TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Pustaka 1. Emotional Quotient (EQ)
a. Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan dalam dunia pendidikan sangatlah penting. Bagi pendidik (guru) dan orangtua pada umumnya perlu mengetahui konsep-konsep kecerdasan yang jelas agar dapat menuntun perkembangan kecerdasan anak (siswa). Berikut ini dikemukakan beberapa konsep kecerdasan yang telah dikemukakan oleh para ahli di bidangnya (Prawira 2012):
1) Konsep Kecerdasan Menurut Vernon
Vernon telah membuat sistematika dan definisi-definisi mengenai kecerdasan. Ia menggolongkan kecerdasan menjadi tiga kategori yaitu kecerdasan ditinjau dari segi biologi, kecerdasan ditinjau dari segi psikologis dan kecerdasan ditinjau secara operasional. Ditinjau dari ilmu biologi, kecerdasan didefinisikan sebagai kemampuan dasar manusia yang secara relatif diperlukan untuk penyesuaian diri pada alam sekitar yang baru. Meskipun pada kenyataannya di dunia ini terdapat banyak orang yang mempunyai kecerdasan yang tinggi tidak mampu menyesuaikan dirinya pada alam sekitar yang dengan baik. Dalam hal ini, pengamatan tergolong salah satu faktor kecerdasan individual.
Ditinjau secara psikologis, kecerdasan merujuk adanya pengaruh-pengaruh relatif keturunan dan lingkungan sekitar terhadap perkembangan kecerdasan
individual. Kecerdasan merupakan pembawaan dasar akibat pengaruh-pengaruh latihan, pengalaman dan pengaruh-pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Secara operasional, kecerdasan didefinisikan dalam pelaksanaan atau dalam aplikasinya secara operasional dengan menggunakan istilah-istilah yang pasti misalnya melakukan tes IQ ataupun mengerjakan soal-soal tes yang sangat sukar dan kompleks.
2) Konsep Kecerdasan Menurut Freeman
Menurut Freeman, kecerdasan dipandang sebagai suatu kemampuan yang dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu kemampuan adaptasi, kemampuan belajar dan kemampuan berpikir abstrak. Kemampuan adaptasi merupakan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya. Seseorang dikatakan cerdas jika orang tersebut mampu menyesuaikan dirinya pada situasi-situasi tertentu dan problema-problema baru secara mudah, efektif dan mempunyai variasi-variasi tingkah laku. Kecerdasan merupakan kemampuan umum seseorang secara sadar untuk menyesuaikan pikirannya kepada alam sekitarnya yang baru. Hal ini yang membuat suatu kesanggupan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Kemampuan belajar merupakan kemampuan seseorang untuk belajar. Kemampuan belajar dijadikan indeks atas dasar kecerdasan seseorang. Kemampuan berpikir abstrak adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan konsep-konsep dan simbol-simbol guna menghadapi situasi-situasi atau
persoalan-persoalan yang memakai simbol-simbol verbal dan bilangan. Seseorang dikatakan cerdas apabila ia dapat melakukan berpikir abstrak secara abstrak.
3) Konsep Kecerdasan Menurut Alfred Binet
Menurut Binet, kecerdasan adalah kecenderungan untuk mengambil dan mempertahankan pilihan yang tetap, kapasitas untuk beradaptasi dengan maksud memperoleh tujuan yang diinginkan dan kekuatan untuk autokritik.
4) Konsep Kecerdasan Menurut D. Wechsler
Ahli ini berpendapat bahwa kecerdasan adalah kumpulan kapasitas atau kapasitas global individu untuk berbuat menurut tujuannya secara tepat, berpikir secara rasional dan menghadapi alam sekitar secara efektif. Kapasitas kumpulan adalah sekelompok kapasitas, artinya kesanggupan atau kemampuan dasar yang ada pada individu.
5) Konsep Kecerdasan Menurut G. Stoddard
Stoddard memberikan definisi yang komprehensif tentang kecerdasan individu yaitu kemampuan untuk melaksanakan aktivitas dengan ciri-ciri kesukaran, kompleksitas, abstraksi, ekonomis, penyesuaian dengan tujuan, nilai sosial dan sifatnya yang asli dan mempertahankan kegiatan-kegiatan di bawah kondisi-kondisi yang menuntut konsentrasi energi dan menghindari kekuatan-kekuatan emosional atau gejolak emosi.
6) Konsep Kecerdasan Menurut Bruce W. Tuckman
Bruce W. Tuckman mengemukakan ada sepuluh macam konsep kecerdasan diantaranya kecerdasan adalah suatu kemampuan intelektual umum, kecerdasan sebagai kelompok-kelompok sifat, kecerdasan sebagai kesanggupan adaptasi, kecerdasan dipandang sebagai sesuatu yang dapat diukur, kecerdasan sebagai suatu faktor diskrit, kecerdasan sebagai kemampuan belajar, inteligensi sebagai perilaku terpelajar, kecerdasan sebagai dua tingkatan proses yakni tingkat kecerdasan asosiatif dan kecerdasan tingkat abstrak, kecerdasan sebagai kemampuan-kemampuan mental majemuk, serta kecerdasan sebagai bentuk kemampuan, bakat dan prestasi.
b. Pengertian Emotional Quotient (EQ)/ Kecerdasan Emosional
Menurut Prawira (2012) emosi adalah perasaan tertentu yang bergejolak dan dialami seseorang serta berpengaruh pada kehidupan manusia. Emosi memang sering dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif. Namun sebenarnya terdapat banyak macam ragam emosi, antara lain rasa sedih, takut, kecewa dan sebagainya yang berkonotasi negatif. Emosi lain seperti rasa senang, puas, gembira dan lain-lain, semuanya berkonotasi positif. Emosi merupakan kekuatan pribadi yang memungkinkan manusia mampu mengenali emosi sendiri dan emosi orang lain serta tahu cara mengekspresikannya dengan tepat.
Istilah Emotional Quotient (EQ)/ kecerdasan emosional berakar dari konsep social intelligence, yaitu suatu kemampuan memahami dan mengatur untuk bertindak secara bijak dalam hubungan antar manusia. EQ adalah
kecerdasan manusia yang terutama digunakan manusia untuk berhubungan dan bekerjasama dengan manusia lainnya. EQ seseorang dipengaruhi oleh kondisi dalam dirinya dan masyarakatnya seperti adat dan tradisi. Potensi EQ manusia lebih besar dibanding IQ (Nggermanto 2001). Istilah Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosional baru dikenal secara luas pada tahun 90-an dengan diterbitkannya buku “Emotional Quotient” yang ditulis oleh Daniel Goleman yang menjelaskan EQ adalah kemampuan untuk mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
Kecerdasan emosi mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda, tetapi saling melengkapi dengan kecerdasan akademik (academic intelligence). Kecerdasan akademik tersebut berupa kemampuan kemampuan kognitif murni yang diukur dengan IQ (Gandasetiawan 2009). Meskipun IQ tinggi, tetapi EQ rendah maka tidak akan cukup membantu. IQ mungkin membantu dalam hal memahami dan menghadapi dunia pada satu tingkat, tetapi emosi lebih dibutuhkan untuk memahami dan menghadapi diri sendiri dan orang lain. Tanpa kecerdasan emosi, kemampuan untuk mengenali dan menghargai perasaan serta bertindak jujur sesuai dengan perasaan tersebut, maka seseorang tidak dapat berhubungan baik dengan orang lain, berhasil di dunia, membuat keputusan dengan mudah dan akan sering merasa terombang-ambing (Segal 2000).
EQ bersifat komplementer (saling melengkapi) terhadap IQ. Ini berarti EQ tidak mengungguli IQ. EQ menguraikan kemampuan-kemampuan yang berbeda
dari kecerdasan yang lebih akademis atau intelektual tersebut. EQ merupakan gabungan emosi dan kecerdasan. Menurut pandangan Dann (2002), emosi-emosi dan pikiran berjalan secara beriringan. Jadi, EQ merupakan kemampuan dalam menggunakan emosi-emosi untuk membantu memecahkan masalah dan menjalani kehidupan secara lebih efektif.
Mayer dan Salovey dalam Dann (2002) memandang EQ sebagai suatu kemampuan psikologis dalam memahami dan menggunakan informasi emosional. Sebagai individu semua orang memiliki kemampuan bawaan (innate capability) berbeda dalam melakukan sesuatu dan belajar dari kehidupan cara-cara memperbaiki EQ melalui usaha, praktik dan pengalaman. Mereka percaya bahwa sesungguhnya EQ merupakan suatu kecerdasan yang bisa diukur dengan handal dan obyektif. Dua macam kecerdasan yang berbeda tersebut (IQ dan EQ) mengungkapkan aktivitas bagian-bagian yang berbeda dalam otak. Kecerdasan intelektual terutama didasarkan pada kerja neokorteks, lapisan yang dalam evolusi berkembang paling akhir di bagian atas otak. Pusat-pusat emosi berada di bagian otak yang lebih dalam, dalam subkorteks yang secara evolusi lebih kuno. Kecerdasan emosi dipengaruhi oleh kerja pusat-pusat emosi ini, tetapi tetap dalam keselarasan dengan kerja pusat-pusat intelektual (Nggermanto 2001).
Pengembangan EQ oleh usulan Steiner dalam Nggermanto (2001) yaitu berupa membuka hati, menjelajah emosi dan bertanggung jawab. Membuka hati ini adalah langkah pertama karena hati adalah simbol pusat emosi. Hatilah yang merasa damai saat sedang merasa berbahagia, dalam kasih sayang, cinta atau kegembiraan. Hati merasa tidak nyaman ketika sakit, sedih, marah atau patah hati.
Oleh sebab itu maka akan membebaskan pusat perasaan dari impuls dan pengaruh yang membatasi untuk menunjukkan cinta satu sama lain.
Setelah membuka hati seseorang akan dapat melihat kenyataan dan menemukan peran emosi dalam kehidupan seperti menjadi lebih bijak dalam menanggapi perasaan. Untuk memperbaiki dan mengubah kerusakan hubungan seseorang harus dapat mengambil tanggung jawab. Setiap orang harus mengerti permasalahan, mengakui kesalahan dan keteledoran yang terjadi, membuat perbaikan serta memutuskan bagaimana mengubah segala sesuatunya untuk mencapai perubahan yang lebih baik.
Cara menerapkan dan mengembangkan EQ yang dirumuskan oleh Gottman dalam Nggermanto (2001) yaitu dengan langkah-langkah seperti menyadari emosi anak, mengakui emosi sebagai kesempatan, mendengarkan dengan empati, mengungkapkan emosi, membantu menemukan solusi dan langkah terakhir yaitu menjadi teladan. EQ memberikan implikasi positif lebih jauh lagi dari sekedar teori ilmiah atau kesuksesan di tempat belajar dan bekerja, karena berfokus pada intrapersonal dan interpersonal, orang-orang yang ber-EQ tinggi atau yang sedang belajar menerapkan EQ menemukan hidupnya lebih bermakna. Emosi positif membuat belajar lebih nyaman dengan hasil lebih optimal, sedangkan emosi negatif menjadikan belajar menjemukan dengan hasil minim (Goleman 2001).
Setiap orang adalah homoviator, yaitu makhluk yang selalu ingin tahu dan tak pernah. merasakan kepuasan, karenanya ia selalu menuju satu tujuan. Ketika manusia beranjak dewasa, dia membenahi kehidupan emosionalnya, memperhalus
sikap dan mencapai keseimbangan dalam pikiran, perasaan dan perbuatan. Semua orang mencari kepuasan emosi dan karena itu menggunakan daya khayal mereka untuk menciptakan suasana yang merangsang emosi. Itu sebabnya kepandaian dan tubuh diolah lewat latihan yang tepat. Keseimbangan merupakan patokan utama dalam menilai apakah seseorang cerdas secara emosi atau tidak (Maurus 2007). Seseorang dapat dikatakan seimbang jika dalam kesatuan antara aspek batin dan sikapnya telah menemukan cara untuk mengubah tekanan normal dan pada sisi lain, berhasil memberikan orientasi positif terhadap tekanan negatif. Proses ini membutuhkan dan melibatkan keberanian bertindak.
Kecerdasan emosi sesungguhnya membantu pikiran rasional atau akal (Segal 2000). EQ bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran sendiri, kepekaan sosial dan kemampuan adaptasi sosial. Bila EQ tinggi seseorang akan mampu memahami berbagai perasaan secara mendalam ketika perasaan-perasaan ini muncul dan benar-benar dapat mengenali diri sendiri. EQ yang lebih tinggi juga akan memberi kemampuan untuk tetap terhubung dengan dirinya, bahkan saat dia memperhatikan perasaan orang lain. Orang yang cerdas secara emosional akan dapat mengetahui perbedaan antara apa yang penting bagi mereka dan orang lain. Oleh karena itu, EQ berperan penting di keluarga, sekolah, masyarakat, sekolah dan tempat kerja.
c. Komponen-komponen Emotional Quotient (EQ)
Menurut Dann (2002) banyak penekanan yang diberikan pada pengukuran EQ. Pengukuran EQ dapat memberi informasi tentang kompetensi baik melalui
penilaian diri sendiri atau melalui suatu instrumen. Komponen-komponen dasar dalam pengukuran EQ dapat digolongkan menjadi lima kerangka kerja kecakapan emosi, yaitu (Goleman 2001):
1) Kesadaran Diri
Kesadaran diri berupa mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi. Kemampuan ini mempunyai peranan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu dan mencermati perasaan-perasaan yang muncul. Adanya komponen ini mengindikasikan anak berada dalam kekuasaan emosi manakala tidak memiliki kemampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya. Hal penting yang perlu dipahami dalam kemampuan mengenali emosi diri , tenggelam dalam masalah dan pasrah.
Mengenali emosi diri ini mencakup tiga hal, yakni kesadaran emosi, penilaian secara teliti dan percaya diri. Kesadaran emosi dengan mengenali emosi diri sendiri dan efeknya. Penilaian diri secara teliti dengan mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri. Percaya diri yang merupakan keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri.
2) Pengaturan Diri
Pengaturan diri berupa mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras. Hal ini dibutuhkan agar tercapai keseimbangan dalam diri individu. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan. Anak yang terampil mengelola emosinya akan mampu menenangkan kembali kekacauan-kekacauan yang dialaminya sehingga ia dapat bangkit kembali. Sedangkan anak yang buruk kemampuannya dalam mengelola emosi akan terus menerus bernaung melawan perasaan murung. Dampaknya anak kehilangan masa cerianya.
Pengaturan diri ini memiliki aspek-aspek seperti kendali diri, sifat dapat dipercaya, kewaspadaan, adaptibilitas dan inovasi. Kendali diri merupakan sikap mengelola emosi-emosi dan desakan-desakan hati yang merusak. Sifat dapat dipercaya berupa memelihara norma kejujuran dan integritas. Kewaspadaan merupakan tanggung jawab atas pribadi. Adaptibilitas yaitu keluwesan dalam menghadapi perubahan sedangkan inovasi yaitu dengan sikap menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan serta informasi-informasi baru.
3) Motivasi
Prestasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif,
yaitu antusiasme, gairah, optimisme dan keyakinan diri. Anak yang mempunyai kemampuan memotivasi diri sendiri dengan baik cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam segala tindakan yang dikerjakannya. Kemampuan ini tentunya didasari oleh kemampuan mengendalikan emosinya, yaitu menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati. Jadi, kemampuan seseorang dalam menata emosi merupakan modal pokok untuk mencapai tujuan atau cita-citanya. Hal itu juga sangat vital untuk memotivasi dan menguasai diri sendiri.
Aspek-aspek dari motivasi ini diantaranya dorongan prestasi, komitmen, inisiatif dan optimisme. Dorongan prestasi merupakan dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan. Komitmen berupa sikap menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok. Inisiatif yaitu kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan sedangkan optimisme adalah kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan atau kegagalan.
4) Empati
Empati adalah kemampuan untuk mengenali emosi orang lain. Empati merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain. Empati dibangun berdasarkan kesadaran diri. Semakin terbuka seseorang terhadap emosinya, maka semakin terampil membaca perasaan orang lain. Cara untuk menunjukkan empati adalah dengan mengidentifikasikan perasaan orang lain yaitu menempatkan diri secara emosional pada posisi orang lain. Empati merupakan dasar dalam bergaul. Orang yang empatik akan lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial tersembunyi yang mengisyaratkan apa yang
dibutuhkan atau dikehendaki oleh orang lain. Jadi, bia dipahami orang dengan kemampuan yang andal dalam mengenali emosi orang lain akan mudah sukses dalam pergaulannya dengan orang lain di tengah-tengah masyarakat luas.
Ada lima aspek dalam wilayah emosi ini yaitu memahami orang lain, orientasi pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan kesadaran politis. Memahami orang lain dengan mengindra perasaan dan perspektif orang lain dan menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan mereka. Lalu orientasi pelayanan yaitu mengantisipasi, mengenali dan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan. Mengembangkan orang lain maksudnya adalah merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan mereka. Mengatasi keragaman merupakan sikap menumbuhkan peluang melalui pergaulan dengan bermacam-orang sedangkan kesadaran politis yaitu mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.
5) Keterampilan Sosial
Keterampilan sosial yang berupa kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Untuk dapat menangani emosi orang lain, diperlukan keterampilan emosional yaitu manajemen diri dan empati. Dengan berlandaskan keterampilan tersebut maka seni membina hubungan dengan orang lain akan menjadi matang. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orang-orang ini populer
dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi.
Keterampilan sosial memiliki kerangka kerja antara lain pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan kooperasi serta kemampuan tim. Pengaruh artinya memiliki taktik-taktik untuk melakukan persuasi. Komunikasi yaitu berupa mengirimkan pesan yang jelas dan meyakinkan. Kepemimpinan dengan membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok dan orang lain. Manajemen konflik yakni dengan kemampuan negoisasi dan pemecahan silang pendapat. Pengikat jaringan yaitu dengan menumbuhkan hubungan sebagai alat. Kolaborasi dan kooperasi berupa kerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama sedangkan kemampuan tim yakni dengan menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.
2. Hasil Belajar Siswa a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana 2009). Pengalaman tersebut tampak pada perubahan tingkah laku atau pola kepribadian siswa. Jadi, pengalaman yang diperoleh siswa adalah pengalaman sebagai hasil belajar siswa di sekolah. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotor. Oleh sebab itu, dalam penelitian hasil belajar perlu memperhatikan
ketiga domain tersebut. Dengan memperhatikan ketiga domain tersebut, diharapkan dapat terlihat sejauh mana keefektifan dan efisiensi dalam mencapai tujuan pengajaran atau tingkah laku siswa.
Menurut Daud (2012) hasil belajar merupakan kecakapan nyata, yang dapat diukur langsung dengan menggunakan tes prestasi belajar dan setiap kegiatan belajar manusia selalu ada prestasi belajar dan biasanya inilah yang menjadi sasaran akhir dari proses belajar seseorang, terutama kepada siswa. Untuk memperoleh hasil belajar siswa diperlukan langkah evaluasi hasil belajar terlebih dahulu. Evaluasi hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan melalui kegiatan penilaian dan/ atau pengukuran hasil belajar. Melalaui evaluasi hasil belajar, kita dapat mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran. Hasil belajar ditandai dengan skala nilai berupa huruf, kata atau simbol. Apabila tujuan utama kegiatan evaluasi hasil belajar tersebut dapat terlaksana, maka hasil belajar dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti untuk pengembangan, seleksi, kenaikan kelas maupun penempatan (Dimyati dan Mudjiono 2009).
Penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes dan non tes. Tes ada yang diberikan secara lisan, tulisan maupun tindakan. Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk objektif maupun esai atau uraian. Sedangkan non tes sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, wawancara, skala, sosiometri, studi kasus, dan sebagainya. Penilaian hasil belajar tersebut merupakan dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada
orangtuanya atau yang disebut dengan raport. Dalam laporan kemajuan belajar siswa tersebut dikemukakan kemampuan dan kecakapan belajar siswa dalam berbagai bidang studi dalam bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya (Sudjana 2009).
b. Klasifikasi Hasil Belajar
Hasil belajar diklasifikasikan menjadi tiga domain. Secara eksplisit ketiga domain tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain (Haryati 2007). Ketiga domain tersebut diantaranya sebagai berikut:
1) Domain Kognitif
Domain kognitif merupakan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan berkreasi. Tujuan domain kognitif berhubungan dengan ingatan atau pengenalan terhadap pengetahuan dan informasi, serta pengembangan keterampilan intelektual yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur untuk memecahkan suatu permasalahan (Haryati 2007).
Manusia memiliki kemampuan psikognitif, yaitu perkembangan yang terjadi dalam bentuk pengenalan, pengertian dan pemahaman dengan menggunakan pengamatan, pendengaran dan berpikir (Chatib & Said 2012). Kognitif merupakan kemampuan olah pikir seseorang untuk mengenali, menganalisis sesuatu dan akhirnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Kemampuan kognitif tidak terbatas pada kemampuan anak mengerjakan soal-soal
tes di atas kertas, namun lebih cenderung pada penyelesaian soal-soal dalam bentuk masalah yang realistis dengan kemampuan berpikirnya.
2) Domain Afektif
Domain afektif merupakan nilai sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni menerima, menanggapi, menilai, mengelola dan menghayati. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial. Sekalipun bahan ajar berisi domain kognitif, domain afektif harus menjadi satu bagian. Domain afektif dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut dari yang paling sederhana sampai tingkat yang kompleks yaitu reciving/ attending, responding, valuing, organisasi dan karakteristik (Sudjana 2009).
Manusia memiliki kemampuan psiko-afektif, yaitu suatu respon atau perasaan yang dimiliki oleh seseorang (Chatib & Said 2012). Secara umum, perasaan itu adalah suasana hati yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, suka atau tidak, baik dan buruk. Lebih jauh, afektif juga diartikan perilaku atau akhlak seseorang yang baik saat orang berinteraksi dengan lingkungannya ataupun dengan diri sendiri adalah sebuah kemampuan. Dalam dunia sekolah, anak yang berperilaku baik, seperti tidak pernah terlambat, sopan dan santun, selalu menghormati orang yang lebih tua, atau mudah bergaul alhasil perilakunya akan menyenangkan banyak orang. Perilaku anak yang seperti ini dikatakan memiliki kemampuan afektif.
3) Domain Psikomotor
Domain psikomotor merupakan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak siswa. Ada enam aspek dalam domain psikomotor ini, yakni persepsi,