“Mawarits, jamak dari mirats (iris, wirts, wiratsh, dan turast, yang dinamakan dengan mauruts) adalah harta peninggalan yang meninggal yang
diwariskan kepada pewarisnya. Orang yang meninggalkan harta disebut muwarits. Sedang yang menerima pusaka disebut warits.32
Adapun dalam Al-Qur’an ditemukan banyak kata warasa yang berarti menggantikan kedudukan, memberi atau menganugrahkan, dan menerima warisan. Sedangkan al-miras menurut istilah para ialah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup baik yang ditinggalkan itu berupa harta, tanah atau apa saja yang berupa milik legal secara syar’i.
Kewarisan yang disebut juga sebagai faraidh berartin bagian tertentu dari harta warisan sebagaimana telah diatur dalam nash Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sehingga dapat disimpulkan kewarisan adalah perpindahan hak dan kewajiban tentang kekayaan seseorang yang telah meninggal dunia terhadap orang-orang yang masih hidup dengan bagian yang telah ditentukan dalam nash- nash Al-Qur’an dan Al-Hadits.33
Pembagian harta peninggalan dalam islam akan dibagi setelah bersih dari pengurusan jenazah, utang, zakat dan wasiat, utang-utang pewaris sebagai pasiva dari harta peninggalan. Begitu pula dalam hal bagian masingmasing ahli waris, dalam hukum Islam membedakan bagian ahli waris antara lakilaki dan perempuan.
2. Kewajiban Ahli Waris
Kompilasi hukum islam pasal 175 ayat 1 tentang kewajiban ahli waris terhadap pewaris sebagai berikut :
a. Mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah.
32 Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Fifih Mawaris, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2013) h 5.
33 Habiburrahman, Rekonstruksi Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2011) h 18.
b. Menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan, termasuk kewajiban pewaris maupun menagih hutang.
c. Menyelesaikan wasiat pewaris.
d. Membagi harta warisan kepada ahli waris yang berhak.
Pelaksanaan kewajiban ini hanya terbatas pada nilai atau jumlah yang ditinggalkan seperti yang telah dijelaskan pada pasal 175 ayat 2 sebagai berikut : “tanggung jawab ahli waris terhadap hutang atau kewajiban pewaris hanya terbatas pada jumlah atau nilai harta peninggalannya”. Lalau bagaimana jika harta pewaris tidak cukup membiyayai kewajiban-kewajiban ahli waris tersebut. Ulama dalam hal ini berbeda pendapat. Ulama hanafiyah dan hanabilah serta syafi’iah berpendapat “bahwa biaya tersebut harus dipikul oleh keluarga-keluarga yang menjadi tanggungannya sewaktu hidup. Sedangkan imam malik berpendapat bahwa “apabila si mayit tidak meninggalkan harta maka biaya perawatan jenazah langsung diserahkan kepada baitul mal.
28 BAB III
PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM A. PertanggungJawaban hukum
Tanggung jawab menurut kamus bahasa Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Bertanggung jawab menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul, menanggung segala sesuatunya dan menanggung akibatnya. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran atau kewajiban. Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian hidup manusia, bahwa setiap manusia dibebani dengan tanggung jawab, apabila dikaji tanggung jawab itu adalah kewajiban yang harus dipikul sebagai akibat dari perbuatan pihak yang berbuat. Tanggung jawab adalah ciri manusia yang beradab, manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengadilan atau pengorbanan.
Selanjutnya mengenai Tanggung jawab hukum, Ridwan Halim mendefinisikan tanggung jawab hukum sebagai sesuatu akibat lebih lanjut dari pelaksanaan peranan, baik peranan itu merupakan hak dan kewajiban ataupun kekuasaan. Secara umum tanggung jawab hukum diartikan sebagai kewajiban untuk melakukan sesuatu atau berperilaku menurut cara tertentu tidak menyimpang dari peraturan yang telah ada.34
34 Khairunnisa, Tesis: ”Kedudukan, Peran dan Tanggung Jawab Hukum Direksi”, (Universitas Sumatra Utara, 2008) h 4.
Selanjutnya menurut Titik Triwulan pertanggung jawaban harus mempunyai dasar, yaitu hal yang menyebabkan timbulnya hak hukum bagi seseorang untuk menuntut orang lain sekaligus berupa hal yang melahirkan kewajiban hukum orang lain untuk memberi pertanggung jawabannya.35
Menurut hukum perdata dasar pertanggung jawaban dibagi menjadi dua macam, yaitu kesalahan dan risiko. Dengan demikian dengan pertanggung jawaban atas dasar kesalahan (lilability without based on fault) dan pertanggung jawaban tanpa kesalahan yang dikenal (lilability without fault) yang dikenal dengan tanggung jawab risiko atau tanggung jawab mutlak (strick liability).36 Prinsip dasar pertanggung jawaban atas dasar kesalahan mengandung arti bahwa seseorang harus bertanggung jawab karena ia melakukan kesalahan karena merugikan orang lain. Sebaliknya prinsip pertangggung jawaban risiko adalah bahwa konsumen penggugat tidak diwajibkan lagi melainkan produsen tergugat langsung langsung bertanggung jawab sebagai risiko usahanya.
Purbacaraka berpendapat bahwa bahwa tanggung jawab hukum bersumber atau lahir atas penggunaan fasilitas dalam penerapan kemampuan tiap orang untuk menggunakan hak atau/dan melaksanakan kewajibannya.
Lebih lanjut ditegaskan, setiap penggunaan hak baik dilakukan secara tidak memadai maupun yang dilakukan secara memadai pada dasarnya tetap harus disertai dengan pertanggungjawaban, demikian dengan pelaksanaan kekuasaan.37
35 Titik Triwulan, Perlindungan Hukum Bagi pasien, (Jakarta:Prestasi Pustaka, 2010) h 48.
36 Titik Triwulan, Perlindungan Hukum Bagi pasien 2010 hal 49.
37 Purbacaraka, Perihal Keadaan Hukum, (Bandung :Citra Aditya, 2010) h 37.
Menurut Abdulkadir Muhammad teori tanggung jawab dalam perbuatan melanggar hukum (tort liability) dibagi menjadi beberapa teori, yaitu:38
- Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan dengan sengaja (intertional tort liability), tergugat harus sudah melakukan perbuatan sedemikian rupa sehingga merugikan penggugat atau mengetahui bahwa apa yang dilakukan tergugat akan mengakibatkan kerugian.
- Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan karena kelalaian (negligence tort lilability), didasarkan pada konsep kesalahan (concept of fault) yang berkaitan dengan moral dan hukum yang sudah bercampur baur (interminglend).
- Tanggung jawab mutlak akibat perbuatan melanggar hukum tanpa mempersoalkan kesalahan (stirck liability), didasarkan pada perbuatannya baik secara sengaja maupun tidak sengaja, artinya meskipun bukan kesalahannya tetap bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat perbuatannya.
B. Unsur-Unsur dalam Tindak Pidana
Tindak pidana mencakup tiga unsur penting. Pertama perbuatan yang sesuai dengan rumusan delik. Kedua, sifat melawan hukum. Ketiga, tidak adanya alasan pembenaran.39 Berikut ini akan dijelaskan lebih rinci:
Unsur pertama dalam tindak pidana adalah perbuatan yang sesuai dengan rumusan delik. Unsur ini berhubungan erat dengan asas legalitas yang mensyaratkan bahwa tindak pidana harus dirumuskan secara terulis ssebagai
38 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, (Jakarta:Citra Aditya Bakti, 2010) h 503.
39 Muhammad Ainul Syamsu, Penjatuhan Pidana dan Dua Pronsip Dasar Hukum Pidana, (Jakarta: PT Kharisme Putra Utama, 2016) h 22.
perbuatan yang dilarang dan diancam pidana. Dalam kerangka pidana, unsur ini berdiri sendiri, bersifat netral dan terbebas dan penilaian tentang sifat melawan hukum. Dengan demikian, perbuatan yang sesuai dengan rumusan delik ini bersifat netral dan tindak mempersoalkan tentang baik buruknya suatu perbuatan.
Unsur kedua dalam indak pidana adalah sifat melawan hukum.
Berbeda dengan rumusan delik yang menekankan kepada undang-undang dan bersfat netral, sifat melawan hukum justru didasarkan atas melawan hukum dalam pengertian luas dan memberikan penilaian tentang ketidak patuhan dari perbuatan yang dilarang. Menurut Ernst Ludwig Von Beling, sifat melawan hukum didasarkan kepada sistem yang lebih tinggi dari undang-undang, yaitu norma. Sifat melawan hukum bersandar pada sistem yang terbuka dan mempunyai fungsi otonom untuk menilai apakah perbuatan yang dilarang itu bertentangan dengan norma ataukah dalam keadaan tertentu dianggap patut.40 Dalam pandangannya, norma mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pada undang-undang, sehingga norma yang pada akhirnya menentukan apakah perbuatan yang dilarang oleh undang-undang itu sesuai atau tidak sesuai dengan kepatutan.
Namun demikian, objek penilaian tentang kepatutan dibatasi hanya terhadap perbuatan-perbuatan yang dirumuskan dalam delik. Oleh karenanya, sifat melawan hkum bersanding dengan asas legalitas karena tidak dimungkinkan untuk menilai ketidak patutan perbuatan yang tidak dirumuskan dalam undang-undang. Berdasarkan pembatasan ini, terdapat dua kosekuensi yang dihasilkan. Pertama, perbuatan yang dilarang undang-undang dipandang tidak patut berdasarkan hukum. Kedua, perbuatan dilarang dipandang patut secara hukum. Bentuk yang ini dianggap lazim dengan sifat
40 Muhammad Ainul Syamsu, Penjatuhan Pidana dan Dua Pronsip Dasar Hukum Pidana, h 22-26.
melawan hukum materil dalam fungsi negatif yang mengajarkan bahwa perbuatan yang dilarang dan dirumuskan dalam undang-undang bukanlah tindak pidana apabila berdasarkan perasaan hukum masyarakat perbuatan tersebut dipandang patut. Dengan kata lain, perbuatan yang dilarang itu tidak mengandung sifat melawan hukum.41
Unsur ketiga adalah tidak adanya pembenaran. Alasan pembenaran merupakan salah satu alasan penghapusan pidana yang menghilangkan sifat melawan hukum perbuatan, sehingga perbuatan yang tercela dapat dibenarkan untuk alasan tertentu. Sebelum tahun 1913, hukum hukum pidana tidak membedakan secara tegas antara alasan pembenaran dan alasan pemaaf.
Keduanya disatukan dalam istilah “alasan penghapusan pidana” yang secara limitative di tentukan ditentukan secara tertulis melalui undang-undang.
Dalam KUHP alasan pembenaran terkandung dalam pasal 48 KUHP tentang pertentangan dua kepentingan atau kewajiban hukum, pasal 49 ayat (1), pasal 50. Pasal 51 ayat (1) yang terhimpun dalam alasan penghapus pidana. Pasal-pasal ini mengatur bahwa perbutan-perbuatan yang bersifat melawan hukum dapat dibenarkan manakala terdapat pertentangan beberapa kepentingan atau kewajiban hukum, pembelaan terpaksa, pelaksaan perbuatan karena undang-undang dan perintah jabatan yang sah.42 Kendati demikian, ilmu pengetahuan hukum pidana membedakan alasan pembenaran dan alasan pemaaf. Perbedaan tersebut didasarkan pada keberadaan norma tindak pidana yang secara implisit selalu disertai dengan norma pertanggungjawaban pidana.
C. PertanggungJawaban Pidana Korupsi
41 Muhammad Ainul Syamsu, Penjatuhan Pidana dan Dua Pronsip Dasar Hukum Pidana, h 42.
42 Muhammad Ainul Syamsu, Penjatuhan Pidana dan Dua Pronsip Dasar Hukum Pidana, h 42.
Subjek delik dalam delik korupsi adalah orang dan korporasi. Orang di sini adalah pegawai negeri, korporasi yang merupakan kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum mau pun bukan badan hukum. Korporasi sebagai subjek delik, artinya selain dari individu yang memimpin dilakukannya kejahatan atau memberi perintah, korporasinya sendiri dapat dipertanggungjawabkan. Dalam delik korupsi, terlihat banyak kesulitan untuk menjadikan korporasi sebagai subjek delik karena sulit membuktikan adanya kesalahan terutama dalam bentuk “sengaja”
suatu perbuatan korupsi.43 Baik orang perorangan atau korporasi apabila terbukti melakukan korupsi maka akan dikenai pidana, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.
Pertanggungjawaban pidana dalam perkara korupsi lebih luas dari Hukum Pidana umum. Hal itu nyata dalam beberapa hal:
1. Pertama, kemungkinan penjatuhan pidana secara in absentia (Pasal 23 ayat (1) sampai ayat (4) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971; Pasal 38 ayat (1), (2), (3), dan (4) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999);
2. Kedua, kemungkinan perampasan barang-barang yang telah disita bagi terdakwa yang telah meninggal dunia sebelum ada putusan yang tidak dapat diubah lagi (Pasal 23 ayat (5) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971, Pasal 38 ayat (5) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999) bahkan kesempatan banding tidak ada;
3. Ketiga, perumusan delik dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 yang sangat luas ruang lingkupnya, terutama unsur ketiga pada Pasal 1 ayat (1) sub a dan b Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971, Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999);
43 Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional Dan Internasional, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005) h 92.
4. Keempat, penafsiran kata ”menggelapkan” pada delik penggelapan (Pasal 415 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) oleh yurisprudensi, baik di Belanda maupun di Indonesia sangat luas. Pasal ini diadopsi menjadi Pasal 8 UU No. 20 Tahun 2001.44
Mengenai pertanggungjawaban perkara korupsi diatur di dalam Pasal 2 sampai dengan Pasal 24 undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001. Pemidanaan orang yang tidak dikenal dalam arti sempit tidak dikenal dalam delik korupsi, akan tetapi juga dapat dilakukan pemeriksaan sidang dan putusan dijatuhkan tanpa kehadiran terdakwa (putusan in absentia) sesuai dengan ketentuan Pasal 23 ayat (1) sampai dengan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971, Pasal 38 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999.45
Begitu pula bagi orang yang meninggal sebelum ada putusan yang tidak dapat diubah lagi, yang diduga telah melakukan korupsi, hakim atas tuntutan penuntut umum dapat memutuskan perampasan barang-barang yang telah disita (Pasal 23 ayat (5) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971).
Kesempatan banding dalam putusan ini tidak ada. Orang yang telah meninggal dunia tidak mungkin melakukan delik. Delik dilakukan sewaktu ia masih hidup, akan tetapi pertanggungjawabannya setelah meninggal dunia dibatasi sampai pada perampasan barang-barang yang telah disita.
Kemudian dalam hal delik korupsi yang berbentuk penggelapan oleh pegawai negeri atau pejabat (Pasal 415 KUHP) yang ditarik menjadi delik korupsi (Pasal 8 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001), secara expressis verbis tercantum unsur (bestanddeel) sengaja. Dalam Undang-Undang Nomor
44 Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional Dan Internasional. h 90-91.
45 Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional Dan Internasional. h 94.
31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 menjadikan korporasi sebagai subjek delik.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 memperluas pengertian orang (Pasal 1 sub 3 huruf c menyebut dengan kata ”setiap orang”, termasuk juga korporasi. Pasal 1 sub 1 UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 memberi arti korporasi “Kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum”.
Sementara itu, Pasal 1 sub 3 UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 menyebutkan ”Setiap orang adalah orang perseorangan atau termasuk korporasi”. Di dalam setiap rumusan delik korupsi Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 (Pasal 1 sampai dengan 2 Pasal 16, Pasal 21 dan Pasal 22) menyebut pelaku delik dengan kata ”setiap orang”.46
Pertanggungjawaban pidana pada delik korupsi, ditinjau dari ketentuan pada Pasal 15 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 yang mengatur tentang percobaan dan permufakatan melakukan korupsi. Dengan sendirinya ketentuan ini, terutama tentang permufakatan melakukan perbuatan korupsi, memperluas pertanggungjawaban pidana. Artinya jika sebelumnya perbuatan seperti itu bukan delik atau si pembuat tidak dipertanggung jawabkan atas perbuatan seperti itu, sekarang menjadi delik.
Hal ini dikemukakan oleh Sudarto sebagai berikut.47
46Andi Hamzah , Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional Dan Internasional. h 97.
47 Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, (Bandung:Alumni, 1977) h. 147
"Coba kita bayangkan betapa luasnya aturan ini, betapa mudahnya seseorang dapat dipidana karena melakukan tindak pidana korupsi yang berbentuk permufakatan untuk melakukan tindak pidana korupsi. Untuk adanya tindak pidana itu telah cukup, bila ada suatu konsensus untuk melakukan kejahatan dari dua orang lebih”.
Meskipun belum terjadi perbuatan korupsi secara materiil, pidananya menjadi sama dengan delik selesai, seperti pada Pasal 2, Pasal 3, asal 5 sampai dengan Pasal 14 Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Begitu pula tentang percobaan melakukan korupsi, pidananya sama dengan delik korupsi di atas. Dengan demikian, ketentuan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang percobaan ini menyimpang dari ketentuan Pasal 53 KUHP.
Syarat percobaan melakukan delik korupsi, harus sama dengan ketentuan Pasal 53 KUHP, artinya harus ada niat, ada permulaan pelaksanaan, dan pelaksanaan tidak selesai bukan semata-mata karena kehendak sendiri.
Hal yang menyimpang dan Pasal 53 KUHP ialah pidananya tidak dipotong dengan sepertiganya. Memang menurut Pasal 103 KUHP berlaku juga ketentuan seperti Pasal 53 KUHP untuk perundang-undangan pidana khusus kecuali kalau Undang-Undang itu menentukan lain (lex specialis derogat legi generali).48
Sebagaimana halnya dengan delik biasa, tidak semua delik yang dilakukan korporasi, dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Dalam delik korupsi, ada delik misalnya melawan hukum memperkaya diri sendiri, sulit
48 Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional Dan Internasional. h 108.
diterapkan kepada korporasi. Akan tetapi, yang paling umum dapat dipertanggung jawabkan kepada korporasi dalam delik korupsi ialah perbuatan menyuap pejabat publik. Sementara untuk dinas publik atau korporasi publik tidak dapat dipertanggung jawabkan pidana, seperti negara, provinsi, kabupaten, kota, dan lain-lain. Pidana yang dapat dijatuhkan kepada korporasi tentulah pidana denda dan perampasan.
Terjadi perubahan ancaman pidana dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 membedakan ancaman pidana, baik penjara maupun denda sesuai dengan bobot delik termasuk kualifikasinya. Ada yang diancam dengan pidana penjara lebih ringan karena bervariasi dari pidana penjara maksimum seumur hidup, dan denda maksimum satu miliar rupiah. Selain itu, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 memperkenalkan ancaman pidana minimum khusus, baik pidana penjara maupun pidana denda.49
Pengertian pegawai negeri pun lebih di perluas lagi dalam Pasal 1 butir 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 meliputi pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tentang Kepegawaian: pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana orang yang menerima gaji atau upah dari keuang negara atau daerah, orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah, atau orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat.
Terdapat juga pasal yang mengatur mengenai dapatnya suatu undang-undang yang kemudian tercipta di masukkan pelanggaran atasnya sebagai
49 Andi Hamzah,Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional Dan Internasional. h 109.
tindak pidana korupsi, yakni Pasal 14 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999. Kemudian terdapat penambahan pidana tambahan, yakni dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, khususnya angka 1, 3, dan 4.50 Dengan adanya perluasan terhadap pertanggung jawaban dalam perkara korupsi ini, diharapkan pelaku tindak pidana korupsi dapat terjerat dalam salah satu pasal tersebut, sehingga aparat penegak hukum dapat segera mengembalikan aset negara yang telah diambil pelaku tindak pidana korupsi.
D. PertanggungJawaban Perdata Korupsi
Selama ini upaya penanganan korupsi lebih banyak dilakukan melalui prosedur pidana. Hal ini tidak mengherankan, mengingat posisi korupsi sebagai tindak pidana khusus, yang memiliki undang-undang khusus dan diutamakan percepatan perkaranya. Namun demikian, tidak berarti jalur perdata sama sekali tidak dapat digunakan sebagai langkah untuk menangani perkara korupsi. Secara normatif, aturan tentang penggunaan jalur perdata terdapat dalam Pasal 32, 33, dan 34 UU Nomor 31 Tahun 1999 yang pada pokoknya mengatur bahwa gugatan perdata dapat dilakukan apabila:
1. Dalam hal penyidik tidak mendapat cukup bukti tetapi telah ada kerugian keuangan negara secara nyata.
2. Putusan bebas dalam perkara korupsi tidak menghapuskan hak untuk menuntut kerugian keuangan negara.
3. Dalam penyidikan dan/atau pemeriksaan sidang, tersangka/terdakwa meninggal dunia namun telah ada kerugian keuangan negara.
4. Putusan telah mempunyai kekuatan hukum tetap, tetapi masih terdapat harta yang diduga atau patut diduga juga berasal dari tindak pidana korupsi yang belum dikenai perampasan.
50Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional Dan Internasional. h. 119.
Penggunaan mekanisme perdata dalam penanganan perkara korupsi dapat dilakukan dalam dua situasi yaitu ketika pemeriksaan secara pidana mengalami hambatan, dengan kata lain proses pidana belum selesai, dan dalam upaya pengembalian aset negara yang dikorupsi. Secara normatif, pengaturan mengenai situasi yang memungkinkan gugatan perdata diajukan ketika pemeriksaan secara pidana mengalami hambatan, dengan kata lain proses pidana belum selesai ada dalam pasal 32 sampai dengan pasal 34 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Adapun bunyi pasal-pasal tersebut adalah:
Pasal 32
“Dalam hal penyidik menemukan dan berpendapat bahwa satu atau lebih unsur tindak pidana korupsi tidak terdapat cukup bukti, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penyidik segera menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara untuk dilakukan gugatan perdata atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk mengajukan gugatan. (2) Putusan bebas dalam perkara tindak pidana korupsi tidak menghapuskan hak untuk menuntut kerugian terhadap keuangan negara.”
Pasal 33
“Dalam hal tersangka meninggal dunia pada saat dilakukan penyidikan, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penyidik segera menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk dilakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya”.
Pasal 34
“Dalam hal terdakwa meninggal dunia pada saat dilakukan pemeriksaan di sidang pengadilan, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penuntut umum segera menyerahkan salinan berkas berita acara sidang tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk dilakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya”.
Dalam praktik, ketentuan pasal-pasal tersebut digunakan sebagai alasan dan dasar gugatan. Selain ketentuan pasal tersebut, alasan dan dasar gugatan yang dapat digunaka adalah perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam pasal 1365 KUHPerdata yang berbunyi “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu mengganti kerugian tersebut”. Penggunaan pasal perbuatan melawan hukum ini memang penting, mengingat istilah korupsi tidak didefinisikan secara normatif dalam hukum perdata, dan pasal perbuatan melawan hukum merupakan pasal yang paling akomodatif bagi istilah korupsi.
Gugatan perdata sebagai langkah untuk mengembalikan aset negara yang dikorupsi, meski telah terdapat putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap, secara normatif diatur dalam pasal 38 C UU No 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi: Apabila setelah putusan pengadilan telah
Gugatan perdata sebagai langkah untuk mengembalikan aset negara yang dikorupsi, meski telah terdapat putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap, secara normatif diatur dalam pasal 38 C UU No 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi: Apabila setelah putusan pengadilan telah