• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka .1 Daging Sapi

Daging adalah bagian badan ternak yang dimanfaatkan untuk konsumsi manusia.

Daging merupakan otot ternak yang telah disembelih untuk tujuan konsumsi dan

dapat berasal dari berbagai jenis ternak potong, baik ternak besar (sapi, kerbau)

maupun ternak kecil (domba, kambing, dan babi). Di samping jenis-jenis ternak

tersebut, berdasarkan lokasi dan tradisi beberapa ternak lain juga digunakan

sebagai sumber daging untuk konsumsi manusia (Winarno, 1993).

Daging sapi beef) adal

biasa dan umum digunakan untuk keperluan konsumsi makanan. Di setiap daerah,

penggunaan

cont

banyak diperdagangkan. Akan tetapi seperti di

bersantan seperti

sapi lain seper

berbagai negara tertentu sebagai bahan dasar makanan. Bagian daging sapi yang

kebanyakan dijual adalah cingur, daging iga (sapi), ekor sapi, gandik, glondongan

(daging), has dalam, has luar, hati sapi, jeroan sapi, kaki sapi, kepala sapi, kikil,

sancan, sanding jamur, sengkel, tanjung, tetelan, dan tulang T (Anonimousb

,

2014).

Daging sapi impor merupakan daging sapi yang didatangkan dari luar negeri

untuk diperdagangkan di dalam negeri. Untuk dapat disebut daging sapi impor,

sapi tersebut dikembangbiakkan dan dipotong bukan di negara pengimpornya.

Daging sapi impor yang selama ini diimpor, sebagian besar merupakan daging

sapi dari negara Australia, Amerika Serikat, dan Jepang. Dari tiga negara tersebut,

setiap daging sapi yang diimpor mempunyai ciri khas tersendiri dan telah

dipotong berdasarkan fungsinya saat dimasak.

Daging sapi lokal merupakan spesies asli Indonesia dan bukan merupakan sapi

impor. Sapi lokal ini termasuk ke dalam rumpun bangsa Zebu dengan ciri-ciri

punuk di atas pangkal leher, telinga lebar, kulit kendur, dan berembun pada

moncongnya. Sapi yang berasal dan tersebar merata di Benua Asia memiliki daya

tahan yang sangat baik dalam melawan panas dan iklim tropis. Sebaliknya, sapi

bangsa Zebu agak peka terhadap hawa dingin. Ada tiga jenis sapi potong local,

yaitu Sapi Jawa, sapi Bali, dan sapi Madura.

Menurut Winarno (1993) jenis sapi lokal Indonesia pada umumnya bukan

merupakan jenis sapi pedaging. Apalagi bila kita amati bahwa hanya sapi-sapi

jantan tua yang dipotong di rumah potong hewan, sapi muda yang masih sehat

biasanya dimanfaatkan untuk tenaga kerja, sehingga otot-ototnya menjadi

semakin liat ketika mencapai umur tua. Di luar negeri, khususnya Amerika

Serikat, mutu daging ditentukan oleh standar yang jelas. Standar tersebut pada

meliputi warna, tekstur, dan kekenyalannya, serta derajat marbling.Marbling

adalah jumlah dan distribusi lemak yang nampak sebagai noda-noda putih pada

permukaan irisan daging.

Daging sapi mempunyai gizi tinggi, rasa enak dan bermanfaat bagi tubuh manusia

apabila dagingnya baik dan sehat. Daging sapi sangat disukai karena mempunyai

gizi tinggi dan rasanya enak serta gurih. Masyarakat Indonesia biasa memasak

daging sapi dengan berbagai ragam masakan yang dapat merangsang selera

makan. Daging sapi bergizi tinggi, bermanfaat bagi tubuh manusia dan

mempunyai rasa enak hanya diperoleh dari daging yang baik dan sehat. Memilih

daging sapi yang baik adalah hal yang penting dilakukan meskipun bukan

pekerjaan yang mudah.

Menurut Trantono (2011), kualitas daging dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik

pada waktu hewan sebelum dan sesudah dipotong. Kualitas fisik daging sapi

adalah warna daging, rasa dan aroma, perlemakan, dan tektur daging. Pada waktu

sebelum dipotong, faktor penentu kualitas dagingnya adalah tipe ternak, jenis

kelamin, umur, dan cara pemeliharaanyang meliputi pemberian pakan dan

perawatan kesehatan. Sedangkan kualitas daging sesudah dipotong dipengaruhi

oleh metode pemasakan, pH daging, hormon, dan metodepenyimpanan.

Kualitas Fisik Daging Sapi

1) Warna Daging

Warna daging yang baik untuk daging sapi adalah jika daging tersebut berasal dari

sapi dewasa, warna daging yang baik adalah merah terang. Sedangkan untuk

mempengaruhi warna daging mentah.Beberapa faktor tersebut adalah spesies,

usia, jenis kelamin hewan, cara memotong daging,waterholding (air yang

dikandung) kapasitas daging, pengeringan pada permukaan daging,pembusukan

pada permukaan daging, dan cahaya yang mengenai permukaan daging

2) Tekstur

Kesan keempukan daging secara keseluruhan meliputi tekstur dan melibatkan

tigaaspek yaitu pertama, kemudahan awal penetrasi gigi ke dalam daging; kedua,

mudahnya daging dikunyah menjadi fragmen/potongan- potongan yang lebih

kecil, dan ketiga jumlah sisa fragmen/potongan yang tertinggal setelah

pengunyahan. Menurut Soeparno (2005),keempukan dan tekstur daging

kemungkinan besar merupakan penentu yang paling pentingpada kualitas daging.

Faktor yang mempengaruhi keempukan daging digolongkan menjadi faktor

antemortem seperti genetik dan termasuk bangsa, spesies dan fisiologi, faktor

umur, managemen, jenis kelamin dan stress. Faktor postmortem antara lain

meliputi metodepelayuan (chilling), refrigerasi dan pembekuan termasuk faktor

lama dan temperature penyimpanan serta metode pengolahan termasuk metode

pemasakan dan penambahan bahan pengempuk. Jadi keempukan bisa bisa

bervariasi diantaranya spesies, bangsa, ternak dalam spesies yang sama, potongan

karkas dan diantara otot serta otot yang sama.

3) Perlemakan (marbling)

Marbling adalah garis-garis tipis dan bintik-bintik lemak putih pada potongan

daging. Marbling dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk pola makan,

genetika, kondisi, danlokasi tempat ternak tersebut berada. Pakan ternak yang

kondisi ideal sejak lahir cenderungmemiliki marbling yang unggul. Lemak daging

yang berasal dari sapi muda akan berwarna putih kekuningan, sedangkan lemak

yang berasal dari sapi tua akan berwarna kekuningan.Jumlah marbling yang

dihasilkan menentukan kelembutan, intensitas rasa, dan juiciness saatdimasak

(Pollan, 2006). Alasannya adalah marbling membuat asam lemak dalam daging

sapi mengalami perubahan kimia yang kompleks bila terkena panas. Perubahan

kimia tersebutberinteraksi dengan asam lemak, berkembang di daging, dan

menimbulkan cita rasa yangenak. Lemak tersebut juga memberikan aroma khas

daging sapi ketika dimasak dan juicinessyang disebabkan oleh lemak yang

meleleh di daging.

4) Rasa

Menurut Chandrashekar, Hoon, Ryba, & Zuker (2006), pengertian dari rasa atau

taste adalah penerjemahan otak atas sensasi yang diterima oleh indera pengecap

yang ditimbulkanoleh senyawa yang larut dan berinteraksi dengan reseptor pada

lidah. Hingga saat ini terdapat 5 rasa yang dianggap rasa dasar yang dapat dikenali

oleh lidah manusia yaitu manis, pahit, asam, asin dan umami (rasa gurih). Bahan

pangan yang memiliki rasa gurih memiliki komponen utama berupa nukleotida

dan asam amino seperti glutamat dan aspartat. Senyawa glutamat merupakan

salah satu asam amino yang banyak ditemukan pada tomat, keju, susu, terasi, dan

lainnya. Dalam dunia kuliner Indonesia, rasa gurih sangat kuat terasa pada gulai,

sup, kaldu, soto, dan masakan tradisional lainnya. Untuk merasakan gurih,

diyakini diperlukan beberapa reseptor yang berbeda. Sebuah riset fisiologis saraf

juga membuktikan bahwa rasa gurih yang sempurna dapat tercipta apabila

mempunyai rasa yang relatif gurih,enak dan aromayang sedap yang dapat pula

dijabarkan sebagai tasty. Rasa daging juga dapat berasal dari juiceness yaitu

kandungan air di dalam daging dan lemak daging ataupun bumbu-bumbu yang

ditambahkan. Sehingga semakin banyak kandungan air di dalam daging maka rasa

daging akan semakin juicy.

5) Aroma

Faktor yang mempengaruhi rasa adalah aroma yang terdeteksi oleh hidung.

Menurut Trantono (2011), aroma pada daging sapi dipengaruhi oleh jenis pakan

yang diberikan pada saat sapi hidup. Aroma yang tidak normal biasanya akan

segera tercium sesudah hewan dipotong. Hal itu dapat disebabkan oleh adanya

kelainan antara lain hewan sakit dan hewan dalam pengobatan. Hewan yang

sakit, terutama yang menderita radang bersifat akut pada organ dalam, akan

menghasilkan daging yang berbau seperti mentega tengik. Sedangkan hewan

dalam masa pengobatan terutama dengan pemberian antibiotika, akan

menghasilkan daging yang berbau obat-obatan.

2.1.2 Atribut Produk

Atribut didefinisikan sebagai karakteristik yang membedakan merek atau produk

dari yang lain. Definisi yang lain menyebutkan bahwa atribut adalah faktor-faktor

yang dipertimbangkan konsumen dalam mengambil keputusan tentang pembelian

suatu merek ataupun kategori produk, yang melekat pada produk atau menjadi

bagian dari produk itu sendiri. Atribut menggambarkan karakteristik spesifik dari

produk yang menimbulkan manfaat. Artinya, pembeli biasanya dapat menyimpan

manfaat yang akan mereka terima dari produk dengan meneliti atribut produk

Atribut yang digunakan dalam analisis ini berjumlah tujuh atribut yang terdiri dari

harga, kesegaran, sertifikasi, rasa, lemak, warna, dan tekstur daging.Dalam hal

seperti ini, adalah penting untuk membedakan satu atau lebih atribut penentu,

yaitu atribut yang paling menentukan pilihan pembeli. Suatu atribut akan

dianggap penting jika memberikan manfaat yang sangat diinginkan, tetapi jika

semua alternatif yang bersaing mempunyai karakteristik yang sama, maka atribut

yang lain akan menentukan pilihan merek (Wijaya, 2008).

2.1.3 Pasar dan Pasar Modern

Pasar dapat diartikan sebagai tempat terjadinya penawaran dan permintaan,

transaksi, tawar-menawar nilai (harga), dan atau terjadinya pemindahan

kepemilikan melalui suatu kesepakatan antara pembeli dan penjual. Kesepakatan

tersebut dapat berupa kesepakatan harga, cara pembayaran, cara pengiriman,

tempat pengambilan atau penerimaan produk, jenis dan jumlah produk, spesifikasi

serta mutu produk, dan lain-lain termasuk kesepakatan yang berhubungan dengan

pemindahan kepemilikan produk. Istilah-istilah seperti supermarket, pasar saham,

pasar tradisional, pasar tenaga kerja, pasar ikan, pasar loak bukanlah hal yang

asing lagi. Semua jenis pasar memiliki karakteristik. Pertama, pasar tersebut

terdiri dari orang (pasar konsumen) atau organisasi (pasar bisnis). Kedua,

orang-orang atau organisasi-organisasi tersebut memiliki keinginan dan kebutuhan yang

dapat dipuaskan oleh kategori produk tertentu. Ketiga, mereka memiliki

kemampuan untuk membeli produk yang mereka cari. Keempat, mereka bersedia

untuk menukar sumberdaya yang mereka miliki, umumnya berupa uang atau

Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar jenis ini

penjual dan pembeli tidak bertransakasi secara langsung melainkan pembeli

melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam

bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani

oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual, selain bahan makanan makanan

seperti; buah, sayuran, daging; sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah

barang yang dapat bertahan lama (Anonimousc, 2014).

Kehadiran pasar modern ini sebenarnya dapat mengancam kelangsungan pasar

tradisional yang semakin kalah. Pasar modern mempunyai kelebihan yang

beranekaragam yaitu:

1. Tempatnya yang bersih.

2. Barangnya lengkap dan terbaru.

3. Pelayanannya ramah dan nyaman.

4. Kebebasan pembeli untuk memilih sendiri produk yang diinginkan.

5. Ada tingkat kepuasan sendiri.

(Anonimousc, 2014)

2.2 Landasan Teori

Dokumen terkait