• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)

Gambar 2. Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis) Sumber : Putri (2015)

Klasifikasi ikan Tongkol Komo menurut Saanin (1984), adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Teleostei Ordo : Perciformes Family : Scrombidae Genus : Euthynnus Spesies : Euthynnus affinis

Ikan tongkol (Euthynnus affinis) adalah ikan pelagis yang membentuk gerombolan, perenang cepat, dan pemakan daging (carnivore). Nama ikan tongkol dalam perdagangan internasional dikenal dengan kawakawa atau Eastern little tuna yang termasuk ke dalam family Scombridae (Chodrijah et al., 2013).

Ikan tongkol mempunyai ciri-ciri yakni tubuh berukuran sedang, memanjang seperti torpedo, mempunyai dua sirip punggung yang dipisahkan oleh celah sempit. Sirip punggung pertama diikuti oleh celah sempit, sirip punggung kedua diikuti oleh 8-10 sirip tambahan. Ikan tongkol tidak memiliki gelembung renang. Warna tubuh pada bagian punggung ikan ini adalah gelap kebiruan dan pada sisi badan dan perut berwarna putih keperakan (Oktaviani, 2008).

Ikan tongkol merupakan ikan pelagis yang mendiami perairan neritik dengan temperatur berkisar 18-29°C yang cenderung membentuk gerombolan multispesies berdasarkan ukurannya, yaitu dengan Thunnus albacares, Katsuwonus pelamis, Auxis sp., dan Megalaspis cordyla (Carangidae), yang terdiri dari 100 sampai lebih dari 5000 spesies. Ikan Tongkol yang ditemukan sepanjang tahun secara seksual mengalami matang gonad, tetapi ada puncak pemijahan musiman yang bervariasi. Puncak pemijahan ikan Tongkol di Indonesia terjadi pada bulan Agustus-Oktober. Ikan Tongkol bermigrasi luas di perairan tropis dan subtropis di wilayah Indo-Pasitif. Bagian Barat Samudera Pasifik, spesies ini didistribusikan di sepanjang benua Asia dari Malaysia Timur

Laut melalui daratan Cina, Taiwan dan ke Selatan Jepang (Khuldiyati, 2017).

Ikan Tongkol Komo jenis ikan pelagis yang hidup di perairan dengan kedalaman <200 m. Ikan ini umumnya ditemukan di perairan dekat pulau dan banyak ditemukan di perairan sekitar pulau-pulau oseanik bersuhu hangat.

Keberadaan sumberdaya ikan pelagis sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungan (kondisi oseanografi dan ketersediaan makanan) sehingga kelimpahan sangat berfluktuasi di suatu perairan. Perubahan suhu perairan yang sangat kecil

(0,02°C) dapat menyebabkan perubahan densitas populasi ikan di perairan tersebut (Amri et al., 2018).

Habitat dan Distribusi Ikan Tongkol Komo (Euthynnus affinis)

Ikan Tongkol mempunyai daerah penyebaran yang sangat luas yaitu pada perairan pantai dan oseanik. Kondisi oseanografi yang mempengaruhi migrasi ikan tongkol yaitu suhu, salinitas, kecepatan arus, oksigen terlarut dan ketersediaan makanan. Ikan Tongkol pada umumnya menyenangi perairan panas dan hidup di lapisan permukaan sampai pada kedalaman 40 m dengan kisaran optimum antara 20-28°C (Oktaviani, 2008).

Ikan tongkol banyak dijumpai, terutama di perairan yang terhubung langsung dengan laut terbuka, yaitu lautan Pasifik dan Hindia. Selama bulan Juni sampai Agustus dalam setahun, ikan tongkol dewasa berkumpul didekat pantai di perairan yang memiliki salinitas 20%-26% untuk melakukan proses pemijahan.

Ikan tongkol memakan ikan-ikan yang berukuran kecil, seperti ikan pelagis, teri, dan cumi-cumi (Suwamba, 2008).

Purse Seine

Purse seine atau pukat cincin merupakan alat tangkap yang efektif untuk menangkap ikan pelagis yang memiliki tingkah laku hidup berkelompok dalam ukuran besar, baik di daerah perairan pantai maupun lepas pantai. Pukat cincin adalah alat tangkap berbentuk empat persegi panjang, yang keseluruhan bagian utamanya terbuat dari bahan jaring, di mana terbentuknya kantong terjadi pada saat dioperasikan. Pengoperasian alat tangkap ini dengan cara melingkarkan gerombolan ikan dengan jaring dan setelah ikan terkurung jaring kemudian ditarik. Dalam operasinya posisi pelampung dan tali ris atas berada di permukaan,

sementara pemberat, cincin menggantung di bagian bawah jaring, dan berada di dalam laut. Melalui cincin-cincin ini terpasang tali kolor (purse line) yang bila ditarik menjadikan bagian bawah jaring menutup, sehingga bentuk jaring secara keseluruhan menyerupai mangkuk besar. Rancang bangun dan konstruksi dari pukat cincin secara teknis mempengaruhi kecepatan tenggelam badan jaring,

kecepatan melingkarkan jaring serta kecepatan penarikan tali kolor (Ismy et al., 2013).

Konstruksi purse seine menggunakan jaring yang terbuat dari bahan polyamide (PA) multifilament dengan ukuran panjang jaring 420 meter dan lebar 45 meter dengan ukuran mesh size sebesar 1 inci. Menggunakan 3 jenis pelampung yang digunakan pada alat tangkap purse seine. Pelampung pertama merupakan pelampung tanda yang di turunkan pertama kali setting dilakukan.

Pelampung tersebut berbentuk bola terbuat dari bahan sintetis agar dapat bertahan lama. Pelampung kedua terbuat dari bahan plastik berbentuk bola. Pelampung ketiga terbuat dari plastik, ditutupi dengan gabus, dan berbentuk elips. Perbedaan pelampung disebabkan pelampung berbentuk bola yang terbuat dari bahan plastik cenderung mudah rusak atau pecah ketika terbentur oleh dinding kapal saat pengoperasian purse seine. Pemberat yang digunakan pada alat tangkap purse seine terbuat dari bahan timah berbentuk cincin. Pada umumnya penangkapan ikan dengan menggunakan purse seine dilakukan pada malam hari, akan tetapi ada juga purse seine yang dioperasikan pada siang hari (Mirnawati et al., 2019).

Purse seine (jaring cincin, jaring kolor) digolongkan dalam jenis jarang lingkar yang cara operasinya adalah dengan melingkarkan jaring pada suatu kelompok ikan di suatu perairan, kemudian ditarik ke kapal. Alat ini merupakan

jaring lingkar yang telah mengalami perkembangan setelah beach seine (jaring tarik pantai) dan ring net. Disebut pukat cincin, karena alat ini dilengkapi dengan cincin dan juga termasuk didalamnya tali cincin dan tali kerut/tali kotor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang semula tidak berkantong akan terbentuk kantong pada saat akhir penangkapan. Penangkapan dengan purse seine memperlihatkan beberapa faktor yaitu pencarian kelompok ikan, pengepungan gerombolan ikan, dan pengoperaisan jaring. Apabila kelompok ikan telah ditemukan maka kapal segera melakukan pengejaran. Pada saat melakukan pengejaran diusahakan agar kelompok ikan berada di sebelah kanan kapal. Sebelum jaring diturunkan harus diperhitungkan juga arah angin, arah arus dan arah renang kelompok ikan. Hal yang sangat menguntungkan bila pada waktu penebaran jaring arah angin dan arus saling berlawanan (Genisa, 1998).

Gill Net (Jaring Insang)

Jaring insang merupakan salah satu jenis alat tangkap yang banyak digunakan oleh para nelayan, mulai dari jaring insang lingkar, jaring insang dasar, dan jaring insang permukaan yang dioperasikan di rumpon pada waktu malam hari dengan bantuan cahaya lampu. Usaha penangkapan ikan dengan menggunakan jaring insang sudah bukan merupakan teknologi yang baru bagi para nelayan, hal ini disebabkan karena bahannya lebih mudah diperoleh, secara teknis mudah dioperasikan, secara ekonomis bisa dijangkau oleh nelayan, dan lebih selektif terhadap ukuran ikan yang tertangkap (Tawari, 2013).

Satu unit jaring insang hanyut terdiri dari jaring, pelampung, pemberat, tali ris atas (tali pelampung), tali ris bawah (tali pemberat), pemberat (batu) dan

pelampung tanda yang dilengkapi dengan lampu. Jaring yang digunakan pada alat tangkap setiap piece memiliki panjang 32 meter dan lebar 2 meter dengan mesh size 1 1/4 dan 1,5 inci (Lisdawati et al., 2016).

Jaring ini terdiri dari satuan-satuan jaring yang biasa disebut tint-ing (piece). Dalam operasi penangkapannya biasanya terdiri dari beberapa tinting yang digabung menjadi satu sehingga merupakan satu perangkat (unit) yang panjang (300- 500 m), tergantung dari banyaknya tinting yang akan dioperasikan.

Jaring insang termasuk alat tangkap selektif, besar mata jaring dapat disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan ditangkap. Dilihat dari cara pengoperasiannya alat tangkap ini biasa dihanyutkan (drift gill-net), dilabuh (set gill-net) dan dilingkarkan (encir-cling gill-net) (Genisa, 1998).

Pengoperasian jaring insang hanyut dilakukan pada malam hari. Nelayan berangkat dari fishing base pada sore hari menuju fishing ground. Setelah sampai di fishing ground, pertama yang dilakukan adalah menurunkan pelampung tanda yang diikuti dengan penurunan jaring (setting) yang memakan waktu 15 – 30 menit. Setelah semua jaring diturunkan, maka dalam rentang waktu 30 menit dilakukan pemeriksaan jaring dan mengambil ikan hasil tangkapan jika ada yang terjerat (hauling). Daerah pengoperasian jaring insang hanyut berada pada jarak tempuh dari fishing base ke fishing ground 15-30 menit dengan kedalaman perairan antara 18 – 25 meter (Lisdawati et al., 2016).

Penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap Jaring Insang Hanyut umumnya dilakukan pada waktu malam hari terutama pada saat gelap bulan. Dalam satu malam bila bulan gelap penuh operasi penangkapan atau penurunan alat dapat dilakukan sampai dua kali karena dalam sekali penurunan

alat, gill net didiamkan terpasang dalam perairan sampai kira-kira selam 3-5 jam.

Syarat-syarat daerah penangkapan yang baik untuk penangkapan ikan dengan menggunakan gill net adalah bukan daerah alur pelayaran umum,arus arahnya beraturan dan paling kuat sekitar 4 knots serta dasar perairan tidak berkarang (Murniati, 2011).

Pancing Ulur

Pancing Ulur merupakan salah satu jenis alat penangkap ikan yang sering digunakan oleh nelayan tradisional untuk menangkap ikan di laut. Pancing ulur (hand line) adalah alat penangkap ikan jenis pancing yang paling sederhana.

Struktur utamanya terdiri dari pancing, tali pancing dan pemberat atau umpan.

Daerah penangkapan ikan (fishing ground) untuk mengoperasikan pancing ulur cukup terbuka dan bervariasi karena pancing ulur dapat dioperasikan disekitar permukaan sampai dengan di dasar perairan, disekitar perairan pantai maupun di laut dalam (Shiddiq, 2018).

Pancing ulur memiliki tujuh komponen yaitu penggulung, tali utama, tali cabang, pemberat, swivel, mata pancing dan umpan. Penggulung terbuat dari bahan kayu atau plastik berbentuk bulat atau persegi panjang. Tali utama terbuat dari bahan senar bernomor 100-150, sedangkan tali cabang terbuat dari senar bernomor 50-90. Pemberat terbuat dari bahan timah yang memiliki berat antara 0,5-2 kilogram. Swivel terbuat dari bahan stainless steel dan berfungsi agar tali pancing tidak terbelit saat dioperasikan. Mata pancing terbuat dari bahan alumunium, untuk ukuran nomor mata pancing disesuiakan dengan ikan sasaran.

Umpan yang digunakan terbuat dari serat kain sutra dan pecahan compact disk (Wahyuningrum et al., 2012).

Sebelum melakukan pengoperasian abk terlebih dahulu mencari umpan hidup untuk melakukan penangkapan pancing ulur umpan sangat mempengaruhi pengoperasian, pengoperasian akan terganggu jika umpan susah untuk dicari adapun jenis-jenis umpan yang digunakan ialah. Dalam melakukan penurunan tidak sembarangan melemparkan alat tangkap saja, terlebih dahulu kita melihat pancing yang berada disekitar kita agar tidak terjadinya kawin pancing atau terbelit,sesudah itu barulah kita melemparkan alat tangkap pancing ulur dengan melemparkan pemberat terlebih dahulu hingga kejauhan 10 meter dari kapal hingga menunggu pemberat tenggelam jauh, barulah kita lepaskan umpan, semua ini bertujuan agar umpan tidak mati setibanya kedalam yang diinginkan, panjang alat tangkap yang diturunkan yaitu 60-80 meter tergantung informasi dari kapal sekitar yang sudah dapat, sesudah dilemparkan tali alat tangkap diikatkan ditepi kapal dengan tali rapia halus, agar kita tau ikan sudah tertangkap atau belum, jika ikan sudah tertangkap maka tali rapia itu akan putus karena sentakkan ikan-ikan target, penurunan alat dilakukan pada pukul 19.00-06.00, alat tangkap yang sudah di turunkan akan dinaikan untuk mengecek umpan, pengecekan biasanya di lakukan 1-2 jam sesudah alat diturunkan (Mulyadi et al., 2014).

Menurut Guntara (2017), hasil tangkapan pada alat tangkap pancing ulur yaitu ikan selar (Selaroides leptolepis), serai (Caranx rotteri), layur (Trichiurus lepturus), kembung jantan (Rastrelliger kanagurta), kembung betina (Rastrelliger branchysoma), barakuda (Sphyraena barracuda), tuna sirip kuning (Thunnus albacares), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), kakap (Lutjanus campechannus), dan pepetek (leiognathus equulus).

Model Surplus Produksi

Model Produksi Surplus adalah untuk menentukan tingkat upaya optimum, yaitu suatu upaya yang dapat menghasilkan suatu hasil tangkapan maksimum yang lestari tanpa mempengaruhi produktivitas stok secara jangka panjang yaitu hasil tangkapan maksimum lestar” (Maximum Sustainable Yield/MSY). Teori yang mendasari model produksi surplus telah dikaji ulang oleh banyak penulis, misalnya Ricker (1975), Caddy (1980), Gulland (1983), dan Pauly (1984) (Nurhayati, 2013).

Metode ini digunakan dalam perhitungan potensi lestari maksimum (MSY) dan upaya penangkapan optimum dengan cara menganalisa hubungan upaya penangkapan (E) dengan hasil tangkap per satuan upaya (CPUE). Metode ini menggambarkan stok ikan (sediaan) sebelumnya dan dapat juga meramalkan yang akan datang beradasarkan data hasil tangkapan ikan dan unit upaya penangkapan. Suatu stoke diamggap sebuah gumpalan besar biomassa dan sama sekali tidak berpedoman atas umur dan ukuran panjang ikan dengan pertimbangan bahwa jumlah biomassa stok tetap dan adanya aktivitas usaha perikanan, maka dapat diduga bahwa semakin banyak jumlah kapal (effort) akan semakin kecil bagian masing-masing kapal (Sultan, 2004).

Pada Model Surplus Produksi, digunakan analisa regresi linier dengan dua variabel, yaitu variabel bebas (jumlah alat) dan variabel tak bebas adalah CPUE.

Secara alamiah hubungan antara hasil tangkapan (Catch = C) dengan upaya penangkapan (Effort = E) merupakan persamaan parabola (Sandria et al., 2014).

Analisis surplus produksi juga dapat menentukan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (Total Allowable Catch/TAC) dan tingkat pemanfaatan

sumberdaya ikan (TP). Besarnya TAC biasanya dihitung berdasarkan nilai tangkapan maksimum lestari atau MSY (Maximum Sustainable Yield) suatu sumberdaya perikanan yang perhitungannya didasarkan atas berbagai pendekatan atau metode (Perdanamihardja, 2011).

Studi potensi lestari dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan disuatu perairan sangat penting untuk mengontrol dan memantau tingkat eksploitasi penangkapan ikan yang dilakukan terhadap sumberdaya diperairan tersebut. Hal ini ditempuh sebagai tindakan guna mencegah terjadinya kepunahan sumberdaya akibat tingkat eksploitasi yang berlebih serta mendorong terciptanya kegiatan operasi penangkapan ikan dengan tingkat efektifitas yang tinggi tanpa merusak kelestarian sumberdaya ikan tersebut (Nugraha et al., 2012).

Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan

Suastra (2018), pengelolaan perikanan dapat dilakukan dengan mengetahui tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan terlebih dahulu. Tingkat pemanfaatan adalah persentase dari jumlah ikan yang ditangkap terhadap estimasi potensi sumberdaya ikan tersebut. Tingkat pemanfaatan dikatakan rendah apabila proporsi kurang dari 50%. Apabila proporsi tingkat pemanfaatan lebih dari 50% dan hampir mendekati 100% maka tingkat pemanfaatan dikatakan penuh. Sedangkan bila proporsi tingkat pemanfaatan lebih dari 100% disebut dengan tingkat pemanfaatan lebih.

Pemanfaatan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan (lestari) harus segera diterapkan pada sumberdaya yang statusnya sudah fully exploited. Apabila hal ini diabaikan, sumberdaya perikanan akan menjadi lebih tangkap (over exploited) bahkan turun drastis karena tidak terkontrolnya tingkat eksploitasi yang

melebihi daya dukung sumberdaya perikanan tersebut. Jika aktivitas penangkapan dilakukan dengan tidak hati-hati dan walaupun jumlahnya tidak melebihi daya dukung suatu sumberdaya perikanan, maka aktivitas penangkapan tersebut akan membahayakan kemampuan sumberdaya perikanan dalam memperbaharui diri (Simbolon et al., 2011).

Konsep yang mendasari upaya pengelolaan adalah bahwa pemanfaatan sumberdaya harus didasarkan pada sistem dan kapasitas daya dukung (carrying capacity) alamiahnya. Besar kecilnya hasil tangkapan tergantung pada jumlah stok alami yang tersedia di perairan dan kemampuan alamiah dari habitat untuk menghasilkan biomass ikan. Oleh karena itu, upaya pengelolaan diawali dengan pengkajian stok, agar potensi stok alaminya dapat diketahui. Pada saat yang sama juga dilakukan pemantauan terhadap upaya penangkapan, terutama untuk memantau apakah sudah terjadi eksploitasi yang berlebih, dengan melihat hasil tangkapan per upaya (CPUE) dan ukuran yang tertangkap pada alat tangkap yang digunakan (Hariyanto et al., 2008).

Adanya penambahan upaya penangkapan yang tidak diikuti oleh peningkatan jumlah hasil tangkapan akan mengakibatkan penurunan CPUE.

Menurunnya CPUE tersebut merupakan indikator bahwa pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan ini sudah tinggi. Faktor dominan yang menyebabkan tidak stabilnya upaya penangkapan antara lain permintaan dan harga ikan di

pasaran, faktor cuaca, modal, kondisi nelayan, dan kapal itu sendiri (Nugraha et al., 2012).

Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Berkelanjutan

Pengelolaan sumberdaya ikan berkelanjutan adalah pengelolaan yang mengarah kepada bagaimana sumberdaya ikan yang ada saat ini mampu memenuhi kebutuhan sekarang dan kebutuhan generasi yang akan datang, dimana aspek keberlanjutan harus meliputi aspek ekologi, sosial-budaya, ekonomi dan institusi (Amna, 2014).

Hubungan berbagai komponen keberlanjutan dapat digambarkan dalam bentuk segitiga keberlanjutan yang meliputi keberlanjutan ekologi, sosio-ekonomi, dan komunitas sebagai komponen dasar, dan komponen kelembagaan yang berinteraksi dengan ketiganya serta menopang tingkat keberlanjutan ketiga komponen dasar tersebut (Nur, 2011).

Gambar 3. Hubungan antar komponen dalam segitiga keberlanjutan.

(Sumber : Nur, 2011)

Pengelolaan sumberdaya ikan berkelanjutan tidak melarang aktifitas penangkapan yang bersifat ekonomi/komersial, tetapi menganjurkan dengan persyaratan bahwa tingkat pemanfaatan tidak melampaui daya dukung (carrying

capacity) lingkungan perairan atau kemampuan pulih sumberdaya ikan, sehingga generasi mendatang tetap memiliki aset sumberdaya alam yang sama atau lebih banyak dari generasi saat ini. Suatu pengelolaan dikatakan berkelanjutan apabila kegiatan tersebut dapat mencapai tiga tujuan pembangunan berkelanjutan yaitu berkelanjutan secara ekologi, sosial-budaya dan ekonomi (Amna, 2014).

Menurut Mulyana et al (2012), salah satu alternatif pendekatan sederhana yang dapat digunakan untuk evaluasi status keberlanjutan perikanan adalah RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries), yaitu suatu teknik multi-diciplinary rapid appraisal terbaru untuk mengevaluasi comparative sustainability dari perikanan berdasarkan sejumlah besar atribut yang mudah diskoring. RAPFISH adalah teknik terbaru yang dikembangkan oleh University of British Columbia, Kanada, yang merupakan analisis untuk mengevaluasi sustainability perikanan secara multidisipliner.

Dimensi Ekologi

Keberlanjutan perikanan tangkap berdasarkan aspek ekologi merupakan bagian penting dari pembangunan perikanan tangkap. Status keberlanjutan perikanan tangkap secara ekologi diperlukan upaya agar dalam pengelolaannya tidak terjadi pemanfaatan yang melebihi ketersediaan dan daya dukung sumberdaya ikan yang ada di suatu perairan (Abdullah et al., 2011).

Atribut dalam dimensi ekologi merupakan perpaduan antara jaminan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya dalam arti mencegah terjadinya pengurasan stok, perhatian yang lebih luas terhadap upaya memelihara basis sumberdaya, spesies non komersil dan biodiversitas secara keseluruhan sebagai

pilihan masa depan, dan tugas mendasar untuk memelihara resiliensi dan kesehatan ekosistem (Nur, 2011).

Pengukuran keberlanjutan perikanan tangkap pada dimensi ekologi menurut analisis RAPFISH ditentukan menurut beberapa indikator keberlanjutan secara ekologi yang menurut RAPFISH Group UBC (2005) disebut sebagai atribut. Penentuan atribut pada dimensi ekologi ini dilakukan dengan mengacu pada indikator yang digunakan dalam RAPFISH pada dimensi ekologi dan disesuaikan dengan kondisi aktual kegiatan perikanan tangkap di lokasi penelitian (Abdullah et al., 2011).

Dimensi Ekonomi

Dimensi ekonomi merupakan cerminan dapat atau tidaknya suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap memperoleh hasil yang secara

ekonomis dapat berjalan dalam jangka panjang dan berkelanjutan (Hartono et al., 2005).

Keberlanjutan ekonomi yaitu suatu kondisi dimana sistem usaha perikanan tangkap mampu memelihara atau meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha, yaitu (nelayan dan mereka yang terlibat dalam kegiatan industri perikanan tangkap), secara adil dan berkelanjutan. Atribut dalam dimensi ekonomi merupakan ukuran seberapa baik kesejahteraan ekonomi dipelihara dan ditingkatkan berdasarkan perpaduan indikator sosial dan ekonomi yang relevan, yang meliputi aspek keuntungan yang berkelanjutan. Dalam dimensi ini setiap atribut biasanya diukur pada tingkat individu yang kemudian diagregatkan dalam sistem perikanan (Nur, 2011).

Aspek keberlanjutan ekonomi ini dapat dijadikan salah satu dasar untuk melihat status keberlanjutan suatu kawasan perairan sehingga dapat dijadikan sebagai rujukan dalam menyusun kebijakan pengelolaan sumberdaya perikanan atau keberlanjutan perikanan tangkap di kawasan tersebut (Nababan et al., 2008).

Dimensi Sosial

Dirnensi sosial merupakan cerminan dari bagairnana sistern sosial rnanusia (rnasyarakat perikanan tangkap) yang terjadi dan berlangsung dapat/tidak dapat rnendukung berlangsungnya pembangunan perikanan tangkap dalarn jangka panjang dan secara berkelanjutan (Hartono et al., 2005).

Dukungan LSM merupakan suatu potensi yang perlu dimanfaatkan dan dikembangkan dengan melakukan kegiatan positif seperti membentuk kelompok tani dalam rangka pengelolaan waduk. Kelompok tersebut dapat berupa kelompok tani nelayan, kelompok pemerhati lingkungan yang bisa diajak untuk melaksanakan reboisasi hutan, dan lain-lain. Selanjutnya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat, pelatihan, pembinaan, pembentukan kelompok/paguyuban, pembuatan kerja sama, pendampingan, dan memberikan bantuan dalam pengelolaan (Widiyati dan Bengen, 2012).

Tingkat pendidikan menjadi isu dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di Indonesia, karena tingkat pendidikan akan mempengaruhi pola pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya perikanan. Pencapaian pendidikan merupakan salah satu ukuran untuk menilai kemajuan suatu masyarakat. Masyarakat yang berpendidikan tinggi akan lebih mudah menyerap informasi-informasi kemajuan peradaban, sehingga dapat menigkatkan kualitas penduduk daerah yang bersangkutan. Pendidikan juga mempunyai korelasi yang kuat dengan berbagai

aspek social ekonomi. Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan mempunyai hubungan yang kuat dengan kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Partisipasi keluarga perlu ditingkatkan agar para nelayan tidak hanya mengandalkan sumber pendapatan keluarga dari tangkapan ikan namun dari bentuk lainnya, misalnya nilai tambah dari produk perikanan (Nababan et al., 2007).

Dimensi Teknologi

Dimensi teknologi merupakan cerminan dari derajat pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap dengan menggunakan suatu teknologi. Teknologi yang baik adalah teknologi yang semakin dapat mendukung dalam jangka panjang dan seeara berkesinambungan setiap kegiatan ekonomi dalam sektor perikanan tangkap (Hartono et al., 2005).

Atribut penggunaan alat bantu penangkapan (FADS) dan selektifitas alat tangkap merupakan atribut yang paling dominan berpengaruh terhadap nili atau status kebrlanjutan kegiatan perikanan skala kecil dari dimensi teknologi. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan alat bantu penangkapan (FADS) menjadi isu internasional yang dianggap dapat mengancam kelestarian sumberdaya ikan di perairan yang berkembang sejak konferensi internasional tentang FADS di Martinique, Prancis pada tahun 1999 dan berdasarkan pada ketentuan perikanan

yang bertanggung jawab (CCRF) yang dikeluarkan FAO pada tahun 1995 (Nababan et al., 2007).

Dimensi Kelembagaan

Atribut kelembagan merupakan ukuran seberapa tepat kebutuhan finansial teralokasikan, serta seberapa baik kapasitas administrasi dan organisasi dalam jangka waktu yang panjang. Kedua hal tersebut merupakan prasyarat bagi terwujudnya keberlanjutan pada dimensi lainnya, dimana atribut ini diarahkan untuk mengukur kemampuan manajemen dan kemampuan penegakan aturan (Charles, 2001).

Keberlanjutan kelembagaan adalah suatu kondisi dimana semua pranata kelembagaan (institutional arrangements) yang terkait dengan sistem perikanan tangkap (seperti pelabuhan perikanan, pemasok sarana produksi, pengolah dan pemasar hasil tangkapan, dan lembaga keuangan) dapat berfungsi secara baik dan

Keberlanjutan kelembagaan adalah suatu kondisi dimana semua pranata kelembagaan (institutional arrangements) yang terkait dengan sistem perikanan tangkap (seperti pelabuhan perikanan, pemasok sarana produksi, pengolah dan pemasar hasil tangkapan, dan lembaga keuangan) dapat berfungsi secara baik dan

Dokumen terkait