• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Planetarium di Indonesia

Dalam dokumen PUSAT PENGAMATAN TATA SURYA DI BATU. (Halaman 40-59)

TINJAUAN OBYEK PERANCANGAN

1. Jenis Ruang : Space Theater

2.2.2 Studi Lapangan

2.2.2.2 Tinjauan Planetarium di Indonesia

Untuk studi kasus yang diambil dari kasus obyek yang telah ada dilapangan maka kita dapat membandingkan dan mengetahui kekurangan – kekurangan yang ada. Sehingga pada saat melakukan rancangan nantinya hal – hal tersebut dapat diminimalisir, dan dibawah ini studi kasus planetarium dari beberapa kota di Indonesia diantaranya adalah :

1. Taman Ismail Marzuki Jakarta Data proyek

Nama proyek : Planetarium Taman Ismail Marzuki Lokasi : Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat

Bangunan tahun 1964 Bangunan tahun 1996

Gambar 2. 16 . Planetarium Taman Ismail Marzuki (sumber : www.google.com, 2009)

Planetarium yang Dibangun oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1964 yang diprakarsai oleh Presiden Soekarno dan pada akhirnya diserahkan kembali ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 1969 sampai sekarang. Tempat wisata pendidikan satu-satunya di Jakarta ini memiliki keunikan tersendiri, hal ini dapat terlihat pada pemunculan DOME (kubah) pada bangunan tersebut sebagai point of

interest untuk menarik perhatian pengunjung, fungsi dari kubah itu sendiri sebagai ruang untuk teropong bintang. Sedangkan kegiatan – kegiatan yang dilakukan oleh Planetaium Taman Ismail Marzuki selain mengadakan pertunjukan antara lain :

 Mengadakan penelitian – penelitian yang berkaitan dengan ilmu astronomi.

 Mengadakan seminar – seminar secara berkala.

 Memberikan pelatihan pada guru – guru tentang ilmu pasti untuk tingkat pendidikan dari seluruh Indonesia.

Sedangkan fasilitas – fasilitas yang ada di planetarium Taman Ismail Marzuki diantaranya adalah :

 Dalam gedung pertunjukan utama (planetarium) berkapasitas sekitar 300 kursi, penonton dapat melihat peragaan / simulasi langit baik siang hari maupun malam hari. Wajah langit tiruan diproyeksikan kekubah setengah bola dengan diameter 22 meter diatas penonton melalui proyektor Universarium Model VIII.

 Sebagai penunjang pertunjukan planetarium, terdapat ruang pameran dimana disajikan materi dalam wujud lukisan, photo, film video, miniatur benda langit ataupun wahana antariksa lainya.

 Pengunjung juga disediakan fasilitas perpustakaan dengan materi tentunya berkaitan erat dengan masalah astronomi, namun hanya dibuka pada jam kerja kantor :

- Senin s.d Kamis : pukul 07.30 WIB – 15.30 WIB - Jum’at : pukul 07.30 WIB – 16.00 WIB - Sabtu dan Minggu tutup.

 Mulai tahun 1998 direncanakan menambah fasilitas pertunjukan alternatif yaitu slide-show yang menggunakan fasilitas multimedia didalam gedung pertunjukan baru. Animasi dinamika alam semesta ditampilkan dengan suasana mirip bioskop. Namun untuk masa mendatang bukan hanya

slide-show saja, melainkan digabung dengan video film, leser disk, dan CD-ROM.

 Planetarium Taman Ismail Marzuki ini juga memiliki kelas untuk menjalin interaksi lebih aktif antara pengunjung dengan staf dalam penyebarluasan astronomi secara populer. Fasilitas kelas ini pula yang memungkinkan planetarium menyelenggarakan kegiatan lain seperti seminar dan penataran astronomi.

 Adanya 3 teleskop memungkinkan mengadakan kegiatan pengamatan benda langit sebagai fungsi ke-observatoriumannya. Baik dalam bentuk penelitian

(observasi ilmiah skala kecil), kegiatan khusus untuk masyarakat umum/awam (peneropongan umum), maupun gabungan keduanya sebagai partisipasi aktif untuk memupuk minat masyarakat.

Kegiatan Peneropongan Umum Planetarium Jakarta

Diawali pengetahuan tentang planet Bumi dan planet-planet lain beserta satelit-satelitnya, meteor, komet, asteroid. Ditambah Matahari, maka jadilah satu keluarga yang dikenal sebagai Tata Surya. Kemudian adanya keluarga besar bintang-bintang termasuk Matahari didalamnya yang melahirkan pengetahuan tentang galaksi tempat tinggal kita, yaitu Bimasakti. Pada akhirnya dengan fasilitas teleskop yang semakin canggih, manusia dapat mengetahui adanya galaksi-galaksi lain yang mengisi alam semesta. Hal inilah yang sekarang sedang dipelajari oleh anggota HAAJ (himpunan astronomi amatir Jakarta) yang berasal dari tingkatan usia yang jumlah terbanyak adalah pelajar dan mahasiswa, pembinaan yang dilakukan oleh planetarium khususnya bertujuan menciptakan wadah yang sehat dan bermanfaat bagi perkembangan generasi muda. Tidak hanya itu saja HAAJ secara berkala (2 minggu sekali) mengadakan kegiatan seperti ceramah,pemutaran film ilmiah (dan film populer namun aspek keastronomian tetap dipertahankan). Selain itu berdiskusi, pameran, dan melakukan peneropongan (baik dalam kota maupun luar kota).

Mengingat himpunan sejenis di manca Negara sudah banyak yang lebih maju, seperti di Amerika Serikat, Jepang, Negara-Negara di Eropa, Australia,dsb. Maka tidak menutup kemungkinan pada masa mendatang HAAJ akan mengadakan jalinan kerjasama dengan mereka guna memperluas wawasan dan pengalaman. Banyak bukti yang menunjukan bahwa hasil temuan dan pengamatan para astronom amatir mempunyai arti besar atau penting bagi dunia astronomi dan dibutuhkan oleh yang professional, missal penemuan komet dan asteroid baru, dsb.(sumber : www.google.com, 2009)

Gambar 2. 17. Pengamatan Gerhana Matahari oleh HAAJ (sumber : www.google.com, 2009)

Gambar 2.18. Kegiatan Peneropongan Anggota HAAJ. (sumber : www.google.com, 2009)

Observatorium Planetarium Jakarta

Planetarium Jakarta dilengkapi oleh Observatorium, tempat peneropongan benda langit, dimaksudkan agar dapat melaksanakan kegiatan observasi sebagai bagian dari pekerjaan astronomi profesional dan juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk mengamati benda-benda langit melalui teropong bintang. Hasil observasi dapat memberikan informasi yang masih hangat tentang benda atau fenomena langit yang masih bisa diamati di Jakarta. Observatorium memiliki peralatan 3 teropong bintang dan sebuah heliostat yang digunakan untuk observasi visual dan fotografi Matahari, Bulan, planet, komet, gugus bintang dll. Sebuah teropong bintang yang dapat dibawa berpindah-pindah digunakan untuk mengamati gerhana matahari, gerhana bulan dan komet. Pada waktu-waktu tertentu planetarium bekerja sama dengan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, mengadakan peneropongan umum di lapangan terbuka untuk lebih memasyarakatkan astronomi sebagai hoby yang bermanfaat.

Gambar 2. 19. Teleskop refraktor Coude 160 mm. (sumber : www.google.com, 2009)

Foto-foto yang dihasilkan selain dijadikan bahan dokumentasi juga digunakan untuk penelitian astronomi. Dalam hal itu, tenaga-tenaga astronom di planetarium senantiasa bekerjasama dengan lembaga-lembaga astronomi yang lain. Letak Indonesia memiliki keistimewaan, yakni dapat mengamati langit belahan utara maupun belahan selatan dalam waktu bersamaan, karena letaknya di daerah ekuator Bumi. Gedung observatorium yang atapnya berbentuk kubah

merupakan cirinya yang khas, lebih didasari oleh persyaratan teknis, yakni agar dapat diputar ke berbagai arah dan menimbulkan hambatan yang kecil terhadap tiupan angin serta sirkulasi udara di atas teropong bintang tidak terlalu acak.

Gambar 2. 20. Teleskop reflektor Cassegrainian 310 mm. (sumber : www.google.com, 2009)

Perpustakaan Planetarium Jakarta

Keberadaan perpustakaan yang menghimpun bahan-bahan tertulis mengenai astronomi yang telah dirilis sejak planetarium mulai dibuka. Perpustakaan ini sebuah fasilitas yang mutlak diperlukan karena sebagian besar bahan acuan untuk menyusun program berasal dari isi perpustakaan yang terdapat lebih dari 3.600 buah buku, majalah dan bentuk penerbitan lainnya sebagai koleksi perpustakaan. Jumlah itu akan terus bertambah melalui langganan majalah dan pembelian buku-buku terbitan baru. Tambahan koleksi perpustakaan juga diperoleh melalui bantuan atau sumbangan dari pihak lain, seperti Yayasan Asia dan beberapa kedutaan asing.

Di perpustakaan terdapat hasil-hasil seminar astronomi dan karya ilmiah profesional lainnya, diantaranya berupa sumbangan dari observatorium Bosscha. Perpustakaan terbuka untuk umum pada jam kerja kantor, untuk memberi kesempatan kepada yang ingin memperluas pengetahuan astronomi. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik terutama oleh pelajar, mahasiswa, dan para guru. Berbagai literatur yang ada sangat membantu mereka dalam penyusunan karya tulis, bahkan karya tulis akhir atau laporan yang merupakan sebagian dari pelaksanaan kurikulum pendidikannya.

Gambar 2. 21. Sebagian koleksi buku perpustakaan Planetarium Jakarta. (sumber : www.google.com, 2009)

Ruang Pameran Planetarium Jakarta

Gambar dan model miniatur adalah alat yang dapat digunakan untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai benda-benda langit. Jarak pemisah yang amat jauh dan pengaruh angkasa dan keterbatasan mata membuat kita tak tahu banyak tentang sifat-sifat benda langit yang sebenarnya. Oleh karena itu gambar-gambar yang dipotret atau dideteksi oleh peralatan astronomi, baik yang dilakukan di Bumi maupun yang berada diangkasa dan ruang angkasa, besar manfaatnya untuk kita ketahui ciri-ciri yang tampak didalamnya. Model miniatur dapat membantu menjelaskan rupa, bentuk dan dimensi benda-benda yang ditirukan.

Gambar 2. 22. Suasana Ruang Plaetarium Jakarta. (sumber : www.google.com, 2009)

Gambar 2. 23. Ruang Pamer Planetarium TMI. (sumber : www.google.com, 2009)

Ruang Pertunjukan Citraganda Planetarium Jakarta

Kegiatan di Planetarium Jakarta mulai tahun 1997 bertambah lagi dengan diadakannya pertunjukan citraganda (multi image). Citra atau gambar diproyeksikan pada layar datar, seperti layar bioskop pada umumnya. Gambar itu berasal dari media slide, pita audio. Bagi Planetarium Jakarta upaya memulai hal itu merupakan jawaban terhadap tantangan kekosongan ketika dilaksanakan pemutakhiran proyektor bintang dan renovasi ruangan yang memakan waktu sekitar satu tahun. Pertunjukan citraganda pada mulanya masih menyuguhkan pengetahuan astronomi dan selanjutnya akan diperluas pada pengetahuan lainnya. Dengan media seperti ini sesungguhnya suatu pengetahuan dapat disuguhkan dengan cara menarik dan padat, sehingga manfaatnya sangat baik untuk membantu proses belajar-mengajar. Ini berarti suatu bentuk lain dari media edutainment yang dapat kita ciptakan.

Gambar 2. 24. Ruang Pertunjukan Citraganda. (sumber : www.google.com, 2009)

Ruang Pertunjukan Planetarium Jakarta

Planetarium Jakarta sejak dibuka pada 1 Maret 1969 menggunakan proyektor Universal buatan perusahaan Carl Zeiss, yang mampu memproyeksikan gambar-gambar matahari, bulan, planet, bintang, komet dan lain-lain. Sistem proyeksi itu sangat mirip dengan kenyataan yang kita lihat di langit sebenarnya, termasuk perubahan letak benda-benda itu dengan bantuan susunan alat penggerak yang rumit. Dengan demikian peragaan merupakan simulasi langit, baik pada permukaan setelah bola yang bergaris tengah 23 meter, berfungsi sebagai layar dan terbuat dari pelat aluminium. Ruang peragaan, biasa disebut ruang pertunjukan, semula berkapasitas 500 kursi yang ditempatkan melingkar menghadap proyektor ditengah-tengahnya. Pada waktu digunakan ruangan ini tertutup rapat dan udara didalamnya diatur dengan sistem sirkulasi dari luar dan memakai mesin pendingin.

Proyektor dan ruangan yang disebut di atas itu kini telah mengalami perubahan, yaitu sejak dilakukan pemutakhiran peralatan dan renovasi tata ruangan yang berlangsung dalam tahun 1996 dan 1997. Proyektor Universal diganti oleh Proyektor Universarium Model VIII, bahan layar kubah diganti dengan yang baru dan garis tengahnya menjadi 22 meter. Lantai ditinggikan dan dibuat bertingkat. Seluruh kursi menghadap ke arah selatan dan jumlahnya menjadi sedikit, maksimum 320 buah.(sumber : www.google.com, 2009)

Gambar 2. 25. Proyektor Bintang Universarium M VIII. (sumber : www.google.com, 2009)

Planetarium Jakarta mengadakan acara-acara pertunjukan untuk rombongan murid sekolah dan juga untuk masyarakat umum. Acara-acara untuk

murid sekolah dipersiapkan oleh staf planetarium dengan isi meliputi masalah-masalah pokok pelajaran Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa dan disesuaikan dengan kurikulum sekolah mereka. Astronomi, fisika, meteorologi dan geografi adalah pokok-pokok pelajaran yang harus diberikan kepada murid sekolah untuk memahami Bumi dan ruang jagat raya. Planetarium memiliki peranan yang sangat penting dalam pencapaian pemahaman ini, karena mempunyai kemampuan memvisualisasikan kejadian-kejadian di langit, yang tidak mungkin dikerjakan oleh guru di ruang kelas. Bahan-bahan pokok untuk tingkat Sekolah Dasar dan untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama hampir sama meliputi :

 Pengenalan benda – benda langit malam.  Gerak harian benda langit.

 Perubahan fase bulan.

 Gerhana matahari dan gerhana bulan.  Gerak semu matahari dan planet-planet.  Bumi sebagai planet.

 Matahari.  Tatasurya.

 Penerbangan ke angkasa luar.  Bintang.

 Galaksi bimasakti dan galaksi lainnya.

Perbedaan antar acara-acara yang diberikan kepada kedua tingkat sekolah itu adalah mengenai seluk beluk keterangan ilmiah tentang pokok bahasan itu. Tidak hanya para murid SD sampai SMU, para mahasiswa dari berbagai jurusan menggunakan Planetarium sebagai tempat untuk mengenal astronomi sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan, untuk memperluas pengetahuan astronomi, untuk mempelajari metode belajar mengajar bagi calon guru, dan untuk kepentingan studi keteknikan. Keberadaan Planetarium Jakarta telah dan akan seterusnya diperlukan dalam dunia pendidikan dan selain itu

juga dapat dijadikan salah satu tolak ukur atau sumber untuk melihat perkembangan kebutuhan sarana serupa di waktu mendatang.

Gambar 2.26. Ruang pertunjukan planetaium jakarta (sumber : www.google.com,

Gambar 2. 27. Peta Lokasi Planetarium Taman Ismail Marzuki. (sumber : www.google.com,

2.2.2.2 Observatorium Boscha Data proyek

Nama proyek : Observatorium Bosscha Lembang

Lokasi : Jl. Peneropongan Bintang, lembang, Bandung, Jawa Barat

Letak Geografis : 107˚ 36’ Bujur Timur dan 6˚49’Lintang Selatan Ketinggian : 1310 m dari permukaan laut

E – mail : [email protected]

Gambar 2. 28. Observatirium Bosscha ITB Lmbang. (sumber : www.google.com, 2009)

Obsrvatorium Bosscha (atau dulunya yang dikenal sebagai Bosscha Sterrewacht) adalah salah satu observatorium penting dibelahan bumi selatan. Observatorium Bosscha dibangun oleh NISV-Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pembangunanya sendiri mulai tahun 1923 sampai 1928 dan pada tahun 1951 Obsevatorium Bosscha diserahkan kepada FMIPA UI namun dengan berdirinya ITB pada tahun 1959 maka Observatorium ini menjadi bagian dari ITB. Nama Observatorium Bosscha itu sendiri diambil dari nama sponsor utamanya, Karel Albert Rudolf Bosscha (1865-1928), seorang tuan tanah yang memiliki perkebunan teh di daerah Malabar. Wilayah Lembang dipilih karena kondisi geologis tanah yang stabil, terbukti sudah puluhan tahun bangunan dan teleskopnya masih berfungsi normal. (sumber : www.google.com, 2009)

Kegiatan Penelitian Observatorium Bosscha

Sebagai Observatorium, Bosscha memang digunakan untuk pengamatan dan penelitian astronomi. Dengan fasilitas yang ada ditambah posisi yang menguntungkan (dekat dengan khatulistiwa), astronom Indonesia dapat melakukan penelitian astronomi disini. Bahkan astronom luar negripun bisa menggunakan fasilitas ini untuk penelitian. Penelitian rutin yang dilakukan diobservatorium Bosscha adalah pengamatan bintang ganda visual dengan Refraktor Ganda Zeiss, sesuai dengan misi utama pembangunan Observatorium ini. Selain itu jika ada obyek yang menarik, misalnya ada komet yang sedang mendekati matahari, ada nova, atau peristiwa astronomi menarik lainya, para peneliti Departemen Astronomi dan Observatorium Bosscha juga mengadakan pengamatan disini. Dalam penelitian atau pengamatan ini mahasiswa astronomi yang berminat juga bisa terlibat langsung dalam penelitian atau pengamatan. (sumber : www.google.com, 2009)

Kegiatan pengabdian masyarakat merupakan sumbangsih ilmu pengetahuan kepada masyarakat, diantaranya :

Menerima kunjungan masyarakat, baik siang maupun malam. Kegiatan ini didukung oleh LPM ITB sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa ;

1. Pertemuan klub penggemar astronomi dan astrophilatelis yang disponsori oleh PT POS Indonesia ;

2. Mengembangkan dan memberdayakan tim perpustakaan menjadi unit layanan informasi yang up to date. Kelompok ini juga mengkompilasi informasi karya-karya staff serta membantu penulisan buku astronomi.

3. Kegiata pelatihan Hisab-Rukyat, diikuti 20 orang peserta dari negara MABIMS dengan sponsor Departemen dalam Negeri RI selama satu bulan, Juli-Agustus 2000 diselenggarakan di Observatorium Bosscha ;

4. Pelatihan dosen IKIP penerima hibah teleskop dari Jepang pada bulan Juli 2001.

Sedangkan pertemuan dengan beberapa astronom yang diorganisir Observatorium Bosscha bersama lembaga penelitian di Indonesia :

1. IAU Colloquium No.80 Double Stars, Physical Properties and Generic relations tahun 1983. Editors Proceedings B.Hidayat, Z.Kopal dan J.Rahe ;

2. IAU Symposium on Stellar Photometry and Spectral Classifications 1963 ;

3. IAU Symposium 143 on Wolf-Rayet stars and Interrelations with other massive stars in Galaxies 18-22 Juni 1999.

Gambar 2. 29. Pertemuan Beberapa Astronom dan Masyarakat (sumber : www.google.com, 2009)

Sedangkan fasilitas – fasilitas yang ada di Observatorium Bosscha didalam melakukan penelitian diantaranya adalah :

Teleskop Observatorium ini dilengkapi dengan teleskop berbagai ukuran dan jenis. Masing – masing teleskop memiliki sasaran objek yang berbeda-beda. Ada 6 teleskop yang aktif untuk penelitian astronomi, ke-6 teleskop tersebut adalah :

I. Teleskop Refraktor Ganda Zeiss

Teleskop Zeiss adalah teleskop yang paling besar yang ada di observatorium Bosscha, teleskop ini adalah jenis

teleskop refraktor yaitu teleskop yang menggunakan lensa cembung untuk mengumpulkan cahaya. Dikatakan teleskop ganda karena didalam tabung teleskop tersebut terdapat 2 buah teleskop, satu digunakan untuk pengamatan visual (sensitif pada panjang gelombang kuning/hijau), dan yang lainya digunakan untuk pemotretan/fotografi (sensitif pada panjang gelombang biru). (sumber : www.google.com, 2009)

 Spesifikasi Teleskop Refraktor Ganda Zeiss : - Visual : ø=60 cm, ƒ=1078 cm, ƒ-ratio=18.0

Fotografi : ø=60 cm, ƒ=1072 cm, ƒ-ratio=17.9 - Limiting magnitude = 14.6

- Resolfing power = 0”.23

- Instrument tambahan : microscopic grating, sirius grating dan planetary camera

- Digunakan untuk pengamatan, bintang ganda, planet, gugus galatik.

Gambar 2. 30. Bentuk Bangunan Tempat Teleskop Zeiss. (sumber : www.google.com, 2009)

Teleskop Schmidt Bima Sakti Berbeda dengan Teleskop Zeiss, Teleskop Bima Sakti ini termasuk teleskop reflektor. Teleskop Reflektor yang menggunakan cermin (cekung) untuk mengumpulkan cahaya. Teleskop ini dinamakan Bima Sakti karena memang digunakan terutama untuk mempelajari struktur galaksi kita yaitu galaksi Bima Sakti. (sumber : www.google.com, 2009)

 Spesifikasi Teleskop Refraktor Schmidt Bima Sakti : - Cermin utama (ø=71 cm), lensa koreksi (ø=51 cm)

ƒ=127 cm, ƒ-ratio=2.5 - Limiting magnitude = 17.0 - Resolfing power = 0”.23

- Digunakan untuk keperluan Spektroskopi drometri

Gambar 2. 32. Bentuk Bangunan dan Teleskop Refraktor Schmidt ”Bima Sakti”.

(sumber : www.google.com, 2009)

II. Teleskop Cassegrain GOTO

Teleskop GOTO adalah teleskop yang paling baru dan paling canggih pengoprasianya diantara teleskop yang ada diobservatorium bosscha. Teleskop ini adalah jenis Cassegrain, yang pada dasarnya adalah teleskop reflektor yang dimodifikasi, untuk pengoprasianya teleskop GOTO digerakkan oleh penggerak yang dikendalikan dengan komputer. Pengamat bisa memasukkan data posisi objek yang akan diamati dan teleskop akan diarahkan oleh

komputer keobjek yang ingin diamati tersebut. Data hasil pengamatan akan langsung disimpan kedalam media penyimpanan data (disket/hard disk) untuk pengolahan lebih lanjut. (sumber : www.google.com, 2009)

 Spesifikasi Teleskop Cassegrain GOTO :

- Cermin utama ø=45 cm, ƒ=180 cm, ƒ-ratio=4.0 - Cermin sekunder ø=15 cm, ƒ=540 cm, ƒ-ratio=12.0 - Limiting magnitude = 15 (fotoelektrik fotometri), dan

6 (studi spektroskopi) - Resolfing power = 0”.23

- Instrument tambahan : NEC PC – 9801 (kontrol), fotoelektrik fotometer, spektograf dan CCD

- Digunakan untuk keperluan Fotometri dan Spektroskopi

Gambar 2. 33. Bentuk Bangunan dan Teleskop Cassegrain GOTO. (sumber : www.google.com, 2009)

III. Teleskop Refraktor Unitron

Teleskop Unitron adalah teleskop paling kecil di Observatorium Bosscha, meski demikian tidak berarti fungsinya dapat dabaikan. Teleskop ini dapat digunakan untuk pengamatan hilal (anak bulan), pengamatan / pemotretan gerhana bulan dan gerhana matahari, dan benda – benda langit lainya sederhana. Saat terjadinya gerhana matahari / bulan, teleskop unitron ini selalu

digunakan untuk pengamatan gerhana dilokasi pengamatan yang diinginkan. Misalnya pada saat gerhana matahari total 25 Oktober 1995 teleskop Unitron pada saat tu menjadi salah satu perlengkapan utama tim gerhana Observatorium Bosscha. (sumber : www.google.com, 2009)

 Spesifikasi Teleskop Refraktor Unitron : - ø=10.5cm, ƒ=120 cm, ƒ-ratio=11.4

- Digunakan untuk pengamatan sederhana (bulan, gerhana, dsb.) serta demo publik

Gambar 2. 34. Teleskop Refraktor Unitron. (sumber : www.google.com, 2009)

IV. Teleskop Refraktor Bamberg

Teleskop Bamberg juga termasuk teleskop jenis Reflektor, teleskop ini memiliki lensa objektif berdiameter 37 cm, dengan fokus / titik api 7 m. Teleskop ini berada pada gedung yang atapnya bisa digeser. (sumber : www.google.com, 2009)

 Spesifikasi Teleskop Refraktor Bamberg : - ø=37 cm, ƒ=700 cm, ƒ-ratio=18.9

- Digunakan untuk keperluan Fotometri dan Demo Publik

Gambar 2. 35. Bentuk Bangunan dan Teleskop Refraktor Bamberg. (sumber : www.google.com, 2009)

Permasalahan di sekitar lokasi Observatorium Bosscha

Peningkatan jumlah penduduk di Kota Lembang dan Bandung karena desakan kebutuhan tempat tinggal berimplikasi pada merosotnya kualitas langit di sekitar Lembang. Berbagai proyek pembangunan memunculkan kedatangan penduduk dari luar Kota Lembang, semakin menghimpit keberadaan Observatorium. Tentang hal ini, berbagai LSM dan media massa telah menyuarakan pentingnya menjaga daerah sekitar observatorium dari perambahan permukiman. Pemerintah Provinsi dan Kab. Bandung telah cukup

merespon. Namun perlu pelaksanaan di lapangan terutama perlindungan melalui Perda RT/RW. (sumber : www.google.com, 2009)

Gambar 2. 36. Lokasi Site Observatorium Bosscha. (sumber : www.google.com, 2009)

Dalam dokumen PUSAT PENGAMATAN TATA SURYA DI BATU. (Halaman 40-59)

Dokumen terkait