METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
F. Teknik Analisis Data
2. Tingkat Perkembangan Nagari
Untuk menganalisis tingkat perkembangan Nagari di Kecamatan Dua Koto Kabupaten Pasaman penelitian ini menggunakan tekhnik dan penilaian tingkat perkembangan desa yang dkemukakan dalam Bakaruddin, (2012) yaitu pemberian skor terhadap tujuh indikator desa/nagari yaitu: mata pencaharian, produksi, adat dan kepercayaan, kelembagaan, pendidikan, swadaya gotong royong, dan prasarana.
a. Mata Pencaharian Penduduk (E) Digolongkan menjadi 3 sektor yaitu:
1) Sektor pertanian (primari) mata pencaharian pokok penduduk adalah adalah (petani pemilik, petani penggarap dan buruh tani), peternak, pencari hasil hutan, pencari batu galian dan nelayan.
2) Sektor kerajinan/industri (sekundair) mata pencaharian pokoknya dibidang kerajinan tangan (pengrajin) dan industri kecil.
3) Sektor jasa dan perdagangan (tertiair) mata pencaharian pokoknya dibidang perdagangan, warung, dokter, bidan, mantri, pegawai negri, guru, ABRI, karyawan swasta, dan jasa-jasa lain.
Cara penilaian:
1. 55% atau lebih penduduk desa bermata pencaharian pokok di sektor primair maka diberi simbol E1
2. 55% penduduk desa bermata pencaharian pokok di sektor sekundair, diberi simbol E2
3. 55% lebih mata pencaharian pokok penduduknya di sektor tertiair, diberi simbol E3.
b. Yeld/ Output/ Produksi Desa (Y)
Produksi desa adalah jumlah barang dan jasa hasil dari unit produksi yang ada di desa dalam waktu satu tahun yang dihitung adalah niai kotor dan sektor pertanian perkebunan, kehutanna, peternakan, perikanan, bahan galian, industri, kerajinan, peternakan, perikanan, perikanan, bahan galian, industri, kerajinan, perdagangan, Bank, lembaga-lembaga lain dan jasa-jasa pemerintah dalam satu tahun. Harga pokok komoditi dihitung berdasarkan dalam rupiah di pasar lokal desa/agari atau pasar regional (kabupaten/kotamadya) maupun pasar regional (provinsi) yang berlaku.
Cara penilaian:
1. Kurang dari 50 juta rupiah dalam satu tahun, produksi desa tergolong rendah, diberi simbol Y1
2. Antara 50 juta sampai dengan 100 juta dalam satutahun produksi desa tergolong sedang dan diberi simbol Y2
3. Lebih dari 100 juta dalam satu tahun, produksi desa termasuk tinggi diberi simbol Y3
c. Adat dan Kepercayaan (A)
Penilaian adat isti adat berdasarkan data kuantitatif, yaitu menjumlahkan upacara yang masih dilaksanakan dan di jalankan oleh
penduduk desa, sedangkan secara kualitatif adalah jenis upacara adat yang bersifat pemborosan di desa.
Upacara tradisional tersebut antara lain:
1) Upacara kelahiran bayi
2) Upacara beralihnya anak ke dewasa 3) Upacara perkawinan
4) Upacara kematian
5) Upacara pergaulan antara wanita dan pria
6) Upacara petani sawah sawah, pembangunan irigasi dan lain sebagainya
7) Upacara larangan-larangan
8) Upacara sistem hubungan keluarga
9) Upacara pepatah/petani anggaran adat berikut hukumannya.
Cara penilaian:
1. Memiliki 7-9 jenis upacara/adat yang mengikat simbolnya A1 2. Mempunyai 4-6 jenis upacara/adat yang mengikat simbolnya
A2
3. Mempunyai 1-3 jenis upacara/adat yang mengikat simbolnya A3
d. Kelembagaan (L)
Penilaian dalam kelembagaan, yang harus dilihat adalah:
1) Lembaga pemerintah (kepala dan pamong desa, musyawarah desa dan lain sejenisnya).
2) Perekonomian (koperasi, Bank, lumbung desa, BUUD/KUD) 3) Lembaga sosial (LSD, panti asuhan)
4) Lembaga pendidikan (BP3, pesantren, madrasah dan lain-lain) 5) Lembaga kesehatan (U.S, BKJA Poliklinik
6) Lembaga kesenian (olahraga, tari wayang, dan lain sebagainya) 7) Lembaga keamanan (hansip, handra, ronda dan lain-lain) 8) Lembaga adat lainnya
Cara penilaian:
1. Memiliki 7-9 syaratnya harus ada lembaga pemerintah, LKMD, KUD/BUUD dikategorikan maju atau L3
2. Memiliki 4-6 syaratnya harus ada lembaga pemerintah dan LSD, dikatakan sedang atau L2
3. Memiliki 1-3 syaratnya lembaga pemerintah harus ada nilainya sederhana atau L1
e. Pendidikan (Pd)
Tingkat pendidikan dinilai dengan cara penghitungan dan presentase jumlah penduduk yang tamat SD ke atas terhadap jumlah penduduk seluruhnya.
Cara penilaian:
1. Penduduk yang tamat SD ke atas kurang dari 30% tingkat pendidikan rendah dengan simbol Pd1
2. Penduduk yang tamat SD ke atas 30%-60%, sedang dengan simbol Pd2
3. Pendudk yang tamat Sd ke atas lebih dari 60%, tinggi dengan simbol Pd3
f. Swadaya Gotong Royong
Penilaian swadaya gotong royong dihitung dengan data kualitatif dan kuantitatif.
Ciri-ciri swadaya gotong royong adalah sebagai berikut:
1. Tahap swadaya dan gotong royong tersembunyi diberi simbol Gr1 1) Kehendak/kemauan pemimpin melakukan perkembangan
swadaya
2) Potensi manusia, alam dan kebudayaan belum dimanfaatkan/digali secara intensif
3) Jenis dan kualitas usaha pembangunan cenderung pada bangunan-bangunan fisik non produktif
2. Pada tahap peralihan diberi simbol Gr2 terhadap swadaya gotong royong antara tersembunyi dan manifest ( nyata)
1) Adanya rencana pembangunan yang riil baik jangka panjang maupun pendek
2) Dalam penentuan keputusan (decision making) didapat melalui musyawarah dan pertemuan bersama.
3) Adanya kegiatan pembangunan secara bersama
3. Tahap swadaya dan gotong royong manifes diberi simbol Gr3 Ciri-cirinya adalah:
1) Terdapat keterampilan dalam penggunanan potensi pembangunan
2) Partisipasi masyarakat secara terbuka dalam pelaksanaan dan pemeriksaan terhadap kegiatan-kegiatan pembanguan
3) Pelaksanaan sesuai dengan rencana dan manfaatnya.
g. Prasarana Desa (P) Cara penilaian:
1. Prasarana Perhubungan
Prasara perhubungan memegang peranan yang penting bagi perekonomian desa, karena meskipun produksi tingi tetapi perhubungannya tidak lancar maka peamasaran produksinya pun akan terlambat.
Cara penilaian:
1) Apabila desa mempunyai/dilewati jalan aspal, jalan batu, dan jalan tanah skornya 50
2) Apabila desa mempunyai/dilewati jalan air yang baik dan jalan tanah skornya 30
3) Apabila desa dilalui jalan tanah saja diberi skor 10 2. Prasarana produksi
Cara penilaian:
1) Jika desa mempunyai dam sendiri dan bangunan-bangunan air dan salurannya teknis, sehingga pengaturan air dapat
“autonom” dan baik diberi skor 25
2) Jika desa memiliki saluran air setengah teknis, diberi skor 15 3) Jika desa mempunyai saluran irigasi sederhana/tadah hujan
diberi skor 5
Untu desa yang tidak mempunyai sistem irigasi/bukan desa pertanian tanah, yang dinilai adalah sistem budidaya tanaman.
Cara penilaian:
1. Jika tanaman di desa umumnya dirawat dengan baik dan jarak tanamannya baik, diberi skor 25
2. Jika tanaman di desa umumnya kurang dipelihara danjarak tanamannya baik atau sebaliknya, diberi skor 15
3. Jika tanaman di desa tidak dipelihara dan tidak di atur, diberi skor 5
3. Prasarana pemasaran Cara penilaian:
1) Pasar umum/ pasar hewan/ pasar lainnya 2) Bank/ koperasi/ lumbung desa/ KUD/ BUUD 3) Toko/ kios/ warung
1. Jika mempunyai 3 jenis kelompok diberi skor 25 2. Jika mempunyai 2 jenis kelompok diberi skor 15 3. Jika mempunyai 1 jenis kelompok diberi skor 5 4. Prasarana sosial
Penilaian meliputi 6 kelompok prasarana sosial yaitu:
1) Gedung pemerintah desa
2) Gedung LSD 3) Gedung sekolah
4) BKIA/ Poliklinik/ R.S/ Puskesmas 5) Masjid/ Surau/ Gereja/ Pural wihara 6) Tempat rekreasi
Cara penialain:
1. Jika desa mempunyai 50-6 prasarana syaratnya harus ada gedung pemerintah, gedung sekolah, dan poliklinik skor 25 2. Apabila desa memiliki 3-4 prasarana dengan syarat ada gedung
pemerintah, gedung sekolah, dan poliklinik diberi skor 15 3. Apabila desa mempunyai 1-2 prasarana dengan syarat ada
gedung pemerintah, gedung sekolah, dan poliklinik diberi skor 5
Penilaian prasarana keseluruhan ( pr. Perhubungan, pr. Produksi, pr. Pemasaran dan pr. Sosial) yaitu dengan menjumlahkan semua nilai skor.
1. Jumlah nilai skor seluruh prasarana antara 95-125, diberi simbol P3
2. Jumlah nilai skor seluruh prasarana antara 60-94 diberi simbol P2 3. Jumlah nilai prasarana kurang dari 60 diberi simbol P1
Setelah semua data yang diperlukan dalam rangka peningkatan perkembangan desa dapat terkumpul, tahap selanjutnya dalah memasukkan ke 7 indikator perkembangan tersebut kedalam tabel
tertentu sehingga tingkat perkembangan desa yang bersangutan dapat diketahui. Disamping itu dari tabel ini pulalah dapat terlihat mengenai masalah-masalah utama yang menunjang maupun yang menghambat laju perkembangan desa yang bersangkutan.
Tabel 11.3 Tingkat Perkembangan Desa No Nama
Desa/
Nagari/
Kelurahan
Indikator Penilaian Tingkat Perkembangan
Desa/ Nagari/
Kelurahan M Y A L Pen Gr Ps Tot
1 A 1 2 2 1 1 1 2 10 Swadaya
2 B 2 2 2 2 2 3 2 16 Swakarya
3 C 3 3 2 3 2 2 3 18 Swasembada
Sumber: Bakaruddin 2012
Dari tabel setelah digabung ketujuh indikator yang diumpamakan saja oleh penulis, dimana settiap indikator setelah di analisis masing-masing terdapat angka 1 atau 2 atau 3 setiap indikator. Adapun jumlah skor tertinggi yaitu 21, sedangkan yang terendah 7, berarti intervalnya adalah 5. Sehingga dapat disimpulkan dan sebagai ketentuan skor adalah:
a. Jumlah nilai skor 7-11 swadaya b. Skor 12-16 dikatakan swakarya
c. Apabila skor 17-21 dikategorikan swasembada.
59 BAB IV
HASIL PENELITIAN