• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN KASUS

Dalam dokumen Makalah Matra Darat (Halaman 49-54)

Pada hari sabtu tanggal 20 juli 2015, terjadi bencana tanah longsor didesa suko asih kecamatan Sukowati kabupaten Sukomana Bondowoso pada pukul 03.00 WIB. Gempa menimpa 2 dusun yaitu dusun Lampu yang dengan jumlah penduduk 150 orang dan dusun lampa dengan jumlah penduduk 134 orang. Kedua dusun tersebut terletak dikaki bukit yang curam dan sulit dijangkau oleh kendaraan roda empat. Pada saat kejadian mahasiswa UPN VETERAN JAKARTA sedang melakukan praktek kerja lapangan didusun tetangga yaitu dusun Ampu. Kejadian sangat cepat dan tiba-tiba dimana sebagian besar masyarakat masih

terlelap sehingga masyarakat tidak bisa mempersiapkan diri untuk menyelamatkan diri, korban banyak yang tertimbun reruntuhan bangunan sementara korban yang selamat melaporkan dan meminta tolong kedusun dimana mahasiswa berada, sehingga mahasiswa yang berjumlah 20 orang dibantu dengan beberapa aparat setempat langsung membentuk penanggulangan bencana yang akan diperbantukan kedaerah bencana. Mahasiswa bersama 5 orang aparat desa segera menghubungi Puskesmas terdekat, dengan ambulan siaga yang tersedia di puskesmas dengan perlengkapan terbatas tim segera berangkat ke lokasi kejadian. Pada saat pendataan ditemukan:

1. 25 korban luka berat 2. 30 korban luka ringan 3. 8 korban meninggal

4. 10 orang belum ditemukan. Pembahasan bencana yang dilakukan:

Saat mendengar kejadian mahasisiwa yang mendapat laporan dari kepala dusun ampa, atas seijin kepala dusun mahasisiwa upn melakukan komunikasi dan koordinasi dengan aparat setempat termasuk puskesmas untuk mempersiapkan transportasi dan obat-obatan diberikan ketempat kejadian bencana. Mahasiswa upn yang berjumlah 20 orang membuat menjadi 2 tim yaitu: tim penanganan dan tim posko sambil koordinasi ke BPBD (badan penanggulangan bencana daerah). Dari 20 orang mahasiswa dibagi menjadi : 2 orang triage, 6 orang TKP, 6 orang Tim posko, 6 orang evakuasi.

Tiba ditempat kejadian mahasisiwa upn mendirikan pos bencana (karna belum ada tim bantuan lain yang datang). Petugas triase segera memasang bendera triase merah, kuning, hijau dan hitam. Petugas segera memanggil korban dengan cara ”bapak ibu ada masih bisa mendengar suara saya, bagi yang bisa mendengar suara saya harap menuju ke saya. Korban yang masih bisa merespon dan berjalan kearah petugas dikatagorikan bendera hijau.

Dari hasil triase didapatkan:

1. 35 korban luka berat: patah tulang terbuka dengan perdarahan berat, Trauma dada terbuka, cidera kepala berat, cidera cervikal dan beberapa orang mengalami gangguan cirkulasi ventilasi.(merah)

2. 25 korban luka sedang ; patah tulang tertutup dan terbuka tanpa perdarahan ,perdarahan ringan (kuning)

Inisial assesment

Penolong memakai alat pelindung diri, mengecek respon pasien, mengecek kesadaran dengan cara kualitatif (Alert, verbal. Paint, Unrespon), lakukan penilaian pasien terhadap airway, breathing dan circulation untuk pasien-pasien yang mengalami henti napas dan henti jantung dilakukan CPR dengan diawali kompresi 30:2 di daerah midsternum dengan kedalaman 5cm dengan kecepatan 100x/menit dilakukan selama 5 siklus sekitar 2 menit, setelah 5 siklus dievaluasi ulang apabila nadi karotis tidak ada napas tidak ada maka teknik diulangi dimulai dengan kompresi, apabila nadi karotis ada napas tidak ada maka lanjutkan ventilasi , 1 ventiasi selama 6 detik, dan apabila nadi karotis teraba napas ada posisikan pasien dengan posisi mantap.Pada saat melakukan CPR kami mengalami hambatan dalam memposisikan posisi korban di tempat yang datar dan memungkin kan untuk melakukan CPR karena kondisi bencana yang banyak reruntuhan bangunan dan tanah longsor .Kami juga menemukan seorang ibu yang mengalami cidera kepala dan cidera cervikal dengan keterbatasan peralatan yang kami bawa kami berusaha menolong korban setelah menilai ABC,kami berusaha mengamankan daerah cervikal dengan barang seadanya yang kami dapatkan dilokasi, kami menggunakan sendal jepit yang kami temukan di sekitar reruntuhan bangunan dan diikat dengan sehelai kain mitela,kiri kanan kepala kami letakan balok kecil yang dibunggkus kain.

Untuk korban dengan luka perdarahan pembuluh darah besar lakukan balut tekan dengan cara cek pulse, motorik, sensorik terlebih dahulu pada arteri bagian distal, letakan kassa pada daerah perdaran balut tekan lalu tekannya benda keras diatas balutan, lalu balut kembali dengan elastis verban, korban fraktur yang kami temukan sebanyak 8 0rang , 3orang fraktur terbuka ,5 orang fraktur tertutup karena cukup banyaknya korban fraktur kami membutuhkan bidai yang cukup banyak sedangkan kami hanya menbawa 5 buah bidai, kami minta bantuan warga sekitar mecarikan kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai bidai tanpa mengenyampingkan prinsif pembidaian dengan cara melewati 2 sendi atas dan bawah dari garis fraktur. Untuk korban trauma dada terbuka dilakukan penutup dengan penutup kedap udara dengan plester tiga sisi. Sambil menunggu evakuasi ke posko tim TKP melakukan secondary evaluasi pada korban-korban yang berisiko terjadi perubahan yang cepat terutama pada korban dengan triage merah, setelah korban dalam keadaan stabil lakukan evakusi

tandu dan non tandu seperti dipapah dan dibantu untuk menuju keposko.Waktu penanganan pasien di TKP bervariasi tergantung dari kondisi korban . Rata-rata untuk korban dengan bendera merah petugas memerlukan waktu sekitar 15 menit sampai dengan stabil dibawa ke posko, korban dengan bendera kuning petugas memerlukan waktu 5 menit, untuk korban dengan bendera hijau, korban bisa langsung menuju sendiri ke posko atau di bopong petugas, sehingga penanganan dilakukan langsung diposko, korban meninggal dilakukan pendataan di ruang post mortem di posko sampai dengan ada data ante mortem dari keluarga, sehingga fase dari mulai .korban ditemukan sampai dengan fase debriefing memerlukan waktu yang tidak sama antara satu korban dengan korban yang lain.

Korban-korban yang meninggal dunia (bendera hitam) dibawa keposko untuk didata. Data post mortem adalah data yang didapatkan dari korban setelah meninggal, diantaranya adalah sidik jari, DNA, kontuksi gigi, dan properti yang dipakai korban saat kejadian. Data tersebut dicocokan dengan antemortem yang didapatkan dari keluarga ataupun perusahaan yang berhubungan dengan korban yang meliputi: foto, tanda lahir, cacat fisik, tato, bekas luka, BB, TB.

Sementara tim yang berada diposko berkoordinasi dengan BPBD untuk menyiapkan membangun posko pengungsian dan fasilitas sanitasi, dapur sehat. Setelah korban tiba diposko dilakukan reevaluasi dengan prinsip penilaian meliputi airway, berathing, circulation, disability, esprosure bila tindakan dilapangan yang masih perlu ditangani dilanjutkan penangan diposko sampai pasien benar-benar stabil dan aman untuk dievakuasi, evakuasi dilakukan dengan cara koordinasi dengan rumah sakit terdekat yang mempunyai fasilitas untuk melakukan penanganan tindakan lanjut seperti operasi dan perawatan intensif. dengan teknik komunikasi sesuai prosedur yang meliputi situasi latar belakang analisa dan rekomendasi. Cara mengevakuasi korban yang dilakukan menggunakan tandu dan ambulan ke rumah sakit pemerintah terdekat di Bondowoso.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan

Upaya kesehatan matra dimasa mendatang menjadi sangat peting karena dengan perkembangan ilmu dan teknologi akan terjadi interaksi antara manusia dengan lingkungan yang serba berubah (Matra) yang berdampak terhadap kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial ini dan lampirannya merupakan pedoman bagi seluruh pengelolaan kesehatan matra dan unit terkait agar terdapat keseragaman pemahaman dan tindakan dalam melaksanakan upaya kesehatan matra.

Dalam pelaksanaan dan pengembangan kesehatan Matra ke depan Keputusan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial ini perlu segera ditindak lanjuti dengan menyusun pedoman teknis, standar dan implementasi dalam penyiapan sumber daya manusia, peebekalan kesehatan dengan peran dan tanggung jawab sesuai dengan tingkat administrasi bidang masing-masing unit terkait.

B. Saran

Dalam mengetahui berbagai aspek kesehatan matra darat maka diharapkan dengan mudah memahami problema bencana yang di hadapi oleh para tim medis, dan dapat menagulangi bencana dengan upaya – upaya pencegahan dan pertolongan. Sehingga dapat meminimalisirkan korban dalam suatu bencana.

Dalam dokumen Makalah Matra Darat (Halaman 49-54)

Dokumen terkait