kecamatan Tarumajaya 4.659 ha ( 3,66%). Penggunaan lahan tahun 2004 sebagian besar terdiri dari lahan pertanian artinya luas yang meliputi tanaman pangan, perikanan dan perkebunan sebesar 16.846 ha atau 82,7%, hutan 895 ha atau 4,4% dan penggunaan untuk permukiman 2.628 ha atau 12,9%. Kondisi penggunaan lahan tahun 2004 dibanding dengan tahun 2003 mengalami perubahan terutama areal sawah irigasi teknis meningkat sementara sawah tadah hujan mengalami penurunan.

Pola penggunaan lahan dari ketiga wilayah yang berbeda., Di Kecamatan Babelan sangat dominan untuk sawah irigasi teknis, Kecamatan Muaragembong didominasi oleh kawasan pertambakan yang sebagian besar wilayahnya berbatasan langsung dengan kawasan pantura, dan Kecamatan Tarumajaya didominasi dengan Industri dan permukiman. Meskipun dominasi penggunaan lahan relatif berbeda, namun secara strkutur ekonomi masih berbasis pada industri dan pertanian. Oleh

Karena itu dominasi struktur penggunaan lahan kawasan harus dialokasikan sesuai dengan daya dukung lahan dalam rangka pengendalian perubahan alih fungsi lahan.

Produksi perikanan laut selama tahun 2005 mengalami peningkatan yaitu 2,0%. Perikanan darat juga meningkat, yaitu 2%. Jenis perikanan darat yang banyak memproduksi ikan adalah tambak dengan produksi 6.008,3 ton dengan nilai Rp 34 juta. Adapun jenis ikan yang dihasilkan berupa udang, bandeng, mujair dan belanak. Kecamatan Muara Gembong memiliki pantai yang merupakan potensi kelautan Kabupaten Bekasi, dengan luas hutan bakau 75 Ha dan hasil perikanan laut 1151,5 ton.

Hasil simulasi terlihat bahwa di daerah daratan pesisir selalu mengalami perubahan konversi lahan alami yang signifikan. Luas lahan untuk pertanian dan industri cendrung meningkat, begitu pula lahan untuk permukiman. Konversi penggunaan lahan ternyata berpengaruh pada kualitas lingkungan di wilayah pesisir seperti kondisi air sungai dan air laut. Indikasinya dapat dilihat dari beberapa parameter pencemaran yang diteliti ( BOD, COD, TSS dan Kekeruhan ).

Terjadinya peningkatan penggunaan lahan untuk permukiman dan industri dari 16.848 ha tahun 2005 menjadi 17.417 ha tahun 2007. memberikan dampak pada peningkatan paramater BOD dan COD di Cikarang Bekasi Laut (CBL) yaitu : 20,88 dan 16,5 (Tahun 2002) menjadi 33,2 dan 204,0 (Tahun 2006). Sistem pengolahan limbah belum berfungsi secara baik, serta belum efektifnya berbagai kebijakan pengendalian lingkungan yang ada saat ini. Setelah 5 tahun parameter BOD dan COD mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Pada pengukuran laboaratorium telah teridentifikasi bahwa TSS tahun 2001 adalah 3,00 (CBL). Tahun 2003 7,00 (CBL). dan Tahun 2005 dan 8,00 (CBL). Untuk tahun 2006 terjadi peningkatan TSS yang sangat tinggi yaitu 320. Hal ini menandakan bahwa terjadi pergeseran penggunaan

lahan yang yang signifikan dari lahan mangrove menjadi pertanian, industri dan permukiman.

Hasil survei di lapangan dan penyebaran kuesioner, menunjukkan bahwa perubahan kualitas air sungai dan laut di lokasi penelitian telah kelihatan secara visual dan sangat dirasakan oleh masyarakat yang berada di wilayah pesisir. Hal ini diperkuat oleh 93,5% menyatakan merasakan akibat dari pada pendangkalan sungai yaitu dalam bentuk genangan dan banjir.

Parameter yang dipertimbangkan dalam kasus perairan pesisir Kabupaten Bekasi adalah pH, salinitas, oksigen terlarut, nitrat, phospat dan lainnya, akibat banyak terjadinya konversi lahan di wilayah bagian daratan Kabupaten Bekasi. TSS menjadi penting karena sifatnya yang mempengaruhi akan kelangsungan ekosistem untuk hidup dan berkembang, Bila komposisi jenis konversi lahan yang berkembang sesuai dengan RTRWP adalah tetap maka konversi lahan yang ada di wilayah pesisir Kabupaten Bekasi menjadi penyumbang TSS ke badan air yang paling dominan, serta penyebab terjadinya pendangkalan sungai sehingga terbentuk delta-delta dan penyebab terjadinya banjir karena penyempitan profil dasar sungai.

Peningkatan pembangunan dibagian daratan yang dibarengi dengan penurunan lahan mangrove dan non-mangrove dibagian pesisir berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan kadar pencemaran berupa kenaikan oksigen terlaut, nitrat, phospat, BOD, COD, TSS dan kekeruhan dan unsur-unsur pencemar lainnya di perairan zona A, B dan Zona C muara sungai Citarum, CBL, Kali Cikarang dan di laut sesuai dengan zona yang diamati.

Konsentrasi TSS, Kekeruhan, BOD dan COD merupakan fenomena yang dapat dilihat dari hasil analisis laboratorium dari lapangan pada titik sampling air laut berdasarkan pada zona pengambilan sampel ( Zona A : 3 km, Zona B : 2 km dan Zona C : 1 km) seperti ada Tabel 26, 27 dan Tabel 28 berikut:

Tabel 26 Kualitas Perairan Zona A Pantai Utara Kabupaten Bekasi ! " # $ # % & ' ( #) * * + * ( ( ( ! , , , , , , - , #. #. , , , / . % 01& +2 *! + *2 + **

Kebutuhan oksigen Biokimia (BOD) 16,95 11,90 13,30

Tembaga (Cu) mg/l 0,08 * 0,07 Timah Hitam (Pb) mg/l * * * Chromium (Cr) mg/l * * * nikel (Ni) mg/l * * * Cadmium(cd) mg/l * * * Seng (Zn) mg/l 0,05 0,65 0,09 Mercury (Hg) ugr/l 0,78 0,09 0,19 Arsen ugr/l 1,13 1,16 0,98 Organik (KmnO4) mg/l 22,89 14,76 17,07

minyak dan lemak mg/l 4,50 4,60 4,00

kecerahan meter * 0,001 0,002 cyanida mg/l * * * Phenol mg/l 8,00 <3 <3 MPN coliforn /100cc * * * Surfaktan mg/l 0,07 0,07 0,11 *) tidak terdeteksi

Sumber : Hasil Analisis Lab.

Baku Mutu didasarkan Kepmen KLH No.02/MENKLH/I/1988 Lokasi ± 3 km dari pantai

Tabel 27 Kualitas Perairan Zona B Pantai Utara Kabupaten Bekasi 3 +( + " # $ # % & 4 * #) * 4 4 4 ' ( ! +' ' +' ! 2 + , , , ! +!! , - ' . #. , , , / . % 01& +2 !* ++ +2 +2 *

Kebutuhan oksigen Biokimia (BOD) mg/l 12,75 13,40 16,35

Tembaga (Cu) mg/l 0,02 0,06 0,05 Timah Hitam (Pb) mg/l * * * Chromium (Cr) mg/l * * * nikel (Ni) mg/l * * * Cadmium(cd) mg/l * * * Seng (Zn) mg/l 0,69 * 0,14 Mercury (Hg) ugr/l 0,32 1,10 1,21 Arsen ugr/l 1,29 1,80 1,42 Organik (KmnO4) mg/l 19,54 16,01 21,26

minyak dan lemak mg/l 0,10 0,08 0,05

kecerahan meter 2,50 1,50 1,20 cyanida mg/l * * * Phenol mg/l 0,05 0,06 0,04 MPN coliforn /100cc 23,00 <3 28,00 Surfaktan mg/l 0,11 0,13 0,28 * ) tidak terdeteksi

Sumber : Hasil Analisis Lab.

Baku Mutu didasarkan Kepmen KLH No.02/MENKLH/I/1988 Lokasi ± 2 km dari pantai

Tabel 28 Kualitas Perairan Zona C Pantai Utara Kabupaten Bekasi 3 + (4 " # $ # % & ' 4 #) 4 * 4 ! 4 ! +* ' ' ( ( ! ( + 2 ( - * + 4' - , . #. ! * / . % 01& + (+ +( 2 +* +4

Kebutuhan oksigen Biokimia (BOD) mg/l 18,15 12,45 18,55

Tembaga (Cu) mg/l 0,01 0,03 0,02 Timah Hitam (Pb) mg/l * 1,49 * Chromium (Cr) mg/l * * * nikel (Ni) mg/l * * * Cadmium(cd) mg/l * * * Seng (Zn) mg/l 0,20 0,85 0,15 Mercury (Hg) ugr/l 0,45 0,74 0,96 Arsen ugr/l 1,97 2,01 1,65 Organik (KmnO4) mg/l 18,51 14,48 21,51

minyak dan lemak mg/l 0,19 0,10 0,18

kecerahan meter 3,00 2,50 0,80 cyanida mg/l * * * Phenol mg/l 0,03 0,04 0,04 MPN coliforn /100cc 4,00 <3,00 16,00 Surfaktan mg/l 0,32 0,29 0,24 *) tidak terdeteksi

Sumber : Hasil Analisis Lab.

Baku Mutu didasarkan Kepmen KLH No.02/MENKLH/I/1988 Lokasi ± 1km dari pantai

Rumusan Model Perencanaan Tata Ruang Wilayah Pesisir

Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian yaitu untuk merumuskan model perencanaan tata ruang wilayah pesisir, maka sebelumnya harus diketahui beberapa hal :

Karakteristik wilayah pesisir seperti tujuan I :

Berdasarkan pada hasil temuan dan pembahasan dari penelitian ini maka wilayah pesisir dapat diklasifikasikan berdasarkan pada analisis dari setiap satuan lahan diperoleh kesesuaian lahan, daya dukung dan unsur-unsur yang terkandung didalamnya yaitu; a) pasut dan tinggi gelombang; b) kecepatan arus; c) aksessibilitas; d) amplitudo; e) ketgerlindungan; f) pH; g) suhu; dan i) salinitas. Perubahan penggunaan lahan wilayah pesisir bagian daratan memberikan dampak pada kondisi perairan wilayah pesisir seperti terlihat kadar pencemar seperti BOD,COD, TSS, Kekeruhan. Perubahan itu disebabkan oleh aktivitas manusia yang ada di wilayah pesisir. Oleh karena itu, gambaran adanya perubahan dari setiap ekosistem dipresentasikan dari perubahan yang terjadi dari setiap agregat yang ada pada lahan daratan dan perairan.

Analisis dasar berdasarkan pada karakteristik lahan di wilayah pesisir dilakukan berdasarkan asumsi bahwa kecendrungan yang terjadi saat ini akan terus berlanjut dimasa akan datang dan secara kesesuaian lahannya akan terjadi pergeseran dengan adanya intervensi dalam kebijakan pengunaan dan pemanfatan lahan di wilayah pesisir. Hal yang mendasari karakteristik kesesuaian lahan dengan daya dukungnya adalah :

o Adanya kemampuan alamiah fisik lahan daratan dan fisik perairan lautan maupun ekosistem pesisir sesuai dengan prinsip daya dukung ekologis. Kemampuan itu selalu konstan dalam kondisi dimana sistem penggunaannya tidak mengalami konversi.

o Peningkatan aktivitas manusia di wilayah pesisir merupakan peningkatan akan kebutuhan lahan itu sendiri. Pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan ketersedian lahan merupakan faktor pembatas kemampuan fisik lahan untuk mendukung segala aktivitasnya.

Berdasarkan pada wilayah sampel penelitian ini keadaan topografi wilayah pesisir Kabupaten Bekasi mempunyai kemiringan antara 0 – 4 %, atau dapat dikatakan sebagai daerah landai yang sangat dipengaruhi oleh kondisi pasang surut air laut, kondisi substrat dan pendangkalan perairan akibat sedimentasi dari wilayah daratan. Dalam penggunaan lahannya memiliki kendala untuk pelaksanaan pembangunan dan memerlukan biaya investasi yang sangat tinggi. Selain itu untuk meminimalisasi permasalahan fisik terutama abrasi diperlukan penataan green belt dalam bentuk reboisasi hutan bakau disepanjang pantai. Hutan bakau dapat berperan sangat besar dalam hal ini. Salah satu fungsi terbaik dari sebuah penataan areal green belt pada kawasan pesisir ini adalah menahan terjadinya abrasi pantai secara terus menerus dan memperangkap sedimentasi perairan yang sudah terjadi, sehingga pendangkalan perairan pesisir dapat dihindari terutama pada zona-zona kegiatan fungsional utama, seperti, perikanan, permukiman dan pariwisata.

Mengacu kepada pendekatan dalam teori perencanaan perencanaan wilayah dan pembangunan berkelanjutan bahwa penyusunan suatu model perencanaan tata ruang wilayah memiliki peran yang sangat berarti. Berdasarkan pada karakteristik wilayah pesisir sebagai dasar utama dalam penyusunan model perencanaan tata ruang wilayah pesisir merupakan upaya memilih cara terbaik dalam mencapai hasil akhir.

Parametar-parameter dalam penyusunan model perencanaan tata ruang wilayah pesisir seperti tujuan II :

Secara empirik dapat dirumuskan bahwa parameter-parameter model perencanaan tata ruang wilayah pesisir secara daya dukung dengan analisis sebagai berikut; Laju akumulasi mass dalam sistem = laju aliran mass kedalam sistem – laju aliran mass keluar sistem + laju transformasi mass bersih dalam sistem. Dengan kata lain: Akumulasi = Input – Output + Generasi – Konsumsi. Mengacu pada Konsep m maassss baballaannccee LoLossoonnddoo dadann WeWesstteerrss (1(1999933)).. AAddaa bebebbeerraappaa prpriinnssiipp yayanngg haharruuss d diippeennuuhhii ddaallaamm mmeenneennttuukkaann lluuaass kkaawwaassaann ppeennggeemmbbaannggaann ddii ppeerraaiirraann//llaauutt yyaaiittuu :: • • MeMennddeeffiinniissiikkanan bbaattaassaann--bbaattaassaann ssyysstteemm • • IsIsoollaassii ddaann iiddeennttiiffiikkaassii aalliirraann aarruuss mmeelleewwaattii bbaattaass tteerrsseebbuutt • • IdIdeennttiiffiikkaassii mmaatteerriiaall yyaanngg aakkanan ddiibbuuaatt bbaallaannccee ((sseeiimmbbaanngg)) mmiissaallnnyyaa PP,, NN,, OO22 ddllll.. • • IdIdeennttiiffiikkaassii prproosseess ttrraannssffoorrmmaassii yyaanngg teterrjjaaddii dididdaallaamm ‘s‘siisstteemm pepemmbbaattaass’’ yayanngg m meemmppeennggaarruuhhii kkeesseeiimmbbaanngganan mmaassssaa ((mmaassss bbaallaannccee)).. Setelah diketahui besaran-besaran tersebut, perlu diamati:

• besarnya proporsi limbah yang masih dapat ditolelir oleh perairan pantai, • besarnya pembuangan air tambak,

• kedalaman tambak,

• green belt (ditetapkan sejauh 200 meter dari garis pantai) • FCR

Terjadinya peningkatan aktivitas penggunaan lahan untuk permukiman dan industri di wilayah pesisir ( khususnya kawasan perkotaan). memberikan dampak pada peningkatan paramater BOD, COD, TSS dan kekeruhan serta unsur pencemar lainnya. Peningkatan akan terus bertambah seiring dengan terjadinya konversi lahan di wilayah pesisir bagian daratan. Terjadi peningkatan kadar pencemar tersebut

menandakan bahwa terjadi pergeseran penggunaan lahan yang yang signifikan dari lahan mangrove/kawasan lindung menjadi pertanian, industri dan permukiman.

Hasil survei di lapangan dan penyebaran kuesioner, menunjukkan bahwa perubahan kualitas air sungai dan laut di lokasi penelitian telah kelihatan secara visual dan sangat dirasakan oleh masyarakat yang berada di wilayah pesisir. Hal ini diperkuat oleh 93,5% responden menyatakan merasakan akibat dari pada pendangkalan sungai yaitu dalam bentuk genangan dan banjir.

Parameter yang dipertimbangkan dalam kasus perairan pesisir dengan aktivitas pembangunan yang kompleks seperti; panjang garis pantai, tinggi amplitudo rata-rata , kemiringan dasar perairan, jarak dari pantai sampai titik pengambilan air, kedalaman perairan, kecepatan arus, kekeruhan dan salinitas.

TSS menjadi penting karena sifatnya yang mempengaruhi akan kelangsungan ekosistem untuk hidup dan berkembang, Bila komposisi jenis konversi lahan yang berkembang sesuai dengan RTRWP adalah tetap maka konversi lahan yang ada di wilayah pesisir menjadi penyumbang TSS ke badan air yang paling dominan, serta penyebab terjadinya pendangkalan sungai sehingga terbentuk delta-delta dan penyebab terjadinya banjir karena penyempitan profil dasar sungai.

Faktor-faktor yang menjadi pokok dalam menyusun model perencanaan tata ruang untuk dapat menentukan alokasi pemanfaatan yang optimum,

seperti tujuan III

Faktor yang mempengaruhi kualitas lingkungan (perairan) dengan sendirinya akan menjadi faktor pokok dalam penyusunan model perencanaan tata ruang wilayah pesisr adalah :

Faktor Kesesuaian Lahan Faktor yang berasal dari unsur lautan berupa :

a. Kedalaman perairan, perairan untuk budidaya perikanan sebaiknya bertopografi landai dengan kedalaman 7 – 15 meter dari surut terendah.

Kedalaman tersebut untuk mencegah gangguan dari hewan-hewan bentik yang mengifeksi ikan budidaya.

b. Sedimen dasar perairan, kondisi dasar perairan akan sangat berpengaruh terhadap kualitas air di atasnya. Dasar perairan yang mengalami pelumpuran, bila terjadi gerakan air oleh arus maupun gelombang akan membawa partikel dasar ke permukaan (upwelling) yang akan menyebabkan kekeruhan, sehingga penetrasi cahaya matahari menjadi berkurang dan partikel lumpur ini berpotensi menutupi insang ikan.

c. Kecepatan arus, arus air sangat membantu pertukaran air dalam keramba, membersihkan timbunan sisa-sisa metebolisme ikan dan membawa oksigen terlarut yang dibutuhkan ikan. Kecepatan arus perairan untuk usaha budidaya ikan kerapu berkisar 15 – 25 cm/detik.

d. Suhu. Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, letak lintang, ketinggian dari permukaan laut, sirkulasi udara, penutupan awan dan aliran serta kedalaman dari badan air. Perubahan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi. Suhu optimal untuk pertumbuhan kerapu antara 27 – 29oC. Suhu perairan sangat penting

didalam mempengaruhi pertumbuhan ikan budidaya. Semakin tinggi suhu perairan maka kecepatan metabolisme ikan semakin tinggi pula dan kebutuhan oksigen juga semakin tinggi. Pada suhu kisaran 5 - 35oC setiap

peningkatan suhu sebesar 10oC akan meningkatkan proses dekomposisi

bahan organik dan konsumsi oksigen oleh organisme akuatik menjadi 2- 3 kali lipat.

e. Kecerahan air. Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan merupakan ukuran transparansi perairan yang ditentukan secara visual.

Kecerahan perairan merupakan salah satu indikator untuk menentukan lokasi.

f. Kekeruhan. Kekeruhan atau turbiditas oleh adanya partikel tersuspensi dan terlarut dalam air. Seperti jasad renik, lumpur, bahan organik, tanah liat dan zat koloid serta benda terapung yang tidak mengendap dengan segera. Untuk budidaya kekeruhan berkisar antara 2 -30 NTU (Nepehlometric Turbidity Unit).

g. Salinitas. Persayaratan osmoregulasi di dalam tubuh ikan laut sangat ditentukan oleh salinitas perairan tempat hidupnya. Fluktuasi nilai salinitas yang tinggi sangat mempengaruhi keberhasilan pembesaran ikan. Salinitas untuk budidaya perikanan berkisar antara 30 -31 ppt.

h. O2, N, P. Unsur-unsur ini erat kaitannya dengan aktivitas pemanfaatan lahan di wilayah daratan, khususnya aktivitas rumah tangga yang menghasilkan limbah padat, sampah dan deterjen. Nilai koefesien limbah N dan P yang ada diperairan akan mencerminkan jumlah penduduk yang melakukan aktivitas di darat.

Faktor yang berasal dari unsur daratan berupa :

Aktivitas yang terjadi di wilayah pesisir memberikan dampak pada ekosistem pesisir untuk dapat berproduksi secara optimal. Aktivitas yang dilakukan akan menghasilkan suatu limbah apakah yang berasal dari lahan atas (upland ) atau dari limbah yang dihasilkan oleh aktifitas di perairan.

Dekomposisi limbah partikel organik dapat mempengaruhi perubahan fisika, kimia substrat dan kehidupan ekosistem sekitarnya. Pengkayaan materi organik didalam sedimen akan menstimulir aktivitas mikroba yang memerlukan oksigen sehingga dapat menimbulkan deoksigenasi pada substrat dan kolom air di atas substrat akibat pengurangan konsentrasi interstial oksigen dan meningkatkan

konsumsi oksigen, meningkatkan reduksi sulfat, meningkatkan denitrifikasi, dan meningkatkan pelepasan nutrien organik seperti nitrat, nitrit, ammonium, silikat dan pospat.

Limbah nutrien atau organik baik dalam bentuk terlarut maupun tersuspensi ( partikel), berasal dari pakan yang tidak dimakan dan ekskresi, umumnya dikarakterisasi oleh peningkatan total suspended solid ( TSS), BOD, COD, kekeruhan dan kandungan C, N, P. Limbah dari sistem budidaya di wilayah perairan pesisir (jaring apung, tambak, rumput laut ) bila memamsuki lingkungan perairan pesisir dan lautan akan mendapatkan perlakukan sebagai berikut; 1) tercecer dan tersebar oleh adukan dan turbelensi arus laut; 2) dipekatkan melalui proses biologis dengan cara diserap ikan, plankton, nabati, dan proses fisik-kimia dengan cara absorbsi, pengendapan dan pertukaran ion, kemudian bahan pencemar itu akan mengendap di dasar perairan; 3) terbawa langsung oleh arus dan ikan.

Pola penyebaran bahan pencemar dan polutan lainnya yang berasosiasi sangat tergantung pada luasan sebaran dan ini merupakan berbagai proses yang berbeda mempengaruhi penyebaran dan pengendapan bahan-bahan pencemar.

Dari hal-hal tersebut proses hidrodinamika perairan menjadi kunci dalam mempengaruhi keberadaan dan konsentrasi limbah yang masuk dalam lingkungan pesisir. Pengaruh ini akan berbeda-beda untuk setiap lokasi karena karakteristik hidrodinamika merupakan respon dari kondisi lokal. Wilayah pesisir dalam bentuk teluk (tertutup) misalnya akan menyulitkan limbah keluar dari sistem perairan dimana pembilasan yang digerakan oleh arus laut menjadi lemah, berbeda dengan perairan terbuka.

Faktor Daya Dukung Wilayah Perairan

Faktor daya dukung wilayah perairan dalam penelitian ini dipresentasikan dalam interaksi parameter-parameter ruang wilayah pesisir yang dikaitkan dengan

faktor pembatas lingkungan wilayah pesisir dalam mendukung kegiatan ( aktivitas manusia) yang berlangsung di wilayah pesisir sesuai dengan jenis pemanfaatan lahan. Dengan kata lain dikaitkan dengan kemapuan alamiah suata unit pemanfaatan