• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Perekonomian Dunia & Indonesia

Dalam dokumen Katalog BPS: BADAN PUSAT STATISTIK (Halaman 28-52)

http://www.bps.go.id

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

11

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

Pertumbuhan Ekonomi Global Relatif Stabil

P

ada April 2014, IMF dalam World Economic Outlook (WEO) memperkirakan bahwa perekonomian dunia optimis akan dapat tumbuh sebesar 3,6 persen. Namun, pada realisasinya pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2014 hanya mencapai 3,4 persen atau relatif sama dengan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai pada tahun 2012 dan 2013. Hal ini menandakan bahwa kinerja perekonomian dunia tidak sesuai dengan optimisme yang dikeluarkan pada awal tahun. Pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai target ini disebabkan karena ketidakmerataannya pertumbuhan ekonomi di antara negara-negara berkembang dan negara maju.

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi di negara-negara maju tidak diikuti dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang.

Perekonomian negara maju menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi walaupun dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang.

Pertumbuhan ekonomi negara maju pada tahun 2014 sebesar 1,8 persen atau lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 yang sebesar 1,2 persen dan pada tahun 2013 yang sebesar 1,4 persen.

Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi tersebut didukung oleh semakin membaiknya sebagian besar perekonomian negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat dan Kawasan Eropa. Di antara negara-negara maju lainnya, hanya Jepang yang mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi.

Kondisi yang sebaliknya terjadi pada perekonomian di negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang justru mengalami perlambatan. Laju pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang melambat dari 5,0 persen pada tahun 2013 menjadi 4,6 persen pada tahun 2014. Perlambatan ekonomi negara berkembang disebabkan oleh melambatnya

Gambar 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Dunia, Negara Maju, dan Negara Berkembang, serta ASEAN (persen), Tahun 20102014

0

2010 2011 2012 2013 2014

Dunia Negara Maju Negara Berkembang ASEAN

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

2

12 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Padahal selama ini kita tahu bahwa Tiongkok menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi dengan kekuatan ekonominya. Selain Tiongkok, melemahnya ekonomi di kawasan Afrika, Amerika Latin, Eropa Timur dan Tengah, serta Negara Persemakmuran juga memberikan andil dalam melambatnya pertumbuhan ekonomi negara berkembang.

Beberapa hal yang mempengaruhi perekonomian di sebagian besar negara berkembang antara lain dinamika ekonomi global dan permasalahan struktural domestik. Kedua hal tersebut memberikan andil dalam melemahnya perekonomian. Dari sisi ekonomi global, menurunnya harga komoditas telah memberikan tekanan yang besar pada kinerja ekspor khususnya ekspor dari negara-negara yang berbasis komoditas. Sementara dari sisi dalam negerinya, permasalahan struktur domestik yang dihadapinya telah menyebabkan tertahannya kapasitas perekonomian dalam upaya memenuhi permintaan domestik dan eksternal. Hal ini juga memberikan dampak pada peningkatan impor untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Dengan meningkatnya impor tetapi kinerja ekspor masih mengalami tekanan menyebabkan semakin defisitnya neraca pembayaran.

Dari sisi harga komoditas dunia, selama kurun waktu empat tahun terakhir inflasi dunia terus mengalami penurunan. Hingga tahun 2014 inflasi dunia tercatat sebesar 3,5 persen atau lebih rendah dari inflasi pada tahun 2012 and 2013 yang masing-masing sebesar 4,2 persen dan 3,9 persen. Hal ini disebabkan adanya penurunan harga komoditas dunia yang sejalan dengan perbaikan ekonomi global yang belum kuat. Penurunan harga komoditas dunia terjadi terutama pada komoditas manufaktur, minyak, dan komoditas utama non-fuel seperti makanan dan metal. Meskipun demikian, masih terdapat komoditas utama non-fuel yang masih menunjukkan kenaikan harga yaitu minuman dan bahan baku pertanian.

Penurunan harga komoditas dunia telah memberikan dampak pada inflasi baik di negara maju maupun berkembang. Di negara-negara maju tercatat inflasi sebesar 1,4 persen pada tahun 2014 atau relatif stabil dari

0,0

2010 2011 2012 2013 2014

Dunia Negara Maju Negara Berkembang ASEAN

Gambar 2.2 Perkembangan Laju Inflasi Dunia, Negara Maju, dan Negara Berkembang, serta ASEAN (persen), Tahun 20102014

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

13

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

inflasi tahun 2013 tetapi menunjukkan penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar 2,0 persen. Sementara itu, perkembangan laju inflasi di negara-negara berkembang mengalami penurunan dari 5,9 persen pada tahun 2013 menjadi 5,1 persen pada tahun 2014.

Meningkatnya Laju Pertumbuhan Ekonomi di Negara-Negara Maju

Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi negara maju tidak terlepas dari Amerika Serikat sebagai motor penggerak perekonomian negara maju.

Amerika Serikat mampu menunjukkan perekonomian yang membaik. Terbukti selama tahun 2014 perekonomian negara ini mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 2,4 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya yang sebesar 2,2 persen. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat didukung oleh berbagai hal diantaranya meningkatnya permintaan domestik terkait konsumsi dan investasi serta penurunan tingkat pengangguran. Dalam laporan WEO bulan April 2015, pertumbuhan permintaan domestik AS mengalami peningkatan yang cukup signifikan karena meningkatnya pertumbuhan pengeluaran konsumsi swasta (Private Consumer Expenditure), meningkatnya pertumbuhan konsumsi masyarakat (Public Consumption), dan meningkatnya investasi/Pembentukan Modal Tetap Bruto (Gross Fixed Capital Formation). Dari sisi kenaikan harga, berbanding terbalik dengan inflasi dunia, pada tahun 2014 laju inflasi di Amerika Serikat mengalami sedikit peningkatan dari 1,5 persen (2013) menjadi 1,6 persen.

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi AS juga memberikan dampak pada perekonomian negara-negara di Kawasan Eropa. Pada tahun 2014, perekonomian di kawasan Eropa mengalami pertumbuhan sebesar 0,9 persen atau lebih tinggi dari pencapaiannya di tahun 2013 yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,5 persen. Peningkatan pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa ini diikuti oleh sebagian besar negara-negara di dalamnya.

Tercatat bahwa pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan ini dicapai oleh Irlandia dan Malta masing-masing dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8 persen dan 3,5 persen. Sementara itu, negara Italia, Cyprus, dan Finlandia walaupun menunjukkan adanya kontraksi pertumbuhan ekonomi, namun pencapaian yang telah diperoleh pada tahun 2014 menunjukkan adanya perbaikan daripada tahun sebelumnya dengan kontraksi yang cukup dalam.

Dari sisi inflasi, laju inflasi di negara-negara maju Kawasan Eropa mengalami penurunan dari 1,3 persen pada tahun 2013 menjadi 0,4 persen pada tahun 2014.

Jerman sebagai salah satu negara maju di Kawasan Eropa menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Ekonomi Jerman tumbuh paling cepat dalam tiga tahun terakhir sepanjang tahun 2014. Pertumbuhan ekonomi Jerman sepanjang tahun 2014 telah tumbuh 1,6 persen. Hal ini didukung oleh meningkatnya permintaan domestik, konsumsi swasta dan investasi. Selain itu pemerintah juga berhasil mencatat surplus fiskal untuk tahun ketiga berturut-turut. Kinerja yang baik juga terlihat dari sektor manufaktur dimana jumlah

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

2

14 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

modal dalam produksi mesin dan peralatan tumbuh setelah jatuh dalam dua tahun sebelumnya. Investasi di sektor konstruksi juga mengalami kenaikan setelah terjadi penurunan pada tahun 2013. Untuk perdagangan luar negeri, kinerja ekspor menunjukkan peningkatan dan diiringi dengan meningkatnya impor. Sementara dari sisi produksi, sektor konstruksi mencatat kenaikan tajam diikuti oleh kenaikan output industri dan meningkatnya kinerja sektor.

Seperti halnya dengan perekonomian di Jerman dan negara lainnya, Inggris mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Sepanjang

Tabel 2.1. Pertumbuhan Ekonomi Dunia, Negara Maju, Negara Berkembang, dan ASEAN (persen), Tahun 20102014

Kelompok Negara 2010 2011 2012 2013 2014

A. Dunia 1) 5,4 r 4,2 r 3,4 r 3,4 r 3,4 Afrika/Sub-Saharan Africa 6,7 r 5,0 r 4,2 r 5,2 r 5,0

Asia 9,6 r 7,7 r 6,8 r 7,0 r 6,8

Negara-negara Persemakmuran 4,6 r 4,8 3,4 2,2 r 1,0

D. Negara-negara ASEAN 2) 8,1 r 4,7 r 5,8 r 5,1 r 4,4

Malaysia 7,4 5,2 r 5,6 4,7 6,0

Philipina 7,6 3,7 r 6,8 7,2 6,1

Singapura 15,2 r 6,2 r 3,4 r 4,4 r 2,9

Thailand 7,8 0,1 6,5 2,9 0,7

Indonesia 3) 6,2 6,5 6,3 5,7 5,1

Vietnam 6,4 6,2 r 5,2 5,4 6,0

Catatan : r Angka diperbaiki

1 World Economic Outlook (WEO) April 2015

2 Asian Development Outlook (ADO) 2015

3 Indikator Ekonomi Sumber : IMF, ADB, dan BPS

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

15

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

tahun 2014, laju pertumbuhan ekonomi Inggris sebesar 2,6 persen. Hal ini merupakan pertumbuhan terkencang dalam 7 tahun terakhir, menurut ONS.

Selain itu, pertumbuhan ini juga dapat dikatakan lebih cepat daripada negara maju lainnya di dunia. Perekonomian yang tumbuh tersebut didorong oleh permintaan domestik dan didukung dari sisi sektor jasa-jasa yang salah satu komponennya adalah retail .

Lain halnya dengan yang terjadi dengan perekonomian di Jepang. Selama tahun 2014 kinerja ekonomi Jepang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,1 persen. Kelesuan ekonomi Jepang terjadi ketika konsumen menghentikan aktivitas belanja, lantaran kenaikan pajak konsumsi nasional. Seperti telah diberitakan bahwa Pemerintah Jepang pada April tahun lalu menaikkan pajak konsumsi hingga delapan persen dari sebelumnya yang sebesar lima persen.

Kebijakan pemerintah ini menyebabkan menurunnya konsumsi. Selain itu, melemahnya nilai tukar yen mendorong meningkatnya harga barang-barang impor dan berdampak pada pertumbuhan konsumsi masyarakat yang menurun.

Dampak lain dari menurunnya konsumsi masyarakat yaitu menurunnya tingkat investasi swasta dan tingkat persediaan/produksi barang-barang konsumsi.

Tentunya akumulasi dari dampak tersebut membuat perekonomian Jepang mengalami perlambatan. Dari sisi inflasi, pada tahun 2014 Jepang mengalami inflasi sebesar 2,7 persen lebih tinggi dari inflasi tahun sebelumnya yang sebesar 0,4 persen.

Laju Pertumbuhan Ekonomi di Negara Berkembang Mengalami Perlambatan Selama tahun 2014 pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang mengalami perlambatan ekonomi, namun demikian masih dapat dikatakan berada di level yang cukup tinggi. Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang tercatat sebesar 4,6 persen pada tahun 2014. Kondisi seperti itu juga terjadi di beberapa kawasan seperti Asia dan Afrika/Sub-Sahara Afrika, Amerika Latin, Eropa Timur dan Tengah, serta Negara Persemakmuran yang tumbuh antara 1,0-2,8 persen. Hanya di kasawan Timur Tengah dan Afrika Utara yang masih menunjukkan adanya peningkatan laju pertumbuhan ekonomi yaitu dari 2,4 persen pada tahun 2013 menjadi 2,6 persen pada tahun 2014.

Sebagai salah satu raksasa di Asia, Tiongkok selalu menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun, perekonomian Tiongkok selama tahun 2014 hanya dapat tumbuh 7,4 persen. Angka ini merupakan pertumbuhan terendah sejak tahun 1990. Ekonomi Tiongkok mulai melambat dalam beberapa tahun terakhir dari pertumbuhan lebih dari 10 persen karena kebijakan dari pihak berwenang berusaha mengalihkan fokus ekonomi Tiongkok dari ketergantungan yang berlebihan terhadap ekspor ke model ekonomi yang lebih didorong oleh konsumsi domestik. Hal ini menyebabkan menurunnya pertumbuhan investasi, khususnya pada sektor perumahan dan infrastruktur.

Penurunan investasi ini yang menyebabkan perlambatan ekonomi.

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

2

16 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

Menurut Kepala Biro Statistik Nasional Tiongkok, Ma Jiantang, salah satu hasil baik dari kinerja ekonomi Tiongkok yaitu pertumbuhan sektor jasa.

Menurutnya, hampir separuh perekonomian Tiongkok kini adalah sektor jasa.

Perekonomian Tiongkok tumbuh stabil tahun 2014 dan tetap stabil dibawah pertumbuhan yang lebih lambat. Selain itu, Ma juga mengatakan bahwa situasi ekonomi domestik dan internasional tetap kompleks dan prospek pertumbuhan ekonomi masih sulit (dari laman www.voaindonesia.com).

Tidak seperti yang terjadi di Tiongkok, pertumbuhan ekonomi di India justru mengalami peningkatan. Perekonomian India pada tahun 2014 tumbuh sebesar 7,2 persen atau mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sebesar 6,9 persen pada tahun 2013. Meningkatnya

Tabel 2.2. Laju Inflasi Dunia, Negara Maju, Negara Berkembang, dan ASEAN (persen), Tahun 20102014

Kelompok Negara 2010 2011 2012 2013 2014

A. Dunia 1) 3,8 r 5,2 r 4,2 3,9 r 3,5

B. Negara-negara maju 1) 1,5 2,7 2,0 1,4 1,4

Amerika Serikat 1,6 3,1 2,1 1,5 1,6

Jepang -0,7 -0,3 0,0 0,4 2,7

Kanada 1,8 2,9 1,5 1,0 1,9

Kawasan Eropa 1,6 2,7 2,5 1,3 0,4

Inggris 3,3 4,5 2,8 2,6 1,5

Jerman 1,2 2,5 2,1 1,6 0,8

Perancis 1,7 2,3 2,2 1,0 0,6

Italia 1,6 2,9 3,3 1,3 0,2

Spanyol 2,0 3,1 2,4 1,5 -0,2

C. Negara-negara berkembang 1) 5,9 7,3 6,1 r 5,9 r 5,1

Afrika/Sub-Saharan Africa 8,2 r 9,5 r 9,4 r 6,5 r 6,3

Asia 5,2 r 6,5 4,7 r 4,8 r 3,5

Negara-negara Persemakmuran 7,1 r 9,8 r 6,2 r 6,4 8,1

D. Negara-negara ASEAN 2) 4,1 5,5 3,8 4,2 4,1

Malaysia 1,7 3,2 1,7 2,1 3,1

Philipina 3,8 4,6 3,2 3,0 4,1

Singapura 2,8 5,2 4,6 2,4 1,0

Thailand 3,2 3,8 3,0 2,2 1,9

Indonesia 3) 7,0 3,8 4,3 8,4 8.4

Vietnam 9,2 18,7 9,1 6,6 4,1

Catatan : r Angka diperbaiki

1 World Economic Outlook (WEO) April 2015

2 Asian Development Outlook (ADO) 2015

3 Indikator Ekonomi Sumber : IMF, ADB, dan BPS

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

17

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

pertumbuhan ekonomi India disebabkan oleh meningkatnya konsumsi dan investasi. Peningkatan konsumsi ditandai dengan pertumbuhan penjualan mobil dan meningkatnya konsumsi swasta. Selain itu konsumsi juga disebabkan karena daya beli masyarakat semakin meningkat seiring dengan tren penurunan inflasi akibat harga minyak dunia dan harga emas yang menurun. Sementara itu, peningkatan investasi tercermin pada indeks infrastruktur, indeks produksi, indeks sektoral khususnya listrik, produksi batu bara dan pertambangan serta pertumbuhan angkutan udara (air cargo) dan angkutan darat yang lebih tinggi (Bank Indonesia, 2015).

Berlanjut ke kawasan ASEAN, pertumbuhan ekonomi pada kawasan ini pada tahun 2014 tercatat sebesar 4,4 persen. Pertumbuhan ini dapat dikatakan melambat bila dibandingkan dengan pencapaian pertumbuhan ekonomi pada tahun sebelumnya yaitu sebesar 5,1 persen. Perlambatan laju pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN disebabkan oleh melambatnya perekonomian dari Negara Thailand, Filipina, Singapura, dan Indonesia.

Thailand menjadi negara di kawasan ASEAN yang menunjukkan penurunan laju pertumbuhan ekonomi cukup tinggi yaitu dari 2,9 persen pada tahun 2013 menjadi 0,7 persen pada tahun 2014. Perekonomian Thailand yang melambat tajam pada 2014 ini dapat dikatakan paling lambat dalam tiga tahun terakhir. Dengan kata lain, angka pertumbuhan tersebut paling lemah sejak tumbuh 0,1 persen pada 2011, ketika Thailand dilanda banjir parah. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Thailand 2014 disebabkan oleh adanya gejolak politik melanda negeri gajah putih tersebut. Adanya gejolak politik atau kerusuhan politik yang terjadi selama berbulan-bulan telah menghambat kedatangan wisatawan. Selain itu memberikan dampak pada memperlambat investasi asing dan melumpuhkan pengeluaran pemerintah.

Selain itu, perlambatan ekonomi juga disebabkan oleh adanya penurunan harga pertanian dan melemahnya ekspor. Sektor pertanian utama Thailand, khususnya beras dan karet mengalami kesulitan akibat penurunan harga global sehingga membatasi tingkat produksi akibatnya terjadilah penurunan ekspor.

0

2010 2011 2012 2013 2014

Malaysia Philipina Singapura Thailand Indonesia Vietnam

Gambar 2.3 Pertumbuhan Ekonomi di Beberapa Negara ASEAN (persen), Tahun 20102014

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

2

18 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

Singapura sebagai satu-satunya negara maju di kawasan ASEAN merasakan dampak dari lesunya kondisi ekonomi global. Hal ini disebabkan karena Singapura adalah salah satu negara yang mengutamakan sektor perdagangan dan sangat bergantung pada ekspor dan impor. Tentunya ditengah kondisi ekonomi global yang sedang tidak menentu dan bahkan menimpa negara yang menjadi mitra dagang utamanya, ekonomi Singapura cukup merasakan dampak negatifnya. Selain itu, sejumlah sektor yang berorientasi ekspor seperti manufaktur pun cenderung menghadapi tekanan sehingga memberikan dampak pada pelemahan produktivitas. Oleh karena itu, selama tahun 2014 perekonomian Singapura hanya bisa tumbuh sebesar 2,9 persen atau melambat bila dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4,4 persen. Selain faktor ekonomi global, melambatnya ekonomi Singapura juga karena Pemerintah Singapura mengurangi jumlah tenaga kerja asing murah sehingga mendorong kenaikan biaya bisnis.

Walaupun sebagian besar negara-negara di kawasan ASEAN mengalami perlambatan, namun ternyata tidak semua negara mengalaminya. Sebagai contoh Malaysia dan Vietnam. Kondisi perekonomian di dua negara anggota ASEAN tersebut justru menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Perekonomian Malaysia dapat mencapai pertumbuhan sebesar 6,0 persen atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 4,7 persen. Sementara itu Vietnam mampu menunjukkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0 persen berbanding dengan tahun sebelumnya yang sebesar 5,4 persen.

Sementara itu dari kenaikan harga, laju inflasi di kawasan ASEAN selama tahun 2014 mencapai 4,1 persen atau sedikit mengalami penurunan dari tahun 2013 yang tercatat sebesar 4,2 persen. Laju inflasi tertinggi terjadi di Indonesia dan Myanmar dengan masing-masing inflasi sebesar 8,4 persen dan 5,9 persen. Sedangkan laju inflasi terendah terjadi di Singapura (1,0 persen) dan Thailand (1,9 persen).

Gambar 2.4 Perkembangan Laju Inflasi di Beberapa Negara ASEAN (persen), Tahun 20102014

2010 2011 2012 2013 2014

Malaysia Philipina Singapura Thailand Indonesia Vietnam

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

19

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

Prospek dan Tantangan Perekonomian Dunia

Pada WEO, April 2015 IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami peningkatan. Ekonomi dunia yang pada tahun 2014 tumbuh sebesar 3,4 persen diperkirakan akan meningkat menjadi sebesar 3,5 persen pada tahun 2015 dan semakin meningkat menjadi sebesar 3,8 persen pada tahun 2016. Bila dilihat dari pertumbuhan ekonomi negara maju dan berkembang, IMF memproyeksikan bahwa pada tahun 2015 perekonomian negara maju akan meningkat sedangkan di negara berkembang akan melambat. Namun, pada tahun 2016 diproyeksikan di kelompok negara tersebut perekonomian akan semakin membaik. Meningkatnya pertumbuhan

Tabel 2.3. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi dan Laju Inflasi Dunia, Negara Maju, Negara Berkembang, dan ASEAN (persen),

Tahun 20152016

Amerika Serikat 3,1 3,1 0,1 1,5

Jepang 1,0 1,2 1,0 0,9

C. Negara-negara berkembang1) 4,3 4,7 5,4 4,8

Afrika/Sub Saharan Afrika 4,5 5,1 6,6 7,0

Asia 6,6 6,4 3,0 3,1

Tiongkok 6,8 6,3 1,2 1,5

India 7,5 7,5 6,1 5,7

Amerika Latin 0,9 2,0

Timur Tengah dan Afrika Utara 2,9 3,8 6,1 6,2

Eropa Timur dan Tengah 2,9 3,2 2,7 3,7

Negara-negara Persemakmuran -2,6 0,3 16,8 9,4

D. Negara-negara ASEAN 2) 4,9 5,3 3,1 3,1

Malaysia 4,7 5,0 3,2 2,9

Philipina 6,4 6,3 2,8 3,3

Singapura 3,0 3,4 0,2 1,5

Thailand 3,6 4,1 0,2 2,0

Indonesia 5,5 6,0 5,5 4,0

Vietnam 6,1 6,2 2,5 4,0

Catatan: 1 World Economic Outlook (WEO) April 2015

2 Asian Development Outlook (ADO) 2015 Sumber: IMF dan ADB

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

2

20 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

ekonomi tidak diikuti dengan meningkatnya inflasi tetapi laju inflasi justru diproyeksikan akan menurun. Pada tahun 2015 inflasi dunia diproyeksikan turun menjadi sebesar 3,2 persen dan kembali meningkat pada tahun 2016 menjadi sebesar 3,3 persen.

Perekonomian negara-negara maju diperkirakan akan mengalami peningkatan pada tahun 2015 menjadi sebesar 2,4 persen dan relatif stabil pada tahun 2016. Proyeksi pertumbuhan ekonomi ini didasarkan pada kondisi pasar tenaga kerja yang mulai membaik, pengetatan dana yang berkurang, harga komoditas yang rendah dan pasar finansial yang juga masih rendah.

Sementara dari sisi inflasi, berbeda dengan inflasi dunia yang meningkat, inflasi di negara-negara maju justru mengalami penurunan pada tahun 2015 dan kembali meningkat pada tahun 2016. Inflasi negara-negara maju diperkirakan sebesar 0,4 persen pada tahun 2015 dan meningkat kembali menjadi 1,4 persen pada tahun berikutnya.

Sebagian besar negara-negara anggota kelompok negara maju diproyeksikan meningkat tingkat pertumbuhan ekonominya. Pertumbuhan di Amerika Serikat diproyeksikan mencapai 3,1 persen pada 2015 (dari 2,4 persen pada 2014), dan tetap bertahan hingga tahun 2016. Di wilayah Eropa, diproyeksikan inflasi yang rendah akan terjadi pada tahun 2015 dan 2016 yaitu masing-masing sebesar 0,1 persen dan 1,0 persen. Namun, inflasi yang rendah ini justru menjadi tidak produktif. Proyeksi pertumbuhan ekonomi wilayah Eropa berada di angka 1,5 persen untuk 2015 (dari 0,9 persen pada 2014) dan naik menjadi 1,6 persen pada 2016.

Di Jepang, pertumbuhan ekonominya diproyeksikan akan mencapai 1,0 persen pada 2015 (dari -0,1 persen pada 2014) dan menjadi 1,2 persen pada 2016. Hal ini merupakan berita yang sangat baik karena diharapkan Jepang mampu bangkit kembali dari situasi sulit yang dialaminya selama tahun 2014.

Diharapkan perekonomian Jepang yang semakin membaik nantinya akan mampu mendongkrak kembali pertumbuhan ekonomi dunia.

Gambar 2.5. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia, Negara Maju dan Negara Berkembang serta ASEAN (persen), Tahun 2015 dan 2016

0 1 2 3 4 5 6

2015 2016

Dunia Negara Maju Negara Berkembang ASEAN

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

21

Laporan Perekonomian Indonesia 2015

Beralih ke negara-negara berkembang, setelah melewati masa yang sulit pada 2014, ekonomi negara-negara berkembang diproyeksikan akan mulai tumbuh. Hal ini didasarkan pada rendahnya harga minyak, menguatnya ekonomi Amerika, suku bunga global yang rendah dan berkurangnya tekanan domestik di sebagian negara-negara berkembang (World Bank: Global Economic Prospect (GEP), January 2015)

Menurut Presiden Kelompok Bank Dunia, Jim Yong Kim, negara-negara berkembang harus menggunakan sumber daya mereka untuk mendukung program-program sosial yang menargetkan masyarakat miskin dan melakukan reformasi struktural yang berinvestasi pada sumber daya manusia. Selain itu juga diperlukan langkah untuk menghapuskan hambatan-hambatan bagi investasi swasta. Investasi swasta saat ini masih menjadi sumber nomor satu pembuka lapangan kerja dan bisa membantu ratusan juta orang keluar dari kemiskinan.

Ekonomi negara-negara berkembang diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 4,3 persen pada tahun 2015 dan 4,7 persen pada tahun 2016. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi negara berkembang diproyeksikan lebih baik dari negara maju. Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang diproyeksikan masih akan didorong oleh pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang dari kawasan Asia, Afrika/Sub Saharan Afrika, Timur Tengah dan Afrika Utara, serta Eropa Timur dan Tengah yang mencatatkan pertumbuhan di atas 2,5 persen persen pada tahun 2015 dan di atas 3,0 persen pada tahun 2016.

Pertumbuhan ekonomi di Kawasan Asia diproyeksikan akan mencapai 6,6 persen pada tahun 2015 (tertinggi bila dibandingkan semua kawasan negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi di Kawasan Asia tersebut masih didorong oleh tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi dari Negara Tiongkok dan India yang masing-masing diproyeksikan sebesar 6,8 persen dan 7,5 persen pada tahun 2015.

Selanjutnya untuk di kawasan ASEAN sendiri, ADB memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan ini masih akan tumbuh sebesar 4,9 persen pada tahun 2015 dan dan kembali meningkat menjadi 5,3 persen pada tahun 2016. Untuk jangka waktu selama tahun 2015, negara-negara ASEAN yang diproyeksikan akan mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di atas lima persen diantaranya Filipina (6,4 persen), Vietnam (6,1 persen), dan Indonesia (5,5 persen). Ketiga negara tersebut juga dapat dikatakan mengalami peningkatan laju pertumbuhan ekonomi bila dibandingkan dengan tahun 2014. Tidak semua negara anggota ASEAN diproyeksikan akan mengalami peningkatan laju pertumbuhan ekonomi. Salah satunya yang mengalami penurunan atau mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 yaitu Malaysia yang diproyeksikan akan mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 4,7 persen (dari 6,0 persen pada tahun 2014).

http://www.bps.go.id

Tinjauan Perekonomian Dunia dan Indonesia

2

22 Laporan Perekonomian Indonesia 2015

Terkait dengan harga komoditas internasional, seiring dengan menurunnya harga komoditas, inflasi dunia diperkirakan turun yaitu menjadi 3,3 persen pada tahun 2016. Kondisi serupa terjadi pada inflasi di negara maju yang diprediksi mengalami inflasi sebesar 0,4 persen pada tahun 2015 (dari 1,4 persen pada tahun 2014) dan 1,4 persen pada tahun 2016. Kondisi sebaliknya terjadi pada inflasi di negara-negara berkembang yang diperkirakan justru akan mengalami kenaikan pada tahun 2015 yaitu menjadi sebesar 5,4 persen tetapi kemudian mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 4,8 persen.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang telah dikeluarkan IMF seperti uraian di atas memang cukup memberikan informasi akan semakin membaiknya perekonomian dunia pada tahun 2015. Namun, perlu diperhatikan juga berbagai tantangan atau resiko yang akan mengusik kondisi perekonomian dunia yang sedang membaik. Berikut tantangan atau resiko yang akan dihadapi

Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang telah dikeluarkan IMF seperti uraian di atas memang cukup memberikan informasi akan semakin membaiknya perekonomian dunia pada tahun 2015. Namun, perlu diperhatikan juga berbagai tantangan atau resiko yang akan mengusik kondisi perekonomian dunia yang sedang membaik. Berikut tantangan atau resiko yang akan dihadapi

Dalam dokumen Katalog BPS: BADAN PUSAT STATISTIK (Halaman 28-52)

Dokumen terkait