• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tanaman tomat termasuk tanaman diploid dan memiliki jumlah kromosom dasar x = 12. Jumlah kromosom normal tomat adalah 2n = 2x = 24. Tanaman tomat tergolong famili Solanaceae dan genus Lycopersicon. Spesies yang tergolong dalam sub genus Lycopersicon adalah L. esculentum, L. pimpinelifolium,

L. cheesmaniae dan L. galapagense., namun spesies L. esculentum yang sering dibudidayakan.

Bentuk buah tomat terdiri atas bentuk bulat, pear, lonjong dan oval. Warna buah merupakan produk dari kombinasi pigmen yang terdapat pada jaringan epicarp dan subepidermis. L. esculentum, L. cheesmaniae, L. galapagense dan L. pimpinellifolium memiliki pigmen karotenoid buah masak berwarna merah, orange dan kuning. Warna buah masak L. esculentum dan L. pimpinellifolium

adalah merah yang merupakan akumulasi likopen, sedangkan dua spesies lainnya yaitu L. cheesmaniae dan L. galapagense memiliki warna buah yang kuning ketika masak. Namum demikian umumnya buah tomat sebelum masak berwarna hijau, meskipun ada yang berwarna ungu yang merupakan akumulasi pigmen antosianin (Caicedo dan Peralta 2013)

Kriteria kualitas hasil tomat sangat beragam bergantung pada konsumen. Kualitas buah pada tomat mencakup ukuran, kandungan bahan-bahan dalam buah, warna buah, penampilan dan lain-lain. Ameriana (1995) melaporkan bahwa persepsi konsumen mengenai kualitas tomat dibagi dua yaitu kualitas eksternal dan organoleptik (internal). Kualitas eksternal yang terpenting hingga kurang penting berdasarkan persepsi konsumen adalah warna, kekerasan, bentuk dan ukuran buah. Kualitas organoleptik (internal) yang terpenting hingga kurang penting berdasarkan persepsi konsumen adalah rasa manis, rasa asam, kekenyalan, dan jumlah air buah (kadar air). Purwati (2007) menjelaskan bahwa kriteria kualitas yang ada pada buah tomat dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok yaitu: 1) kualitas bagian luar, terdiri atas warna kulit, bentuk buah, kekerasan dan ukuran buah, 2) kualitas bagian dalam, terdiri atas jumlah biji, ketebalan daging, dan kandungan lender, 3) kualitas rasa, terdiri atas rasa manis, rasa asam, kekenyalan dan jumlah air buah.

Kualitas buah yang diinginkan untuk konsumsi rumah tangga berbeda dengan standar kualitas untuk industri. Tomat dikonsumsi sebagai substitusi buah-buahan dan sebagai pelengkap bumbu masak untuk konsumsi rumah tangga. Konsumsi sebagai substitusi buah-buahan, konsumen lebih mengutamakan tomat dengan rasa manis, sedikit asam, renyah dan mempunyai kandungan air sedang. Kriteria tomat olahan untuk keperluan industri adalah memiliki padatan total terlarut tinggi (+ 4.5o Brix), pH rendah (+ 4.4), kompak, mudah dikuliti, tahan terhadap pecah buah dan warnanya merah cerah (Villareal 1980).

Penurunan daya hasil tomat di dataran rendah dipengaruhi suhu lingkungan tumbuh yang menyebabkan ukuran buah lebih kecil dan jumlah buah yang terbentuk sedikit atau fruitset bernilai kecil. Firon et al. (2006) melaporkan bahwa pada kondisi suhu tinggi jumlah dan kualitas serbuk sari tomat berkurang, selanjutnya viabilitas serbuk sari juga berkurang yang akhirnya menyebabkan

Proses keberhasilan pembungaan dan pembuahan juga dipengaruhi oleh faktor abiotik, khususnya suhu udara. Tanaman tomat memerlukan suhu siang dan malam hari masing-masing sebesar ± 24 oC dan ± 18 oC untuk pertumbuhan khususnya pembungaan dan pembuahaan. Suhu pada malam hari merupakan faktor kritis untuk pembentukan buah (Lai 1993). Buah yang sudah terbentuk tidak semua dapat tumbuh terus sampai menjadi matang. Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak semua buah dapat terus tumbuh hingga matang antara lain : jumlah bunga yang dihasilkan, persentase bunga yang mengalami penyerbukan, persentase bunga yang menjadi buah, persentase buah muda yang dapat tumbuh terus sampai menjadi buah masak (Purwati 2008). Oleh sebab itu, keberhasilan pembungaan dan pembuahan bukan hanya ditentukan dari faktor lingkungan tetapi juga ditentukan dari faktor genetik.

Analisis Dialel

Salah satu metode dalam studi pewarisan adalah analisis dialel. Persilangan diallel adalah persilangan dengan menggunakan seluruh kombinasi persilangan yang mungkin di antara sekelompok tetua, termasuk persilangan sendiri tetua. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi dan memilih tetua berdasarkan turunan terbaik dan evaluasi turunan terbaik. Analisis silang dialel diperlukan untuk menduga efek aditif dan dominan dari suatu populasi yang selanjutnya dapat digunakan untuk menduga ragam genetik dan heritabilitas (Baihaki 2000) dan daya gabung masing-masing tetua baik daya gabung umum (general combining ability/GCA) maupun daya gabung khusus (specific combining ability/SCA). GCA adalah keragaan suatu galur dalam kombinasi silang tunggal dengan galur-galur yang lain, sedangkan SCA adalah hasil hibrida suatu galur dengan galur lain (Singh dan Chaudary 1979).

Persilangan dialel dapat dibagi menjadi tiga tipe persilangan, yaitu (1) dialel penuh (full diallel), (2) setengah dialel (half diallel) dan (3) dialel parsial (partial diallel) (Singh dan Chaudhary 1979). Dalam pelaksanaannya, analisis ini harus memenuhi beberapa asumsi yaitu (1) segregasi diploid, (2) tidak ada perbedaan antara persilangan resiprokal, (3) tidak ada interaksi antara gen-gen yang tidak satu alel, (4) tidak ada multialelisme, (5) tetua homozigot, (6) gen-gen menyebar secara bebas antar tetua (Hayman 1954). Keuntungan dari teknik silang dialel adalah (1) secara eksperimental merupakan pendekatan sistematik, (2) secara analitik merupakan evaluasi genetik menyeluruh yang berguna dalam mengidentifikasi persilangan bagi potensi seleksi yang terbaik pada awal generasi. Pada analisis dialel, ada beberapa pendugaan parameter genetik dapat dilakukan tanpa pembentukan populasi F2, BCP1 dan BCP2.

Analisis dialel dapat dilakukan berdasarkan dua pendekatan yaitu Hayman dan Griffing. Pendekatan Hayman pertama kali dimunculkan oleh Jinks dan Hayman pada tahun 1953 menggunakan konsep komponen ragam aditif (D) dan dominan (H) (Singh dan Chaudary 1979). Pendekatan Hayman (1954) digunakan untuk studi pewarisan, seperti :

1. pendugaan komponen ragam karena pengaruh aditif (D) dan dominan (H1). Jika nilai D > H1 maka pengaruh aditif lebih berperan pada karakter tersebut,

sebaliknya jika D < H1 maka pengaruh dominan lebih berperan pada karakter

2. proporsi gen positif dan negatif tetua (H2). Jika H2 nyata menandakan

distribusi gen di dalam tetua tidak menyebar secara merata, sebaliknya apabila H2 tidak nyata menunjukkan distribusi gen di dalam tetua menyebar secara

merata. Nilai H1 dan H2 dapat digunakan untuk mengetahui gen-gen pada

suatu karakter banyak dipengaruhi oleh gen-gen positif atau negatif. Jika H1 >

H2 maka gen-gen yang banyak adalah gen positif, sebaliknya jika H1 < H2

maka gen-gen yang banyak adalah gen negatif.

3. pengaruh dominansi. Besarnya pengaruh dominan dapat dilihat dari nilai (H1/D)1/2. Jika nilai (H1/D)1/2 antara 0-1 menunjukkan adanya dominan

sebagian, sedangkan jika nilai (H1/D)1/2 > 1 menunjukkan adanya dominan

lebih.

4. proporsi gen dominan terhadap gen resesif. Banyaknya gen-gen dominan di dalam tetua tercermin dari nilai Kd/Kr. Jika Kd/Kr > 1 maka gen-gen dominan lebih banyak di dalam tetua, sebaliknya jika Kd/Kr < 1 maka gen-gen resesif lebih banyak di dalam tetua.

5. arah dan urutan dominansi (berdasarkan Wr dan Vr). Urutan dominansi tetua mencerminkan kandungan gen-gen dominan di dalam tetua. Semakin kecil nilai Wr+Vr maka semakin banyak mengandung gen-gen dominan yang mengendalikan suatu karakter. Di samping itu, urutan dominansi juga tercermin dari gambar hubungan peragam (Wr) dan ragam (Vr), semakin mendekati titik pada titik nol maka tetua tersebut paling banyak mengandung gen-gen dominan, sebaliknya semakin jauh dari titik nol maka tetua tersebut paling banyak mengandung gen resesif.

6. jumlah kelompok gen pengendali karakter dapat dihitung berdasarkan nilai h2/H2.

7. nilai duga heritabilitas arti luas (h2bs) dan arti sempit (h2ns), digunakan

untuk melihat keragaman yang terdapat pada suatu karakter dipengaruhi peran genetik total atau lingkungan (h2bs) dan peran aditif atau lingkungan (h2ns)

Pendekatan Griffing adalah metode lain yang digunakan untuk menganalisis hasil persilangan dialel. Pendekatan Griffing (1956) digunakan untuk menduga daya gabung, seperti :

1. daya gabung umum (DGU). Nilai DGU adalah kemampuan suatu genotipe menunjukkan kemapuan rata-rata keturunannya bila disilangkan dengan sejumlah genotipe lain yang dikombinasikan. Nilai DGU yang besar menunjukkan tetua tersebut merupakan penggabung terbaik dan dapat digunakan untuk membentuk varietas galur murni.

2. daya gabung khusus (DGK). Nilai DGK adalah kemampuan individu tetua untuk menghasilkan keturunan yang unggul jika disilangkan dengan kombinasi yang spesifik dengan tetua lainnya. Nilai DGK yang besar menunjukkan kombinasi persilangan tersebut baik untuk digunakan dalam membentuk varietas hibrida.

Berdasarkan pendekatan Griffing, terdapat 4 metode analisis silang diallel, yaitu : metode I (full diallel) yaitu persilangan yang terdiri atas tetua, F1 dan resiprokal dengan analisis [n(n-1)/2]. Metode II yaitu persilangan yang terdiri atas tetua, F1 tanpa resiprokal dengan analisis [n(n+1)/2]. Metode III yaitu persilangan yang terdiri atas F1 dan resiprokal tanpa tetua dengan analisis

n(n-1). Metode IV yaitu persilangan yang terdiri atas hanya F1 tanpa resiprokal dan tetua, dengan analisis n(n-1)/2 (Griffing 1956).

Pemuliaan Tanaman Tomat

Suryadi et al. (2004) melaporkan bahwa kriteria tanaman tomat yang dapat digunakan sebagai bahan pemuliaan adalah tipe tumbuh tegak atau menyebar, ukuran buah besar, penampilan buah menarik, tahan simpan, toleran terhadap organisme pengganggu tanaman, daging buah tebal (± 4 mm) dan hasil tinggi. Murti et al. (2004) juga melaporkan bahwa bobot buah per tanaman pada tanaman tomat ditentukan oleh jumlah tandan buah, jumlah bunga dalam satu tandan, banyaknya bunga yang menjadi buah dan bobot per buah.

Kurniawan (2006) melaporkan bahwa pewarisan karakter untuk ukuran buah tidak ada pengaruh tetua betina dan karakter tersebut dikendalikan oleh gen poligenik dengan jumlah gen pengendali sebanyak empat gen. Murti et al. (2004) melaporkan bahwa tomat dengan bentuk buah apel lebih dominan dibandingkan bentuk buah bulat. Karakter jumlah bunga, jumlah buah, fruitset dan jumlah rongga buah termasuk karakter kualitatif atau dikendalikan oleh gen monogenik, sedangkan karakter diameter buah termasuk karakter kuantitatif atau dikendalikan oleh gen poligenik.

Pewarisan karakter jumlah buah per tandan, bobot buah dan ukuran buah mengikuti model aditif-dominan (Masruroh et al. 2009), selanjutnya Farzane et al.

(2012) melaporkan bahwa karakter bobot per buah dipengaruhi oleh peran aditif dan dominan. Karakter bobot buah per tanaman dan jumlah buah per tanaman memiliki gen-gen dominan lebih banyak dibandingkan gen-gen resesif (Farzane et al. 2012). Berdasarkan penelitian Rai et al. (2005) bahwa gen-gen resesif lebih banyak dibandingkan gen dominan untuk karakter bobot buah per tanaman dan jumlah rongga buah, sedangkan karakter bobot per buah lebih banyak gen-gen dominan. Hasil yang berbeda dilaporkan oleh Hazra dan Ansary (2008) bahwa gen-gen resesif lebih banyak dibandingkan gen dominan untuk karakter bobot buah per tanaman. Rai et al. (2005) melaporkan bahwa karakter bobot per buah dikendalikan oleh satu kelompok gen. Hazra dan Ansary (2008) melaporkan bahwa jumlah buah per tanaman dan bobot buah per tanaman juga dikendalikan oleh satu kelompok gen.

Heritabilitas arti luas dan arti sempit karakter tomat tergolong sedang hingga tinggi. Beberapa penelitian tomat sebelumnya menunjukkan bahwa heritabilitas arti luas untuk karakter jumlah buah per tanaman (37.27-96.56 %) dan bobot buah per tanaman memiliki heritabilitas arti luas tergolong sedang hingga tinggi (31.4-97.15 %) (Saeed et al. 2007; Hazra dan Ansary 2008; Islam et al. 2012). Berdasarkan penelitian Al-Aysh et al. (2012) dan Kumar et al. (2013) bahwa karakter bobot per buah memiliki nilai heritabilitas arti luas berkisar 83.16-87.00 %.

Karakterisasi dan Pemilihan Kriteria Seleksi Tanaman Tomat untuk Daya Hasil Tinggi di Dataran Rendah

Abstrak

Percobaan ini bertujuan untuk untuk memperoleh informasi tentang keragaman genetik, kemiripan antar genotipe, potensi hasil genotipe tomat koleksi dan kriteria seleksi yang akan digunakan untuk perakitan varietas tomat unggul di dataran rendah. Percobaan mencakup dua kegiatan yaitu karakterisasi dan pemilihan kriteria seleksi tomat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret- Agustus 2012 di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB, Darmaga Bogor. Percobaan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktor tunggal tiga ulangan, Karakterisasi menggunakan metode analisis komponen utama dan analisis gerombol, sedangkan pemilihan kriteria seleksi berdasarkan komponen ragam dan analisis lintas. Berdasarkan analisis komponen utama dan analisis gerombol genotipe-genotipe tomat dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu kelompok I (IPBT1, IPBT4, IPBT8, IPBT13, IPBT58, IPBT83 dan IPBT84), Kelompok II (IPBT3, IPBT23, IPBT30, IPBT33, IPBT34, IPBT53 dan IPBT57) dan kelompok III (IPBT80). Bobot per buah dan ukuran buah merupakan karakter seleksi yang terbaik untuk bobot buah per tanaman di dataran rendah.

Kata kunci : heritabilitas, karakterisasi, keragaman genetik, kriteria seleksi, tomat

Abstract

The objective of this research was to obtain some information about genetic diversity, similarity between genotypes, genotypes of tomato yield potential collection and the selection criteria that will be used for creating the superior varieties of tomatoes at lowlands. The experiment includes two activities namely characterization and selection criteria of tomatoes. The experiment was conducted at Leuwikopo Experiment Field IPB, Darmaga, Bogor from March until August 2012. The experiment used randomized complete block design (RCBD) single factor with three replications. Characterization was done using principal component analysis and analysis of clusters methods, while the selection criteria was done based on variance component and path analysis. Based on principal component analysis and analysis of clusters, tomato genotypes can be classified into three groups: group I (IPBT1, IPBT4, IPBT8, IPBT13, IPBT58, IPBT83 and IPBT84), group II (IPBT3, IPBT23, IPBT30, IPBT33, IPBT34, IPBT53 and IPBT57) and group III (IPBT80). Weight per fruit and fruit size were the best character selection for fruit weight per plant at lowland.

Keywords : characterization, genetic diversity, heritability, selection criteria, tomatoes

PENDAHULUAN

Produktivitas tomat yang masih rendah di dataran rendah mendorong pemulia untuk melakukan perbaikan karakter-karakter tomat di dataran rendah. Upaya perbaikan karakter-karakter tersebut memerlukan beberapa tahapan

diantaranya adalah perluasan keragaman genetik. Keragaman genetik yang tinggi sangat menentukan keberhasilan pemuliaan untuk membentuk varietas unggul dan juga memberikan peluang yang besar untuk mendapatkan kombinasi persilangan yang tepat dengan gabungan sifat-sifat yang baik. Genotipe-genotipe yang telah dikoleksi kemudian dikarakterisasi, dianalisis keanekaragaman dan hubungan kemiripannya untuk memudahkan dalam kegiatan pemuliaan tanaman.

Analisis kemiripan genetik diestimasi menggunakan analisis komponen utama (AKU) dan analisis gerombol. Penggunaan kedua metode ini sering dilakukan untuk melihat pengelompokan antar genotipe. Genotipe-genotipe yang berada pada satu kelompok atau gerombol menandakan hubungan kemiripan yang erat, sedangkan genotipe-genotipe antar kelompok menunjukkan hubungan kemiripan genotipe yang jauh. Penggunaan analisis komponen utama dan gerombol sering digunakan untuk bermacam-macam tanaman diantaranya tomat (Albrecht et al. 2010; Aguire dan Cabrera 2012) dan cabai (Yunianti et al. 2010).

Kunci keberhasilan suatu seleksi ditentukan oleh kriteria seleksi yang sesuai. Ada beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menentukan suatu karakter dapat dijadikan kriteria seleksi yaitu nilai heritabilitas, ragam genetik, ragam fenotipe dan koefisien keragaman genetik (KKG) (Yunianti et al. 2010). Penggunaan analisis korelasi dan analisis lintas (path analysis) dalam mempelajari hubungan keeratan antar karakter untuk mengembangkan kriteria seleksi telah banyak dilakukan pada berbagai tanaman seperti tomat (Mohanty 2003; Golani

et al. 2007; Haydar et al. 2007; Tiwari dan Upadhyay 2011), cabai (Ganefianti

et al. 2006; Yunianti et al. 2010), kedelai (Mursito 2003; Asadi et al. 2004; Wirnas et al. 2006) dan gandum (Budiarti et al. 2004). Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh informasi tentang keragaman genetik, kemiripan antar genotipe, potensi hasil genotipe tomat koleksi dan kriteria seleksi yang akan digunakan untuk perakitan varietas tomat unggul di dataran rendah.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Agustus 2012 di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB, Darmaga Bogor (230 m dpl). Bahan tanaman yang digunakan adalah 15 genotipe tomat koleksi Tim Pemuliaan Tomat Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor yaitu IPBT1, IPBT3, IPBT4, IPBT8, IPBT13, IPBT23, IPBT30, IPBT33, IPBT34, IPBT53, IPBT57, IPBT58, IPBT80, IPBT83, dan IPBT84. Genotipe tersebut berasal dari landrace di beberapa lokasi di Indonesia dan koleksi IPB.

Percobaan dilakukan dengan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) faktor tunggal yaitu genotipe tomat yang terdiri atas 15 genotipe dengan tiga ulangan sehingga terdapat 45 satuan percobaan. Masing-masing satuan percobaan terdiri atas 20 tanaman dan hanya 10 tanaman yang dijadikan tanaman contoh. Model linier dalam analisis ragam adalah sebagai berikut (Gomez dan Gomez 2007) :

Keterangan :

Yij = nilai fenotipe pada perlakuan ke-i dan kelompok ke- j µ = nilai tengah umum

αi = pengaruh genotipe ke- i(1, 2, 3, …, 15) βj = pengaruh kelompok ke- j (1, 2, 3) ɛij = galat percobaan

Kegiatan percobaan pertama diawali dengan penyemaian. Benih disemai sebanyak dua butir per lubang tray yang berisi media semai steril. Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Pemupukan dilakukan satu minggu sekali setelah bibit berumur dua minggu setelah semai menggunakan pupuk NPK (16:16:16) dengan konsentrasi 10 g l-1 air yang diaplikasikan dengan cara mengocorkan pada pangkal bibit.

Pengolahan lahan dan pembuatan bedengan dilakukan bersamaan saat kegiatan penyemaian. Penanaman dilakukan setelah bibit tomat berumur 30 hari setelah semai. Petak bedengan dibuat dengan ukuran 5 m  1 m untuk setiap satuan percobaan dengan jarak antar bedengan 50 cm. Selanjutnya setiap bedengan diberi pupuk kandang sebanyak 20 kg dan kapur 0.5 kg. Setelah pemberian pupuk kandang selama dua minggu, bedengan ditutup dengan mulsa plastik hitam perak (MPHP) dan dibuat lubang menggunakan cemplong dengan jarak 50 cm x 50 cm. Penanaman dilakukan pada sore hari dengan jumlah tanaman satu tanaman per lubang tanam. Penyulaman bibit dilakukan satu minggu setelah tanam.

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan meliputi penyiraman, pemupukan, pemberian pestisida dan penyiangan gulma. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari jika tidak terjadi hujan sebanyak 20 l bedengan-1 atau sampai keadaan tanah menjadi lembab. Pemupukan dilakukan setiap satu minggu sekali setelah tanaman berumur satu minggu setelah tanam (1 MST) menggunakan pupuk NPK (16:16:16) dengan konsentrasi 10 g l-1 sebanyak 250 ml tan-1. Penyemprotan pestisida dilakukan dua minggu sekali dengan menggunakan fungisida berbahan aktif mancozeb 80 % dan propinep 70 % dengan konsentrasi 2 g l-1, insektisida berbahan aktif profenofos 500 g l-1 dengan konsentrasi 2 ml l-1 dan akarisida berbahan aktif dikofol dengan konsentrasi 2 ml l-1. Pengendalian gulma dilakukan secara manual. Pemanenan dilakukan dengan kriteria buah sudah berwarna kuning kemerah-merahan dan dilakukan setiap dua kali seminggu selama enam minggu.

1a. Karakterisasi 15 Genotipe Tanaman Tomat di Dataran Rendah

Karakterisasi mengacu pada karakter kualitatif dan kuantitatif. Karakter kualitatif mengacu pada Panduan Pengujian Individual Kebaruan, Keunikan, Keseragaman dan Kestabilan Tomat (PPVT 2007) dan UPOV (2011). Karakter kuantitatif meliputi : tinggi tanaman, panjang dan lebar daun (pada sepertiga tanaman bagian tengah), umur berbunga, umur panen, jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman, panjang buah, diameter buah, tebal daging buah, kekerasan buah dan kadar air. Nilai skor karakter kuantitatif ditetapkan berdasarkan Descriptor for Tomato (Lycopersicon spp.) untuk karakter kuantitatif (IPGRI 1996).

Karakter kualitatif yang diamati meliputi :

1. Pewarnaan anthocyanin pada hipokotil: (1) tidak ada, (9) ada. 2. Tipe tumbuh: (1) determinate, (2) indeterminate.

3. Pewarnaan anthocyanin pada ruas tiga teratas: (1) tidak ada atau sangat lemah, (3) lemah, (5) sedang, (7) kuat, (9) sangat kuat.

4. Letak daun (pada sepertiga tanaman bagian tengah): (3) semi tegak, (5) horizontal, (7) menggantung.

(3) semi tegak (5) horizontal (7) menggantung

Gambar 2 Letak daun (pada sepertiga tanaman bagian tengah) (UPOV 2011) 5. Pembagian helai daun: (1) menyirip, (2) menyirip ganda.

(1) menyirip (2) menyirip ganda Gambar 3 Pembagian helai daun (UPOV 2011) 6. Tipe daun: (1) Tipe 1, (2) Tipe 2, (3) Tipe 3, (4) Tipe 4. 7. Intensitas warna hijau daun: (3) terang, (5) sedang, (7) gelap.

8. Letak anak daun terhadap tulang daun utama: (1) keatas, (2) mendatar, (3) kebawah.

Gambar 4 Letak anak daun terhadap tulang daun utama (UPOV 2011) 9. Tipe tandan bunga (pada pelepah daun kedua dan ketiga): (1) secara umum

uniparous, (2) sebagian uniparous sebagian multiparous, (3) secara umum multiparous.

(1) (2) (3)

Gambar 5 Tipe tandan bunga (pada pelepah daun kedua dan ketiga) (UPOV 2011)

10.Cabang pada tandan bunga (bunga pertama pada tandan bunga): (1) tidak ada, (9) ada.

11.Bulu pada putik: (1) tidak ada, (9) ada. 12.Warna bunga: (1) kuning, (2) orange. 13.Lapisan absisi: (1) tidak ada, (9) ada.

Gambar 6 Lapisan absisi pada tangkai buah (UPOV 2011)

14. Panjang Pedisel (dari lapisan absisi terhadap calyx): (3) pendek, (5) sedang, (7) panjang.

15. Ukuran buah: (1) sangat kecil, (3) kecil, (5) sedang, (7) besar, (9) sangat besar. 16. Bentuk buah dalam penampang membujur: (1) pipih, (2) agak pipih, (3) bulat,

(4) persegi, (5) silinder, (6) bentuk hati, (7) bentuk telur sungsang, (8) bentuk telur, (9) bentuk pear, (10) bentuk pear lancip.

Gambar 7 Bentuk buah dalam penampang membujur (PPVT 2007)

17.Tulang buah pada ujung batang: (1) tidak ada atau sangat lemah, (3) lemah, (5) sedang, (7) kuat, (9) sangat kuat.

18.Irisan melintang: (1) tidak bulat, (2) bulat.

19.Depresi buah pada ujung tangkai buah: (1) tidak ada atau sangat lemah, (3) lemah, (5) sedang, (7) kuat, (9) sangat kuat.

20.Ukuran lapisan gabus disekeliling parut tangkai buah: (1) sangat kecil, (3) kecil, (5) sedang, (7) besar, (9) sangat besar.

21.Ukuran parut pada bekas tangkai putik: (1) sangat kecil, (3) kecil, (5) sedang, (7) besar, (9) sangat besar.

22.Bentuk ujung buah: (3) melekuk, (4) melekuk agak datar, (5) datar, (6) datar meruncing, (7) meruncing.

Gambar 9 Bentuk ujung buah (UPOV 2011)

23.Ukuran bagian tengah buah dalam irisan melintang: (1) sangat kecil, (3) kecil, (5) sedang, (7) besar, (9) sangat besar.

24.Jumlah rongga buah: (1) dua, (2) dua dan tiga, (3) tiga dan empat, (4) lebih dari empat.

(1) (2) (3) (4) Gambar 10 Jumlah rongga buah (UPOV 2011)

25.“Bahu buah hijau” sebelum masak: (1) tidak ada, (9) ada.

(1) (9)

Gambar 11 “Bahu buah hijau” sebelum masak (UPOV 2011) 26.Luas “bahu buah hijau”: (3) kecil, (5) sedang, (7) besar.

27.Intensitas warna hijau buah pada bahu buah: (3) lemah, (5) sedang, (7) kuat. 28.Intensitas warna hijau buah sebelum matang: (3) terang, (5) sedang, (7) gelap. 29.Warna buah masak: (1) kuning, (2) orange, (3) merah muda, (4) merah. 30.Warna daging buah: (1) kuning, (2) orange, (3) merah muda, (4) merah. 31.Penampilan warna keperakan pada buah: (1) tidak ada, (9) ada.

Analisis Data

Pola pengelompokan dan keragaman antar genotipe diperoleh berdasarkan data karakter kualitatif dan kuantitatif yang dianalisis menggunakan Analisis Komponen Utama (AKU) dan Analisis Gerombol (Cluster Analysis) menggunakan software SPSS versi 20. Informasi tentang hubungan kemiripan antar geneotipe akan digunakan sebagai dasar dalam rekomendasi tetua yang akan digunakan dalam pembentukan populasi studi pewarisan.

1b. Pemilihan Kriteria Seleksi Daya Hasil Tinggi Tanaman Tomat di Dataran Rendah

Pemilihan kriteria seleksi dilakukan dengan mengambil beberapa genotipe pada masing-masing kelompok genotipe yang terbentuk dari hasil karakterisasi (Percobaan 1a). Genotipe kelompok I adalah IPBT1, IPBT8, IPBT13 dan IPBT84, sedangkan kelompok II adalah IPBT23, IPBT30, IPBT33 dan IPBT53. Karakter kuantitatif yang diamati untuk penentuan kriteria seleksi meliputi :

1. Tinggi tanaman (cm), diamati pada umur enam MST yang diukur dari permukaan tanah hingga titik tumbuh tertinggi.

2. Panjang dan lebar daun (cm), diamati pada umur enam MST pada daun yang berada pada 1/3 bagian tanaman, panjang daun diukur dari pangkal daun hingga ujung daun, sedangkan lebar daun diukur pada bagian terlebar.

3. Umur berbunga (hst), dihitung setelah 50 % populasi tanaman pada bedengan sudah mencapai hari berbunga, yaitu apabila bunga ketiga pada tandan kedua mekar sempurna.

4. Umur panen (hst), dihitung setelah 50 % populasi tanaman pada bedengan sudah mencapai hari panen, yaitu jika ada satu buah yang sudah berwarna kuning.

5. Panjang buah (cm), diukur dari pangkal hingga ujung buah pada bagian tengah

Dokumen terkait