Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan diberikan pengertian bahwa pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan

imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat. 19

Pengertian pajak menurut Djajadiningrat adalah suatu kewajiban menyerahkan sebagian daripada kekayaan kepada Negara disebabkan suatu keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan- peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa balik dari Negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan umum.20

Pengertian pajak menurut Rochmat Soemitro adalah “Iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.” 21

Pengertian pajak menurut Dr. Soeparman Soemahamidjaja adalah “ Iuran wajib, berupa uang atau barang, yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma- norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.”

Pengertian pajak menurut Prof. PJA. Adriani adalah “Iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung

19

Pasal 1 angka (1) UU No. 28 Tahun 2007 tentang “ Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan”

20

Siti Resmi, Perpajakan: Teori dan Kasus, (Yogyakarta: Penerbit Salemba Empat,2009) hal. 1

21

dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.22

Sedangkan Rochmat Soemitro memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan, dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.23

Pengertian pajak menurut Prof. Dr. Smeets, dalam buku De Economische Betekenis der Belastingen mengatakan bahwa pajak adalah prestasi kepada pemerintah yang terutang melalui norma-norma umum, dan yang dapat dipaksakan, tanpa adanya kontraprestasi yang dapat ditunjukkan dalam hal yang individual, maksudnya adalah untuk membiayai pengeluaran pemerintah.24

N.J. Feldmann,dalam bukunya De overheidsmiddelen van Indonesia, Leiden, 1949, memberikan definisi mengenai pajak adalah sebagai berikut:25

Belastingen zijn aan de overhead (Volgens algemene, door har vastgestelde normen) verschuldigde afdwingbare pretties, waar geentegen prestatie tegenover staat en uitsluitend dienen tot decking van publieke uitgaven.

Terjemahan bebasnya Pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terhutang kepada penguasa menurut norma-norma yang ditetapkannya secara

22

PJA. Adriani dalam Santoso Brotodihardjo, Pengantar Ilmu Hukum Pajak,(Bandung: PT.Eresco Bandung, 1991) hal. 2

23

Siti Resmi, Perpajakan: Teori dan Kasus,(Yogyakarta: Salemba Empat,2009) hlm1

24

Ibid., hal. 4

25

Defenisi Pajak Menurut Beberapa Ahli Ekonomi,https://evaoktaviagunawan .wordpress.com/2011/12/18/definisi-pajak-menurut-beberapa-ahli-ekonomi/ diakses tanggal 27 September 2016

umum), tanpa adanya kontraprestasi, dan semata-mata digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum.

Dari berbagai defenisi yang dikemukakan tersebut dapat dikatakan adanya beberapa ciri atau karakteristik pajak, yaitu sebagai berikut :26

a. Pajak dipungut berdasar adanya undang-undang ataupun peraturan pelaksanaannya;

b. Terhadap pembayaran pajak tidak ada tegen prestasi yang dapat ditunjukkan secara langsung;

c. Pemungutannya dapat dilakukan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sehingga ada istilah pajak pusat dan pajak daerah; d. Hasil pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran

pemerintah, baik pengeluaran rutin maupun pengeluaran pembangunan, dan apabila terdapat kelebihan maka sisanya digunakan untuk public investment;

e. Di samping mempunyai fungsi sebagai alat untuk memasukkan dana dari rakyat ke dalam kas negara (fungsi budgeter), pajak juga mempunyai fungsi lain, yakni fungsi mengatur.

2. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

Berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perpajakan bahwa UMKM turut serta dalam berkewajiban untuk taat pajak. Pajak, ditinjau dari segi mikroekonomi, merupakan peralihan uang (harta) dari sektor

26

swasta/individu ke sektor masyarakat/pemerintah, tanpa ada imbalan yang secara langsung dapat ditunjuk.27

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan kekuatan strategis dalam mempercepat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Di Indonesia, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah diatur dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008.

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah diberikan pengertian atau batasan tentang usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah sebagai berikut :28

Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria yakni :29

a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha

b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah)

Ciri-ciri usaha mikro dapat dijabarkan sebagai berikut :30

1) Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat berganti;

2) Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah tempat;

27

H. Rochmat Soemitro dan Dewi Kania Sugiharti, Asas Dan Dasar Perpajakan,

(Bandung: Refika Aditama,2004) hlm 2

28

Pasal 1 UU No. 20 Tahun 2008 tentang “Usaha Mikro, Kecil dan Menengah”

29

Ibid, Pasal 6

30

Pengertian dan Kriteria Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, http://restafebri.blogspot. co.id/2009/03/pengertian-dan-kriteria-usaha-mikro_08.html diakses pada tanggal 26 September 2016

3) Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha;

4) Sumber daya manusia (pengusaha) belum memiliki jiwa wirausaha yang memadai;

5) Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah;

6) Umumnya belum akses kepada perbankan, namun sebagian dari mereka sudah akses ke lembaga keuangan non bank;

7) Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.

Contoh usaha mikro :

1) Usaha tani pemilik dan penggarap perorangan, peternak, nelayan dan pembudidaya;

2) Industri makanan dan minuman, industri meubel pengolahan kayu dan rotan, industri pandai besi pembuat alat-alat;

3) Usaha perdagangan seperti kaki lima serta pedagang di pasar dll.; 4) Peternakan ayam, itik dan perikanan;

5) Usaha jasa-jasa seperti perbengkelan, salon kecantikan, ojek dan penjahit (konveksi).

Usaha Kecil adalah usaha mikro ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau

menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria yakni :31

1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 316/KMK.016/1994, Usaha Kecil didefenisikan sebagai perorangan atau badan usaha yang telah melakukan kegiatan, dengan penjualan tahun setinggi-tingginya Rp 600.000.000 atau asset / aktiva setinggi-tingginya Rp 600.000.000 (diluar tanah dan bangunan yang ditempati).

Usaha Kecil tersebut terdiri dari :

a. Badan usaha, termasuk di dalamnya Fa/Firma, CV, PT, dan Koperasi. b. Perorangan, yang termasuk perorangan disini adalah pengrajin/industri

rumah tangga, petani, peternak, nelayan, perambah hutan, penambang, pedagang barang, dan jasa.

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi

31

bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Kecil atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria : 32

1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau 2 Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua

milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

Ciri-ciri usaha menengah yaitu :

1. Pada umumnya telah memiliki manajemen dan organisasi yang lebih baik, lebih teratur bahkan lebih modern, dengan pembagian tugas yang jelas antara lain, bagian keuangan, bagian pemasaran dan bagian produksi; 2. Telah melakukan manajemen keuangan dengan menerapkan sistem

akuntansi dengan teratur, sehingga memudahkan untuk auditing dan penilaian atau pemeriksaan termasuk oleh perbankan;

3. Telah melakukan aturan atau pengelolaan dan organisasi perburuhan, telah ada jamsostek, pemeliharaan kesehatan dan lain-lain;

4. Sudah memiliki segala persyaratan legalitas antara lain izin tetangga, izin usaha, izin tempat, NPWP, upaya pengelolaan lingkungan;

5. Sudah akses kepada sumber-sumber pendanaan perbankan;

6. Pada umumnya telah memiliki sumber daya manusia yang terlatih dan terdidik.

32

Contoh usaha menengah yaitu :

a) Usaha pertanian, peternakan, perkebunan, kehutanan skala menengah; b) Usaha perdagangan (grosir) termasuk ekspor dan impor;

c) Usaha jasa EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut), garmen dan jasa transportasi taksi dan bus antar propinsi;

d) Usaha pertambangan batu gunung untuk konstruksi dan marmer buatan. Menurut penjelasan Bab I UU UMKM 2008, dinyatakan defenisi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah itu merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat, dan dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional.33

3. Pengampunan Pajak

Kebijakan terbaru dalam pengaturan pajak dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak menjadikan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah sebagai wajib pajak untuk turut serta ikut dalam pelaksanaan taat pajak di Indonesia. Dalam Pasal 1 ayat (1) dikatakan bahwa pengampunan pajak adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang

33

Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang “Usaha Mikro, Kecil dan Menengah”

perpajakan, dengan cara mengungkap Harta, dan membayar Uang Tebusan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.34

Dalam dokumen Akibat Hukum Pemberian Pengampunan Pajak Bagi Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak (Halaman 108-117)