BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. TINJAUAN PUSTAKA
a. Pengertian bank
Pengertian bank berasal dari kata Italia banco yang artinya bangku. Bangku inilah yang dipergunakan oeh bankir untuk melayani kegiatan operasionalnya kepada para nasabah. Istilah bangku secara resmi dan popular menjadi bank. Bank termasuk perusahaan industri jasa karena produknya hanya memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat.
Definisi bank menurut Undang-undang No.10 Tahun 1998 pokok-pokok perbankan : ”Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.
b. Fungsi Bank
Bank mempunyai fungsi yang sangat penting bagi perekonomian suatu negara. Berdasarkan Undang-undang No.10 Tahun 1998 Pasal 3 tentang Perbankan bahwa fungsi utama bank sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat. Untuk lebih jelasnya dibawah ini peneliti menguraikan lebih lanjut tentang fungsi-fungsi bank yaitu :
1. Bank sebagai Penerima Kredit
Menerima dan mengelola simpanan dari masyarakat dalam bentuk giro, deposito berjangka tabungan, sertifikat deposito maupun simpanan lainnya.
2. Bank sebagai Pemberi Kredit
Bank menyalurkan dana tersebut dalam bentuk kredit kepada mereka yang membutuhkan dalam rangka mendorong dan meningkatkan usaha rakyat pada khususnya serta menggerakkan roda perekonomian pada umumnya.
3. Bank sebagai Pemberi Jasa
Salah satu tugas utama bank adalah mendorong kelancaran produksi.
Berdasarkan hal tersebut bank dituntut untuk memberikan jasa-jasa perbankan yang diharapkan dapat mempermudah dan meningkatkan arus transaksi keuangan misalnya : transfer garasi bank, tempat penyimpanan barang berharga.
c. Jenis-jenis Bank
Berdasarkan Undang-undang RI No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan, jenis-jenis bank dapat dibedakan berdasarkan jenisnya, kepemilikannya, berdasarkan bentuk hukum, kegiatan usahanya, sistem pembayaran jasa, sedangkan diihat dari segi jenisnya jenis-jenis bank ialah :
1. Bank Umum
Adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2. Bank Perkreditan Rakyat
Adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. d. Definisi Kredit
Pengetian kredit itu sendiri mempunyai dimensi yang beraneka ragam, dimulai dari kata “Kredit” yang berasal dari bahasa Yunani
“Credere” yang berarti “kepercayaan” atau dalam bahasa Latin
“Creditum” yang berarti kepercayaan akan kebenaran. Dalam praktek sehari-hari pengertian ini selanjutnya berkembang lebih luas lagi antara lain :
1. Kredit adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu janji pembayaran akan dilakukan ditangguhkan pada suatu jangka waktu yang disepakati.
2. Pengertian yang lebih mapan untuk kegiatan perbankan di Indonesia, pengertian kredit ini telah dirumuskan dalam bab I, pasal 2 Undang-Undang Pokok Perbankan No.14 tahun 1967 yang merumuskan : “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang,
berdasarkan persetujuan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain dalam hal mana pihak peminjam berkewajiban melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga yang telah ditentukan”.
Prinsip penyaluran kredit adalah prinsip kepercayaan dan kehati-hatian. Indikator kepercayaan ini adalah kepercayaan moral, komersial, finansial dan agunan. Kepercayaan dibedakan atas kepercayaan murni dan kepercayaan reserve.
Kepercayaan murni adalah jika kreditur memberikan kredit
kepada debitornya hanya atas kepercayaan saja, tanpa ada jaminan lainnya.
Kepercayaan reserve diartikan kreditor menyalurkan
kredit/pinjaman kepada debitor atas kepercayaan, tetapi kurang yakin sehingga bank selalu meminta agunan berupa materi (seperti BPKB, sertifikat, ijin usaha, dan sebagainya). Bahkan dalam suatu bank dalam penyaluran kredit lebih mengutamakan agunan atas pinjaman tersebut.
Menurut UU RI No.10 Tahun 1998 tentang perbankan :
“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga imbalan atau pembagian hasil keuntungan”.
Dalam pengertian kredit tersebut di atas terkandung unsur-unsur kredit sendiri, yaitu unsur :
1. Waktu, yang menyatakan bahwa ada jarak antara saat persetujuan pemberian kredit dan pelunasannya.
2. Kepercayaan, yang melandasi pemberian kredit oleh pihak kreditur kepada debitur, bahwa setelah jangka waktu tertentu debitur akan mengembalikannya sesuai kesepakatan yang disetujui oleh kedua pihak.
3. Penyerahan, menyatakan bahwa pihak kreditur menyerahkan nilai ekonomi kepada debitur harus dikembalikannya setelah jatuh tempo. 4. Risiko, menyatakan adanya risiko yang mungkin timbul sepanjang
jarak antara saat memberikan dan pelunasannya.
5. Persetujuan/Perjanjian, yang menyatakan bahwa antara kreditur dan debitur terdapat suatu persetujuan dan dibuktikan dengan suatu perjanjian.
e. Tujuan dan Fungsi Kredit
Menurut Kasmir (2000: 96) Pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai tujuan dan fungsi tertentu. Tujuan pemberian kredit tersebut tidak akan terlepas dari misi bank tersebut didirikan.
Adapun tujuan utama pemberian suatu kredit antara lain : 1. Mencari Keuntungan
Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit tersebut. Hasil tersebut terutama dalam bentuk bunga yang diterima
oleh bank sebagai balas jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah.
2. Membantu Usaha Nasabah
Tujuan lainnya adalah untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja untuk dapat mengembangkan dan memperluas usahanya.
3. Membantu Pemerintah
Bagi pemerintah semakin banyak yang kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan, maka semakin baik, semakin banyak kredit berarti adanya peningkatan pembangunan diberbagai sektor.
Kemudian disamping tujuan diatas suatu fasilitas kredit mengandung suatu fungsi secara luas. Fungsi kredit secara luas antara lain :
a) Untuk Meningkatkan Daya Guna
Dengan diberikannya kredit uang tersebut menjadi berguna untuk menghasilkan barang atau jasa oleh si penerima kredit.
b) Untuk Meningkatkan Peredaran dan Lalu Lintas Uang
Dalam hal ini uang yang diberikan atau disalurkan akan beredar dari suatu wilayah ke wilayah lainnya sehingga, suatu daerah yang kekurangan uang dengan memperoleh kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan uang dari daerah lainnya.
c) Untuk Meningkatkan Daya Guna Barang
Kredit yang diberikan oleh bank akan dapat digunakan oleh si debitur untuk mengolah barang yang tidak berguna menjadi berguna atau bermanfaat.
d) Meningkatkan Peredaran Barang
Kredit dapat memperlancar arus barang dari suatu wilayah ke wilayah lainnya, sehingga jumlah barang yang beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya bertambah atau kredit dapat pula meningkatkan jumlah barang yang beredar.
e) Sebagai Alat Stabilitas Ekonomi
Dengan adanya kredit yang diberikan akan menambah jumlah barang yang diperlukan oleh masyarakat. Dapat pula kredit membantu dalam mengekspor barang dari dalam negeri ke luar negeri sehingga meningkatkan devisa negara.
f) Untuk Meningkatkan Gairah Usaha
Bagi penerrima kredit tentu akan dapat meningkatkan kegairahan berusaha, apalagi bagi nasabah yang modalnya pas-pasan.
f. Jenis-jenis Kredit Bank
Dalam praktek saat ini, secara umum terdapat beberapa jenis kredit yang diberikan oleh bank kepada para nasabahnya, menurut Hasibuan (1999:89) jenis kredit dapat dibedakan berdasarkan jangka waktunya, tujuan/kegunaannya, sektor perekonomian, cara penggunaan, dan berdasarkan jaminannya.
1. Berdasarkan Jangka Waktu
Berdasarkan jangka waktu, kredit dibagi menjadi kredit angka pendek, kredit jangka menengah dan kredit jangka panjang. Ketiga macam kredit tersebut diatur dalam pasal 1 huruf d Undang-undang Perbankan Nomor 14 Tahun 1967 :
1)Kredit jangka pendek yaitu kredit yang jangka waktunya paling lama satu tahun saja.
2)Kredit jangka menengah yaitu kredit yang jangka waktunya antara satu sampai dengan tiga tahun.
3)Kredit jangka panjang yaitu kredit yang jangka waktunya lebih dari tiga tahun.
2. Berdasarkan Tujuan/Kegunaannya 1) Kredit Investasi
Yaitu kredit yang dipergunakan untuk investasi produktif, tetapi baru akan menghasilkan dalam jangka waktu yang relatif lama. Biasanya kredit ini diberikan grace period, misalnya kredit untuk perkebunan kelapa sawit, dan lain-lain.
2) Kredit Modal Kerja
Kredit yang akan dipergunakan untuk menambah modal usaha debitur. Kredit ini bersifat produktif.
3) Kredit Konsumtif
Yaitu kredit yang dipergunakan untuk kebutuhan sendiri bersama keluarganya, seperti kredit rumah atau mobil yang akan
digunakan sendiri bersama keluarganya. Kredit ini tidak bersifat produktif.
3. Berdasarkan Sektor Perekonomian
Merupakan kredit yang dipandang dari sektor perekonomian dibagi menjadi kredit pertanian, kredit perindustrian, kredit pertambangan, kredit ekspor-impor, kredit koperasi, kredit profesi.
4. Berdasarkan Jaminannya 1) Kredit Dengan Jaminan
Merupakan kredit yang diberikan dengan suatu jaminan tertentu. Jaminan tersebut dapat berbentuk barang berwujud atau tidak berwujud. Artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan dilindungi setiap jaminan yang diberikan si calon debitur.
2) Kredit Tanpa Jaminan
Yaitu kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau orang tertentu. Kredit jenis ini diberikan dengan melihat prospek usaha, karakter serta loyalitas si calon debitur selama berhubungan dengan bank yang bersangkutan.
3) Jaminan Kredit Bank
Kredit tanpa jaminan sangat membahayakan posisi bank, mengingat jika nasabah mengalami suatu kemacetan maka akan sulit untuk menutupi kerugian terhadap kredit yang disalurkan. Ketidakmampuan nasabah dalam melunasi kredit dapat ditutupi dengan satu jaminan kredit. Dengan adanya jaminan suatu
dimana nilai jaminan, biasanya melebihi nilai kredit maka bank akan aman. Bank dapat mempergunakan atau menjual jaminan kredit untuk menutupi kredit apabila kredit yang diberikan macet. Jaminan kredit juga akan melindungi bank dari nasabah yang nakal. Hal ini tidak sedikit yang mampu tetapi tidak mau membayar kreditnya. Yang paling penting dalam jaminan kredit adalah mengikat nasabah untuk segera melunasi utang-utangnya, nasabah akan terikat dengan bank mengingat jaminan kredit akan disita oleh bank apabila nasabah tidak mampu membayar. g. Jaminan Kredit
Kasmir (2001:80) mengemukakan bahwa jaminan yang dapat dijadikan
jaminan kredit oleh calon debitur adalah sebagai berikut : 1. Dengan Jaminan
1) Jaminan dengan barang-barang seperti : a. Tanah b. Bangunan c. Kendaraan Bermotor d. Mesin-mesin/peralatan e. Barang dagangan f. Tanaman/kebun/sawah
g. Dan barang-barang berharga lainnya 2) Jaminan Surat Berharga
b. Sertifikat obligasi c. Sertifikat tanah d. Sertifikat deposito e. Wesel
f. Promes
g. Surat berharga lainnya 3) Jaminan Orang atau Perusahaan
Yaitu jaminan yang diberikan oleh seseorang atau perusahaan kepada bank terhadap fasilitas kredit yang diberikan. Apabila kredit macet maka orang atau perusahaan yang memberikan jaminan itulah yang diminta pertanggungjawabannya atau menanggung resikonya.
4) Tanpa Jaminan
Kredit tanpa jaminan maksudnya adalah bahwa kredit yang diberikan bukan dengan jaminan barang atau surat-surat berharga. Biasanya diberikan karena kredibilitas perusahaan yang dapat dipercaya. Kredit ini diberikan untuk perusahaan yang memang benar-benar bonafid dan profesional, sehingga kemungkinan kredit tersebut macet sangat kecil. Dapat pula kredit tanpa jaminan dengan penilaian terhadap ospek usahanya atau dengan pertimbangan untuk pengusaha-pengusaha ekonomi lemah.
h. Prinsip-prinsip dalam pemberian kredit
Untuk dapat melaksanakan kegiatan perkreditan secara benar dan sehat bank menyelidiki melalui analisa kredit pada calon debitur dengan mengemukakan persyaratn-persyaratan yang dikenal dengan prinsip 5 C, 7 C dan 3 R, yaitu :
1. Prinsip 5 C
a. Chararter
Yaitu sifat atau watak seseorang dalam hal ini calon debitur. Tujuannya untuk memberikan keyakinan kepada bank bahwa, sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan kredit benar-benar dapat dipercaya. Keyakinan ini tercermin dari latar belakang si nasabah baik yang bersifat latar belakang pekerjaan maupun yang bersifat pribadi seperti : cara hidup atau gaya hidup yang dianutnya, keadaan keluarga, dan hobi. Character merupakan ukuran untuk menilai “kemauan” nasabah membayar kreditnya.
b. Capacity
Untuk melihat kemampuan calon nasabah dalam membayar kredit yang dihubungkan dengan kemampuannya mengelola bisnis serta kemampuan mencari laba. Sehingga pada akhirnya akan terlihat kemampuannya dalam mengembalikan kredit yang disalurkannya.
c. Capital
Capital berfungsi untuk mengetahui sumber-sumber pembiayaan
Biasanya bank tidak akan bersedia untuk membiayai suatu usaha 100% artinya setiap nasabah yang mengajukan permohonan kredit harus pula menyediakan dana dari sumber lainnya atau modal sendiri.
d. Collateral
Merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jaminan juga harus diteliti keabsahannya, sehingga jika terjadi suatu masalah, maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat mungkin. Fungsi jaminan adalah sebagai pelindung bank dari resiko kerugian.
e. Condition
Penilaian kredit hendaknya juga menilai kondisi ekonomi sekarang dan untuk masa yang akan datang sesuai sektor masing-masing. Dalam kondisi perekonomian yang kurang stabil sebaiknya pemberian kredit untuk sektor tertentu jangan diberikan terlebih dahulu dan kalaupun jadi diberikan sebaiknya dengan melihat prospek usaha tersebut dimasa yang akan datang.
2. Prinsip 7 P a. Personality
Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun masa lalunya. Personality juga mencakup sikap,
emosi, tingkah laku dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah.
b. Party
Yaitu mengklasifikan nasabah kedalam klasifikasi tertentu atau golongan-golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya. Sehingga nasabah dapat digolongkan ke golongan tertentu dan akan mendapatkan fasilitas kredit yang berbeda pula dari bank.
c. Purpose
Yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis kredit yang diinginkan nasabah. Tujuannya dapat bermacam-macam apakah tujuan untuk konsumtif atau untuk tujuan produktif atau untuk perdagangan.
d. Prospect
Yaitu untuk menilai usaha nasabah dimasa yang akan datang apakah menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya. Hal ini penting mengingat jika suatu fasilitas kredit yang dibiayai tanpa mempunyai prospek, bukan hanya bank yang akan rugi akan tetapi nasabah.
e. Payment
Merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk mengembalikan kredit yang diperolehnya.
f. Profitability
Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba. Profitability diukur dari periode apakah akan tetap sama atau akan semakin meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan diperolehnya dari bank.
g. Protection
Tujuannya adalah bagaimana menjaga kredit yang dikucurkan oleh bank namun melalui suatu perlindungan, perlindungan dapat berupa jaminan barang atau jaminan asuransi.
3. Prinsip 3 R, yaitu sebagai berikut : a. Return/Returning (Hasil yang dicapai) b. Repayment ( Pembayaran kembali)
c. Risk Bearing Ability (Kemampuan untuk menanggung resiko)
Berdasarkan penjelasan diatas, maksud dari prinsip dalam penilaian permohonan kredit adalah untuk meletakkan kepercayaan dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dikemudian hari seperti kegagalan usaha debitur dan kemacetan total kreditnya, sehingga baik pihak bank maupun para nasabah dalam melaksanakan kegiatan usahanya sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan tidak merugikan kepada salah satu pihak.
i. Prosedur Pemberian kredit
Prosedur pemberian kredit merupakan suatu cara yang mengatur tahapan serta langkah-langkah yang di perlukan didalam pemberian suatu kredit :
Secara umum tahapan yang sering digolongkan kedalam prosedur pemberian kredit menurut Thomas (1999:69), adalah sebagai berikut : 1. Permohonan Kredit
Permohonan fasilitas kredit mencakup ;
a. Permohonan baru untuk mendapat suatu jenis fasilitas kredit, b. permohonan tambahan suatu kredit yang sedang berjalan,
c. permohonan perpanjangan/pembaruan masa laku kredit yang telah berakhir jangka waktunya, dan
d. permohonan-permohonan lainnya untuk perubahan syarat-syarat fasilitas kredit yang sedang berjalan, antara lain penukaran jaminan, perubahan/pengunduran jadwal angsuran.
2. Analisis Kredit
Analisis kredit adalah suatu cara untuk menilai keadaan permohonan kredit terdiri dari beberapa aspek, yaitu ;
a. Aspek manajemen, b. aspek pemasaran, c. aspek teknis, d. aspek keuangan, e. aspek hukum, dan
f. aspek AMDAL. 3. Keputusan Kredit
Setiap tindakan pejabat yang berdasarkan wewenangnya berhak untuk mengambil keputusan berupa menolak, menyetujui atau mengusulkan fasilitas kredit kepada pejabat yang lebih tinggi. Apabila usaha tersebut dianggap layak maka kredit akan dikucurkan. Biasanya ini akan dituangkan didalam surat keputusan kredit, yang isinya antara lain ;
a. Nama debitur, b. jenis debitur, c. tujuan debitur, d. jangka waktu kredit, e. jaminan kredit, dan f. syarat-syarat lainnya.
4. Pelaksanaan dan Administrasi Kredit a. Pelaksanaan Kredit
Setelah ada kesepakatan antara bank dengan debitur dibuatlah perjanjian kredit, syarat-syarat umum pemberian kredit dan lampiran. b. Adminisrasi Kredit
Isi dari administrasi kredit adalah ; a) Pembukuan kredit,
b) proses pencairan kredit, c) penyimpanan dokumen, dan
d) hal-hal lain yang diperlukan tergantung pada ketentuan masing-masing bank.
5. Supervisi (pengawasan) dan pembinaan debitur
a. Supervisi (pengawasan) dalam prosedur pemberian kredit ini dibagi 2 macam yaitu;
a) Preventif, awal permulaan didalam memberikan kredit dimana pihak bank harus bersikap hati-hati dan waspada kepada calon debitur yang akan diberikan kredit, dan
b) represif, yaitu tugas pengawasan yang laksanakan setelah kredit cair.
b. Pembinaan debitur dalam pemberian kredit dibagi menjadi 2 macam yaitu;
a) Aktif, yaitu suatu proses yang dilakukan oleh pihak bank dimana petugas dari bank tersebut datang ke tempat debitur untuk melihat keadaan suatu usaha yang dilakukan oleh debitur, b) pasif, yaitu suatu proses yang dilakukan debitur dengan cara
debitur melaporkan kegiatan keuangan secara rutin kepada bank baik secara mingguan/bulanan.
Menurut penjelasan di atas, langkah-langkah dalam prosedur pemberian kredit sangat dibutuhkan agar selama proses pemberian kredit berjalan dengan lancar karena pihak telah menentukan tahapan yang harus ditempuh oleh para nasabah agar para kreditnya dapat dicairkan sesuai dengan keinginan anatara kedua belah pihak.
Pihak bank melakukan tahapan ini untuk memperoleh suatu kemudahan dalam pencatatan agar kredit yang diajukan oleh para nasabah dapat segera diproses dan nasabah dengan dapat menerima kredit yang diajukan tersebut.
j. Definisi Analisis Kredit
Analisis kredit merupakan peralatan yang sangat penting untuk pengambilan keputusan yang tepat apakah kredit diberikan atau tidak. analisis kredit yang baik harus memenuhi persyaratan :
1. Analisis hendaknya lengkap, meliputi semua aspek dan permohonan. 2. Semua aspek tersebut hendaknya dianalisis secara obyektif, dalam arti
semua aspek yang dianalisis hendaknya dapat ditujukan kekuatan maupun kelemahannya.
3. Analisis mengandung penilaian yang jelas dan tegas, sehingga memudahkan untuk pengambilan keputusan.
4. Analisis menggunakan metode analisis serta mengusahakan penggunaan standar pembendung yang normal.
Aspek-aspek dalam analisa penting dibahas untuk dapat menilai dan mengukur tingkat fleksibilitas. Aspek-aspek ini dijelaskan oleh Suyatno (1994:46), yang terdiri atas :
1. Analisa Aspek Hukum
Merupakan aspek untuk menilai keabsahan dan keaslian dokumen-dokumen atau surat-surat yang dimiliki oleh calon debitur, seperti akte notaris, izin usaha atau sertifikat tanah dan dokumen atau surat lainnya.
2. Analisa Aspek Pemasaran
Yaitu aspek yang menilai prospek usaha nasabah sekarang dan dimasa yang akan datang.
3. Analisa Aspek Keuangan
Merupakan aspek untuk menilai kemampuan calon nasabah dalam membiayai dan mengelola usahanya. Dari aspek ini dapat tergambar berapa besar biaya dan pendapatan yang akan dikeluarkan dan diperolehnya. Penilaian aspek ini dengan menggunakan rasio-rasio keuangan.
4. Analisa Aspek Teknik/operasi
Merupakan aspek untuk menilai tata letak ruangan, lokasi usaha dan kapasitas produksi suatu usaha yang tercermin dari sarana dan prasarana yang dimilikinya.
5. Analisa Aspek Manajemen
Merupakan aspek untuk menilai sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas. 6. Aspek Ekonomi/Sosial
Merupakan aspek untuk menilai dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan dengan adanya suatu usaha terutama terhadap masyarakat, apakah banyak benefit atau cost atau sebaliknya.
7. Aspek AMDAL
Merupakan aspek untuk menilai dampak lingkungan yang akan timbul dengan adanya suatu usaha, kemudian cara-cara pencegahan terhadap dampak tersebut.
k. Pengertian Kolektibilitas
Kolektibilitas kredit adalah suatu pembayaran pokok atau angsuran bunga pinjaman oleh nasabah sebagaimana terlihat pada tata usaha bank berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.32/268/KEP/DIR tanggal 27 Februari 1998, maka kredit dibedakan menjadi :
1. Lancar (Pass) apabila memenuhi kriteria ;
a. Pembayaran angsuran pokok dan bunga tepat waktu, b. memiliki mutasi rekening yang aktif, dan
c. bagian dari kredit yang dijamin dengan uang tunai. 2. Kurang lancar (Substandart), apabila memenuhi kriteria ;
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 90 hari,
b. frekuensi relatif rendah,
c. terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang telah dijanjikan lebih dari 90 hari,
d. terjadi mutasi masalah keuangan yang dihadapi debitur, dan e. dokumentasi pinjaman lemah.
3. Diragukan (Doubfull), apabila memenuhi kriteria ;
a. Terdapat tunggakan angsuran, angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui 180 hari,
b. terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari, c. terjadi cerukan yang bersifat permanen, d. terjadi kapitalisasi bunga,
e. dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian maupun pengikatan pinjaman.
4. Macet (Loss), apabila memenuhi kriteria ;
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui 270 hari,
b. kerugian operasional dituntut dengan pinjaman baru, dan
c. dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar.
l. Definisi Kredit Macet
Menurut Hasibuan (1999:115), Kredit macet adalah “Kredit yang diklasifikasikan pembayarannya tidak lancar dilakukan oleh debitur yang bersangkutan”.
Kredit macet harus secepatnya diselesaikan agar kerugian yang lebih besar dapat dihindari. Kredit macet seringkali dipersamakan dengan dengan kredit bermasalah adalah kredit dengan kolektibilitas macet ditambah dengan kredit-kredit yang memiliki kolektibilitas diragukan potensi menjadi